Menjadi istri kontrak Sagara bukanlah hal mudah bagi Amara. Pria itu masih mencintai kekasihnya yang menghilang seminggu sebelum pernikahan mereka, sementara pernikahan ini hanyalah kesepakatan demi kepentingan masing-masing.
Mereka berjanji untuk tidak saling jatuh cinta. Namun kebersamaan perlahan mengaburkan batas itu.
Di tengah hubungan yang semakin rumit, Denisa kembali sebagai bom waktu yang siap menghancurkan pernikahan mereka kapan saja. Belum lagi Dirga, kakak Sagara, yang misterius dan terus berusaha menjauhkan Amara dari adiknya seolah menyimpan rahasia besar tentang dirinya.
Saat cinta, pengkhianatan, dan rahasia keluarga mulai terungkap, mampukah Amara dan Sagara bertahan pada perjanjian mereka? Atau perpisahan memang sudah menunggu sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Setyowati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbeda Arahnya
Melihat Raka yang tertunduk rapuh di hadapannya, hati Amara mencelos. Dadanya seperti ditarik dua arah, antara rasa tak tega yang menyesakkan dan kenyataan pahit yang menuntutnya untuk tegas.
"Raka, bangun," ucap Amara lirih.
Raka hanya menggeleng pelan. Bahunya naik turun menahan emosi yang tak lagi mampu ia sembunyikan.
"Raka, jangan seperti ini!" sentak Amara panik.
"Aku nggak bisa, Ra…" sesal Raka dengan suara pecah, "Aku tahu aku salah. Tapi jangan hukum aku dengan cara seperti ini."
Amara memejamkan mata sesaat, lalu menyahut dengan suara bergetar, "Aku nggak pernah menghukummu. Kita hanya perlu saling merelakan."
Kalimat Amara pun seperti menampar hati Raka. Lelaki itu langsung membungkukkan badan lebih dalam. Kedua tangannya mengepal lalu menghantam tanah dengan keras hingga debu halus terangkat dari tanah kering di halaman itu.
"Nggak bisa, Ra! Jangan pergi!" seru Raka dengan suara serak.
Amara menelan saliva dengan susah payah. Melihat Raka tak jua bangkit, tangannya bergerak spontan. Ia menyentuh bahu lelaki itu. Lalu, digenggamnya lembut bahu rapuh itu dan membimbing berdiri untuk lebih menguatkan.
"Berdirilah! Kamu harus bangkit," ucap Amara pelan.
Raka perlahan berdiri namun tubuhnya masih lemah oleh emosi yang mengguncang. Ia masih tak bisa menerima kenyataan bahwa ia sudah menikah dengan perempuan lain dan Amara akan menikah dengan lelaki lain.
Namun sebelum tangan Amara sempat lepas dari bahu Raka. Tiba-tiba...
Sebuah tangan tiba-tiba menepis tangan Amara dengan kasar. Lalu...
Plaaakkk!
Suara tamparan pecah di udara. Suara itu berasal dari tamparan yang mendarat di pipi Amara. Tamparan itu begitu keras hingga kepala gadis itu terlempar sedikit ke samping.
Semua orang membeku di depan rumah Amara membeku.
Pipi Amara langsung memerah. Rasa panas pun menjalar tajam sampai ke pelipisnya. Ia memegang pipinya dengan tangan gemetar.
Ketika Amara menoleh, ternyata Bu Meta, ibu Raka, telah berdiri di samping Raka. Tatapan perempuan itu tajam, dingin, dan dipenuhi kebencian yang tak disembunyikan sedikit pun.
Sagara bergerak lebih cepat dari siapa pun. Refleks ia menarik Amara selangkah ke belakang dan melindungi gadis itu di belakang tubuhnya. Lalu, ia maju satu langkah dan berdiri tegak di depan gadis itu seperti dinding yang tak mudah ditembus apa pun. Tatapannya membalas sorot mata Bu Meta dengan lebih dingin.
Bu Ami segera menghampiri Amara. Tangannya mengusap pipi keponakannya dengan lembut penuh kecemasan.
"Bu Meta, cukup!" sentak Bu Ami tak tahan.
Namun Bu Meta justru mendengus kesal.
"Itu bilangin keponakanmu biar nggak kegatelan!" bentak Bu Meta tajam, "Berani-beraninya masih pegang-pegang dan deketin anak saya. Dasar nggak tahu diri! Nggak tahu malu! Persis seperti ibunya."
"Ma, cukup!" sela Raka tiba-tiba dengan wajah merah menahan marah, "Kenapa Mama jadi kasar seperti itu? Jaga ucapan Mama!"
"Harusnya dia yang jaga kelakuannya!" timpal Bu Meta sambil menuding-nuding Amara dengan tajam.
Lalu, ia beralih menatap Raka dengan kesal.
"Kamu juga! Sudah punya istri di rumah, kenapa masih ke sini? Pikir! Paling juga dia bentar lagi cari orang kaya lain biar naik level," tambah Bu Meta dengan intonasi lebih rendah namun kekesalannya masih sama.
"Ehem," dehem Sagara rendah memotong udara.
Semua mata langsung tertuju pada Sagara. Ia hanya berdiri tegak. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tajam seperti ujung pisau.
"Mulai sekarang… jauhi Amara," ucap Sagara pelan namun berat.
Sagara menjeda ucapannya. Kemudian, ia menatap Bu Meta lurus-lurus sebelum melanjutkannya.
"Sekali lagi Anda memukul calon istri saya… saya patahkan tangan Anda," ancam Sagara dengan serius.
Keheningan langsung jatuh sesaat di antara mereka.
Bu Meta menyeringai miring. Lalu, ia bertepuk tangan perlahan dengan nada meremehkan.
"Oh… jadi sudah dapat mangsa baru rupanya," kata Bu Meta sinis, "Bagus. Cocok. Sama-sama nggak sopan."
Sagara tersenyum tipis namun matanya mengintimidasi.
"Apa bedanya dengan Anda?" balas Sagara sengit.
Bu Meta mendengus kasar tak terima. Kemudian, tatapan Bu Meta beralih ke mobil Sagara. Lalu, ia pun mengangguk-angguk sambil tersenyum kecut.
"Saya peringatkan! Dia itu cuma mau numpang hidup enak. Jangan terlalu percaya sama muka polosnya," ucap Bu Meta mencoba menggoyahkan penilaian Sagara terhadap Amara.
Tatapan Sagara semakin dingin.
"Justru itu," sambar Sagara perlahan.
Kemudian, Sagara menoleh sedikit ke arah Amara di belakangnya dan melanjutkan, "Saya ingin memastikan dia selalu bahagia dan hidup enak selama bersama saya."
Ucapan itu membuat wajah Bu Meta mengeras. Ia sangat kesal karena Sagara selalu berhasil mematahkan ucapannya.
Namun Sagara sudah tidak tertarik melanjutkan perdebatan itu. Ia pun berbalik. Tangannya meraih tangan Amara dengan lembut.
"Ayo pulang. Masih banyak yang harus kita persiapkan," ajak Sagara sambil menggenggam tangan Amara lebih erat.
Amara tertegun sebentar. Dadanya masih berdebar, pipinya masih terasa panas, tetapi kehangatan genggaman Sagara membuatnya sedikit lebih tenang.
Namun sebelum beranjak, Amara menoleh kepada Bu Ami. Ia berkedip penuh makna kepada Sagara dan Sagara yang memahami pun langsung melepas genggamannya.
Setelah Sagara mengangguk sebagai tanda perizinan, Amara pun mendekati Bu Ami. Ia pun memeluk perempuan itu erat.
"Budhe… doakan Amara ya," bisik Amara pelan.
Bu Ami mengusap punggung keponakannya dengan mata berkaca-kaca sambil berkata, "Nduk, yang bahagia, ya. Doa Budhe dan Pakdhe selalu bersama Amara."
Amara mengangguk seraya menyahut, "Nanti Amara kabari Budhe lagi, ya. Titip rumah Nenek. Kalau ada yang mau, tinggali saja."
Bu Ami tersenyum haru. Ia pun mengangguk dengan mantap.
"Pasti. Semoga semua lancar. Budhe akan selalu menunggu kabar baiknya," doa Bu Ami sangat tulus.
Sagara ikut mendekat dan menunduk hormat kepada Bu Ami.
"Mohon doa restunya juga, Budhe," pinta Sagara menyela dengan ramah dan sopan.
Bu Ami pun melepas pelukannya. Ia pun mengangguk perlahan sambil menatap Amara.
"Saya titip Amara. Hidupnya selama ini tidak mudah dan banyak menderita. Tolong jangan banyak mempersulit dia," pesan Bu Ami memohon.
Sagara menjawab tanpa ragu, "Saya akan menjaganya."
Setelah bersalaman dengan Bu Ami, Sagara pun mengajak Amara berjalan menuju mobil. Ia membuka pintu untuk Amara, lalu menutupnya dengan hati-hati setelah gadis itu masuk.
Deru mesin mobil mulai terdengar. Mobil itu pun melaju seakan ingin membawa Amara ke kehidupan baru.
Di halaman rumah Amara, Raka masih berdiri terpaku. Wajahnya memucat. Matanya menatap mobil yang perlahan menjauh. Sementara itu, Bu Meta berdiri di sampingnya dengan rahang mengeras.
Mobil itu semakin jauh. Meninggalkan ibu dan anak itu dalam diam yang dipenuhi kemarahan, penyesalan, dan kekalahan yang belum sempat mereka terima.
...****************...
Perjalanan menuju kota berlangsung dalam keheningan yang panjang. Di dalam mobil, hanya suara mesin yang sesekali memecah sunyi. Tidak ada percakapan. Tidak ada candaan seperti sebelumnya.
Amara menatap jalan yang berlari mundur di balik kaca jendela. Pikirannya penuh sesak tentang masa depan yang tiba-tiba berubah arah, tentang rumah nenek yang ia tinggalkan, dan terutama tentang Raka. Nama itu masih terasa hangat di hatinya, sekaligus menyayat luar biasa. Ia tak tahu bagaimana caranya melepaskan seseorang yang pernah ia yakini sebagai tujuan hidupnya.
Sementara itu, di balik kemudi, Sagara juga tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia tidak mengerti mengapa dia begitu mudah merasa bertanggung jawab pada gadis yang bahkan baru ia kenal beberapa hari. Ia pun tak memahami mengapa setiap kali melihat Amara terluka, dadanya ikut terasa sesak. Perasaan itu terasa asing. Namun entah mengapa… ia tidak ingin menolaknya.
Beberapa saat kemudian, Amara perlahan memejamkan mata. Kepalanya bersandar di kursi mobil. Tanpa ia sadari, kelelahan akhirnya menenggelamkannya dalam tidur.
Sagara melirik sekilas ke arah Amara dan ternyata gadis itu sudah menyandarkan kepalanya di kursi mobil. Wajahnya tampak kelelahan. Namun suasana itu justru membuat napasnya terasa lebih lega. Setidaknya, untuk sementara gadis itu bisa beristirahat dari badai hari ini.
Mobil terus melaju hingga akhirnya memasuki sebuah kawasan perumahan cluster yang tertata rapi. Jalanannya bersih, rumah-rumahnya seragam namun elegan.
Sagara memarkir mobil di carport sebuah rumah dua lantai bergaya modern minimalis. Mesin dimatikan.
Dan, saat itulah Amara terbangun. Ia mengucek matanya dengan setengah sadar.
"Kita di mana?" tanya Amara sambil mengusap wajah untuk menghapus sisa kantuknya.
Sagara melepas sabuk pengamannya sambil menjawab dengan santai, "Di rumahku. Nanti kita tinggal di sini."
Amara langsung menoleh cepat.
"Kita?!" pekik Amara terperanjat.
Sagara menoleh dengan alis terangkat.
"Memangnya kamu mau tinggal di rumah orang tuaku?"
Amara tercekat.
"Emang… nggak apa kita tinggal berdua?" tanya Amara ragu.
"Emang kenapa?" tanya balik Sagara sangat enteng.
"Biar aku cari kos aja deh kalau udah kerja nanti," nego Amara berharap diterima.
Sagara menggeleng kecil.
"Lebih ribet kalau kita tinggal terpisah lah," bantah Sagara cepat.
Sagara tersenyum tipis. Lalu, ia menunjuk menunjuk ke arah lantai atas rumah.
"Aktivitas aku nanti banyak di lantai atas. Lantai bawah jadi daerah kekuasaanmu. Lagian lebih enak tinggal berdua. Kita nggak harus pura-pura mesra, kan?" tawar Sagara menoleh dan meminta persetujuan Amara.
Amara berpikir sejenak, lalu mengangguk pelan.
"Bener juga sih…" sahut Amara tak ada pilihan.
Amara pun diam sesaat, kemudian ia teringat sesuatu.
"Oh iya. Mulai sekarang aku panggil kamu Mas Sagara boleh kan?" tanya Amara canggung.
Sagara mengangkat alis seraya bertanya, "Kenapa?"
"Takutnya kalau aku panggil Sagara terus jadi kebiasaan. Nanti keceplosan di depan keluargamu," jawab Amara polos.
Sagara terkekeh. Lalu, ia pun mencondongkan badan sedikit ke arah Amara.
"Terserah kamu. Mau panggil sayang juga boleh," ledek Sagara sambil mencolek dagu Amara dengan jahil dan langsung kabur keluar dari mobil sebelum Amara sempat membalas.
Amara langsung mendengus kesal. Ia turun sambil menenteng tasnya, lalu berjalan mengikuti Sagara dengan bibir monyong-monyong dan lirikan sadisnya yang mematikan.
Sagara yang melihat itu pun tersenyum puas.
"Dasar bocah ngambekan," goda Sagara sambil mengeluarkan kunci dari saku celana.
"Dasar om-om nyebelin," balas Amara sinis.
Namun saat Sagara hendak memutar kunci, gerakannya tiba-tiba berhenti. Wajah santainya langsung berubah tegang. Kunci itu… tidak bisa diputar. Ia pun menatap gagang pintu dengan sorot mata tajam. Ada yang janggal dan mengarah pada satu hal: ada orang di dalam.
Melihat perubahan ekspresi Sagara yang terlalu drastis, Amara langsung ikut tegang. Dadanya berdebar keras.
"Kenapa?" tanya Amara cemas.
Sagara mengangkat telunjuk ke bibir.
"Hsst. Jangan berisik," bisik Sagara serius, "Di dalam ada orang."
Amara langsung membeku.
"Tetap di belakangku. Apa pun yang terjadi, " bisik Sagara terdengar datar, tetapi sorot matanya waspada seperti sedang menghadapi bahaya.
Amara makin panik.
"Panggil satpam gih!" bisik Amara cepat, "Perampok kah?"
Sagara menggeleng pelan.
"Kalau perampok biasanya ada sesuatu yang dirusak untuk masuk," jawab Sagara sambil menatap pintu dengan serius, "Kalau dari cara masuknya… ini lebih mirip pembunuh."
Amara langsung melotot. Mulutnya sampai menganga saking kagetnya.
"Ih! Jangan bercanda gitu dong! Ngeri tau!" protes Amara tak dapat menahan kecemasannya lagi.
"Aku nggak bercanda," jawab Sagara singkat,
"Aku juga lagi tegang ini."
Sagara pun mulai membuka pintu perlahan. Sangat pelan.
Amara makin panik. Ia bahkan sudah bersiap mundur. Namun satu tangan Sagara langsung mencengkeram pergelangannya.
"Ngapain kita masuk kalau ada pembunuh?!" bisik Amara panik sambil berusaha melepaskan diri, "Sama aja bunuh diri! Kalau kamu mau mati jangan ngajak-ngajak! Masa depanku masih panjang!"
Sagara menahan tawanya yang hampir keluar. Namun ia tetap membuka pintu itu perlahan dengan wajah serius.
Klik.
Pintu terbuka.
Dan di detik berikutnya, Amara membeku.
Di ruang tamu, empat orang sudah berdiri menunggu. Oma Sari. Opa Hendra. Pak Darma. Dan Bu Ning.
Mereka berdiri tegak dengan tatapan tajam yang menghujam lurus ke arah pintu. Tidak ada senyum. Tanpa sapaan hangat. Hanya wajah-wajah dingin yang penuh penilaian.
Jantung Amara bak berhenti berdetak. Tangannya tanpa sadar menjatuhkan tas dan berganti mencengkeram lengan Sagara.
Suasana di ruang tamu itu terasa begitu berat seolah udara ikut membeku. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menegangkan.
Hingga akhirnya, Bu Ning melangkah satu langkah ke depan. Tatapannya tajam menelusuri wajah Amara dari ujung kepala hingga kaki. Lalu, ia berkata dengan suara dingin yang membuat bulu kuduk meremang.
"Jadi… ini gadis kamu bawa pulang?" tanya Bu Ning tak menyangka.