Lima orang tewas dalam malam yang sama.
Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.
Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.
Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.
Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIA DATANG LAGI
Ketiganya langsung terdiam.
"Masih muda..." Kalimat itu keluar bersamaan dari mulut Aura dan Viana.
Pria di hadapan mereka tampak berusia sekitar tiga puluh tahunan. Wajahnya bersih, rambut hitamnya diikat sederhana ke belakang, sementara pakaian yang dikenakannya hanyalah kemeja linen berwarna putih dipadukan dengan celana hitam longgar.
'Sulit dipercaya...'
'Jadi ini dukun yang paling disegani di daerah ini.'
Pria itu tersenyum tipis begitu menyadari tatapan kagum Aura dan Viana terhadapnya.
"Silakan duduk dulu."
Pria itu mempersilakan mereka duduk di atas tikar yang telah disediakan. Setelah ketiganya duduk, ia menuangkan teh hangat ke dalam gelas masing-masing, lalu meletakkannya dengan hati-hati di hadapan mereka.
"Perkenalkan," ucapnya ramah. "Nama gue Arkana."
Viana mengangguk pelan.
"Nama gue Viana."
"Gue Aura."
"Aleta."
Arkana membalas anggukan mereka sebelum tersenyum tipis.
"Kalian datang sepagi ini... pasti ada alasan penting."
"Sebenarnya..." Aura melirik Aleta.
Aleta yang memahami maksud lirikan Aura segera mengambil alih pembicaraan. Ia menceritakan semuanya secara runtut, mulai dari insiden di sungai terlarang hingga alasan mereka datang mencari perlindungan ke rumah Arkana.
"Gue pernah dengar cerita ini sebelumnya. Tapi gue belum pernah menghadapi makhluk itu. Gue benar-benar nggak bisa janji untuk menyelamatkan kalian, tapi akan gue coba dan gue usahakan," jelas Arkana.
Grrrkkkk...
Suara perut seseorang tiba-tiba memecah keheningan. Semua orang langsung menoleh. Viana tersenyum canggung sambil memegang perutnya.
"Hehe..."
"Maaf..."
"Gue belum sarapan."
Vava dan Vivi langsung tertawa kecil. Arkana ikut tersenyum.
"Kalau begitu, kita masak dulu."
"Biar gue bantu," ujar Aura cepat.
"Boleh."
Arkana pun mengajak Aura menuju dapur.
"Di lemari sebelah kanan ada bawang merah."
"Kalau berasnya?"
"Di dalam tempayan dekat jendela."
"Oh, baiklah,"
"gue mau keluar sebentar buat ngambil kayu bakar di halaman belakang," pamit Arkana.
"Baik," jawab Aura.
"Sini gue bantu," ucap Aleta yang tiba-tiba muncul.
"Emangnya lo bisa memasak?" tanya Aura dengan nada meledek.
"Enggak dong. Tapi gue bisa bantu lo cuci kangkung, kupas bawang, dan ngambilin mangkuk."
"Oke, deh."
Sementara Aura dan Aleta sibuk menyiapkan makanan di dapur, Viana menghabiskan waktunya dengan bermain bersama kedua anak kembar yang sejak tadi menemaninya di ruang tamu.
"Oh iya, nama kalian berdua siapa?" tanya Viana.
"Vava dan Vivi!" seru keduanya.
"Vava yang mana?"
"Aku!" seru anak yang berjenis kelamin laki-laki.
"Oh, jadi Vava yang laki-laki dan Vivi yang perempuan! Benar?" tanya Viana lagi.
"Benar!" ucap keduanya serempak.
"Aaaa.... Lucu banget sih kalian..." ucap Viana gemes sambil mencubit pipi Vava dan Vivi dengan kedua tangannya.
Aroma masakan mulai memenuhi seluruh rumah. Viana memejamkan mata dan menghirup aroma itu dalam-dalam. Tak lama setelah itu, Arkana datang menghampirinya.
"Makanan sudah siap! Ayo makan!" ajak Arkana sambil tersenyum tipis.
Viana mengerjapkan matanya berkali-kali kagum. Baru kali ini ia melihat wajah tampan Arkana sedekat itu.
"Tuan Arkana kelihatan lebih muda pas senyum," ucap Viana tanpa sadar.
"Benarkah? Tapi gue juga belum tua tua amat lah."
"Oh ya? emangnya berapa?"
"Gue masih empat puluh satu tahun."
"EMPAT PULUH SATU?!" pekik Viana refleks.
"Iyaa.. kenapa?"
"Empat puluh satu tahun itu udah tua. Tapi wajah ini benar-benar kayak usia tiga puluhan."
"Hahaha... mungkin itu karena gue suka makan ikan."
"Hah? Ikan...?"
Aura dan Aleta keluar dari dapur sambil membawa beberapa piring berisi hidangan sederhana. Sayur bening, tumis kangkung, ikan goreng, tahu, serta semangkuk sambal disusun rapi di atas meja makan.
"Eumm... wangi banget..." ujar Viana.
"Bukankah begitu, Viva?" tanya Viana.
"Viva?" Ia menoleh ke kanan dan kiri. "Vivi? Vava?"
Tidak ada jawaban. Viana kembali melihat sekeliling ruangan. "Lho... mereka ke mana?"
Arkana yang sedang menuangkan nasi ke dalam mangkuk hanya tersenyum tipis.
"Mereka nggak makan."
"Kenapa?" tanya Viana heran.
"Maaf menyela," ucap Aura. "Sebenarnya... Vivi dan Vava itu siapa?"
Viana mengernyit.
"Mereka anak kembar yang tadi ngobrol sama gue."
"Gue ga lihat siapa pun selain kita berempat dari tadi," ucap Aura.
"Gue juga," timpal Aleta.
Senyum di wajah Viana perlahan memudar. Ia menoleh ke arah Arkana. Pria itu mengembuskan napas pelan.
"Itu karena... mereka sudah meninggal."
Suasana mendadak hening. Viana menundukkan kepalanya.
"Mereka keliatan nyata banget..." lirih Viana.
...****************...
Setelah selesai makan, Arkana mengajak ketiganya menuju sungai kecil yang berada tidak jauh dari rumah.
Airnya tampak begitu jernih. Bebatuan besar menghiasi tepian sungai, sementara suara gemericik air berpadu dengan kicauan burung yang terdengar dari pepohonan sekitar. Viana mengamati sungai itu dengan bingung.
"Em... gimana cara mandinya?"
"Melompat." Arkana tersenyum tipis.
"Hah?" Belum sempat Viana mencerna ucapan itu—
"AAAAAA!"
Arkana mendorong pelan punggung Viana.
Byur!
Percikan air membasahi tepian sungai. Beberapa detik kemudian, kepala Viana muncul ke permukaan. Ia terdiam sejenak. Lalu kedua matanya berbinar.
"Segar banget!" Viana mengusap wajahnya sambil tertawa kecil.
"Tuan! Gue boleh lompat lagi... dan lagi?"
"Boleh dong. Airnya nggak akan keruh."
"Benarkah?"
"Kalau mau yang lebih seru, coba deh lompat dari batu besar itu."
Arkana menunjuk sebuah batu besar yang menjulang beberapa meter di atas permukaan sungai. Mata Viana langsung berbinar.
"Siap!" Tanpa berpikir panjang, ia segera berlari menaiki batu tersebut.
Sementara itu, Aura memilih turun perlahan melalui tepian sungai. Ia mencelupkan ujung kakinya terlebih dahulu sebelum akhirnya masuk sedikit demi sedikit.
"Brr... dingin..."
Di sisi lain, Aleta justru berdiri memandang ke arah lain. Tatapannya terpaku pada hamparan bunga liar yang tumbuh tidak jauh dari sungai. Matanya tampak berbinar.
Byur!
Viana kembali melompat dari atas batu.
"Seru banget cokk!" teriaknya sambil tertawa. "Cobain deh, Au!"
Aura langsung menggeleng. "Nggak! Airnya dingin."
Viana terkekeh. "Kalau kamu, Ta?"
Semua orang menoleh ke arah Aleta. Namun gadis itu masih menatap hamparan bunga tersebut tanpa berkedip.
"Ta?"
"Aleta?"
Aleta baru tersadar ketika namanya dipanggil. Ia menoleh ke arah Arkana.
"Gue boleh minta dikit kelopak bunga itu ga?" tanyanya sambil menunjuk kebun bunga yang tumbuh subur di dekat rumah. Arkana mengikuti arah telunjuk Aleta, lalu tersenyum.
"Boleh dong."
Wajah Aleta langsung berseri. "Makasih."
Tak lama kemudian, Aleta kembali sambil membawa sebuah baskom berisi gayung dan kelopak-kelopak bunga yang baru saja dipetiknya.
"Wow..." gumam Viana yang masih sibuk mengusap sabun ke kedua lengannya. Aura yang sedang menggosok gigi ikut menoleh heran.
"Em... Ta. Baskom itu buat apa?"
Aleta berhenti di tepi sungai.
"Gue mau berendam pake kelopak bunga ini."
"Hah?" Aura mengernyit.
"Ini biar tubuh gue tetap harum dan sehat." Aleta tersenyum tipis. "Kalian mau coba juga?"
Aura dan Viana kompak menggeleng.
"Nggak deh."
"Gue juga nggak."
"Kenapa?" tanya Aleta.
"Pertama, baskomnya nggak cukup untuk tiga orang. Jangankan tiga orang, tubuh lo sendiri aja gak muat. Kalo lo nyuruh gue sama Aura ngantri dan nungguin lo selesai, kita berdua gak mau. Kedua, kita berdua nggak suka aromanya saat bercampur dengan air. Ketiga–"
"Cukup," ucap Aleta memotong penjelasan Viana yang tidak akan ada habisnya.
Viana dan Aura memang tidak terlalu menyukai aroma bunga tersebut. Namun entah mengapa, setiap kali kelopak-kelopak itu digunakan oleh Aleta, wanginya berubah menjadi jauh lebih lembut dan menenangkan. Aroma yang semula terasa menyengat justru menjadi sangat khas, seolah menyatu dengan tubuh gadis itu.
...****************...
Malam tiba jauh lebih cepat dari yang mereka bayangkan.
Jarum jam baru saja menunjukkan pukul delapan malam ketika suasana di sekitar rumah Arkana mendadak berubah sunyi. Bahkan suara jangkrik yang sejak tadi terdengar pun perlahan menghilang.
Arkana yang sedang duduk di ruang tengah tiba-tiba berdiri. "Dia datang."
Deg!
Aura dan Viana langsung menoleh ke arah pintu, sementara Aleta perlahan mengepalkan tangannya.
Arkana segera mengambil segenggam serbuk dari sebuah kantong kain. Ia menaburkannya di depan rumah sambil melafalkan beberapa mantra dengan suara pelan.
Beberapa detik berlalu. Tidak terjadi apa-apa. Arkana menghentikan mantranya.
"Gak mempan."
Brak!
Suara sesuatu menghantam pagar bambu di halaman.
"Kita gak punya banyak waktu," ucap Arkana, ia segera membuka pintu belakang.
"Kalian bertiga keluar lewat sini. Cepat!"
Tanpa membuang waktu, Aura, Viana, dan Aleta segera berlari menuju hutan yang gelap. Hanya cahaya bulan yang menerangi jalan setapak.
"Masuk ke balik semak!" perintah Arkana.
Ketiganya segera berpencar mencari tempat persembunyian. Tak lama kemudian...
Srek...
Srek...
Suara langkah kaki terdengar semakin dekat. Viana spontan menahan napas. Aura menggenggam erat lengannya sendiri. Sedangkan Aleta berjongkok di balik batang pohon beberapa meter dari mereka. Sesosok bayangan tinggi perlahan berjalan melewati semak-semak.
Semakin dekat.
Semakin dekat.
Deg...
Jantung Aleta berdegup kencang saat sosok itu kini hanya berjarak beberapa langkah darinya.
Namun...
Tanpa berhenti ataupun menoleh. Sosok itu justru melewati tempat persembunyian Aleta begitu saja. Aleta mengernyit.
'Kenapa gue dilewatin? Bukankah gue yang paling dekat?
Sementara itu, sosok tersebut terus berjalan menuju arah Aura dan Viana. Aura menutup mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara. Viana memejamkan mata. Beberapa langkah lagi...
Flaapp!
Tiba-tiba puluhan kupu-kupu bermunculan dari balik pepohonan. Mereka langsung mengerumuni sosok itu.
Flaapp!
Flaapp!
Makhluk tersebut mengibaskan tangannya berulang kali, berusaha mengusir kupu-kupu yang terus beterbangan di sekitar wajahnya. Melihat kesempatan itu, Aleta segera memberi isyarat dengan tangannya.
'Pergi!'
Aura dan Viana langsung mengangguk. Keduanya segera berlari kembali ke arah rumah. Arkana yang melihat Aleta berdiri segera menghampirinya. Keduanya saling bertatapan.
"Dia manusia," ucap Aleta pelan.
"Sepertinya... dia nggak bisa mendeteksi keberadaan lo."
Tatapan Arkana beralih ke arah Aura dan Viana yang berlari menjauh.
"Hanya mereka berdua." Arkana kembali menatap Aleta. "Apa lo memakai sesuatu?"
Aleta menggeleng. Lalu kedua matanya perlahan membelalak.
"Gue ingat." Ia menatap Arkana dengan serius. "Tolong tahan dia sebentar, ya? Gue mau coba sesuatu."
Arkana mengangguk mantap. "Akan gue usahakan."
Aleta tersenyum tipis. "Gue percaya sama kemampuan lo."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Aleta segera berlari menuju kebun bunga di samping rumah. Tangannya bergerak cepat memetik kelopak-kelopak bunga yang tadi pagi menarik perhatiannya.
Ia sengaja menyuruh Aura dan Viana kembali ke dalam rumah untuk berlindung sementara waktu. Di dalam lebih aman karena rumah di kelilingi pagar, walau pagarnya tidak terlalu kokoh.
mana dipanggil honey lagi /Doge/