Aditya permana, dokter muda yang terpaksa harus kehilangan cintanya, lantaran kekasihnya yang bernama Nadia mahardika, menikah dengan ayahnya sendiri, tanpa sepengetahuannya. Hubungan yang tidak harmonis antara Adit dan ayahnya, semakin memanas ketika mengetahui kekasihnya menjadi ibu tirinya. Sejak kematian ibunya, hanya Nadia lah tempatnya mengadu.
Suatu ketika, pertemuan tidak sengaja Aditya dan Alexa terjadi, Alexa bekerja di bawah tanggung jawab Aditya, Aditya yang selalu bersikap dingin, suatu saat menjadi luluh dan mulai mencintai Alexa.
Tapi sebuah teror melanda, Aditya harus bekerja keras bersama Rangga, sahabatnya untuk dapat mengungkap sang peneror.
Hingga sebuah insiden terjadi, membuat Aditya harus kembali hancur untuk kedua kalinya, tapi sebagai seorang dokter, Aditya harus profesional dalam pekerjaannya, di tengah kesibukannya, Aditya tetap menjalankan misinya untuk mengungkap pelaku kejahatan itu.
Lalu bagaimana setelah itu?
Siapakah sang peneror sebenarnya?
Dan ada motif apa dibaliknya?
yuk baca kelanjutan ceritanya.
beri dukungan untuk author ya, terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Dini Thamara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokter amatir.
Malam ini Adit menginap di apartemen Rangga, Rangga hanya tinggal seorang diri disana, karena mama dan papanya tinggal di Jerman.
"Dit, kau diam saja" ucap Rangga sambil menatap laptopnya.
"Aku harus apa?" jawab Adit.
"Kau bisa menyetel musik, menonton film, atau yang lain"
"Aku bosan, aku masih jijik bila mengingat wajah gadis penghianat itu" Adit geram.
Rangga menutup laptopnya dan duduk menghadap Adit.
"Sabarlah Dit, biar bagaimana pun dia sekarang menjadi ibumu" Rangga menepuk bahu Adit pelan.
"Apa? Ibu? Ciihh.. aku muak sekali"
Rangga tersenyum dan kembali membuka laptopnya.
"Dit, besok akan ada perekrutan dokter baru, jangan sampai kita salah pilih untuk masuk dalam tim kita!"
"Aku tidak akan salah pilih, mungkin kau yang akan salah pilih"
"Haha.. enak saja"
"Kau tidak ingat waktu itu, kau merekrut dokter amatir yang bahkan langsung pingsan melihat darah"
"Iya, pria bodoh itu.." Rangga mengingat wajah dokter yang di maksud.
"Akan ada berapa orang besok?" tanya Adit.
"Ada 10 orang, besok kita akan mengambil 2 orang untuk tim kita"
"Baiklah, aku lelah. Aku akan tidur"
Adit membaringkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan selimut, sementara Rangga masih menatap layar laptopnya yang berisi para calon dokter baru.
Esoknya di rumah sakit.
"Selamat pagi tuan" semua orang menunduk hormat menyambut kedatangan Adit dan Rangga.
Rangga membalas dengan senyuman,
Sementara Adit tidak menghiraukan mereka.
Mereka masuk kedalam ruang perekrutan, di susul Irwan dan Justin.
Para calon dokter baru memberi hormat kepada mereka, mereka duduk di kursi yang sudah di sediakan begitu juga para calon dokter baru itu.
"Baiklah, kita akan mulai, pertama saya akan mempersilahkan Nona Maya, dan tuan Dani, silahkan" ucap dokter Justin, selaku dokter senior.
Dokter justin memberi beberapa pertanyaan, dan mereka menjawab dengan lancar. Beberapa menit kemudian tersisa dua orang yang akan mereka beri pertanyaan.
"Selanjutnya, Tuan Zaki dan Nona Alexa"
Mereka duduk di tempat yang di tentukan.
"Tuan Zaki, kenapa anda berniat bekerja di rumah sakit ini?" Rangga memberi pertanyaan.
"Karena saya ingin menjadi dokter yang profesional, saya dengar aturan di rumah sakit ini begitu ketat, sehingga dapat mendisiplin kan semua pegawainya"
"Hmm.. Baiklah, berikutnya Nona Alexa, Dit kau yang akan memberi pertanyaan"
Sebelum memberi pertanyaan, Adit melihat biodata mereka dan Adit tersenyum sinis ketika melihat foto Alexa.
"Heii.. kau wanita tidak punya sopan santun" ucap Adit, semua mata tertuju padanya.
"Dit, kenapa kau bicara begitu" ucap Rangga.
Alexa melihat Adit, dan ternyata Adit adalah dokter yang kemarin bertengkar dengannya du parkiran rumah sakit.
"Aku akan memasukkanmu ke dalam timku" ucap Adit tanpa mengajukan pertanyaan.
"Tapi dokter Adit, kau harus memberinya pertanyaan" ucap dokter Irwan.
"Tidak apa-apa, aku sudah mengenal wanita ini, sudah selesai kan? aku akan keluar" Adit pergi keluar ruangan, semua memberi hormat.
Rangga, Irwan dan Justin saling menatap satu sama lain.
Kediaman Brata.
"Ra, apakah tuan Muda tidak pulang semalam?" tanya Nadia kepada Ira.
"Tidak Nona,"
"Apa dia memberi kabar?"
"Tidak juga Nona"
"Kemana dia?"
"Itu sudah biasa Nona, mungkin tuan Muda menginap di apartemen tuan Rangga"
"Apakah tuan Muda selalu seperti itu?"
"Dulu tidak Nona, dulu tuan Muda orang yang sangat tepat waktu"
"Sejak kapan dia begitu?"
"Sejak kematian Nyonya besar"
Nadia mengerti perasaan Adit, karena selama hubungan mereka berjalan, Adit selalu mencurahkan isi hatinya kepada Nadia.
Nadia mengeluarkan ponselnya, dia baru tahu ada sebuah pesan yang di kirim Adit beberapa hari yang lalu.
"Adit meminta bertemu, tapi aku mengabaikannya?" Nadia menyesal.
"Seandainya dia mengetahui semua ini secara baik-baik, tentu dia akan mengerti posisi ku" Nadia meneteskan air mata.
Ira memperhatikan Nadia.
Kenapa Nona selalu bertanya tentang tuan muda, tapi tidak bertanya tentang tuan besar, apakah mereka memiliki hubungan spesial?
Kembali kerumah sakit yuk!
Rangga masuk ke ruangan Adit, dan melihatnya sedang bersandar di kursinya dengan mata terpejam.
"Kau tidak salah, menerima Alexa masuk tim kita?"
"Tidak" jawab Adit masih terpejam.
"Kau tidak takut kalau dia dokter amatir?"
"Aku akan memberinya pelajaran"
"Maksudmu?"
"Tidak, sudah pergi sana, lakukan tugasmu"
"Baiklah tuan CEO!" Rangga pergi dengan senyuman manisnya.
Adit mengambil telepon di mejanya dan menghubungi seorang perawat untuk memanggil Alexa.
Tidak berapa lama.
Tok.. tok..
"Masuk"
Alexa masuk ke ruangan Adit, Adit sedang menatap keluar jendela ruangannya.
"Tuan memanggil saya?" ucap Alexa.
Adit tersenyum, wajahnya terlihat semakin tampan membuat Alexa ternganga.
"Kau, wanita peminta ganti rugi, selamat datang ke timku"
Alexa terdiam, dia merasa sedikit gugup karena sudah membuat masalah dengan Adit tempo hari.
"Iya tuan" Alexa menunduk.
"Kenapa kau gugup begitu? Bukankah kemarin kau sangat ganas?"
Alexa mengangkat wajahnya.
Apa? ganas? memangnya aku harimau
"Kau jangan membuat kesalahan dalam timku, kalau kau membuat kesalahan sedikit saja, aku akan memberhentikanmu, kau paham, dokter amatir?" Adit menekankan suaranya.
Alexa hanya mengangguk.
"Baiklah, kau boleh pergi,"
Alexa memberi hormat dan hendak keluar ruangan, tapi Adit kembali membuka suara dan menghentikan langkahnya.
"Hari ini akan ada operasi besar, kau harus bersiap, ingat jangan buat kesalahan"
"Baik tuan"
Sementara Rangga sedang mempersiapkan segala keperluan operasi, dan melatih semua dokter baru, Ini adalah operasi besar, hingga melibatkan dokter-dokter ahli untuk melakukannya.
**Hai readers.
menurut kalian menarik enggak sih kisah dan watak para tokoh?
Disini author mau bilang, kalau author akan lebih fokus kepada Aditya permana, sehingga jarang menceritakan kisah Nadia, tapi nanti di episode selanjutnya, author akan mempertemukan Nadia dan Aditya kembali. Tapi mereka bakal balikan enggak sih? dan gimana ya dengan tuan Brata?
simak terus ya kisah mereka, jangan lupa kasih like dan beri masukan ya buat author, terima kasih😊**.
Mereka mulai menjalankan operasi, Adit yang sudah biasa melakukan pembedahan tampak biasa saja, karena itu memang keahliannya.
Sedangkan Alexa tampak gugup dan ngeri ketika melihat tubuh pasien di bedah.
Semua fokus pada tugas masing-masing, tidak ada pembicaraan sedikitpun selain pembicaraan mengenai pasien.
Sementara di luar ruang operasi, keluarga pasien menunggu dengan cemas, mereka takut terjadi apa-apa pada keluarganya.
"Jangan takut ma, kita percayakan semua kepada tuhan, dan kita berdoa agar dokter Aditya bisa menyembuhkan papa" kata anak pasien itu kepada mamanya.
Mereka percaya kalau Adit bisa menyembuhkan suaminya, karena Adit sudah terkenal dengan kesuksesannya melakukan berbagai operasi, mereka datang jauh dari luar kota hanya untuk meminta bantuan dari Adit.
Lampu darurat mati, menandakan kalau operasi sudah selesai, keluarga pasien harap-harap cemas, mereka menunggu Adit keluar dari ruangan itu.
Tidak berapa lama, Adit keluar dengan wajah datarnya? Ada apa sebenarnya?
Adit tidak memberi penjelasan apa-apa, begitu juga Rangga, yang menyusulnya keluar ruangan, disusul dokter-dokter dan para perawat.
feedback nya ya kk
SIMPANAN OM AROGAN
jangan lupa mampir semua
CUKUP! Aku Dan Anakku
Semangat