Andra yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Mila, perempuan yang telah bersuami itu mampu menggetarkan hatinya hingga membuat dia mencari tahu seperti apa kehidupan yang sedang di jalani Mila bersama suaminya. "Mila, kau tak pernah bahagia kan hidup bersama suamimu itu?" tanya Andra menatap serius Mila. "Bapak tidak perlu tahu urusan rumah tanggaku!" sentak Mila. "Ceraikan saja suamimu dan jadilah istriku, kau akan kujadikan ratu dalam hidupku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PandaMaiden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Bab 6
Di Kira Lembur
"Kalian berdua, siapa yang nyuruh nginep di sini, hah?" Balas Arjun dengan emosi.
Pria itu tak tahu jika Mila di ancam oleh adiknya, sehingga memilih kabur saja dari rumah tanpa sepengetahuan Arjun. Yang pria itu tahu dan percaya jika istrinya memang lembur di kantor.
Listrik rumah itu belum di bayar, maka sudah jadi kewajiban Mila untuk mencari uang tambahan dan segera membayar tagihan, jika tidak maka akan di lakukan pencopotan instalasi. Begitulah kira-kira yang ada dalam benak Arjun.
Bu Lisa dan Vio tampak gugup begitu mendengar ucapan Arjun. Karena mereka memang jarang menginap di rumah itu. Hanya sering datang di pagi hingga sore atau datang kapan mereka butuh sesuatu saja.
"Kita kan mau menemani kamu. Istrimu itu kan sedang lembur. Mungkin dia tidak pulang, jadi nginep di sini adalah solusi terbaik." Bu Lisa akhirnya berbicara dengan lantang.
"Tidak pulang? Bagaimana bisa kalian tahu. Itu bukan kebiasaan Mila. Mau selarut apa pun dia selesai kerja pasti akan pulang ke rumah." Arjun menegaskan.
Saat ini sudah jam 01.00 WIB dan Mila masih tidak bisa di hubungi. Biasanya sepulang nongkrong, Arjun bisa melihat wajah lelah Mila di atas kasur dan akan membuatkan kopi untuknya.
"Ya karena kan kamu pergi nongkrong dari siang, malem baru pulang. Mila kan sore pulang dan pamit sama kita mau lembur," papar bu Lisa.
"Tapi mobil ada, dia naik apa?" Arjun sedikit melunak. Karena memang faktanya dia tidak di rumah dari siang.
"Mungkin sama bo-emmph!" bibir Vio langsung di bungkam oleh bu Lisa.
Hampir saja gadis itu asal bicara, bu Lisa melotot memberi kode pada putrinya jika itu belum saatnya.
"Naik ojek, iya, Mila tadi pesan ojek online." Bu Lisa meyakinkan.
Arjun akhirnya duduk dengan tenang ke sofa. Membiarkan meja yang masih terbalik tetap di posisi. Malah dia menaikkan kakinya di sana.
"Baiklah, nanti jam 3 kalau dia belum bisa di hubungi aku akan susul ke kantornya," usulnya pada diri sendiri.
Pria itu mengeluarkan kotak rokoknya dan mulai menyalakan korek. Menghirup batang yang mengepulkan asap itu dengan dalam.
Sembari menunggu waktu, dia memilih main game di ponselnya. Sementara bu Lisa dan Vio masuk ke kamar lagi.
"Kamu jangan asal nyeplos Vio. Foto itu nanti kita jadikan senjata buat minta duit ke Mila atau pun ke pria yang jadi bosnya itu. Kamu jangan sampai melakukan hal bodoh lainnya," tegur bu Lisa.
"Iya, Ma, aku tau. Bawel, ih!" Sungut Vio.
"Hee, di bilangin orang tua kok, malah gitu, sih." Bu Lisa balik menggerutu.
Ya, sosok gadis yang memakai masker di restoran dekat kantor Mila bekerja adalah Vio. Dia dengan mudahnya menunjukkan foto itu pada Mila saat wanita itu baru tiba di rumah dengan tubuh lelahnya.
Flash Back On
"Mbak, kamu pulang sesore ini beneran kerja?" tanya Vio dengan nada sarkas.
"Maksud kamu apa?" bingung Mila. Baru tiba tapi mendapat pertanyaan aneh.
"Lihat ini." Vio menunjukkan foto saat Andra mengusap bibirnya yang terkena saos saat makan siang beberapa hari lalu.
Mila terkejut, "ini bukan seperti yang kamu pikirkan, Vio."
"Kamu berani selingkuh dari kakak, aku akan laporin Mbak ke kak Arjun," ancam Vio.
"Jangan Vio, itu cuma akan jadi sumber pertengkaran. Aku capek," keluh Mila.
"Kalau gitu, Mbak harus kasih aku uang. Kalau mau aman," ujar Vio santai.
Ck!
Mila berdecak sebal, pasti endingnya akan ke sana. Uang dan uang adalah tujuan adik iparnya itu. Sama seperti ibu mertuanya, bahkan apa pun yang ada di rumah ini akan di boyong ke rumah mereka.
"Aku tidak ada uang lagi," kata Mila.
Dia sudah malas meladeni adik iparnya yang sangat menyebalkan itu. Tapi ketika hendak masuk ke kamar, ucapan bu Lisa membuat Mila sangat kesal dan juga sakit hati.
"Buat apa kamu kerja kalo bukan nyari uang. Kamu jadi simpanan bosmu itu? Atau jadi pela'yan ranjangnya? Harusnya punya uang banyak sih kalo iya," ucap bu Lisa.
"Bu, hanya karena foto itu, Ibu menuduhku yang tidak-tidak?" sanggah Mila.
"Siapa yang tahu, apa yang kamu lakukan di luar sana. Tapi kamu tenang saja, Ibu tidak akan lapor ke Arjun, asalkan kamu berikan uangnya sekarang. Kebetulan, Ibu mau chek out di keranjang oren baju model terbaru," kekeh bu Lisa.
"Aku tidak ada uang, Ibu mimpi saja." Mila menutup pintu kamar dengan keras.
Sungguh, dia tak menyangka kalau mertua dan iparnya itu ingin memerasnya. Ini sangat melelahkan.
"Mil, kamu berani ya, lihat saja. Ibu akan kasih tahu Arjun, dia pasti akan menghajar kamu!" pungkas bu Lisa.
Membayangkan jika dia akan di jambak rambutnya, di tampar, dan di pukul oleh suaminya hanya karena foto itu sudah membuat Mila mual. Tapi memberikan uang pada kedua orang itu, Mila benar-benar tidak ada. Karena uang tabungannya sudah pasti ludes di Atm dan benda itu masih berada di tangan Arjun. Dia hanya punya beberapa lembar uang biru untuk pegangan dirinya saja.
"Mila, beri Ibu uang, 200 ribu saja, uang segitu masak kamu tidak punya. Buat apa kerja, hah. Dasar menantu pelit!" maki bu Lisa.
Mila menggeleng, itu harus dia simpan dengan baik di dalam tas kerjanya. Sementara di luar kamarnya, bu Lisa menggedor pintu dan berteriak minta uang padanya.
"Bu, aku beneran nggak ada uang." Mila membuka pintu masih dengan tas di bahu. Belum sempat meletakkannya karena suara bising mereka.
"Bohong!" Bu Lisa menarik tas Mila dan memeriksa isinya. Membuyarkan barang yang ada di dalam tas tersebut. Wanita itu hanya menemukan uang koin lima ratus rupiah yang jatuh ke lantai.
"Dasar nggak berguna. Sana, pergi minta uang sama selingkuhan kamu itu. Kalau tidak, Ibu akan telpon Arjun saja. Biar kamu di hajar kalau sudah selingkuh!" Kesal bu Lisa.
"Bu, aku nggak selingkuh. Ibu jangan asal nuduh, itu jatuhnya fitnah," bela Mila. Karena dia memang tidak selingkuh.
"Udahlah, usir aja Ma kalau dia nggak mau ngasih uang. Lagian gaji dia gede, masak tiap kita minta uang bilangnya nggak ada. Tapi kalo kakak yang minta, uangnya pasti ada." Vio menimpali.
"Sana, kamu minta uang sama selingkuhanmu buat kita. Buruan!" Bu Lisa menyeret lengan Mila dengan paksa.
Mila berusaha menolak, tapi tenaganya kalah oleh kekuatan dua orang yang menyeretnya dengan paksa.
Brukk!!
Tubuh Mila terjatuh di depan teras. Bu Lisa dan Vio mendorongnya dengan kuat, lalu mereka berdua tertawa melihat Mila terjerembab. Pintu rumah itu di tutup dan di kunci dari dalam.
Mila hanya bisa menangis lalu mengepalkan tangan, "awas saja kalian, aku akan membalasnya."
Flash Back Off