NovelToon NovelToon
SISTEM MEDIS SUPER DOKTER LEGENDARIS

SISTEM MEDIS SUPER DOKTER LEGENDARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dokter Ajaib
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Krieettt.

Pintu darurat lantai tiga dibuka secara perlahan dari luar.

Tiga orang penyusup melangkah masuk ke lorong sambil mengarahkan senapan mereka ke segala arah.

"Lorong ini kosong, Tuan Kevin," lapor salah satu penyusup melalui alat komunikasi di telinganya.

"Maju terus, mereka pasti bersembunyi di ruang ICU di ujung sana," balas suara Kevin dari radio.

Tepat saat ketiga penyusup itu berjalan melewati tabung oksigen yang dimodifikasi oleh Leo.

Trrrssshhh!

Katup tabung terbuka secara otomatis dan menyemprotkan uap putih pekat ke arah mereka bertiga.

"Sial! Gas apa ini?!" teriak salah satu penyusup sambil terbatuk-batuk hebat.

"Mata... mataku perih sekali!"

Uap campuran Sevoflurane dan amonia itu langsung masuk ke dalam paru-paru mereka.

Dalam hitungan lima detik, ketiga penyusup berbadan besar itu kehilangan keseimbangan.

Brugh! Brugh! Brugh!

Mereka bertiga jatuh pingsan ke lantai dengan suara berdebum keras.

"Ada jebakan gas!" teriak penyusup lain yang masih berada di area tangga.

"Mundur semua, pakai masker filter kalian!"

Kevin yang baru sampai di lantai dua mendengar kekacauan itu dan mengutuk keras.

"Dokter keparat itu benar-benar licik!"

"Tembak saja semua tabung yang mencurigakan di lorong itu dari jauh!" perintah Kevin penuh amarah.

Dor dor dor!

Hujan peluru mulai berterbangan di koridor lantai tiga.

Beberapa tabung gas jebakan Bima meledak karena terkena peluru dan memenuhi lorong dengan asap putih.

Namun karena para penyusup sudah memakai masker filter, gas itu tidak lagi mempan pada mereka.

Mereka mulai maju perlahan menembus kepulan asap pelumpuh tersebut.

Bima yang mengamati dari kejauhan mengambil dua buah alat suntik dari saku jasnya.

Suntikan itu berisi cairan pelemas otot dosis tinggi.

"Gasnya sudah tidak berguna, Dokter Bima," bisik Leo sambil mengarahkan pistolnya.

"Aku akan menahan mereka di sini, Anda mundurlah ke ruang ICU."

Bima menahan lengan Leo dan menggelengkan kepalanya.

"Jika kau menembak, kilatan api dari pistolmu akan memberitahu posisi kita pada mereka, Leo."

"Biar aku yang maju membereskan mereka dalam kegelapan ini."

Mata Leo membelalak tidak percaya mendengar ucapan Bima.

"Anda gila, Dokter?"

"Mereka itu pembunuh terlatih dan bisa melihat menggunakan kacamata malam!"

"Tapi aku bisa melihat lebih jelas daripada alat murahan mereka itu," jawab Bima tenang.

Bima melangkah perlahan ke tengah lorong yang dipenuhi asap tebal.

Dia berjalan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Di mata Bima, kerangka para penyusup itu terlihat sangat jelas bersinar di balik asap.

Dua orang penyusup berjalan paling depan sambil menyapu area dengan senter senapan.

Bima mendekati mereka dari arah titik buta.

"Sistem, tunjukkan titik saraf motorik utama di leher mereka," batin Bima.

[Titik saraf Brakialis terdeteksi tepat tiga sentimeter di bawah telinga kanan.]

Bima bergerak secepat kilat.

Sring!

Dia menusukkan jarum suntik itu tepat ke leher penyusup pertama dari arah belakang.

Jleb.

Cairan pelemas otot itu masuk langsung ke pembuluh nadi penyusup tersebut.

"Ughh!"

Penyusup itu hanya bisa mengerang tertahan sebelum seluruh tubuhnya lumpuh total dan jatuh ke pelukan Bima.

Bima meletakkan tubuh pria itu ke lantai tanpa suara bising.

Penyusup kedua yang menyadari temannya menghilang langsung memutar tubuhnya.

"Siapa di sana?!"

Belum sempat penyusup itu menarik pelatuknya, sebuah pisau bedah medis berkilat di udara.

Sret!

Bima menggoreskan pisau bedah itu tepat ke urat pergelangan tangan penyusup yang memegang senjata.

"Aaaargh!"

Penyusup itu menjerit kesakitan dan senjatanya terjatuh ke lantai dengan suara nyaring.

Brak.

Bima langsung memberikan tendangan keras ke ulu hati pria itu hingga dia pingsan karena syok.

Kevin yang berada di belakang barisan mendengar jeritan anak buahnya.

"Tembak ke depan!" teriak Kevin panik.

"Jangan biarkan dia mendekat!"

Tratatatat!

Rentetan tembakan kembali memecah kesunyian malam rumah sakit.

Bima segera melompat dan berguling berlindung di balik meja resepsionis yang tebal.

Serpihan kayu dan beton berhamburan di atas kepalanya.

"Host tidak terluka?" tanya sistem secara otomatis.

"Aku baik-baik saja, tapi kita tidak bisa terus bermain kucing-kucingan seperti ini," batin Bima.

Leo yang melihat Bima terpojok akhirnya memutuskan untuk menembak balik.

Dor dor dor!

Tiga peluru dari pistol Leo mengenai kaki dua orang penyusup hingga mereka tersungkur.

"Tembak pria bertubuh besar di ujung sana!" perintah Kevin yang menyadari posisi Leo.

Seketika, seluruh senjata penyusup diarahkan ke tempat persembunyian Leo.

"Leo, awas!" teriak Bima memperingatkan.

Namun rentetan tembakan dari para penyusup terlalu lebat.

Salah satu peluru berhasil menembus bahu kanan Leo.

"Argh!"

Leo mengerang kesakitan dan pistolnya terlepas dari genggamannya.

Darah segar mulai mengalir membasahi mantel tebal pengawal itu.

"Hahaha! Kena kau!" tawa Kevin menggema di lorong yang gelap itu.

"Maju dan habisi pengawal itu, lalu seret dokter sialan itu ke hadapanku!"

Para penyusup mulai bergerak cepat mendekati meja tempat Bima dan Leo berlindung.

Bima menatap Leo yang sedang memegangi bahunya yang berdarah.

"Bertahanlah, Leo."

"Aku tidak akan membiarkan ada yang mati di bawah pengawasanku malam ini."

Bima mengambil sebuah botol kaca berisi cairan bening pekat dari dalam tas medis daruratnya.

Itu adalah cairan asam konsentrat tinggi dari laboratorium yang biasa digunakan untuk melarutkan limbah organik keras.

Bima membuka tutup botol itu dan melemparkannya tinggi-tinggi ke arah langit-langit lorong.

Prang!

Botol itu pecah membentur lampu neon yang mati, dan cairan asamnya tumpah membasahi lantai keramik tepat di depan para penyusup.

Cairan asam itu langsung bereaksi dengan lantai dan sisa amonia yang ada di sana.

Sssshhh!

Asap beracun yang sangat pekat dan berbau menyengat langsung membumbung tinggi.

Bahkan masker filter milik penyusup tidak mampu menahan reaksi kimia yang membakar kulit wajah mereka itu.

"Panas! Mataku terbakar!" jerit para penyusup sambil melepaskan kacamata malam dan senjata mereka.

Mereka berlarian mundur tak tentu arah sambil memegangi wajah mereka yang memerah.

Kevin yang berada paling belakang terbatuk-batuk hebat dan menutupi wajahnya dengan jaket.

"Mundur! Semuanya mundur ke tangga bawah!" teriak Kevin dengan suara panik dan ketakutan.

Bima berdiri perlahan dari balik meja resepsionis.

Mata Bima bersinar dingin dalam kegelapan berkat bantuan sistemnya.

Dia menatap Kevin yang sedang berlari terseok-seok menuruni tangga.

"Ini baru permulaan, Kevin."

"Jika kalian berani kembali lagi ke mari, aku pastikan tidak akan ada cairan penawar untuk kalian," ucap Bima dengan suara pelan namun mematikan.

Suasana lorong lantai tiga akhirnya kembali sunyi, hanya menyisakan erangan kesakitan dari beberapa penyusup yang pingsan dan terluka.

Bima segera berjongkok dan merobek kemeja Leo untuk menghentikan pendarahan di bahunya.

"Sistem, berikan analisis pendarahan Leo."

[Pendarahan tidak mengenai arteri utama.]

[Luka tembus bersih di jaringan otot bahu kanan.]

"Syukurlah lukamu tidak fatal, Leo."

Bima menggunakan perban medis dan menekan luka pengawal itu dengan kuat.

Leo tersenyum lemah menahan rasa sakitnya.

"Anda benar-benar bukan dokter sembarangan, Dokter Bima."

"Anda mengubah rumah sakit ini menjadi benteng mematikan hanya dengan alat kebersihan."

Bima menghela napas panjang dan membantu Leo berdiri.

"Kita belum menang sepenuhnya, Leo."

"Sindikat Ular Hitam tidak akan menyerah hanya karena kehilangan satu regu penyerang malam ini."

Bima menatap tajam ke arah jendela rumah sakit yang menampilkan langit malam kota yang kelam.

Waktu untuk menyembuhkan Kiara tinggal empat belas hari lagi.

Bima harus segera menemukan markas utama pembuatan racun sindikat tersebut untuk memotong masalah ini dari akarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!