NovelToon NovelToon
BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Akan Memandu Semuanya

Menangis.

Itulah satu-satunya hal yang bisa Kinara lakukan di dalam kamarnya malam itu.

Air mata mengalir deras tanpa bisa ia tahan. Seumur hidupnya, ia tak pernah memperlihatkan kesedihan apalagi tangisannya pada orang lain.

Baginya, menangis di depan orang lain hanyalah tanda kelemahan, dan kelemahan adalah pintu masuk bagi orang lain untuk menindasnya. Ia terlalu sering belajar bahwa dunia tidak memberi belas kasih pada jiwa rapuh.

Namun kini, saat sendirian, tanpa siapapun yang bisa melihatnya, ia membiarkan pertahanan itu runtuh.

Puas menumpahkan segala perih, ia pun mengusap kasar wajahnya yang basah. Napasnya berat, dada terasa sesak, namun hatinya sedikit lebih ringan.

Dengan langkah gontai ia menuju kamar mandi, membasuh tubuhnya. Air dingin yang mengalir seolah ingin menghapus jejak duka yang melekat di kulitnya.

Kini ia sudah memutuskan jalan apa yang akan ditempuh. Tak ada lagi keraguan, meski langkahnya terasa seperti mengantarkannya ke jurang. Ia tahu, semua ini akan mengubah hidupnya selamanya.

Selesai mandi, Kinara segera mengenakan pakaian sederhana namun rapi. Ia berdiri lama di depan cermin, menatap bayangannya sendiri. “Kau bisa, Kinara. Bertahanlah,” gumamnya lirih.

•••

Hotel Aston tampak megah dengan cahaya lampu yang menyinari setiap sudut. Malam itu, lobby hotel begitu tenang, hanya suara gesekan koper tamu dan dentingan halus piano dari sudut lounge yang terdengar.

“Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?” sapa resepsionis ramah, saat melihat Kinara berdiri di depannya.

Kinara menelan ludah. Jemarinya yang pucat meremas tali tas kecil yang ia genggam. Ia mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya menjawab dengan suara pelan, nyaris bergetar.

“Ka… kamar 108.”

Resepsionis sempat terdiam, matanya menatap Kinara penuh tanda tanya. “108?” ulangnya, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

Dalam benaknya, nama kamar itu saja sudah cukup membuatnya heran. Itu bukan kamar biasa. Itu adalah kamar VVIP dan ruangan khusus dari pemilik hotel itu sendiri.

Keraguan jelas tergambar di wajah resepsionis. Namun tatapan Kinara yang gugup namun bersungguh-sungguh membuatnya segera paham bahwa ini bukan hal sepele.

Dengan cepat, ia menunduk hormat lalu berkata, “Baik, mohon tunggu sebentar.”

Tanpa menunda lagi, resepsionis segera menghubungi manajer hotel, Hesa. Begitu mendengar laporan bahwa ada seorang wanita datang dan menyebut kamar 108, Hesa langsung merasakan sesuatu yang familiar.

Pesan dari bos besar tadi terngiang jelas di kepalanya: "Jika ada seseorang yang menanyakan kamarku, segera bawa dia!"

Selama bertahun-tahun bekerja bersama Renald, Hesa tak pernah sekalipun melihat pria itu membawa wanita ke kamar pribadinya. Itu sebabnya ia menatap Kinara penuh rasa ingin tahu.

Jadi ini… orang itu?

Dengan ramah namun penuh rasa hormat, Hesa menuntun Kinara menuju lantai teratas. Sesampainya di depan sebuah pintu besar dengan ukiran kayu mahal, Hesa membukanya dan mempersilakan Kinara masuk.

“Silakan, Nona. Tuan Renald sudah menunggu.” Setelah itu, ia meninggalkan Kinara seorang diri.

“Aku sudah tahu kau pasti akan datang.” Suara bariton itu terdengar dari dalam ruangan.

Kinara menoleh, jantungnya berdetak kencang.

Renald berdiri tidak jauh darinya, masih mengenakan bathrobe putih. Di tangannya ada segelas vodka, cahaya lampu temaram memantulkan kilauan cairan bening itu. Ia berjalan perlahan menghampiri Kinara, sorot matanya sulit ditebak.

“Jangan gugup,” ucapnya lembut, jauh berbeda dari nada suara dingin yang biasa ia tunjukkan di kantor.

Kinara menggenggam erat jemarinya, mencoba menenangkan diri. “Pak… say—”

Renald langsung memotong dengan nada tegas, "Panggil aku Renald.” Perintahnya tegas tanpa penolakan.

“Ba… baik, Re—Renald.” Suaranya bergetar, wajahnya menunduk. “Maksud saya, saya bersedia. Tapi… kapan saya bisa mendapatkan uangnya?”

Renald menyunggingkan senyum samar, matanya menatap tajam. “Tentu saja setelah kita menghabiskan malam ini.”

Ucapan itu membuat Kinara refleks menelan ludah. Ia tahu inilah harga yang harus dibayar.

Tanpa memberi kesempatan untuk berpikir lagi, Renald semakin mendekat dan meraih lengannya, menariknya perlahan ke arah ranjang besar yang terletak di tengah ruangan.

“Ini… pertama kalinya bagiku,” bisik Kinara, nyaris tak terdengar, dengan tatapan mengiba.

“Iya, aku tahu.” Sebuah seringai tipis muncul di wajah Renald. “Percayalah padaku malam ini.”

Renald menatap wajah gadis itu dengan saksama. Ia tahu betul, di hadapannya kini bukanlah wanita murahan yang mudah ditemuinya di luar sana.

Ada sesuatu pada diri Kinara yang sejak awal menarik perhatiannya—mata beningnya, sikapnya yang polos, bahkan kegugupannya yang berusaha ia tutupi.

“Lihat aku.” ucap Renald pelan, mengangkat dagunya.

Mau tak mau, Kinara menatap langsung ke arah wajah pria itu. Dan saat itulah, ia benar-benar menyadari mengapa begitu banyak wanita tergila-gila pada pimpinannya ini.

Ketampanannya nyaris sempurna. Hidung mancung, rahang tegas, rambut yang masih basah seusai mandi, dan mata hazel yang seolah menelanjangi batinnya.

Kinara menahan napas. Astaga… kenapa aku malah terpikat?

Sadar pikirannya mulai liar, ia buru-buru memalingkan wajah. Namun Renald hanya tersenyum tipis, lalu berbisik, “Jangan takut. Aku akan memandu semuanya.”

Malam itu perlahan berubah. Sentuhan pertama terasa asing bagi Kinara, membuat tubuhnya kaku. Namun tatapan Renald dan nada suaranya perlahan meluruhkan pertahanannya.

“Tenang… ikuti saja ritmenya,” bisik Renald lagi, sembari menatap wajahnya yang memerah.

Kinara hanya bisa mengangguk pelan. Jantungnya berdebar lebih kencang dari sebelumnya.

Saat rasa sakit pertama kali menjalar, tubuhnya menegang. “Ah… sakit…” desisnya lirih.

“Tahan sebentar. Setelah ini akan lebih baik.” Renald menunduk, suaranya lembut namun tegas.

Ia menunggu beberapa saat, hingga Kinara sedikit rileks, lalu mulai mengatur irama. Ruangan itu dipenuhi suara samar, bisikan, dan tarikan napas yang memburu.

Waktu berjalan, hingga akhirnya tubuh Kinara tak lagi mampu menahan lelah. Ia terbaring pasrah di pelukan Renald, wajahnya basah oleh keringat, napasnya terengah.

Renald menatapnya lama. Meski belum merasa puas, ia tahu batas kemampuan gadis itu. Perlahan ia mengecup kening Kinara, lalu menarik selimut menutupi tubuh mungilnya.

“Tidurlah.”

Kinara tak membalas, matanya sudah terpejam, tubuhnya terlalu letih untuk bergerak.

Renald bangkit, melangkah ke kamar mandi, membersihkan dirinya. Di depan cermin, ia menatap bayangannya sendiri. Untuk pertama kalinya… aku benar-benar menginginkan seorang wanita.

Bukan karena ia kekurangan. Tidak. Banyak wanita cantik yang rela antri demi berada di sisinya. Namun selama ini ia selalu menolak. Ia hanya tertarik pada satu syarat: wanita yang masih 'bersih'. Dan kini, syarat itu terpenuhi oleh Kinara.

Namun lebih dari itu, ada sesuatu yang lain. Entah apa, tapi sejak pertama kali ia melihat Kinara di ruang rapat, ada magnet yang menahannya untuk terus memperhatikan gadis itu.

Selesai membersihkan diri, Renald mengenakan bathrobe baru lalu kembali ke kamar.

Ia berdiri sejenak di sisi ranjang, memandangi wajah polos Kinara yang tertidur. Beberapa helai rambut menutupi pipinya, dengan lembut Renald menyibakkannya. Ada rasa aneh dalam dirinya—campuran kagum, puas, dan candu.

Perlahan ia berbaring di samping Kinara, memeluk tubuh hangat itu dari belakang. Hidungnya menempel di rambut gadis itu, menghirup aromanya.

Kinara sempat merasakan pergerakan kecil, namun tubuhnya yang letih membuatnya lebih memilih tetap terlelap.

Malam itu, hanya rembulan yang menjadi saksi dari keputusan besar yang telah mereka ambil. Keputusan yang akan mengikat mereka, entah menuju bahagia atau justru membawa ke dalam jurang yang lebih dalam.

1
sandi sanda
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!