"Tanda tangani ini dan pergi! Kau hanya alat untuk menghancurkan ayahmu," ucap Elkan dingin.
Lima tahun lalu, Siska diusir dalam keadaan mengandung. Kini, ia kembali bukan sebagai istri yang lemah, melainkan sebagai pesaing bisnis yang siap menghancurkan kerajaan Elkan.
Namun, saat Siska mulai menyerang, ia menemukan rahasia kelam: Elkan sengaja menjadi iblis agar Siska tetap hidup. Di antara dendam dan cinta yang belum padam, siapakah musuh yang sebenarnya?
"Aku kembali untuk menghancurkanmu, Elkan. Bukan untuk jatuh ke pelukanmu lagi!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENANG MERAH YANG MULAI TERURAI
Malam semakin larut, namun riuh rendah pesta di aula utama Hotel Mulia seolah meredup bagi Elkan. Langkah kakinya terasa berat saat ia berjalan meninggalkan kerumunan, mengabaikan tatapan penuh tanya dari rekan-rekan bisnisnya. Ia terus melangkah menuju area taman belakang hotel yang sepi, tempat di mana angin malam bertiup cukup kencang untuk mendinginkan kepalanya yang terasa mau pecah.
Di bawah temaram lampu taman, Elkan menyandarkan tubuhnya pada pilar marmer. Tangan kanannya meraba saku jas, mengeluarkan tabung obat kecil tak berlabel yang ia sentuh beberapa saat lalu. Ia menatap benda itu dengan senyum getir.
"Tuan," sebuah suara memecah kesunyian. Roy berjalan mendekat dengan langkah terburu-buru, membawa sebuah map dokumen kulit berwarna hitam. "Saya sudah mendapatkan beberapa data awal dari agen kita di Singapura."
Elkan langsung menegakkan tubuhnya. "Katakan."
"Enkripsi pada data anak itu memang sangat kuat, seperti yang Anda duga. Dokumen legal menyatakan Arlan Pratama Wijaya diadopsi secara resmi dari sebuah yayasan di London saat berusia beberapa bulan. Namun..." Roy menjeda kalimatnya, ragu-ragu sejenak sebelum melanjutkan. "Informan kita di Rumah Sakit Mount Elizabeth berhasil menemukan catatan medis rahasia lima tahun lalu. Ada seorang pasien wanita tanpa nama yang masuk dengan kondisi kritis akibat hipotermia dan pendarahan hebat di malam badai yang sama dengan malam hilangnya Nona Siska."
Jantung Elkan berdegup kencang hingga menimbulkan rasa sakit fisik di dadanya. "Lalu?"
"Wanita itu melahirkan bayi prematur dalam kondisi koma. Biaya perawatannya seluruhnya ditanggung oleh akun rahasia milik mendiang Tuan Wijaya. Setelah pulih, wanita itu memperbarui seluruh identitasnya menjadi Jessica Wijaya." Roy menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Tuan Muda... anak itu, Arlan... secara biologis adalah putra kandung Anda."
Duar!
Meskipun Elkan sudah menduganya, mendengar kebenaran itu secara langsung dari mulut Roy tetap terasa seperti hantaman godam yang menghancurkan seluruh pertahanannya. Air mata yang selama lima tahun ini ia tahan di balik topeng kekejamannya, akhirnya luruh juga.
Elkan mencengkeram dadanya yang mendadak terasa sesak luar biasa. Rasa bersalah yang teramat sangat menyergap jiwanya. Malam itu... malam di mana ia mengusir Siska di tengah hujan badai, ia tidak tahu bahwa istrinya sedang bertaruh nyawa di jalanan demi mempertahankan darah daging mereka.
"Siska... apa yang telah kulakukan padamu?" bisik Elkan dengan suara parau yang dipenuhi isak tangis yang tertahan.
"Tuan, ada satu hal lagi," Roy menyerahkan dokumen itu ke tangan Elkan. "Ini tentang mendiang Tuan Surya, ayah Nona Siska. Kami menemukan bukti bahwa sebelum kematiannya, beliau sempat mentransfer sisa aset terakhirnya ke sebuah rekening luar negeri yang ternyata... dikendalikan oleh keluarga besar Pratama yang lain. Pihak paman Anda, Tuan Harris Pratama."
Mendengar nama pamannya disebut, mata Elkan yang tadinya penuh kesedihan mendadak berubah menjadi sedingin es yang mematikan. "Jadi... dugaanku selama ini benar. Harris yang menjebak mertuaku dan menggunakan tanganku untuk mengeksekusinya."
"Benar, Tuan. Jika lima tahun lalu Anda tidak berpura-pura merebut saham Tuan Surya dan mengusir Nona Siska agar dia terlihat miskin dan tidak berharga, Tuan Harris pasti sudah melenyapkan Nona Siska malam itu juga untuk menghilangkan saksi kunci penggelapan dana mereka."
Elkan memejamkan matanya, ingatan masa lalu kembali berputar. Lima tahun lalu, ia tidak sengaja mendengar rencana pembunuhan Siska yang dirancang oleh pamannya sendiri demi menguasai warisan gabungan keluarga mereka. Elkan tidak punya kekuatan saat itu. Jika ia mencoba melindungi Siska secara terang-terangan, pamannya yang kejam akan membunuh mereka berdua. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawa Siska adalah dengan membuat Siska dibenci oleh seluruh dunia, menjadikannya seolah-olah "korban yang tidak berguna", sehingga pamannya kehilangan minat untuk mengejarnya.
Elkan sengaja menjadi iblis. Ia rela dibenci oleh wanita yang paling ia cintai, asalkan wanita itu tetap bernapas di suatu tempat di bumi ini.
"Namun sekarang, Nona Siska—maksud saya Nona Jessica—kembali untuk menghancurkan Anda, Tuan. Dia mengira Anda adalah dalang dari kematian ayahnya," ucap Roy cemas.
Elkan mengusap air mata di wajahnya dengan kasar. Ia memasukkan kembali obat jantungnya ke dalam saku. "Biarkan saja. Jika dengan menghancurkanku bisa menyembuhkan luka hatinya, aku akan membiarkannya mengambil seluruh Pratama Group. Tapi..." Elkan menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang penuh tekad, "aku tidak akan membiarkan Harris atau siapa pun menyentuh sehelai rambut pun dari istri dan anakku lagi. Kali ini, aku yang akan menyelesaikan perang ini di balik layar."
Di sisi lain, di dalam mobil limosin mewah yang sedang melaju menuju hotel, Jessica duduk terdiam sambil menatap pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkeraman Elkan di pesta tadi.
"Nona, Anda baik-baik saja?" tanya Paman Hendra dari kursi depan, menyadari kegelisahan nyonyanya.
"Paman, Elkan tahu tentang Arlan," ucap Jessica, suaranya terdengar bergetar meski ia berusaha keras untuk tetap tenang. "Dia menebak arti nama Arlan. Pria itu mulai mencurigai identitas asliku."
Hendra menghela napas panjang. "Tuan Elkan adalah pria yang sangat jeli. Menyembunyikan harimau di dalam kandang domba tidak akan bertahan lama, Nona. Apa rencana Anda selanjutnya?"
Jessica mengepalkan tangannya, menahan kilatan emosi yang bergejolak di dadanya. "Besok pagi, aku akan meluncurkan serangan final untuk proyek Bali. Aku akan memaksanya menandatangani dokumen akuisisi. Begitu Pratama Group jatuh ke tanganku, aku akan membawa Arlan kembali ke Singapura dan tidak akan pernah menginjakkan kaki di negara ini lagi."
Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada rasa tidak tenang yang terus mengusik Jessica. Tatapan mata Elkan di pesta tadi... tatapan penuh penderitaan dan keputusasaan itu... terus membayangi pikirannya. Mengapa seorang pria kejam yang telah berhasil merebut segalanya bisa menatapnya seolah-olah dialah yang telah kehilangan seluruh dunianya?
"Tidak, Siska! Jangan goyah!" bisik Jessica pada dirinya sendiri, mencoba mengusir keraguan yang mulai mengikis dinding dendamnya. "Dia adalah pria yang membunuh ayahmu. Dia adalah pria yang mengusirmu saat hamil. Jangan pernah tertipu oleh sandiwaranya lagi!"
Mobil mewah itu akhirnya berhenti di pelataran hotel griya tawang. Jessica turun dengan langkah anggun, menggendong Arlan yang masih tertidur lelap ke dalam pelukannya.
Saat ia berjalan menuju lobi hotel, dari kejauhan, sebuah mobil sedan hitam dengan kaca gelap tampak terparkir di seberang jalan. Di dalam mobil itu, Elkan duduk di balik kemudi, menatap ke arah Jessica dan putranya lewat kaca depan dengan tatapan yang dipenuhi cinta, kerinduan, sekaligus pelindung yang siap mati demi mereka.
"Tidurlah yang nyenyak, anakku... Maafkan Papa yang belum bisa memelukmu," bisik Elkan lirih sebelum menyalakan mesin mobilnya dan melesat pergi membelah kegelapan malam, bersiap untuk menghadapi badai besar yang sesungguhnya yang akan ia ciptakan besok pagi demi melindungi keluarga kecilnya.