Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.
Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.
Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Ceklek!
Pintu itu ternyata tidak terkunci. Hal pertama yang Tirta lihat adalah kegelapan, bahkan lebih gelap dibandingkan saat pertama kali dirinya memasuki kamar itu. Celah jendela pun ditutup rapat sehingga tidak ada sedikit pun cahaya yang masuk.
“Marchel...”
Panggilnya pelan. Langkahnya bergerak perlahan sembari tangannya meraba dinding, mencari saklar lampu yang masih ia ingat letaknya.
“Berhenti di sana!”
Suara bariton pria itu mengagetkan Tirta hingga gadis itu terjingkat di tempatnya berdiri. Suara itu terdengar sangat jauh, sepertinya berasal dari sudut ruangan yang entah berada di sebelah mana.
“Kamu di mana?” Tanya Tirta sembari memberanikan diri melangkahkan kaki, tetap melanjutkan niatnya mencari saklar lampu.
“Sepertinya kamu sudah tidak menarik lagi. Sikap ikut campurmu sudah terlalu jauh!” Meski bulu kuduknya sudah berdiri karena merinding, Tirta tetap berjalan perlahan. Gadis itu tidak terlalu memedulikan apa yang pria itu katakan.
“Apa kamu sudah tuli sampai tidak mengerti bahasa manusia?”
Tek!
Marchel langsung memalingkan wajah saat lampu kamar menyala terang. Tirta menoleh ke segala arah hingga akhirnya menemukan pria itu berada di sudut kamar, tepat di dekat ruang ganti. Wajahnya terlihat pucat, tetapi sorot matanya masih begitu tajam.
“Aku ingin mengajakmu makan. Aku tadi membuat nasi goreng.” Tirta perlahan mendekat. Pria itu masih menatapnya dengan tatapan mengerikan.
“KELUAR!”
Bentakannya menggema begitu keras hingga Tirta kembali terlonjak kaget. Ini adalah pertama kalinya dirinya diteriaki sekeras itu.
“Tenang! Aku hanya mengajakmu makan, bukan mengajakmu berperang! Tidak perlu berteriak, aku juga tidak tuli!” Serunya dengan wajah yang mulai memerah karena kesal. Ia merasa seolah dirinya sedang direndahkan oleh pria itu.
“Sekarang keluar.” Nada bicara yang tadi begitu tinggi kini berubah rendah. Bahkan pria itu memalingkan wajahnya ketika bertemu dengan tatapan lembut milik Tirta.
“Kamu tidak bersalah atas semua yang terjadi. Itu murni sebuah kecelakaan. Sampai kapan kamu akan terus berada di kamar gelap ini? Delapan tahun sudah berlalu, tapi kamu masih terus mengurung diri. Kalau dia tahu kamu masih terbelenggu masa lalu seperti ini, apa kamu pikir dia akan tenang di sana?”
“Tahu apa kamu sampai berani menasihatiku seperti ini?” Tanya pria itu dengan nada penuh amarah.
“Aku mungkin tidak tahu sesakit apa yang kamu rasakan. Tapi yang pasti, ini sudah kelewatan. Kamu menyiksa dirimu sendiri seolah tidak ada lagi orang di dunia ini yang menyayangimu.” Tuturnya pelan, lalu berbalik meninggalkan kamar pria itu.
“ARGHHH!!”
Pranggg!
Suara benda pecah terdengar dari dalam kamar. Namun Tirta tidak menoleh sedikit pun. Gadis itu berjalan dengan langkah cepat menuju dapur. Tangannya segera mengambil sepiring nasi goreng yang sudah ia buat dengan susah payah, berniat membuangnya.
Namun saat hendak membuangnya ke tempat sampah, ia kembali mengurungkan niat. Perlahan ia meletakkan kembali piring itu di atas meja makan.
“Berani sekali dia berteriak padaku seperti itu! Dia pikir dia siapa? Aku tidak mau bertemu dengannya lagi. Tidak akan!” Gerutunya kesal.
Ia segera masuk ke kamarnya lalu menutup pintu dengan keras. Beginilah dirinya saat marah. Amarahnya akan meledak-ledak, tetapi biasanya akan reda jika diberi waktu sendiri beberapa saat. Tirta membaringkan tubuhnya sambil memejamkan mata.
Namun karena emosinya masih tinggi, kantuk sama sekali tidak datang. Hatinya sebenarnya dipenuhi rasa khawatir, tetapi egonya masih terusik oleh semua ucapan pria itu.
Detik demi detik berlalu.
Menit berganti menit.
Bahkan hingga dua jam lamanya ia hanya berbaring tanpa bisa memejamkan mata. Perasaan gelisah terus mengusik pikirannya. Saat emosinya mulai mereda, gadis itu perlahan bangun lalu keluar dari kamarnya. Kini ia kembali berdiri di depan kamar Marchel. Tanpa mengetuk pintu, ia membukanya perlahan.
Lampu kamar masih menyala. Marchel masih duduk menunduk di atas kursi rodanya sambil memegang sebotol obat. Tirta segera menghampiri. Ia sempat khawatir kalau obat yang diminum pria itu adalah obat untuk bunuh diri. Namun setelah membaca labelnya, ternyata itu hanyalah obat tidur.
“Dasar tuan pemarah. Tidur saja masih harus dibantu obat tidur.” Gerutunya pelan.
Ia mengambil botol obat itu, lalu menaruhnya di atas meja. Setelah itu ia mengambil kotak P3K yang berada tidak jauh dari sana. Dengan telaten Tirta mengobati tangan pria itu yang penuh luka. Bahkan dirinya ikut meringis, seolah tangan yang terluka itu adalah miliknya sendiri.
Setelah selesai mengobati luka-luka tersebut, ia merapikan tempat tidur Marchel, lalu mendorong kursi roda pria itu hingga berada tepat di samping ranjang. Dengan susah payah, Tirta mulai memindahkan tubuh besar itu ke atas kasur.
Tenaganya benar-benar terkuras. Tubuh Marchel jauh lebih berat daripada yang ia bayangkan. Kini pria itu sudah berbaring rapi di atas ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya. Anehnya, selama semua itu dilakukan, Marchel sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbangun.
Tirta duduk di sisi ranjang sambil menatap wajah pria tersebut. Wajahnya tampak berantakan. Janggut dan kumis tipis mulai tumbuh tanpa terawat. Namun, meski begitu, wajahnya tetap terlihat tampan. Terlebih ketika Tirta mengingat sepasang mata biru itu yang selalu menatapnya dengan berbagai macam ekspresi.
Tanpa sadar, Tirta mengusap lembut wajah pria itu. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya. Entah sejak kapan dirinya mulai terpesona pada pria tersebut.
“Ternyata saat tidur kamu terlihat sangat polos dan lembut. Sayangnya, begitu matamu terbuka, rasanya dunia ini akan berada di ambang kehancuran.” Gumamnya pelan sambil terkekeh kecil. Tangannya kembali mengusap pelan rambut Marchel.
“Aku sungguh tidak mengerti dengan sikapmu. Kadang kamu begitu lembut, lalu berubah kasar, kemudian baik lagi. Sebenarnya separah apa depresi sampai bisa membuat seseorang berubah-ubah seperti ini?” Monolognya sembari mencubit pelan pipi pria itu dengan gemas. Bahkan ia sampai harus menahan tawanya sendiri.
“Bolehkah aku berharap sesuatu yang seharusnya tidak boleh kuharapkan?” Ucapnya lirih.
Setelah itu Tirta berdiri dan mulai membersihkan kamar Marchel. Tanpa sepengetahuannya, ternyata pria itu masih sedikit sadar. Kelopak matanya terbuka tipis meski rasa kantuk yang luar biasa sudah menyerangnya.
“Kurang ajar sekali gadis itu...” Gumamnya lirih.
Tak lama kemudian, efek obat mulai bekerja sepenuhnya hingga pria itu benar-benar tertidur. Sejak tadi sebenarnya ia ingin membuka mata dan menghentikan semua tindakan Tirta. Namun tenaganya sudah terlalu lemah. Karena itu ia memilih berpura-pura tidur, hanya untuk mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan gadis tersebut. Setelah selesai membersihkan kamar, Tirta hendak keluar.
Namun rintihan pelan dari Marchel membuat langkahnya terhenti. Ia segera berbalik lalu berjalan cepat menghampiri pria yang masih tertidur dengan wajah pucat itu. Dahinya dipenuhi keringat.
Tangannya meremas erat selimut seolah sedang dilanda ketakutan yang luar biasa. Mulutnya terus meracau mengucapkan kata maaf dan penyesalan. Air mata mengalir begitu saja dari sudut matanya.
“Tenang... tenanglah... Aku menemanimu di sini...” Ucap Tirta yang kini duduk di samping ranjang sambil menggenggam tangan besar pria itu.
“Aku salah... maaf... jangan tinggalkan aku di sini... aku takut... tolong...” Rintihnya terus-menerus mengulang kata maaf.
“Tidak apa-apa... semuanya akan baik-baik saja... Aku masih di sini... Aku akan menemanimu... tenanglah...” Tanpa sadar Tirta memeluk pria itu.
Ia bersandar pada kepala ranjang sambil mendekap Marchel dengan sangat lembut. Tangannya terus mengusap kepala hingga punggung pria tersebut. Dan tanpa disadari pula, Marchel membalas pelukan itu dengan sangat erat, seolah takut gadis itu akan pergi.
Beberapa menit kemudian, napas pria itu mulai kembali tenang. Namun anehnya, saat Tirta hendak melepaskan pelukannya, kedua tangan besar itu justru semakin mengerat. Ia tidak mampu melepaskan diri. Pada akhirnya, Tirta ikut terlelap di dalam pelukan pria itu. Malam sudah terlalu larut. Besok pagi dirinya masih harus kembali bekerja.
...****************...
💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜