Pradina Hartono seorang gadis sederhana. Yang berjuang untuk kehidupan keluarganya agar lebih baik. Bekerja paruh waktu sambil berkuliah di perguruan tinggi swasta di Kota Y. Dina begitu dia disapa selalu berpenampilan sederhana.
Dina hanya memiliki ibu dan seorang adik. Ibunya hanya seorang pedagang kecil-kecilan di rumahnya. Sementara Ayahnya telah berpulang ke pangkuan yang maha Pencipta saat Dina duduk di bangku SD kelas 5. Setelah itu Dina terus berjuang mencari beasiswa agar dirinya bisa bersekolah.
Rionaldo Wijaya seorang pengusaha muda sukses. Namun kesuksesannya tak semulus kisah cintanya. Aldo begitu dia disapa harus kehilangan istri dan calon anaknya karena kecelakaan. Semenjak kejadian itu Aldo selalu menghindari wanita dan bersikap dingin kepada setiap wanita yang ingin mendekatinya.
Seperti apa ceritanya??? Kita lanjut ya... Jangan lupa Like, komen dan kasih tips nya ya bagi yang punya. 🙏🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di jemput
Kembali ke kosan Dina kembali memikirkan perkataan Ibu Kostnya. Dina kembali termenung. Kemana lagi dia mencari Kost. Sementara dia mengepak semuanya. Di pisahkannya yang masih terpakai dan tidak. Dina berniat mengirimkannya ke Kota S.
Dina sudah menghubungi Ibunya kalo dia akan mengirimkan sebagian barangnya yang masih terpakai. Dan memberikan buku-buku bekas kuliahnya dulu pada adik tingkatnya. Sekarang hanya tersisa pakaiannya saja. Dan dispenser. Magic com pun dia kirimkan kepada Ibunya.
"Mba. Dikemanakan barang-barang nya?" Tanya teman satu kostnya.
"Sudah saya kirim ke rumah dek."
"Loh, Mba mau pindah toh?"
"Nda. Hanya sayang saja disini nda saya pakai."
"Kirain Mba mau pindah."
Dina hanya menjawabnya dengan senyuman. Setelah semua barangnya di ambil ekspedisi Dina segera bersiap untuk pergi kerja. Kebetulan hari ini Dina masuk sore.
💌 Siang Nak. Kamu lagi istirahat ya?
💌 Siang Ibu. Saya lagi bersiap mau berangkat Bu. Kebetulan hari ini saya masuk sore.
💌 Owh! Begitu ya. Kalo begitu nanti pulang malam?
💌 Iya Bu.
💌 Jam berapa?
💌 Sekitar jam 9/10an Bu. Kenapa Bu?
💌 Nanti di jemput Mas Aldo saja ya Nak. Ibu khawatir.
💌 Eh, nda usah Bu. Dina sudah terbiasa.
💌 Ndak. Nanti pokoknya Mas Al jemput kamu. Udah sekarang kamu hati-hati berangkatnya.
Dina menghela nafas. menyimpan ponsel kedalam tasnya dan bersiap untuk pergi ke mini market. Sepanjang perjalanan Dina tidak menampakan kesedihannya.
Sampai mini market Dina menyapa semua teman-temannya dengan ramah. Hari ini mini market lumayan ramai. Mungkin karena akhir pekan banyak muda-mudi berbelanja cemilan dan minuman.
"Alhamdulillah."
"Cape Din?"
"Lumayan Pa."
"Ayo Din pulang." Ajak Rindi.
"Ayo. Semuanya kita duluan ya."
"Hati-hati."
Dina dan Rindi hanya melambaikan tangannya saja. Keduanya melenggang keluar bersama dan dua lelaki bertugas mengunci mini market.
"Rin, Mas Mu tuh."
"Loh, Gimana dong Din?"
"Apanya?"
"Ya kamu."
"Tenang. Di angkot banyak temennya ko."
"Aku titipin supirnya yah." Canda Rindi sambil berlalu.
"Rindiiiii.... Awas ya kamu."
Tin... Tin... "Aaa...."
"Dinaaa...." Teriak Rindi khawatir Dina tertabrak mobil yang baru saja berhenti.
"Kamu ga apa-apa?"
"Ngga Rin. Cuma kaget aja makanya aku teriak."
Pemilik mobil pun membuka kaca mobilnya. Rindi dan Dina melongok bersama.
"Naik." Titah Aldo.
Rindi menatap Dina. Dina pun tersenyum.
"Hutang penjelasan ya Kamu. Sampe kosan jangan harap bisa tidur. Pokoknya aku telfon kamu."
"Rindiii..." Panggil Dina.
"Ngga pokonya kamu hutang sama aku." Teriak Rindi sambil berlalu mendekati pacaranya.
Dina masuk kedalam mobil Aldo. Aldo pun melajukan mobilnya perlahan. Aldo menghentikan mobilnya di depan penjual nasi goreng.
"Ko berhenti Mas?"
Aldo tak berkata apapun dia langsung turun begitu saja. Dina hanya diam menunggu Aldo di dalam mobil. Karena Aldo tak memarikan mesin mobilnya. Ketika Dina tengah asik dengan lamunannya tiba-tiba terdengar ketukan di kaca samping.
"Apa?"
Aldo menyodorkan sepiring nasi goreng. "Untuk saya?" Aldo pun memutar mobil dan masuk kedalam kemudi. Aldo asik memaikan ponselnya. Sementara Dina masih diam dengan sepiring nasi goreng di tangannya.
Dina melihat ke piring nasi goreng dan ke arah Aldo. Dina sendok nasi gorengnya perlahan dan menyodorkan ke arah Aldo. Aldo menatap Dina tajam.
"A.." Aldo hanya diam menatap Dina.
"Ayo. Nanti keburu dingin loh ga enak."
"Itu buat kamu." Dina menggeleng menjawabnya.
"A..." Dengan terpaksa Aldo pun membuka mulutnya dan masuklah sesendok nasi goreng kedalam mulutnya. Setelah nasi goreng mendarat di mulutnya Aldo pun kembali memainkan ponselnya dengan asik. Tak terasa sendok demi sendok nasi goreng mendarat di mulutnya sampai Aldo tersadar dan mengambil alih piring nasi goreng yang hanya tersisa beberapa sendok saja.
Dina heran. Dia berfikir mungkin karena terlalu lama dia menyuapinya. Namun tak terduga Aldo membalas menyuapi Dina. Dina hanya diam mulutnya pun tertutup.
"A.."
"Ayo... Jijik bekas Aku?" Ucap Aldo. Dan Dina pun segera melahap nasi goreng yang ada di sendok.
"Biar saya saja Mas."
"A..."
"Saya saja Mas."
"A..."
Akhirnya Dina pun pasrah disuapi hingga suapan terakhir. Aldo keluar dan memberikan piring kosong kepada penjual nasi goreng. Membawa air mineral untuk Dina. Dina tak habis fikir kenapa pria dingin dihadapannya bisa seromantis itu membelikan ya makan.
Sampai kosan Dina membuka ponselnya dan terdapat beberapa pesan dari Rindi dan Ibu.Lastri. Dina menggelengkan kepalanya dan membiarkan ponselnya sementara dirinya membersihkan badannya.
Makasih para rider ku yang sudah mampir 🙏🙏🙏 Jangan lupa like dan koment ya. Kasih Tip buat author juga boleh loh.