NovelToon NovelToon
DOSEN DUDA DINGIN

DOSEN DUDA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Dosen
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: BJP

Oliver Robert dosen tampan bersatatus duda dan dia mempunyai anak kembar, suatu hari anak kembarnya Oliver bertemu dengan salah satu mahasisa Piskolognya yang bernama Zafana
Oliver dan kedua anaknya yang sellu menutup diri dari orang lain.

Pertemuan yang tidak sengaja itu membuat Oliver sadar jika Zafana berbeda dari wanita yang lain yang pernah ia temui dari wanita lain termasuk mendiang istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BJP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

06

Pagi ini Zafana berjalan menuju tukang bubur yang biasa berjualan didepan komplek perumahannya masih lengkap dengan piyama yang kebesaran dan rambut yang tergerai dan sedikit kusut. Clara harus menyusul Damian keluar kota untuk membantu pekerjaannya pagi tadi membuat Zafana dengan sangat terpaksa pergi membeli bubur karena ia tidak bisa masak, Alaska bisa, tapi dia adalah orang yang sangat malas. Jadi percuma saja. Zafana mengusap bola matanya yang masih mengantuk. Kalau saja Alaska tidak tariak minta dibelikan bubur, mungkin Zafana masih tertidur nyenyak diatas kasur. Zafana berhenti tepat didepan gerobak tukang bubur ayam langganannya.

"Mang, buburnya dua ya, biasa" ucapnya.

"Eh, Neng Zafana, yang satu gak pakai kecap kan?"tanya mang Iman, si tukang bubur ayam terenak versi Alaska dan Zafana.

"Iya mang, sama jangan pakai kacang, ya"

"Siap neng, Silahkan Di tunggu dulu Neng.

Zafana hanya mengangguk lalu duduk ditempat yang sudah disediakan sambil menelengkupkan kepalanya kedalam lipatan tangan dengan mata terpejam. Zafana sungguh masih mengantuk.

Tidak lama ia mendengar suara sebuah mobil berhenti didepan gerobak bubur mang Iman. Pengendara mobil tersebut keluar bersama dnegan dua anak kecil yang masih mengenakan piyama.

"Bang, buburnya tiga, yang dua setengah porsi, dipolos ya, yang satu campur" ucap seorang pria memesan bubur pada mang Iman.

"Siap, pak, silangkan di tunggu dulu pak"jawabnya

dengan semangat.

Oliver duduk tepat dihadapan Zafana yang sebentar lagi akan terlelap kembali ke alam mimpi. Matanya memicing saat kembali mengingat Zafana saat melihat puncak kepala wanita didepannya.

"Pa, kemarin Enzi ketemu sama tante cantik, mirip mama"ucap Enzi, anak lelaki Oliver dengan cadelnya

"ihh.. Enzi katanya gak boleh bilang papa "teriak Aileen.

Suara cempreng Aileen membuat Zafana terusik dari tidur singkatnya dan mengangkat kepalanya. Matanya membulat saat melihat Oliver yang sedang menatap nya dengan sebelah alis yang terangkat. Zafana dan Oliver saling bertukar pandang dalam beberapa detik sampai akhirnya suara Enzi membuat mereka mengalihkan pandangan satu sama lain.

"Nah, ini pa tante cantiknya"tunjuk Enzi pada Zafana.

Zafana yang merasa seperti dihakimi mengerutkan keningnya bingung dengan telunjuk yang tertuju pada dirinya sendiri.

"Bapak lagi ngapain disini?"tanya Zafana.

"Beli bahan bangunan"jawab Oliver singkat.

Zafana semakin mengerutkan keningnya lalu menoleh kearah mang Iman yang terlihat sangat serius membukus bubur kemudian kembali menatap Oliver.

"Lah? Kan ini tukang bubur bukan tukang bangunan"ucap Zafana bingung.

"Itu tau, kenapa masih nanya?"

"Ya kan maksud saya gak gitu, bapaknya aja yang bego"gumam Zafana.

"Apa?"tanya Oliver yang sedikit mendengar gumaman Zafana.

"Apa?"tanya Zafana balik.

"Kamu bilang saya bego?!"

"Itu tau, kenapa masih nanya?"ucap Zafana sambil mengikuti gaya bicara Oliver sebelumnya.

"Itu kata-kata saya"

"Bodo amat, gak peduli"

Oliver memutar bola matanya malas. Kenapa dari sekian banyak mahasiswa yang terpikat padanya hanya ada satu mahasiswa yang tidak peduli padanya, dan kenapa orang itu harus Zafana?

Zafana menghentakan kakinya saat masuk kedalam rumah. Entah kenapa setiap kali bertemu dengan Oliver ia menjadi kesal, mood nya tiba-tiba berubah saat melihat Oliver.

"Ngapain sih tuh dosen pakai acara beli bubur di mang Iman? Ganggu pagi gue aja?"gerutu Zafana.

"Eh tapi, anak kecil tadi itu anak dia? Dia udah nikah?"tanyanya pada diri sendiri.

Zafana terus menggerutu meski Oliver sudah tidak ada dihadapannya. Kini dirinya sedang berada didapur, menyiapkan bubur yang ia beli kedalam mangkuk.

Alaska memperhatikan adiknya dari belakang. Ucapan, gerutuan dan pertanyaan Zafana pada dirinya sendiri terdengar jelas olehnya. Diam-diam ia terkekeh melihat Zafana. Terbesit ide jahil diotaknya untuk mengejutkannya.

"WOY!"teriak Alaska dengan kedua tangan yang menepuk kedua bahu Zafana membuatnya terlonjat kaget dan langsung berbalik.

"KURANG AJAR LO KA, KAKAK GILAAAA! GAK PUNYA OTAK! KAGET GUE!"umpat Rheyna dengan suara yang melengking. Untung saja mamanya sedang tidak dirumah.

"Sakit kuping gue!"ucap Alaska sambil menutup telinganya.

"Bodoamat, Kakak gila ya!"jawab Zafana kesal.

"Lihat tuh, bubur gue tumpah"tunjuk Zafana pada buburnya yang tumpah sedikit keatas meja.

"Yaelah, dikit gitu. Tinggal ambil pakai sendok bisa"ucap Alaska lalu membawa mangkuk bubur miliknya menuju meja makan.

"Emang dasar Kakak gak punya otak banget ! Bilang makasih kek udah dibeliin, udah disiapin. Malah bawa kabur gitu aja"umpat Rheyna lalu duduk di meja makan dengan mangkuknya.

"Lo ketemu siapa tadi?"tanya Alaska tiba-tiba membuat Zafana tersedak.

"Uhuk uhuk"segera Alaska mengambilkan minum untuk adiknya.

"Kalau makan pelan-pelan!"ucap Alaska.

"Kakak yang salah"jawab Rheyna.

"Hemm yaudah.."Alaska pun hanya bisa pasrah. Memang kodratnya lelaki harus siap untuk disalahkan

"Terus tadi lo ketemu siapa?"Alaska mengulang pertanyaannya

"Dosen Alvano Sialan Gio Alveric"jawab Zafana.

Mendengar penuturan Rheyna seperti itu membuat Alaska tertawa,

"lo kok suka banget ketemu dia, sih?"tanya Alaska.

"Mana gue tau, dia nya kali yang ngefans sama gue. Jadi ngikutin mulu, bisa jadi, kan?"jawab Zafana dengan percaya diri nya.

"Lo kali yang ngefans sama dia "ledek Alaska.

"Dih! Kalo ngomong tuh dijaga ya!"jawab Zafana yang hampir saja melayangkan sendok bubur ke kepala Alaska.

Alaska lagi-lagi dibuat tergelak melihat raut wajah kesal Zafana.

"Eh, omong-omong dia udah nikah ya? Udah punya anak juga?"kali ini Zafana bertanya pada Alaska.

"Hah? Lo baru tau, Na? Dia udah duda kali sekarang"jawab Alaska dengan santainya.

"Hah? Duda? Kok Kaka tau?"tanya Zafana

Alaska membulatkan matanya lalu menutup mulutnya yang menganga, "gue...keceplosan"

"Kaka tau darimana?"tanya Zafana sekali lagi.

"Ya...ya tau lah"jawab Alaska gugup

"Tau darimana, Ka'Alaska?"tanya Zafana.

Alaska menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu meraih mangkuk bubur miliknya,

"ah udahlah gue mau makan dikamar sambil nonton"jawabnya.

"KAK ALASKA JAWAB DULU PERTANYAAN GUE! Kaka TAU DARIMANA KALO DOSEN GUE DUDA?"tanya Zafana sambil berteriak saat Alaska menutup pintu kamarnya.

Zafana terdiam dimeja makan dengan sendok yang berdiri tegak digenggamannya.

"Jadi...pak Oliver itu duda? Kok bisa?" Zafana bertanya pada dirinya sendiri.

Roos! Satu nama yang seketika terbesit diingatannya membuat Zafana segera berlari ke kamar dan mencabut ponselnya yang sejak malam di charger.

Roos

Kita perlu ngobrol

Hanya itu yang bisa Zafana sampaikan pada Roos disaat pikirannya sudah menampung terlalu banyak pertanyaan.

Tapi...pemandangan wajah Oliver tadi pagi dengan wajah bare face dan kacamata yang menggantung dihidung mancungnya sangat berkesan diingatan Zafana.

Dari sekian banyak wajah Oliver yang ia temui, ia hanya menyukai yang ini. Terlebih ketampanannya semakin terlihat jantan jika seperti ini.

"Astaga! Zafana fix lo udah gila!"ucap Zafana saat tersadar jika dirinya baru saja mengagumi dosen yang ia benci itu.

Di sisi lain Oliver memperhatikan kedua anaknya yang tidak henti terus membicarakan soal Zafana. Tidak salah jika mereka mengatakan kalau Zafana mirip dengan Casandra, karena memang begitulah adanya.

Tapi tetap saja Oliver merasakan jika mereka berdua sangatlah berbeda.

Saat ini Oliver sudah berada dalam perjalanan pulang usai menyantap sarapan di tukang bubur. Sebenarnya itu bukanlah tukang bubur langganannya, tapi karena Aileen yang terus merengek meminta bubur dan berhubung tukang bubur langganannya itu sedang tutup membuat Oliver mencarinya hingga ke komplek perumahan Zafana.

"Papa, Enzi boleh punya mama baru?"tanya Enzi seketika membuat lamunan Oliver buyar.

"Ai juga pengen punya mama"timpal Aileen dengan mata yang berbinar.

Oliver mengangkat kedua alisnya mencerna ucapan kedua anaknya ini, "mama?"

Enzi mengangguk, "tante cantik yang tadi, Enzi mau tante itu jadi mama Enzi"

Mendengar perkataan Enzi tersebut membuat Oliver sontak membulatkan kedua matanya. Tidak pernah ia melihat Enzi seantusias itu dengan suatu hal.

"Nanti papa carikan ya sayang" jawab Oliver pada akhirnya membuat Aileen dan Enzi menghembuskan napasnya bersamaan.

1
JULIAN
Mohan bantuanya karna saya masi pemula klu ada kesalahan dlm penulisnya tolong dibantu untuk saya perbaiki🙏🙏
Reni Anjarwani
lanjut2
Reni Anjarwani
bagus ceritanya up doubel thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!