Kehidupan sempurna bak putri kerjaan yang Inez rasakan mendadak berubah total ketika Rara menjalankan misi balas dendamnya. Rasa sakit hati kehilangan Papanya membuat Rara ingin membuat Inez merasakan apa yang Ia rasakan.
Tanpa Inez sadari, Rara selalu memakai topeng. Baik di depan dan busuk di belakang. Satu persatu kebahagiaan yang Inez miliki perlahan hilang, termasuk kesuciannya. Apa lagi yang akan Rara renggut lagi dari Inez?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana di dalam rencana-2
Inez masih belum mengerti maksud ucapan Andrew. Cowok? Cowok siapa?
"Cowok? Cowok siapa? Aku sendiri....an kok." dengan kepala yang masih terasa pusing Ia mulai melihat keadaan sekitar.
"Gue dimana? Ini bukan kamar gue." batin Inez.
Pandangan mata Inez lalu tertuju pada seseorang yang tidur di sampingnya. Tanpa mematikan video callnya Inez melihat lebih jelas. Betapa terkejutnya Inez saat tahu kalau yang tidur di sebelahnya adalah.... Rio...
"Enggak... Bagaimana mungkin Rio tidur di samping gue? Dan Rio tidak.... memakai baju?" gumam Inez saat melihat dada Rio yang bidang.
Inez langsung memeriksa dirinya sendiri. Handphone yang Inez pegang terjatuh karena Ia merasa lemas dengan keadaannya.
"Aaaaaaaaaaaaaaa....." teriak Inez dengan histeris.
Teriakan Inez membangunkan Rio yang tertidur di sampingnya. Bahkan teriakan Inez sampai ke kamar sebelahnya yakni kamar Rara.
Melihat Rio yang mulai terbangun, refleks Inez langsung menutupi bagian tubuhnya yang terbuka.
"Ada apa?" tanya Rio yang belum sepenuhnya tersadar dari tidurnya. Rio berpura-pura kaget dan bingung melihat keberadaan Inez di sampingnya. "Loh kok? Kok ada lo di sini?"
Inez mulai menangis histeris. "Rio... katakan sama gue. Apa yang udah terjadi semalam?" Inez menuntut penjelasan dari Rio.
"Gue... Gue... juga gak tau Ra kenapa gue bisa ada di sini. Gue gak inget. Lo liat sendiri kan semalam gue mabuk."
"Enggak... gak mungkin. Semua gak mungkin terjadi. Ini pasti bohong. Gue gak percaya. Kalian pasti ngerjain gue kan?" tanya Inez dengan penuh kemarahan.
"Maaf, Nez. Sumpah gue gak inget. Apa kita berdua udah...ngelakuin hubungan...itu?" tanya Rio lagi. Rio lalu melihat ke dalam selimut dan nampaklah tubuhnya yang tidak memakai sehelai benang pun. Sama seperti Inez yang dalam keadaan tanpa busana seperti dirinya.
"Enggak... Enggak mungkin Rio... Enggak mungkin...." Inez lalu menutupi seluruh wajahnya dengan selimut dan mulai menangis histeris. Inez tak menyangka Ia akan semudah itu kehilangan mahkota yang Ia jaga selama ini.
Suara teriakan dan tangisan histeris Inez pun sampai terdengar di kamar sebelah, yakni kamar Rara. Rara mencoba mengingat kembali apa yang sedang terjadi. Kepalanya terasa amat pusing efek obat yang tanpa Ia sadari dimasukkan dalam minumannya.
Ingatan Rara pun perlahan mulai jelas. Ia ingat kalau Ia sedang menjalankan suatu rencana. "Inez... itu teriakan Inez... Pasti rencana semalam berhasil.... Tapi.... kenapa gue sendirian di kamar ini?" gumam Rara.
Dengan langkah yang masih terhuyung karena pusing, Rara pun berjalan keluar kamarnya menuju kamar sebelah.
"Nez.... Inez.... Apa yang terjadi, Nez?" tanya Rara sambil menggedor pintu kamar Inez. Rara tak memperdulikan pandangan mata penuh ingin tahu dari penghuni kamar lain yang menatapnya seolah mencari jawaban tentang apa yang terjadi.
"Nez.... buka Nez.... Ini gue Rara..." teriak Rara lagi.
Rio yang mendengar suara Rara di depan pintu lalu berjalan mengambil handuk dan menutupi tubuhnya. Ia pun berjalan menuju pintu dan membukakan pintu untuk Rara.
"Loh...kamu?" Rara amat terkejut mendapati Rio kekasihnya hanya menggunakan handuk yang dililit di pinggang tanpa pakaian sehelai pun. "Kenapa kamu disini? Apa yang terjadi?" Rara memberondong Rio dengan banyak pertanyaan.
Rio mengangkat tangannya seolah tak mampu berkata apapun lagi. "Aku gak ingat.... dan.... kamu lihat aja sendiri di dalam...."
Dengan sorot mata yang penuh amarah, Rara mendorong Rio dan masuk ke dalam kamar. Rio pun menutup pintu kamar agar tidak ada sorot mata penuh rasa ingin tahu dari pengunjung yang mendengar keributan di pagi hari ini.
Rara masuk ke dalam kamar dan Ia mendapati Inez tengah menangis histeris sambil menutupi dirinya dengan selimut. Baju yang Inez dan Rio pakai berserakan di lantai. Sudah jelas kalau ada sesuatu yang terjadi semalam di kamar ini.
"Jelaskan sama aku, Rio. Bagaimana bisa kamu dan Inez sampai....sampai tidur bareng semalam? Kenapa kamu bisa khianatin aku Rio?" teriak Rara dengan berurai air mata.
Rara shock dan penuh amarah. Betapa tidak, rencana yang Ia susun dengan matang dan Ia pikir berhasil ternyata malah bagaikan bumerang yang menyerang balik dirinya. Rara masih tak percaya kalau Rio yang akhirnya tidur bareng dengan Inez dan bukan Jerry, orang yang seharusnya ada dalam rencana awal.
"Aku gak inget, Nez. Kamu lihat sendiri semalam aku mabuk! Aku khilaf, Nez. Aku gak sadar apa yang udah aku lakuin." elak Rio. Rio pun bingung bagaimana Ia harus menjelaskan semuanya pada Rara.
Inez yang mendengar suara Rara bertengkar dengan Rio perlahan mengangkat wajahnya dari selimut. Matanya bengkak sehabis menangis.
"Ra.... gue..... gue... gue kehilangan keperawanan gue... Ra...." tangis Inez makin kencang.
"Ah... Shiit... Peduli setan sama keperawanan lo! Bahkan pacar gue juga lo ambil? Dasar cewek sialan!" sungut Rara dalam hati.
Rara menghapus air mata yang menetes di pipinya. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Semuanya di luar rencana. Gak seharusnya semua berakhir kayak gini. Seharusnya Ia sedang tertawa bahagia diatas penderitaan Inez tapi kenapa Ia malah ikut terluka?
Inez yang melihat Rara seperti kebingungan merasa ada yang berbeda dengan Rara yang Ia kenal. Inez mengharapkan pelukan dari Rara agar Ia bisa melewati cobaan ini namun Rara malah kebingungan sendiri.
Rara menghela nafasnya. Ia harus berpikir jernih. Semua udah terjadi. Setidaknya rencana yang Ia susun tidak sepenuhnya gagal, ya walau harus mengorbankan sedikit perasaannya karena pacarnya sudah tidur dengan temannya sendiri.
"Hmm.... Oke.... kita harus tenang. Kita pikirin jalan keluarnya. Sebelum itu, Nez, sebaiknya lo pakai baju dulu. Kita bicarain semuanya. Dan kamu, Rio.... kita harus bicara!" kata Rara dengan nada penuh penekanan.
"Iya." Inez pun menutupi tubuhnya dengan selimut, memunguti bajunya yang bertebaran di lantai lalu masuk ke kamar mandi.
Rara mengamati dalam diam apa yang Inez lakukan. Rara melihat dengan jelas ada beberapa kissmark di leher dan di atas dada Inez yang artinya semalam benar-benar sudah terjadi sesuatu.
Pandangan mata Rara tertuju pada handphone Inez yang sejak tadi masih video call. Cepat-cepat Ia menghampiri dan melihat siapa yang sedang video call dengan Inez.
Rara kaget melihat Andrew sedang menatap layar Hp dengan pandangan yang amat menyeramkan.
"Andrew?" tanya Rara takut-takut. Ia tak menyangka Andrew yang lembut dan penyayang bisa semenyeramkan kayak gini.
"Rara? Kalian dimana?"
"Emm... kita di... hotel X." jawab Rara.
"Gue kesana sekarang. Gue harus tau apa yang terjadi!" Andrew pun mematikan sambungan teleponnya.
Dengan tangan gemetar, Rara menaruh kembali Hp milik Inez diatas nakas tempat tidur.
"Wow.... Ini Jackpot namanya! Ternyata rencananya gak sepenuhnya gagal. Justru lumayan berhasil! Sudah dipastikan Inez dan Andrew akan berakhir. Rasakan kau Inez." senyum Rara dalam hati.
Sementara itu di dalam kamar mandi, Inez masih menangis. Ia menangisi kesialan yang Ia alami hari ini. Kenapa Ia sampai melakukan hubungan terlarang dengan pacar sahabatnya sendiri, dan yang terpenting bagaimana Ia bisa kehilangan mahkotanya dalam sekejap. Mahkota yang selama ini Ia jaga dengan baik-baik.
Inez masih tidak percaya. Tidak mungkin Ia melakukan sex tanpa Ia sadari, Inez menatap wajahnya di cermin. Ia melihat dengan jelas beberapa kissmark di tubuhnya. Lebih tepatnya di lehar dan di dadanya.
"Tunggu... biasanya kalau melakukan pertama kali suka keluar darah." gumam Inez. Inez pun melepas selimut yang Ia pakai untuk menutupi tubuhnya sejak tadi dan mencari bercak noda darah pertanda mahkotanya sudah hilang.
Ya.... noda darah itu terlihat jelas. Ada beberapa bercak darah di selimut yang Ia pakai. Tidak banyak namun cukup menyadarkannya kalau kejadian yang Ia alami benar-benar terjadi.
Inez lalu terduduk lemas di lantai kamar mandi. Semua bukti sudah jelas. Tak terbantahkan lagi. Bagaimana nanti hidupnya? Apakah suaminya kelak mau menerimanya yang sudah tidak suci lagi?
Lalu bagaimana Inez akan menghadapi orang-orang yang Ia sakiti. Pertama Rara. Bagaimana bisa Ia tega tidur dengan pacar sahabatnya sendiri? Bagaimana nanti meminta maaf dengan Rara? Kalau Rara sampai putus dengan Rio gimana?
Kedua Andrew, tadi Andrew melihat Inez dengan laki-laki lain. Bagaimana nanti hubungan mereka kelak? Selama ini Andrew bilang mau menjadikan Inez wanita pertama dalam hidupnya. Akankah Ia masih mau seperti itu kalau Inez sudah bekas orang lain?
Lalu ketiga adalah orang tuanya. Apa yang harus Inez lakukan? Jujur atau menyembunyikan fakta? Mau sampai kapan Ia terua berbohong?
Dan terakhir adalah Rio. Apa yang harus Inez lakukan dengan Rio? Meminta pertanggungjawabannya atau menganggap hal tersebut bagai angin lalu?
"Sadar Inez... Sadar.... Lo harus pikirin jalan keluar untuk masalah lo kali ini. Semua ini gak akan terjadi kalau saja semalam lo gak minum minuman dari diskotek. Semua ini gak akan terjadi kalau lo nurut sama perkataan Andrew untuk di rumah aja." sesal Inez dalam hati.
Namun penyesalan tak akan ada gunanya lagi. Inez harus menghadapi semua masalah dan menyelesaikannya. Inez pun bangun dan melangkahkan kakinya ke bawah shower. Dibasuh dan dicuci bersihnya tubuhnya yang sudah Ia anggap kotor tersebut.
Dibawah kucuran air shower yang dingin Ia pun mulai berpikir tenang. Pikirannya sudah mulai bisa berpikir apa yang harus Ia lakukan pertama kali yakni meminta maaf pada semua orang. Kalau perlu Ia akan berlutut guna mendapatkan maaf dari semuanya.
Mengenai mahkotanya yang hilang, walau amat berat dan tak rela Ia harus iklaskan. Masalah nanti tidak ada yang mau menerima dirinya yang tak suci lagi biarlah urusan nanti. Hadapi yang harus dihadapi sekarang.
Inez sudah memakai bajunya. Rambutnya yang basah Ia lilitkan dengan handuk agar cepat kering. Inez memegang gagang pintu kamar mandi lalu keluar dan menghadapi semuanya.
Betapa terkejutnya Inez, saat keluar kamar bukan hanya Rara dan Rio yang menunggunya, melainkan Andrew juga. Mata Andrew merah menahan marah. Keberanian yang susah payah Inez kumpulkan hilang sudah. Kakinya pun lemah untuk melangkah.
Andrew sedang duduk sambil menyilangkan kakinya. Kedua tangannya terlipat didadanya. Tatapan matanya yang tajam seakan hendak memakan Inez hidup-hidup.
Di sofa yang lain duduk Rio dan Rara berjauh-jauhan. Terlihat sekali kalau mereka habis bertengkar selama Inez di dalam kamar mandi.
"Ya Tuhan... semuanya kenapa jadi kacau kayak gini?" tangis Inez dalam hati.
"Ndrew..." kata pertama yang Inez ucapkan adalah memanggil kekasihnya. Tempatnya meminta perlindungan.
"Duduk Nez. Gue mau minta penjelasan atas apa yang gue lihat pagi ini." kata Andrew dengan nada suara paling menyeramkan yang Inez pernah dengar.
"Gue? Bahkan Andrew sudah gak mau aku kamu lagi...." sedih hati Inez.
Tes... Setetes air mata berhasil lolos dari pipi Inez. Belum apa-apa Ia sudah menangis apalagi nanti? Inez lalu duduk di kursi depan Andrew. Mereka berempat duduk duduk berjauh-jauhan.
"Ceritain apa yang sebenernya terjadi?" Andrew melihat Inez dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pandangannya terfokus pada bekas kissmark yang ada di leher Inez. Andrew lalu membuang pandangannya dengan kesal. Amarah di dalam dirinya semakin tersulut.
"Mmm... Semalam... Aku, Rara, Rio dan Jerry temannya Rio makan bareng di cafe. Waktu itu kamu pas lagi telepon aku. Lalu habis dari cafe kita lanjut ke lantai atas. Ke diskotek." cerita Inez dengan takut-takut.
"Kenapa lo harus ikut ke diskotek? Lo kan cuma bilang lagi makan di cafe? Kenapa bukan langsung pulang?"
"Gue yang ajak, Ndrew. Jangan menyudutkan Inez. Ini semua salah gue." Rara mulai bersandiwara membela Inez padahal dalam hati Ia tertawa melihat Inez dalam posisi yang sulit seperti sekarang.
"Enggak, Ra. Ini bukan salah lo. Gue juga yang memang ingin ke diskotek karena gue belum pernah kesana. Lo gak salah, Ra. Gue yang salah-" belum sempat Inez melanjutkan perkataannya Andrew sudah memotong ucapannya.
"Cukup! Gak usah kebanyakan drama. Lalu apa yang terjadi sampai jadi seperti ini?" Andrew menghentikan aksi saling membela antara Rara dan Inez dengan suaranya yang terdengar menyeramkan.
"Disana kita cuma pesan orange jus tapi entah kenapa aku merasa pusing. Entah bartendernya menambahkan alkohol didalamnya atau apa tiba-tiba kepala aku pusing. Dan.... seperti yang kamu lihat Sayang, aku udah... udah.....tidur sama Rio." Inez menghapus air mata di pipinya.
"Oke. Sekarang gue mau denger dari sudut pandang Rio. Kenapa lo bisa sampai nidurin pacar gue?"
"Seperti yang Inez bilang, Inez dan Rara mabuk. Gue sama Jerry cuma mau anterin mereka nginep di hotel. Gue sengaja booking dua kamar karena gue gak akan bisa nyetir dan nganterin mereka berdua. Gue bawa Rara dan Jerry bawa Inez. Setelah memapah Rara ke tempat tidur gue keluar kamar karena Jerry ngetuk pintu kamar gue."
"Lalu?" tanya Andrew tak sabaran saat Rio berhenti sejenak untuk menenangkan dirinya.
"Jerry bilang kalau Dia ada urusan mendadak. Dia nitip Inez. Gue... bawa Inez ke kamar dan... dan... gue gak inget lagi apa yang gue lakukan sampai tadi pagi Inez berteriak histeris."
"Sialan Lo!" Andrew menarik kerah baju Rio. "Lo tuh udah merusak cewek gue! Dan seenaknya aja lo bilang kalau lo gak inget? Gue tahu lo bohong! Pasti lo sengaja kan nidurin Inez?" kata Andrew dengan kemarahan yang berapi-api.
"Ndrew... sudah... Kita selesaikan semua ini baik-baik. Gak ada gunanya kamu emosi." Inez memegangi tangan Andrew berharap Andrew akan melepaskan Rio.
"Aaarrgghhh!!" Andrew melepaskan tangannya dari kerah Rio. Bukannya hanya itu, Ia juga menghempaskan tangan Inez.
"Sayang...." panggil Inez yang masih tak percaya dengan apa yang Andrew lakukan.
"Kalau lo mau selesaikan semuanya baik-baik, silahkan. Lo selesaikan. Tapi yang pasti, hubungan kita juga selesai. Kita PUTUS!"
terima kasih ya kak 😍😍😍😍