NovelToon NovelToon
RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: UJIAN PERTAMA

Kawasan proyek mulai dipenuhi kesibukan ketika Rangga mengikuti langkah Pak Panji memasuki area utama. Suara mesin diesel bersahut-sahutan dari berbagai arah, berpadu dengan dentingan besi dan aba-aba para pekerja yang terdengar tegas. Truk pengangkut material keluar masuk tanpa henti, sementara beberapa alat berat bergerak perlahan meratakan tanah di sisi lain kawasan.

Rangga memperhatikan semuanya dengan saksama.

Irama pekerjaan di tempat itu benar-benar berbeda dengan Jakarta.

Tidak ada orang yang berjalan tanpa tujuan. Setiap pekerja seolah telah memahami tugas masing-masing. Waktu terasa begitu berharga hingga tak seorang pun ingin menyia-nyiakannya.

"Sebelah kiri itu gudang logistik utama," jelas Pak Panji sambil terus melangkah. "Material bangunan, suku cadang alat berat, sampai perlengkapan keselamatan semuanya keluar masuk dari sana."

Rangga mengangguk.

Pandangannya kemudian beralih ke sebuah bangunan semi permanen yang berdiri tidak jauh dari gudang tersebut. Dindingnya terbuat dari papan yang disusun rapi dengan rangka baja ringan, sedangkan bagian depannya memiliki pintu gulung yang cukup lebar untuk keluar masuk barang berukuran besar.

"Kalau yang itu?" tanyanya.

"Itulah tempat yang kami siapkan untuk operasional percetakan."

Rangga menghentikan langkah.

Bangunan itu memang sederhana, tetapi letaknya cukup strategis. Berada di tengah kawasan proyek sehingga mudah dijangkau oleh seluruh divisi.

Pak Panji membuka pintu gulung perlahan.

Suara gesekan besi terdengar memecah keheningan ruangan.

Bagian dalam masih tampak kosong. Hanya ada beberapa meja kerja, rak penyimpanan, serta instalasi listrik yang baru selesai dipasang beberapa hari sebelumnya.

"Bagaimana menurut Mas?"

Rangga melangkah masuk.

Matanya menyapu setiap sudut ruangan.

Ia mengamati posisi stopkontak, arah sirkulasi udara, hingga jarak antararea kerja. Sesekali ia mendongak memperhatikan rangka atap sebelum kembali melihat lantai yang masih bersih dari aktivitas produksi.

Tanpa sadar, naluri seorang pelaku usaha mulai mengambil alih.

"Kalau mesin cetak format besar ditempatkan di sisi kanan, ruang geraknya akan sempit."

Pak Panji menoleh.

"Maksudnya?"

"Mesin ini nanti membutuhkan area kosong untuk keluar masuk gulungan bahan cetak."

Rangga menunjuk sisi ruangan yang lain.

"Lebih baik dipindahkan ke sana. Jalur distribusi barang juga akan lebih leluasa."

Pak Panji memperhatikan arah telunjuk Rangga beberapa saat.

Kemudian ia mengangguk pelan.

"Saya tidak kepikiran sampai situ."

Rangga tersenyum tipis.

"Sudah kebiasaan, Pak. Di percetakan, salah menata posisi mesin bisa membuat pekerjaan menjadi dua kali lebih lama."

Belum lama mereka berbincang, suara mesin truk terdengar mendekat dari luar bangunan.

Pak Panji menoleh ke arah pintu.

"Sepertinya barang Mas sudah datang."

Rangga segera melangkah keluar.

Sebuah truk bak terbuka berhenti tepat di depan bangunan. Di atasnya tersusun beberapa peti kayu berukuran besar yang diikat menggunakan sabuk pengaman.

Seorang sopir turun sambil menyerahkan map berisi dokumen pengiriman.

"Kiriman dari pelabuhan, Pak."

Rangga menerima dokumen tersebut.

Matanya bergerak cepat memeriksa daftar barang.

Satu unit mesin cetak format besar.

Perangkat komputer.

Peralatan kalibrasi.

Beberapa kotak tinta.

Serta perlengkapan pendukung lain yang telah ia kirim dari Jakarta beberapa minggu sebelumnya melalui jalur laut.

Syukurlah...

Semuanya tiba dengan selamat.

Rasa lega perlahan memenuhi dadanya.

Inilah modal utama yang akan menentukan berhasil atau tidaknya usahanya berkembang di tanah Borneo.

"Pak Panji."

"Iya, Mas?"

"Boleh minta bantuan beberapa orang untuk menurunkan barang? Mesin ini tidak bisa dipindahkan sembarangan."

"Tentu."

Pak Panji segera memanggil beberapa pekerja yang berada tidak jauh dari lokasi.

Tak lama kemudian, lima orang datang membawa troli besi dan perlengkapan angkat.

Rangga tidak hanya berdiri mengawasi.

Ia langsung ikut membuka peti kayu, memastikan setiap baut pengaman dilepas dengan benar sebelum mesin dipindahkan ke dalam ruangan.

Melihat hal itu, salah seorang pekerja saling berpandangan dengan rekannya.

"Mantap juga bos dari Jakarta ini."

"Kirain cuma nyuruh-nyuruh."

"Nyatanya ikut ngangkat."

Ucapan itu hanya terdengar lirih.

Namun, cukup membuat beberapa pekerja lain mulai memandang Rangga dengan rasa hormat yang berbeda.

Mereka baru bertemu hari itu.

Tetapi kesan pertama telah terbentuk.

Di hadapan mereka, Rangga bukan sekadar pemilik usaha yang datang membawa perintah.

Ia adalah orang yang tidak ragu mengotori tangannya sendiri demi memastikan setiap pekerjaan berjalan sebagaimana mestinya.

***

BAB 22 — UJIAN PERTAMA

Bagian 2

Menjelang tengah hari, seluruh peti kayu akhirnya berhasil dipindahkan ke dalam bangunan operasional. Keringat membasahi hampir setiap orang yang terlibat, termasuk Rangga. Meski tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih akibat pengeroyokan beberapa hari lalu, ia tetap memaksakan diri membantu menggeser mesin cetak ke posisi yang telah ditentukannya.

Begitu mesin utama berdiri kokoh di tempatnya, Rangga menghela napas lega.

"Terima kasih, teman-teman."

Beberapa pekerja hanya mengangguk sambil menyeka peluh dengan lengan baju. Tak lama kemudian mereka kembali ke pekerjaan masing-masing, meninggalkan Rangga bersama Pak Panji di dalam ruangan yang kini mulai menyerupai sebuah percetakan.

"Mas istirahat dulu saja," ujar Pak Panji. "Perjalanan tadi juga cukup melelahkan."

Rangga menggeleng pelan.

"Nanti saja, Pak."

Ia berjongkok di depan salah satu peti yang belum dibuka. Dengan hati-hati ia mencungkil paku-paku pengunci menggunakan linggis kecil. Tutup peti terangkat perlahan, memperlihatkan perangkat komputer, monitor, dan beberapa kotak berisi peralatan kalibrasi yang dibungkus rapat dengan busa pelindung.

Satu per satu barang diperiksanya.

Ia memastikan tidak ada bagian yang retak akibat guncangan selama pengiriman laut maupun perjalanan darat menuju pedalaman.

"Alhamdulillah..."

Tak satu pun yang mengalami kerusakan.

Rangga segera menyusun meja kerja sederhana yang telah disiapkan. Unit komputer dipasang terlebih dahulu, disusul monitor, UPS, dan perangkat pendukung lainnya. Setelah semuanya terhubung, barulah ia beralih ke mesin cetak format besar yang menjadi jantung usahanya di lokasi proyek.

Sementara itu, Pak Panji memperhatikan dari belakang.

"Mas memang biasa mengerjakan semuanya sendiri?"

Rangga tersenyum kecil tanpa menghentikan pekerjaannya.

"Kalau masih sanggup, saya lebih suka memahami semuanya dari awal."

"Kenapa?"

"Kalau nanti ada masalah, saya tahu harus mulai memeriksanya dari bagian mana."

Jawaban itu membuat Pak Panji mengangguk pelan.

Ia semakin memahami alasan Pak Dimas begitu yakin merekomendasikan pemuda di hadapannya.

Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh sedang mengenakan rompi proyek memasuki ruangan sambil membawa kotak peralatan.

"Permisi."

Pak Panji segera menoleh.

"Nah, ini orang yang saya maksud."

Pria itu mendekat, lalu mengulurkan tangan kepada Rangga.

"Perkenalkan, Mas. Nama saya Doni. Saya orang lokal di sini. Mulai hari ini saya ditugaskan membantu operasional percetakan."

Rangga menyambut uluran tangan tersebut.

"Senang berkenalan, Doni."

"Sama-sama, Mas."

Doni memandang mesin cetak yang baru saja selesai dipasang.

"Wah... besar juga, ya."

Rangga tertawa pelan.

"Kalau proyek sebesar ini, mesin kecil tidak akan sanggup mengejar kebutuhan cetaknya."

Doni mengangguk penuh antusias.

"Saya memang belum pernah mengoperasikan mesin seperti ini. Tapi saya siap belajar."

"Itu sudah lebih dari cukup."

Rangga menepuk pelan bahu pria itu.

"Keahlian bisa dipelajari. Yang sulit dicari justru kemauan untuk belajar."

Ucapan sederhana itu membuat Doni tersenyum lebar.

Tanpa menunggu lama, keduanya mulai bekerja bersama.

Rangga menjelaskan fungsi setiap komponen mesin, mulai dari panel kendali, jalur tinta, hingga cara memasang gulungan bahan cetak agar tidak bergeser saat proses produksi berlangsung.

Doni mendengarkan dengan penuh perhatian.

Sesekali ia mencatat beberapa hal penting di buku kecil yang selalu dibawanya.

Melihat pemandangan itu, Pak Panji memilih mundur beberapa langkah.

Ia membiarkan keduanya mulai membangun irama kerja mereka sendiri.

Baginya, keputusan membawa Rangga ke proyek ini tampaknya bukan sebuah kesalahan.

Menjelang sore, hampir seluruh instalasi mekanis selesai dikerjakan.

Kini hanya tersisa satu tahap terakhir.

Menghidupkan mesin untuk pertama kalinya di tanah Borneo.

Rangga berdiri tepat di depan panel kendali.

Tangannya perlahan menekan tombol daya.

Suara kipas pendingin mulai berputar pelan.

Layar kontrol menyala satu per satu.

Semua indikator awal tampak bekerja sebagaimana mestinya.

Rangga dan Doni saling berpandangan.

Keduanya tersenyum lega.

Untuk pertama kalinya, percetakan digital milik Rangga akhirnya siap memulai napas barunya di tanah Borneo.

Pekerjaan belum selesai.

Rangga mengambil sebuah gulungan vinyl berukuran sedang, lalu memasangnya perlahan pada dudukan mesin cetak. Gerakannya tenang dan terukur. Ia memastikan setiap pengunci terpasang sempurna sebelum memeriksa kembali jalur tinta yang telah diisi beberapa saat sebelumnya.

Doni berdiri di sampingnya sambil memegang buku catatan.

"Mas, semua sudah sesuai?"

Rangga mengangguk kecil.

"Secara pemasangan sudah."

"Lalu?"

"Sekarang kita lihat apakah tempat ini siap menerima mesin kita."

Doni mengernyit.

"Maksudnya?"

Rangga tersenyum tipis.

"Mesin yang bagus tetap bergantung pada lingkungan kerjanya. Listrik, suhu ruangan, kelembapan, semuanya memengaruhi hasil cetak."

Doni mengangguk pelan.

Ia baru memahami bahwa menjalankan percetakan ternyata jauh lebih rumit daripada sekadar menekan tombol.

Rangga mulai menjalankan proses kalibrasi awal. Layar kontrol menampilkan beberapa parameter yang harus diperiksa satu per satu.

Suara motor penggerak terdengar halus.

Kepala cetak bergerak perlahan menyusuri relnya.

Sesaat kemudian...

Lampu indikator di sudut panel berkedip.

Lalu padam.

Mesin ikut berhenti.

Ruangan kembali sunyi.

Doni berkedip beberapa kali.

"Lho..."

Rangga tidak langsung bereaksi.

Tangannya justru bergerak memeriksa layar kontrol.

Belum sempat membaca seluruh kode yang muncul, aliran listrik kembali normal.

Mesin menyala sendiri.

Namun beberapa detik kemudian...

Tak!

Suara kecil terdengar dari dalam panel.

Layar kembali mati.

Kali ini seluruh ruangan ikut kehilangan aliran listrik selama beberapa detik sebelum lampu kembali menyala.

Doni langsung menoleh ke arah luar bangunan.

"Mas..."

"Saya tahu."

Rangga menarik napas pelan.

Ia membuka panel samping mesin, memastikan tidak ada komponen yang mengalami korsleting.

Syukurlah.

Semuanya masih aman.

Tak lama kemudian, seorang teknisi proyek berlari kecil menuju bangunan.

"Pak Panji bilang mesin sempat mati?"

"Iya."

Rangga mengangguk.

"Di sini memang begitu, Mas," ujar teknisi itu sambil mengusap peluh di dahinya. "Kalau beban genset sedang tinggi, tegangannya kadang naik turun."

Rangga terdiam.

Matanya perlahan mengarah ke panel listrik yang terpasang di dinding.

Kini ia mengerti.

Masalahnya bukan berasal dari mesin.

Melainkan dari sumber tenaga yang menghidupkannya.

Doni mendekat beberapa langkah.

"Wah... kalau begini bagaimana, Mas?"

Rangga tidak menjawab seketika.

Ia kembali menatap panel kontrol mesin, kemudian melihat instalasi listrik ruangan secara menyeluruh.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Barulah ia berkata dengan nada tenang,

"Mesinnya jangan dinyalakan dulu."

"Kenapa, Mas?"

"Kalau dipaksakan bekerja dengan tegangan seperti ini..."

Rangga mengusap pelan bodi mesin yang baru saja menempuh perjalanan ribuan kilometer dari Jakarta.

"...modul utamanya bisa rusak."

Doni menelan ludah.

"Itu berarti..."

"Kerugian yang tidak kecil."

Rangga berdiri tegak.

Wajahnya tetap tenang, tetapi pikirannya mulai menyusun berbagai kemungkinan.

Menunggu teknisi dari kota akan memakan waktu.

Menghentikan pekerjaan juga bukan pilihan.

Ia mengalihkan pandangan kepada Doni.

"Doni."

"Iya, Mas."

"Tolong ambil alat pengukur tegangan di tas hitam saya."

Doni langsung berlari menuju meja kerja.

Rangga kembali menatap panel listrik di hadapannya.

Perjalanan panjang menuju Borneo telah berhasil ia lewati.

Kini...

Ujian pertamanya benar-benar dimulai, bukan di atas jalan pedalaman, melainkan di depan sebuah panel listrik yang akan menentukan apakah usahanya dapat berdiri atau justru berhenti sebelum benar-benar berjalan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!