NovelToon NovelToon
ONCE AGAIN

ONCE AGAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Ketos
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Irdyna Aira

Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, hingga takdir memisahkan langkah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Alya Nadira Adhitama kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya, Arga Fernansyah, di sekolah yang sama. Mereka menjadi teman sekelas, tetapi tak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka pernah saling mengenal.

Di tengah hari-hari yang dipenuhi tawa, mimpi, dan kebersamaan, perlahan muncul rasa yang tak pernah mereka duga. Hingga suatu petunjuk dari masa kecil mengungkap sebuah rahasia—bahwa orang yang selalu ada di samping mereka selama ini adalah sahabat yang pernah mereka kehilangan. Sebuah kisah tentang pertemuan kembali, persahabatan, dan takdir yang selalu menemukan jalannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irdyna Aira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 6 : Rumah sebelah, Rumah yang selalu menunggu

Jarum jam dinding kayu diruang tamu keluarga Fernansyah tepat menunjuk ke angka sepuluh malam.

Seperti rutinitas yang telah teruji oleh ribuan malam sebelumnya, Arga mengantar Nadira sampai ke garis batas halaman—pagar besi setinggi pinggang berwarna putih yang catnya terkelupas halus di beberapa sudut. Pagar yang sejak mereka merangkak hampir tak benar benar dikunci.

Nadira merengkuh beberapa buku catatan tebal di dadanya, menatap Arga dari balik kacamata tipisnya, "Makasih ya, Ga."

Arga yang bersandar di dinding teras menaikkan sebelah alisnya. "Makasih buat apa?."

"Udah mau ngajarin Matematika Lanjut tadi."

Arga terkekeh geli. "Lah, padahal yang mampet mikir rumitnya tadi kita berdua. Ngerjainnya bareng-bareng juga."

"Iya, sih.. Tapi tetap makasih." Nadira tersenyum manis. "Besok jangan telat bangun, ya."

"Siap, Kanjeng Ratu. Kamu juga."

"Aku besok ada jadwal piket pagi."

"Iyaaa, Bu Ketua Osis yang paling rajin," cibir Arga dengan tawa jahilnya.

"Arga!"

"Hahaha! Yaudah sana masuk, udah makin dingin."

Nadira hanya menggelengkan kepala seraya terkekeh pelan. Ia mendorong pelan pagar besi itu hingga mengalun bunyi berdecit yang sangat familiat, lalu melangkah menuju pintu utama rumahnya.

"Assalamu'alaikum..." bisik Nadira halus saat mendorong pintu kayu ukir rumahnya.

"Wa'alaikumussalam, Sayang."

Suara berat dan teduh menyambutnya dari arah ruang tamu.

Pak Hadi Adhitama, ayah Nadira, sedang duduk bersandar santai di sofa kulit berwarna cokelat tua. Di tangannya terbentang lembaran koran lokal yang sejujurnya sudah beliau baca dari tadi sore.

Di atas meja kayu di hadapannya, secangkir teh melati hangat masih menyisakan uap tipis yang membubung pelan.

Melihat putri tunggalnya melangkah masuk, garis-garis tegas di wajah Pak Hadi seketika melunak, membentuk senyum hangat.

"Ehem... Baru pulang nih, gadis Papa?" goda Pak Hadi sambil melipat korannya perlahan.

Nadira yang baru selesai melepas sepatu sekolahnya di rak luar langsung mengulum senyum. "Iya, Pa..."

"Udah kelar urusan tugas sekolahnya di rumah sebelah?"

"Udah, Pa. Alhamdulillah selesai semua."

Pak Hadi mengangguk-angguk paham. "Berat tugasnya?"

"Lumayan. Matematika Lanjut sama Fisika Gelombang. Untung ada Arga, jadi rumitnya agak berkurang."

Pak Hadi tersenyum tipis, ada kilat kebanggaan yang tenang di matanya. "Ya memang... kalau belajarnya bareng Arga biasanya kamu lebih paham dan semangat."

Belum sempat Nadira membalas, dari arah dapur melangkah Bu Maya—ibunya—sambil membawa segelas susu cokelat hangat yang aromanya langsung memenuhi ruangan.

"Baru selesai belajarnya, Sayang?" sapa Bu Maya lembut.

"Iya, Ma."

"Nih, diminum dulu susunya biar badannya rileks." Bu Maya menyodorkan gelas kaca itu penuh kasih.

"Terima kasih banyak, Mama."

"Sama-sama. Pelan-pelan ya, masih agak panas itu."

Nadira mengangguk menurut. Ia menyandarkan tubuhnya yang lelah di sofa empuk tepat di samping sang ayah, jemarinya melingkari gelas susu hangat yang memberi kenyamanan instan.

Pak Hadi memperhatikan wajah putrinya dari samping selama beberapa saat. Ada binar kelelahan di balik mata jernih itu. "Capek banget ya hari ini?"

"Sedikit, Pa," aku Nadira jujur. "Tapi lega banget karena tugas buat besok udah tuntas semua."

"Bagus kalau gitu." Jemari Pak Hadi yang besar dan hangat terulur, mengusap pelan puncak kepala Nadira yang tertutup rambut terurai.

Pak Hadi memang bukan tipe orang tua yang obral kata-kata manis setiap saat. Namun, tiap patah kata dan gestur sederhananya selalu sanggup menghadirkan rasa aman yang tak ternilai.

"Habis ini langsung bersih-bersih ya," tutur Pak Hadi halus. "Mandi air hangat, sikat gigi, terus langsung istirahat di kamar. Besok masih harus sekolah."

"Iya, Pa."

"Besok ada jadwal piket OSIS nggak kamu?"

Nadira mengangguk cepat. "Ada, Pa. Piket gerbang depan."

"Jam berapa harus sampai sekolah?"

"Lebih pagi dari biasanya. Jam setengah enam udah harus berangkat."

Pak Hadi manggut-manggut. "Siap."

Nadira menatap ayahnya, lalu menyunggingkan senyum manja yang jarang ia perlihatkan di depan teman-temannya di sekolah. "Papa..."

"Hm? Kenapa?"

"Besok subuh bangunin Dira ya..."

Pak Hadi terkekeh renyah, kumis tipisnya terangkat. "Lho? Emangnya alarm di HP sama jam weker kamu pada ke mana?"

"Alarmnya sih bunyi nyaring, Pa..." gumam Nadira polos. "...tapi yang bangun cuma alarmnya, Dira-nya tetep merem."

Bu Maya yang baru duduk di arm chair sebelah sofa langsung meledakkan tawa kecil. "Itu mah penyakit bawaan dari TK, Pa!"

Nadira spontan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, merona malu. "Ihh... Mama! Jangan dibongkar dong!"

Pak Hadi ikut menggeleng-gelengkan kepala geli. "Pantesan... Papa sering denger suara alarm kamar kamu bunyi berturut-turut lima menit sekali. Eh, pas Papa intip, kamunya masih gulung diri di dalam selimut."

"Papaaa... malu tau!" pekik Nadira merajuk gemas dari balik jemarinya.

Bu Maya tersenyum jahil menatap putrinya. "Yaudah, besok Mama sama Papa yang turun tangan langsung buat membangunkan Puteri Tidur."

"Iyaaa... Tapi jangan cuma dipanggil dari luar pintu ya, Ma, Pa!"

"Lho, kenapa?" tanya Pak Hadi heran.

"Soalnya kalau cuma dipanggil, nanti Dira bakal refleks jawab... 'Iya, Ma... bentar lagi lima menit...' habis itu bablas tidur lagi sampai jam tujuh!"

Tawa Pak Hadi pecah memenuhi ruang tamu yang tenang itu. "Lah, iya juga! Sering banget begitu!"

Bu Maya mengangguk sepakat. "Oke, besok Papa yang bertugas tarik gorden kamar kamu lebar-lebar biar sinar matahari subuh langsung nyetrum muka kamu."

"Mamaaa..."

"Kalau masih belum mempan juga?" Pak Hadi mengetuk-ngetuk dagunya, berpura-pura berpikir keras. "Emm... lampunya dinyalain semua?"

"Pa, mataku silau nanti..."

Bu Maya menimpali dengan kerlingan nakal. "Kasih es batu di dalam bajunya!"

"MAMA!"

Ruang tamu keluarga Adhitama itu seketika riuh oleh gelak tawa renyah. Nadira memanyunkan bibirnya dengan raut merajuk yang menggemaskan, meski hatinya hangat luar biasa.

"Kok Mama sama Papa kompak banget sih menyudutkan Dira?" sungut Nadira pura-pura kesal.

Pak Hadi tersenyum puas mengacak rambut putrinya lagi. "Soalnya kita berdua udah khatam sama kelakuan kamu selama belasan tahun, Nak."

Raut wajah Pak Hadi perlahan mendalam, menyisakan binar kebapakan yang begitu menyentuh.

"Dira..."

"Iya, Pa?"

"Kamu sekarang udah kelas dua belas. Udah berdiri di ambang pintu kedewasaan."

Nadira terdiam, mendengarkan dengan takzim. "Iya, Pa..."

"Sebentar lagi lulus, mau mengejar mimpi-mimpi besar kamu." Pak Hadi menatap mata anak gadisnya lekat-lekat. "Jaga kesehatan kamu ya, Nak. Belajar keras itu bagus, aktif di organisasi itu mulia, tapi kesehatan fisik dan fikiran kamu itu nomor satu buat Papa sama Mama."

Nadira mengangguk pelan. "Iya, Pa. Dira paham."

"Papa sama Mama nggak pernah menuntut kamu harus selalu jadi juara umum satu, atau harus selalu sempurna di mata semua orang," lanjut Pak Hadi dengan suara yang kian merendah, sarat akan ketulusan.

"Yang paling penting buat Papa... kamu udah berusaha jujur dan maksimal. Kalau hasilnya manis, itu bonus dari Tuhan."

Sudut mata Nadira perlahan membasah oleh embun hangat. "Iya, Pa..."

Pak Hadi tersenyum sangat lembut, menepuk bahu Nadira pelan. "Lagian... Papa sama Mama udah sangat amat bangga punya anak seperti Dira. Kamu anak yang baik, pandai membawa diri, sopan, dan nggak pernah bikin orang tua pusing. Itu semua udah lebih dari cukup buat Papa."

Nadira tak mampu menyusun kata-kata lagi. Ia hanya bisa mengangguk pelan seraya menelan gumpalan haru di tenggorokannya. Pengakuan dan apresiasi sederhana dari sang ayah terasa jauh lebih berharga dan menguatkan daripada seribu pujian dari dunia luar.

Bu Maya menyapu air mata tipis di sudut mata putrinya, lalu berdiri.

"Sudah, ah, malah jadi haru gini. Ayo, sekarang ke kamar, mandi air hangat, terus tidur."

"Iya, Ma," sahut Nadira penuh kepatuhan.

Nadira berdiri, membawa tas sekolah dan tumpukan bukunya menaiki anak tangga kayu menuju lantai dua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!