Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.
Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Matahari pagi itu seolah ikut tersenyum menyaksikan hiruk-pikuk di kediaman Kiai Ahmad Bashir. Jika kemarin rumah ini terasa mencekam seperti medan perang, pagi ini suasananya berubah seratus delapan puluh derajat menjadi panggung komedi putar. Terutama karena kehadiran dua sosok yang tak pernah berhenti "beraksi": si bungsu Zahra yang bermulut mercon, dan Lukman, sang sepupu yang licin bagai belut.
Di pintu depan, Lukman melangkah masuk dengan senyum yang sangat lebar—bahkan terlalu lebar bagi seseorang yang kemarin baru saja menyarankan perceraian siri. Tapi Lukman punya agenda sendiri. Semakin Fatih terlihat mesra dengan Bella, semakin tertutup pintu hati Nadia untuk sepupunya itu. Dan itulah yang ia inginkan.
"Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh!" seru Lukman dengan nada riang, seolah ia baru saja memenangkan undian.
"Wa’alaikumussalam!" jawab orang-orang di meja makan hampir serentak, kecuali Fatih yang hanya menjawab di dalam hati sambil tetap fokus menatap nasi lodehnya yang mendadak terasa lebih menarik daripada tamu yang datang.
Umi Fatimah yang sedang merapikan tudung saji segera menoleh. "Eh, Nak Lukman. Sini, duduk. Mau makan sekalian? Mumpung belum diberesin, ini lodehnya masih hangat," tawar Umi dengan keramahan khasnya.
Lukman melambaikan tangan dengan gaya yang sedikit berlebihan. "Makasih banyak, Umi... tapi tadi di rumah Ibu sudah masakin. Sayang kalau nggak dimakan, nanti Ibu ngambek kayak anak kecil," candanya sambil tertawa.
Zahra, yang mulutnya masih penuh dengan tempe goreng, menyahut dengan suara cemprengnya, "Iih, Bang Lukman rugi deh! Coba cicipi dikit aja... ini itu enaaaaak banget! Beneran! Ini mah levelnya sudah bintang lima, harganya kaki lima, tapi rasanya sampai ke liang jiwa!"
Lukman menaikkan alisnya, pura-pura tertarik. "Oh ya? Wah, masakan siapa nih? Umi ya?"
"Bukan!" Zahra menggeleng kuat-kuat sampai jilbab instannya miring. "Ini buatan Mbak Bella! Istri tercinta dari Pangeran Dingin dari Kerajaan Kulkas wilayah Kutub Utara!"
"Uhuk!" Fatih hampir saja menyemburkan teh hangatnya. Ia memberikan tatapan maut pada adik bungsunya. "Zahra... jaga bicaramu."
Zahra justru membalas dengan juluran lidah yang mengejek, lalu bersembunyi di balik pundak Umi. "Tuh, Mi! Lihat! Pangeran Kulkasnya mulai mengeluarkan hawa beku!"
Lukman tertawa terbahak-bahak melihat Fatih yang salah tingkah. Ia melirik Bella yang sedang sibuk merapikan tumpukan piring kotor di sisi meja. "Wah, wah... Mbak Bella pinter masak ya? Pasti pinter 'ngulek' bumbunya juga. Gimana, Fatih? Sudah dicobain dong 'ulekan' malamnya?" sindir Lukman sambil menyikut lengan Fatih dengan nakal.
Seketika, atmosfer di meja makan itu mendadak aneh. Bella, yang mengerti ke mana arah pembicaraan "dewasa" itu, merasakan wajahnya seperti disiram air panas. Ia menunduk sangat dalam, pura-pura sangat sibuk mengelap noda bayangan di meja makan. Pipi merahnya tidak bisa disembunyikan lagi.
Umi Fatimah segera menyadari kecanggungan tersebut. Beliau langsung menepuk pelan punggung tangan Lukman. "Eh, Nak Lukman, jangan gitu. Nak Bella kasihan, dia malu itu. Mana ada Zahra pula di sini... dia ini masih bau kencur, jangan diajarin yang aneh-aneh!"
"Ih, Umi mah!" Zahra protes dengan wajah cemberut. "Aku ini sudah dewasa, Mi! Sebentar lagi juga lulus sekolah, umurku sudah tujuh belas tahun loh! Aku nggak bau kencur, aku bau parfum stroberi!"
Zahra kemudian menoleh ke Lukman dengan tatapan polos yang dibuat-buat—atau mungkin memang benar-benar polos (baca: bego). "Emang ulekan apaan sih, Bang Lukman, yang dicobain malam-malam? Emang Mbak Bella masak sambal jam dua pagi?"
Gubrak.
Fatih rasanya ingin menghilang dari bumi saat itu juga. Ia berdehem keras, mencoba mengembalikan wibawanya yang sudah berceceran di lantai. "Apaan sih si Lukman ini... bukannya kemarin dia yang nyuruh aku cuma kawin sebentar terus langsung talaq? Kenapa sekarang dia malah jadi kompor melempem?" gerutu Fatih dalam hati.
"Sudah, sudah! Lukman, jangan ngelantur," potong Fatih dengan nada memerintah.
"Lho, beneran, Bang Fatih! Aku nanya serius! Emang enak ya ulekan tengah malam?" Zahra terus mengejar, membuat Lukman semakin tertawa kencang sampai memegangi perutnya.
"Zahra, mending kamu bantu Mbak Bella di dapur daripada nanya yang nggak penting," perintah Fatih tegas, yang sebenarnya adalah cara halusnya untuk menyelamatkan Bella dari tatapan menginterogasi Zahra.
Di balik punggung mereka, di depan wastafel dapur, Bella diam-diam tersenyum sendiri sambil menggosok piring. Meskipun ia merasa malu setengah mati, ada kehangatan yang merambat di hatinya. Suasana "normal" seperti ini—saling ejek antar saudara, perhatian dari ibu mertua, dan ketegasan suami—adalah hal mewah yang selama ini ia anggap mustahil didapatkan kembali.
Meskipun suaminya tampak "killer" dan dingin, Bella merasa aman. Di sini, ia bukan lagi Bella yang dijual oleh ayah tirinya. Di sini, ia adalah bagian dari sebuah keluarga, meski statusnya masih menggantung di antara takdir dan ego suaminya.
"Eh, Fatih," Lukman tiba-tiba mengubah nada bicaranya menjadi lebih serius, meski sisa tawa masih ada di matanya. "Hari ini kita ada rapat Madrasah, kan? Mengenai persiapan ulangan dan acara akhir tahun. Kamu sudah siapkan belum konsep buat acara kedepannya?"
Fatih dan Lukman memang merupakan pilar di Madrasah Aliyah yang dinaungi oleh yayasan Abi Ahmad Bashir. Fatih sebagai kepala bidang kurikulum, dan Lukman di bidang kesiswaan.
Fatih mengangguk, ia merapikan bajunya dan berdiri. "Sudah ada di tas. Kita ngobrol di kantor saja, ada beberapa hal teknis yang perlu kita bahas matang-matang."
Fatih berjalan melewati Lukman, lalu berhenti sejenak di samping telinga sepupunya itu. "Dan satu lagi... aku akan buat perhitungan denganmu soal ulekan tadi," bisiknya dengan nada mengancam yang rendah.
Lukman justru terkekeh. Ia tahu ancaman Fatih itu hanya gertakan sambal seorang teman dekat. Ia melambaikan tangan pada Bella dan Umi. "Umi, Mbak Bella, kami berangkat dulu ya! Jaga Pangeran Kulkas ini baik-baik, jangan sampai dia mencair di kantor!"
"Hati-hati di jalan, Nak Lukman, Fatih!" seru Umi.
Sebelum keluar pintu, Fatih sempat melirik sekilas ke arah dapur. Ia melihat Bella yang masih berdiri di depan wastafel, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—antara takut, hormat, dan ada sedikit binar kekaguman.
"Aku pergi dulu," ucap Fatih singkat, nyaris tak terdengar.
"I-iya, Bang... hati-hati," jawab Bella pelan.
Di sepanjang jalan menuju kantor yayasan yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah, Lukman terus saja bersiul riang. Fatih berjalan di sampingnya dengan langkah lebar-lebar, wajahnya ditekuk.
"Tatih... eh, Fatih," goda Lukman lagi. "Jujur sama aku. Masakan Bella tadi... mengingatkanmu pada seseorang, kan? Rasanya autentik Tasik banget."
Langkah Fatih terhenti. Ia menatap Lukman tajam. "Kamu sengaja, kan? Kamu tahu nama bapaknya Darman. Kamu juga tahu rasa masakannya mirip. Kamu sedang mempermainkan aku?"
Lukman mengangkat kedua tangannya, berakting seolah ia tidak bersalah. "Lho, aku ini cuma mau membantu. Kalau memang dia jodohmu yang dikirim Allah lewat cara yang 'unik', kenapa harus ditolak? Lagian, lihat Umi... beliau sayang banget sama Bella. Kalau kamu ceraikan sekarang, kamu siap lihat Umi masuk rumah sakit karena patah hati?"
Fatih terdiam. Kalimat Lukman menghujam tepat di titik terlemahnya. Kasih sayangnya pada Umi adalah segalanya.
"Sudahlah, nikmati saja. Biarkan Bella jadi 'obat' buat masa lalumu yang nggak jelas itu," lanjut Lukman sambil merangkul pundak Fatih. "Dan biarkan Nadia jadi obat buat masa depanku," tambahnya, tentu saja hanya di dalam batin.
Fatih menghela napas panjang. Ia merasa terjebak dalam labirin yang dibuat oleh Lukman, ibunya, dan takdir itu sendiri. Sementara itu, di kejauhan, ia melihat gedung Madrasah sudah dekat. Tapi pikirannya tetap tertinggal di meja makan tadi, pada rasa sayur lodeh yang persis dengan rasa rindu yang ia simpan selama sepuluh tahun.
Dunia ini memang konyol. Dan Fatih mulai sadar, mencairkan es di kutub utara hatinya mungkin akan jauh lebih sulit daripada menghadapi ratusan siswa Madrasah yang nakal.