NovelToon NovelToon
Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / CEO / Kontras Takdir / Pernikahan rahasia
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.

Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.

Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.

Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.

Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.

Mereka dibayar oleh suaminya.

Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.

Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.

Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:

tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 — Namaku Dipakai Sebelum Aku Tahu

BAB 9 — Namaku Dipakai Sebelum Aku Tahu

Foto Ayah masih terbuka di layar ketika surel dari Elsa Kalyana masuk.

Nama itu membuatku duduk lebih tegak. Aku hanya pernah bertemu Elsa tiga kali—dua kali dalam acara keluarga dan sekali ketika ia membantu memeriksa kontrak kerja sama Ruang Tengah. Ia sepupu Rendra, pengacara kepatuhan Kalyana Group, dan salah satu orang yang selalu membuat percakapan terdengar seperti pemeriksaan silang.

Subjek surelnya pendek.

AKSES ATAS NAMA ANDA

Tidak ada sapaan pribadi. Hanya penjelasan bahwa sebuah identitas digital memakai namaku untuk membuka arsip lama Kalyana Group. Di bawahnya terdapat tujuh halaman log sistem, nomor akun, dan peringatan agar aku tidak menghubungi layanan internal keluarga Kalyana sebelum memiliki pendamping hukum sendiri.

Kalimat terakhirnya membuatku membaca surel itu dua kali.

Rendra mengetahui saya mengirimkan dokumen ini. Ia tidak menentukan isi maupun penerimanya.

Entah mengapa, bagian itu justru terasa paling menyakitkan. Bahkan ketika Rendra mencoba tidak mengambil alih, orang lain masih merasa perlu menjelaskan bahwa keputusan itu bukan miliknya.

Aku mengunduh seluruh lampiran ke kartu memori, lalu mencetaknya. Mesin printer bekerja pelan, mengeluarkan lembar demi lembar dengan suara kasar. Jam di pojok layar menunjukkan pukul 01.36.

Pada log pertama, identitas pengguna tertulis jelas.

NSasmita.

Tanggal pembuatannya sebelas tahun lalu.

Saat itu aku berusia delapan belas tahun dan masih tinggal bersama Ibu. Ayah sudah meninggal beberapa bulan sebelumnya. Aku baru masuk kuliah, belum memiliki pekerjaan tetap, bahkan sering lupa mengisi saldo kartu transportasi.

Akun atas namaku telah membuka sebuah rekening investasi, menyetujui pembayaran keamanan, dan memberi kuasa kepada dua yayasan.

Aku tidak ingat melakukan satu pun.

Telepon kantor berbunyi tiba-tiba.

Aku membiarkannya berdering. Tidak ada klien yang menelepon lewat tengah malam kecuali sedang berada dalam bahaya, tetapi nomor darurat memiliki jalur berbeda. Sambungan berhenti, lalu berdering lagi.

Kali ini nama nomor ponsel muncul di layar kecil.

Damar Santosa.

Aku mengenalnya dari beberapa perkara mediasi. Kami tidak dekat, tetapi ia pernah mewakili dua klien yang berhadapan dengan perusahaan besar dan menolak tiga tawaran kerja dari firma keluarga kaya yang sedang digugatnya. Namanya terlintas ketika aku mencari pengacara independen tadi.

Aku mengangkat.

“Maaf menelepon malam-malam,” katanya. “Anda mengirim pesan meminta konsultasi mendesak.”

Aku melihat riwayat surel. Benar. Dua puluh menit lalu aku mengisi formulir di situs kantornya, tetapi tidak menyangka akan dijawab sekarang.

“Saya bisa menunggu pagi.”

“Kalau masalahnya melibatkan Kalyana Group dan Anda menulis pelacakan ilegal tiga kali, sebaiknya jangan menunggu terlalu lama.”

Aku memeriksa pintu kaca yang sudah kukunci.

“Apakah firma Anda pernah bekerja untuk mereka?”

“Tidak.”

“Pernah menerima sumbangan dari yayasan mereka?”

“Sepengetahuan saya, tidak.”

“Pernah satu meja makan dengan keluarga Kalyana?”

Damar terdiam sebentar.

“Pernah. Jakarta tidak cukup besar untuk menghindari semua orang kaya.”

Jawabannya membuatku hampir tersenyum.

“Hanya itu?”

“Ayah saya pernah menjadi pengacara perusahaan yang berselisih dengan mereka. Kami kalah. Setelah itu beliau mengajari saya dua hal: jangan meremehkan keluarga Kalyana dan jangan pernah menyimpan dokumen penting hanya di satu tempat.”

Aku memandang kartu memori di meja.

“Saya ada di kantor Ruang Tengah.”

“Saya tiga puluh menit dari sana.”

“Sekarang?”

“Anda meminta bantuan mendesak.”

Aku sempat ingin menolak karena sudah terlalu larut. Lalu aku menyadari kebiasaan itu—berusaha menjadi orang yang tidak merepotkan—adalah salah satu alasan Rendra selalu dapat masuk dan menyelesaikan masalah sebelum aku meminta.

“Datang,” kataku. “Tapi kirim foto kartu identitas dan nomor kendaraan lebih dulu.”

Damar tertawa kecil.

“Wajar.”

Empat puluh menit kemudian, ia tiba membawa tas laptop, map kosong, dan dua gelas kopi dari minimarket.

Aku tidak meminum punyaku. Malam itu, menerima minuman tanpa melihat proses pembeliannya saja terasa seperti ujian yang tidak ingin kujalani.

Damar tidak tersinggung. Ia duduk di ujung meja rapat dan membaca log dari Elsa tanpa banyak bicara.

“Ini bukan sekadar akses ilegal,” katanya setelah beberapa menit. “Identitas Anda dipakai untuk menyetujui transaksi.”

“Saya tidak pernah membuka akun Kalyana.”

“Belum tentu akun Kalyana. Bisa identitas administrator yang terhubung dengan rekening di luar grup.”

Aku menyerahkan buku abu-abu.

“Sumber pembayarannya ada di sini.”

Ia mengenakan sarung tangan tipis sebelum membuka sampul.

Aku memperhatikan gerakannya.

“Anda selalu membawa sarung tangan?”

“Saya menangani dokumen orang yang sedang marah. Mereka biasanya baru ingat sidik jari setelah menyerahkan semuanya.”

Ia memotret tiap halaman yang kuizinkan, kemudian mencocokkan nomor rekening dalam buku dengan nomor di log Elsa. Dua puluh menit kemudian, ia berhenti pada pembayaran lama kepada Tara.

“Sumber rekeningnya sama,” katanya.

Aku mendekat.

Baris pembayaran pertama kepada Tara berasal dari rekening dengan empat digit terakhir 1804. Nomor yang sama muncul dalam daftar akun yang dibuka melalui identitas NSasmita.

“Jadi Ibu tidak membayar Tara?” tanyaku.

“Mungkin dana awalnya dari ibu Anda. Secara hukum, rekening pengirim tercatat atas nama Nadira Sasmita.”

Aku duduk kembali.

Tara mengatakan Ibu yang mendatanginya. Mungkin itu yang ia tahu. Mungkin selama ini semua orang mengira uang berasal dari Laksmi karena Laksmi yang memberi perintah, sementara di atas kertas aku sendiri yang membayar mereka untuk tinggal di dekatku.

“Ada saldo?” tanyaku.

Damar memeriksa log lain.

“Akun induknya masih aktif.”

“Berapa?”

“Tidak tercantum. Kita perlu meminta data bank secara resmi.”

“Bank mana?”

Ia memperbesar satu kode lembaga.

“Bank Amanah Nusantara. Unit private trust.”

Nama itu asing bagiku.

“Apa saya bisa datang dan meminta rekening ditutup?”

“Jangan dulu. Kalau rekening ini terkait dana perwalian, menutupnya bisa memicu klausul atau pemberitahuan kepada pengelola lain.”

“Pengelola lain seperti Rendra?”

“Mungkin. Bisa juga ibu Anda, yayasan, wali hukum, atau pihak Kalyana.”

Aku mengusap wajah. Kantuk sudah hilang, digantikan rasa mual yang tidak berasal dari kopi.

“Damar, saya mau Anda mewakili saya.”

Ia menutup laptop.

“Untuk perceraian?”

“Perceraian, pelanggaran privasi, pemakaian identitas, dan apa pun yang diperlukan agar tidak ada satu orang pun mengambil keputusan menggunakan nama saya lagi.”

“Termasuk suami Anda?”

“Terutama suami saya.”

Damar menatapku cukup lama untuk memastikan jawabanku bukan luapan sesaat.

“Saya perlu menyampaikan sesuatu,” katanya. “Saya tidak akan menjadi alat untuk menghukum Rendra hanya karena Anda marah. Saya akan bekerja berdasarkan bukti.”

“Itu yang saya butuhkan.”

“Kalau bukti menunjukkan ibu Anda ikut melakukannya?”

“Tetap buka.”

“Kalau tindakan tertentu pernah Anda setujui?”

Aku menunjuk akun NSasmita di layar.

“Saya ingin tahu persetujuan macam apa yang bisa diberikan seseorang untuk sesuatu yang bahkan tidak ia ingat pernah dibuka.”

Damar mencatatnya.

“Baik. Mulai sekarang, jangan menyerahkan buku asli kepada siapa pun. Jangan bertemu keluarga Kalyana sendirian. Dan jangan menghapus pesan, termasuk pesan Rendra.”

“Dia saya blokir.”

“Blokir tidak masalah. Jangan hapus.”

Kami menandatangani surat kuasa awal secara digital. Baru malam itu aku merasa ada satu keputusan yang benar-benar milikku—tidak diarahkan Tara, dipersiapkan Rendra, ataupun dipilihkan Ibu.

Setelah itu Damar menghubungi layanan darurat Bank Amanah Nusantara. Ia memakai pengeras suara agar aku mendengar seluruh percakapan.

Petugas meminta nomor identitas, tanggal lahir, dan kode rekening. Lalu ia mengajukan pertanyaan keamanan.

“Nama wali pembuka rekening?”

Aku menoleh kepada Damar.

“Coba Laksmi Sasmita,” katanya.

Petugas mengetik.

“Tidak sesuai.”

“Rendra Kalyana?”

“Tidak sesuai.”

Aku menggenggam tepi meja.

“Surya Kalyana.”

Kami sama-sama diam sejenak.

“Tidak sesuai.”

Damar meminta prosedur verifikasi dokumen. Petugas kemudian mengirimkan formulir pembukaan rekening lama ke surelku. Berkasnya terkunci, tetapi kata sandi dapat dibuat ulang menggunakan nomor identitas.

Saat dokumen terbuka, halaman pertama menampilkan namaku, alamat rumah lama, dan tanggal pembukaan rekening.

Semua data benar.

Di bagian wali pembuka tertulis nama Ibu.

Laksmi Sasmita.

“Aneh,” kata Damar. “Tadi sistem menolak namanya.”

Kami membaca bagian bawah. Rekening dibuka sebagai dana aman dengan pemilik manfaat Nadira Sasmita. Ada dua pengelola sementara dan satu pemegang hak akhir yang baru dapat aktif ketika syarat tertentu dipenuhi.

Nama pemegang hak akhir ditutup kotak hitam pada salinan bank.

“Bisa dibuka?” tanyaku.

“Lewat permintaan hukum.”

Aku menggeser ke halaman tanda tangan.

Ada tanda tangan Ibu. Ada tanda tangan petugas bank. Di bagian persetujuan pemilik manfaat, namaku tertulis dengan tulisan tangan yang sangat kukenal.

Nadira Sasmita.

Kuamati bentuk huruf N, kemiringan huruf d, dan garis panjang pada huruf terakhir. Semuanya mirip. Bukan hasil salin-tempel. Bukan tanda tangan kasar orang yang baru melihat contohnya.

Damar memperbesar tanggal di sampingnya.

“Hari ini Anda berusia berapa?” tanyanya.

“Dua puluh sembilan.”

“Berarti ketika menandatangani ini, Anda delapan belas tahun.”

“Aku tidak ingat.”

“Tidak ingat berada di bank?”

Aku menggeleng.

Damar membuka lampiran terakhir. Di sana ada foto kecil dari kamera meja pelayanan. Seorang gadis berusia delapan belas tahun duduk di samping Laksmi, memegang pulpen, dan menunduk di atas dokumen.

Gadis itu adalah aku.

Di bawah foto terdapat kalimat persetujuan yang telah diparaf pada setiap baris.

Baris terakhir berbunyi:

Saya menyetujui penggunaan dana atas nama saya untuk membayar pihak-pihak yang dipilih wali sampai hak pengelolaan penuh diserahkan kepada saya.

Damar menatapku.

“Ini tanda tangan Anda,” katanya pelan. “Dan secara dokumen, Anda pernah menyetujui semuanya.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!