NovelToon NovelToon
Geranium

Geranium

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: you see me

Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.

Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.

Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.

Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun tentang perdebatan kami di telepon tadi. Seolah-olah hal itu tidak pernah terjadi, ia hanya melangkah mendekat ke tempat duduk ku dengan tenang, membawa kantong kertas berisi makanan favoritku yang masih hangat.

​"Aku tahu kamu lelah," suaranya terdengar begitu rendah dan lembut, jauh dari nada dingin yang ia gunakan saat memberikan peringatan di telepon. Ia membuka kemasan makanan itu di depanku, aromanya yang familiar langsung memenuhi ruangan. " Makanlah. Kamu butuh energi untuk sisa harimu."

​Aku terdiam, masih sedikit kesal namun tak berdaya di bawah tatapannya yang kini melunak. Aku mulai menyendok makanan itu dalam diam. Saat aku sedang makan, ia berdiri tepat di samping kursiku. Perlahan, jemarinya yang besar dan hangat terulur, merapikan anak rambut yang jatuh menutupi wajahku dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut menyentuh kulitku terlalu keras.

​" Berantakan sekali," bisiknya pelan, hampir seperti gumaman kasih sayang. Jemarinya tidak langsung menjauh, ia membiarkan tangannya tetap berada di sana, membelai garis rambutku dengan pola yang menenangkan sementara aku menghabiskan suapan demi suapan.

​Perlakuan itu terasa menyesakkan sekaligus manis. Ia adalah pria yang sama yang baru saja mendikte hidupku lewat telepon, namun di saat yang sama, ia adalah satu-satunya orang yang tahu persis bagaimana menenangkanku saat aku benar-benar di titik jenuh. Ia mengawasiku makan dengan tatapan yang begitu dalam, seolah memastikan aku mendapatkan asupan yang cukup, tanpa melepaskan tangan posesifnya dari rambutku bahkan untuk sedetik pun.

​" Pelan-pelan," tambahnya dengan nada yang sangat penuh kasih. " Tidak ada yang akan mengambil makananmu. Aku di sini."

Begitu suapan terakhir kutelan, ia dengan sigap membereskan sisa kemasan makanan di meja, gerakannya efisien namun penuh perhatian. Ia tidak menyisakan sedikit pun sampah di atas meja, seolah ingin memastikan ruang kerjaku kembali bersih seperti sedia kala sebelum benar-benar beranjak untuk menghadiri meeting.

Abhi menarik kursiku hingga aku menghadap sepenuhnya ke arahnya. Ia mendaratkan kecupan hangat di keningku, yang kemudian turun menjadi lumatan yang sengaja ia berikan sedikit lebih lama dan lebih dalam dari sekadar kecupan biasa.

Itu adalah 'tanda' yang selalu ia tinggalkan sebelum dia harus kembali ke dunianya, membuatku merasa seolah aku masih dalam genggamannya meski ia sedang tidak berada di sisiku. Tanpa menoleh lagi, ia melangkah keluar, meninggalkan detak jantungku yang berpacu di dalam ruangan yang sunyi.

Begitu ia menghilang dari pandangan, aku harus segera menarik diriku keluar dari 'dunia' yang ia ciptakan di ruangan ini. Bunyi pager yang berdering di meja menyadarkanku bahwa waktu istirahat telah berakhir. Aku menarik napas dalam, membuang sisa-sisa aroma parfumnya yang masih tertinggal di udara, dan melangkah kembali ke lorong rumah sakit dengan sikap profesional.

Pekerjaan hari ini akhirnya usai, dan kepalaku masih terasa berat saat perawat nancy mengajakku bergabung dalam makan malam bersama tim bangsal nanti malam.

Perawat Nency " Dok, nanti malam ada acara makan malam perpisahan untuk salah satu perawat bangsal di restoran dekat sini, ikut ya Dok? "

Aku ingin sekali mengiyakan, karena interaksi sosial seperti ini adalah caraku menjaga kewarasan. Namun, aku segera teringat akan sisa ciumannya di bibirku siang tadi sebuah pengingat akan 'klaim' yang ia berikan. Apakah dia akan mengizinkanku? Atau akankah dia kembali muncul tiba-tiba?

Pikiranku masih melayang memikirkan apakah aku berani mengambil risiko untuk pergi makan malam, ketika tiba-tiba getaran ponsel di meja memecah kesunyian. Aku tidak perlu melihat dua kali untuk tahu itu darinya. Ponsel itu bergetar dengan ritme yang konstan dan menuntut, seakan memaksa kesadaranku kembali sepenuhnya kepada pria yang selalu mengawasi setiap langkahku. Aku menatap layar itu dengan rasa cemas yang mulai merayap di dadaku.

Ponselku bergetar sekali lagi, dan kali ini aku tidak punya pilihan selain mengangkatnya. Suaranya terdengar berat dan rendah di seberang sana, berpadu dengan suara samar percakapan serius di latar belakang.

​Caca " Ya? " jawabku, berusaha membuat suaraku terdengar sedatar mungkin.

​Abhi " Aku masih terjebak di meeting," suaranya dingin, langsung ke inti permasalahan tanpa sapaan basa-basi. " Proyek ini berjalan lebih lambat dari yang kubayangkan."

​Caca " Oh," aku terdiam sejenak, mencoba menyembunyikan nada lega dalam suaraku. " Lalu? "

​Abhi " Lalu, aku tidak bisa menjemputmu tepat waktu," jawabnya tegas. Hening sejenak sebelum ia melanjutkan dengan nada yang menuntut, " Jadi, apa rencanamu setelah ini? Kamu tidak berniat pulang sendiri, bukan ? "

​Aku menelan ludah, teringat ajakan makan malam para perawat tadi.

Caca " Teman-teman di bangsal mengajak makan malam. Mungkin aku akan ikut sebentar..."

​Abhi " Tidak," potongnya cepat. Dinginnya suaranya membuatku tersentak. " Aku tidak suka kamu berada di luar tanpa pengawasanku, apalagi di lingkungan yang tidak aku kenal."

​Caca " Tapi ini hanya makan malam formal rumah sakit, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." belaku, mencoba memberanikan diri.

​Abhi " Aku tidak peduli itu formal atau bukan," nadanya sedikit meninggi, namun tetap terkendali.

" Aku akan selesai dalam waktu satu jam. Tunggu aku di ruang kerjamu. Jangan berani-berani melangkah keluar dari gedung rumah sakit itu sebelum aku sampai."

​Caca " Itu terlalu lama..."

​Abhi " Itu perintah, bukan saran." Suaranya kembali menjadi sangat dingin, nyaris seperti berbisik namun penuh ancaman. " Aku tidak ingin mengulangi kata-kataku. Kamu akan menungguku, atau aku akan memastikan kamu tidak bisa pergi ke mana-mana besok. Paham ? "

​Caca " Paham," jawabku lirih, merasa seluruh kebebasan yang baru saja kurasakan menguap begitu saja.

​Abhi " Bagus. Jangan matikan ponselmu. Aku akan menelepon lagi sebentar lagi untuk memastikan kamu masih di sana."

​Klik. Sambungan terputus.

1
Umi Fitriani
semangat thorr
you see me: Terima kasih kakak /Whimper/😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!