Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 - SEDIKITNYA SENILAI SEGINI
Pangeran Panji diam-diam menaksir kembali sosok Nona Ketujuh yang duduk santai di ruang kerja itu. Gadis yang dulu mampu mengguncang ibu kota dengan ulahnya kini tampak berbeda — dan sebagaimana diketahui semua orang, kelahirannya sendiri sudah merupakan keistimewaan yang diatur rapi oleh takdir.
Ia lahir dari rahim mendiang Sasanti, istri sah Adipati Pramana — putri sah keluarga Ardani. Selain dirinya, hanya kakak tertuanya, Maruta, yang lahir dari istri sah; sedangkan kelima kakak tiri lelakinya berasal dari para selir. Bisa dikatakan Wulan sangat dimanja sejak kecil, dilindungi dari angin dan hujan, sehingga temperamen manja dan cueknya tumbuh tanpa penghalang. Di matanya, takdir seolah memang sedang mengatur agar ia menjadi bintang paling terang di keluarga Ardani.
Nona Ketujuh tidak tertarik pada musik, catur, kaligrafi dan lukisan, puisi, anggur, maupun teh. Sebaliknya, ia cukup penasaran pada tarian pedang dan mainan tongkat. Tidak hanya ia tidak memiliki kelembutan dan ketenangan seperti gadis-gadis lainnya, ia juga membuat masalah setiap hari dan memukuli anak-anak dari beberapa keluarga bangsawan di ibu kota — sampai-sampai anak-anak itu gemetar ketakutan setiap melihatnya. Dapat dikatakan bahwa Adipati Pramana hampir setiap hari mengikuti jejaknya untuk meminta maaf kepada keluarga-keluarga bangsawan itu. Namun di balik semua kenakalan itu, Wulan tidak pernah menyentuh orang yang lemah atau mereka yang tidak bersalah — ia hanya tidak bisa diam ketika diperlakukan tidak adil, dan itulah yang membuat para bangsawan itu tidak bisa benar-benar membencinya.
Omong-omong, sebenarnya ini tidak berbahaya. Gadis-gadis dari keluarga bangsawan yang dibesarkan dengan cara dimanjakan pasti akan menjadi sombong dan keras kepala. Tetapi yang dikhawatirkan Pangeran Panji bukanlah di situ, melainkan hubungan yang tidak dapat dijelaskan antara Wulan dengan Pangeran Cendana.
Siapa di kalangan bangsawan ibu kota yang tidak tahu bahwa Nona Ketujuh keluarga Ardani menyukai Pangeran Cendana? Demi pangeran itu, ia tidak hanya berkelahi dengan wanita-wanita bangsawan lain di jalan, tetapi juga mencari hidup dan mati tanpa peduli pada martabatnya sendiri. Ia telah melakukan banyak perbuatan arogan selama beberapa tahun terakhir. Faktanya, Adipati Pramana hampir dipermalukan sepenuhnya oleh putrinya yang membuat keonaran itu. Beruntungnya, Pangeran Cendana tidak pernah benar-benar menanggapi perasaan gadis itu — ia menerima semua perhatian itu dengan senyum tipis, tanpa pernah berjanji apa pun, seperti orang yang menikmati layanan tanpa bermaksud membalas.
Nalendra tahu bahwa hati Wulan tidak berada padanya, tetapi setahun yang lalu ia tetap meminta Sultan mengeluarkan dekret pernikahan untuknya. Pangeran Panji benar-benar tidak mengerti — apakah sahabat baiknya ini memang suka dengan sesuatu yang berbeda dari orang lain, atau apakah ia benar-benar sedang memikirkan sesuatu yang tidak dapat dipahami. Apakah ia sedang membayar utang masa lalu, ataukah ia melihat sesuatu di balik topeng Nona Ketujuh yang tidak pernah dilihat orang lain? Pangeran Panji tidak berani berspekulasi lebih jauh.
Saat ia memikirkan hal itu, secangkir teh panas yang mengepul disodorkan ke hadapannya. Pangeran Panji mengangkat kepalanya dan menatap mata Nalendra yang sedikit dingin — penuh dengan peringatan diam-diam yang jelas tertuju padanya. Peringatan itu tidak perlu diucapkan — kehadiran teh panas yang tiba-tiba itu sudah cukup untuk membuat Pangeran Panji mengerti di mana batas dirinya.
Pangeran Panji dengan cepat menarik kembali pandangannya yang sejak tadi tertuju pada Wulan, lalu berpura-pura duduk tegak dan menatap dengan penuh perhatian ke arah lain. Ia lebih memilih menikmati tehnya yang hangat.
Wulan tahu apa yang sedang dipikirkan Pangeran Panji, tetapi ia tidak peduli. Ia hanya menunduk untuk melihat lukisan yang baru saja diselesaikan Nalendra. Di kejauhan tampak senja yang mulai meredup, beberapa burung gagak yang kesepian terbang di kejauhan, dan setengah batang pohon tua yang bungkuk di tepi jalan — sementara di tempat lain, ruang kosong yang luas dibiarkan begitu saja tanpa sapuan tinta. Lukisan itu seperti cermin — semakin ia memandang, semakin ia merasa sedang membaca sesuatu yang tidak pernah diucapkan oleh pemiliknya. Ia menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh.
Senja di desa yang sunyi, pepohonan tua yang bercabang dengan burung gagak di tengah asap tipis, dan bayangan naga yang terbang melintas. Lukisan yang begitu sepi dan sunyi membuat siapa pun yang melihatnya merasa gelisah tanpa sebab yang jelas. Seolah ada kesunyian yang sama di antara keduanya, yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dan itulah misterinya.
Dikatakan bahwa lukisan itu seperti orangnya, dan orangnya seperti lukisannya — suasana dalam lukisan adalah gambaran keadaan hati seseorang. Apakah itu berarti keadaan hati Nalendra juga sesepi lukisan ini? Wulan tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik ke arahnya. Tetapi Wulan tidak berani bertanya langsung, karena ia takut jawabannya justru akan membuat ia semakin ragu tentang apa yang tengah terjadi di antara mereka berdua. Terkadang, diam adalah cara terbaik untuk melindungi sesuatu yang masih rapuh.
Entah apakah ia menyadari apa yang dipikirkan Wulan, Nalendra menunduk dan menghindari pandangannya. Jari-jarinya yang ramping memutar kuas, seolah tidak ingin ada orang membaca isi hatinya terlalu dalam.
Namun, Pangeran Panji datang dengan penuh semangat dan berkata sambil tersenyum, "Tahukah kau? Lukisan Nalendra bernilai sangat tinggi." Matanya berbinar, seperti orang yang membanggakan harta sahabatnya. Wulan mengangkat alis, penasaran. Ia belum pernah melihat siapa pun menilai lukisan Nalendra setinggi ini — biasanya orang lebih sibuk membicarakan ketajaman pedangnya daripada kelembutan kuasnya. Siapa sangka.
"Benarkah? Seberapa tingginya?" Wulan mencondongkan tubuh ke depan dan melihat lukisan itu lagi. Ia tidak memahami hal-hal artistik seperti itu, tetapi menurut pengamatannya lukisan itu tampak cukup bagus. Ia hanya tidak tahu seberapa tingginya nilai itu menurut Pangeran Panji.
"Lukisan ini setidaknya senilai segini." Pangeran Panji merendahkan suaranya dan dengan misterius membuat sebuah isyarat angka di hadapannya. "Ini adalah barang yang tak ternilai harganya." Nada suaranya sungguh-sungguh, tanpa sedikit pun bercanda. Ia mengulurkan tangan, meminta Wulan menebak angka itu, lalu tertawa ketika Wulan menggeleng tidak percaya.
Wulan tercengang mendengarnya. Satu lukisan bisa membeli sebuah rumah bagus di ibu kota — dan ia baru saja hampir menggunakannya sebagai alas meja. Ia berjanji tidak lagi memperlakukan lukisan itu dengan sembarangan.
"Sayang sekali—" Pangeran Panji memanjangkan suaranya dan berkata dengan sedikit penyesalan, "Pangeran Senja ini memiliki temperamen yang sangat angkuh. Lukisannya tidak pernah beredar di pasaran, dan ia enggan memberikannya dengan mudah. Tentu saja, kau bahkan tidak akan bisa membelinya." Ia menggeleng-gelengkan kepala, seolah ikut menyayangkan harta yang tak bisa dimiliki siapa pun. Dan barangkali itulah sebabnya Nalendra tidak pernah menjual satu pun lukisannya — ia hanya menggambar untuk orang-orang yang ia anggap layak memahaminya.