Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.
Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Reruntuhan Takhta yang Sombong
Dua pekan berlalu sejak Reno terusir dari kantor Nadir Label, namun badai karma seolah tak punya niat untuk mereda. Alih-alih melandai, gulungan masalah itu justru kian membesar, siap menyapu bersih apa pun yang masih tersisa dari kehidupan pria itu.
Di sebuah koridor rumah sakit umum daerah yang pekat oleh aroma obat-obatan, Reno terduduk menyandar pada dinding yang mulai kusam. Tak ada lagi gurat ketampanan atau wibawa seorang direktur yang tersisa. Matanya nampak cekung dengan lingkar hitam yang menebal, janggutnya tumbuh berantakan tak terawat, dan berat badannya merosot tajam.
"Keluarga Nyonya Ratna?" tanya seorang perawat paruh baya yang baru saja keluar dari ruang rawat kelas tiga. Ruangan itu terpaksa Reno pilih karena seluruh fasilitas asuransi mewah ibunya telah diputus akibat tunggakan premi yang menumpuk.
Reno tersentak lalu segera berdiri. "Benar, Suster. Saya anaknya. Bagaimana keadaan Ibu saya?"
Perawat itu menghela napas pendek, menatap Reno dengan binar iba yang justru terasa mencekik leher pria itu. "Kondisi fisik Nyonya Ratna memang sudah stabil, tetapi stroke penyumbatan yang dialaminya mengakibatkan bagian tubuh sebelah kanan lumpuh permanen. Selain itu, kemampuan bicaranya juga terganggu. Mohon siapkan mental Anda, Pak, karena pemulihan pasca-stroke ini akan membutuhkan biaya dan kesabaran yang sangat besar."
Reno hanya bisa mengangguk pelan, lidahnya terasa terlalu kelu bahkan hanya untuk sekadar berucap terima kasih. Setelah perawat itu beranjak, Reno melangkah masuk ke dalam ruangan sempit yang dihuni oleh tiga pasien lainnya tersebut.
Di atas bangsal, Ratna terbaring tanpa daya. Wanita tua yang dahulu selalu tampil mewah dengan perhiasan emas yang mencolok serta lisan yang tajam saat memaki Andini, kini hanya bisa ternganga. Sudut mulutnya nampak tertarik ke bawah, air liurnya menetes tipis di bantal, sementara matanya menatap langit-langit dengan pandangan kosong.
Begitu menyadari kehadiran Reno, mata Ratna bergerak gelisah. Ia berupaya mengeluarkan suara, namun hanya erangan sepatah dua patah kata yang tak jelas yang sanggup keluar dari tenggorokannya.
"Uuu... Re... N-noo..."
Reno duduk di pinggiran tempat tidur, meraih tangan ibunya yang terasa kaku dan dingin. Air mata pria itu kembali luruh. "Ibu... maafkan Reno. Perusahaan kita... sudah disita bank pagi ini. Rumah kita juga harus segera dikosongkan pada akhir bulan ini, Bu."
Mendengar kabar penyitaan itu, dada Ratna naik-turun dengan cepat. Matanya melotot panik, sementara air mata perlahan mengalir dari sudut matanya yang mulai keriput. Ia ingin marah dan berteriak seperti dulu, namun tubuhnya sendiri kini telah mengkhianatinya.
"Dan... Siska secara resmi sudah menggugat cerai aku, Bu," lanjut Reno dengan tawa getir yang terdengar menyayat hati. "Dia membawa pergi seluruh sisa uang di rekeningku, lalu membawa anak itu kembali ke laki-laki selingkuhannya. Kita... kita tidak punya apa-apa lagi sekarang, Bu. Kita jatuh miskin."
Raungan tangis Ratna pecah dalam kesunyian yang menyesakkan. Ia memalingkan wajah ke arah tembok, dadanya sesak oleh penyesalan yang datang terlambat. Bayangan wajah tulus Andini, yang dulu selalu telaten menyiapkan obatnya tepat waktu dan tetap mencium tangannya meski kerap dimaki, kini menari-nari dalam ingatan Ratna layaknya hantu yang mengejek kerapuhannya saat ini.
Sementara itu, di belahan kota Jakarta yang lain, suasana yang sangat kontras nampak jelas di sebuah ballroom hotel bintang lima. Malam itu digelar acara Grand Launching untuk koleksi terbaru Nadir Label yang mengusung tema Kelahiran Kembali.
Lampu-lampu kristal memancarkan cahaya keemasan yang begitu mewah. Ratusan tamu undangan, mulai dari kalangan selebritas, influencer papan atas, hingga pengusaha nasional memadati ruangan tersebut. Alunan musik instrumental islami yang syahdu namun tetap modern mengiringi para model yang melenggang di atas runway, memamerkan deretan gaun muslimah premium karya Andini.
Di balik panggung, Andini berdiri mengawasi jalannya acara melalui monitor. Malam itu, ia tampil begitu memesona. Ia mengenakan gaun abaya modern berwarna putih gading dengan detail payet mutiara yang elegan pada bagian dada. Hijab satin senada menutupi dadanya dengan sempurna, mencerminkan kesucian sekaligus kekuatan jiwanya yang telah lahir kembali.
"Bu Andini, acara kita sukses besar! Koleksi Kelahiran Kembali langsung habis dipesan secara pre-order melalui aplikasi dalam waktu kurang dari lima belas menit!" Citra datang menghampiri dengan wajah berseri-seri, lalu seketika memeluk erat sahabatnya itu.
Andini tersenyum, matanya nampak berkaca-kaca menahan haru. Ia mengusap punggung Citra dengan lembut. "Alhamdulillah, Cit. Semua ini tidak akan pernah terjadi jika malam itu kamu tidak menghentikan mobilmu di depan halte."
"Itu karena Allah tahu kamu adalah wanita baik, Ndin," bisik Citra dengan tulus. Setelah melepas pelukannya, Citra melirik ke arah pintu masuk VIP. "Ndin, ada seseorang yang ingin bertemu dan mengucapkan selamat kepadamu. Dia adalah salah satu investor utama baru kita."
Andini sedikit mengernyitkan alis. "Siapa?"
Citra memberi isyarat melalui tatapan matanya. Dari arah pintu, melangkah seorang pria muda bertubuh tegap dengan setelan jas hitam yang sangat rapi. Wajahnya rupawan, memancarkan aura kedewasaan serta ketenangan yang menyejukkan hati. Ia adalah Farhan, seorang pengusaha properti muda yang dikenal religius dan dermawan.
Farhan menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Andini, tetap menjaga jarak dengan sopan. Ia menundukkan kepala sedikit sebagai bentuk penghormatan, sembari menyunggingkan senyum hangat.
"Selamat malam, Ibu Andini. Selamat atas peluncuran koleksinya. Benar-benar karya yang sangat indah, seindah makna nama Nadir yang menginspirasinya," ujar Farhan dengan suara berat namun terdengar lembut di telinga Andini.
Andini membalas penghormatan itu dengan menundukkan kepalanya, diiringi senyum tulus yang merekah di wajah cantiknya. "Terima kasih banyak, Pak Farhan. Dukungan dari perusahaan Anda sangatlah berarti bagi kami."
"Jangan panggil Pak, panggil Farhan saja jika sedang di luar jam kerja," sahut Farhan dengan binar mata yang tak mampu menyembunyikan rasa kagumnya pada sosok wanita tangguh di hadapannya. "Saya mengagumi bukan hanya karya Anda, Andini. Namun juga cara Anda berdiri tegak melampaui masa lalu."
Andini merasakan kehangatan asing yang perlahan merayap di hatinya. Setelah sekian lama hatinya membeku akibat pengkhianatan Reno, kata-kata tulus dan penuh rasa hormat dari Farhan terasa bak musim semi yang mulai mencairkan es di dalam jiwanya.
Andini menatap ke depan, ke arah panggung megah tempat namanya dielu-elukan. Di titik ini, di puncak tertinggi yang berhasil ia daki dengan air mata dan harga diri, ia akhirnya memahami sebuah makna: Titik Nadir bukanlah akhir dari segalanya, melainkan cara Tuhan mengosongkan hidupnya dari orang-orang yang salah, agar tersedia tempat bagi kebahagiaan sejati yang kini tengah datang menjemputnya.