Renazia Putri Maharaja, adalah salah satu orang yang beruntung di dunia. Selain pintar dan cantik, wanita yang baru saja menginjak umur 27 tahun itu, juga memiliki keluarga yang sangat sayang padanya, serta teman yang banyak.
Ditambah dengan kesuksesannya di dunia desainer, membuat orang-orang iri padanya.
Namun, semuanya hilang dalam semalam, ketika Rena tiba-tiba terbangun di tempat yang asing dengan tubuh yang berbeda, dengan nasib yang berbeda juga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XoLyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Enam
Rena melirik sekitarnya. Entah perasaan, atau bukan. Pelayan yang berada di sekitarnya, bertambah. Bahkan, biasanya dia hanya ditemani Via, kini bertambah satu lagi. Riri namanya. Hal ini, membuat Rena tidak bisa bergerak dengan leluasa.
Wanita itu menghela napas panjang. Entah apa, yang dipikirkan oleh Dante, sehingga pria itu menambahkan pengawasan di sekitar Rena.
Manik mata hazelnya, menatap ke arah di mana bangunan yang dia temukan waktu itu. Padahal, dia sengaja memilih tempat yang berdekatan dengan jalan menuju bangunan itu. Namun, apa daya, kali ini banyak mata yang mengawasinya.
"Nyonya, mataharinya sudah mulai terasa panas. Alangkah baiknya, kita pindah masuk ke dalam," saran Via. Rena beralih mendongakkan kepalanya, menatap teriknya matahari.
"Baiklah." Rena bangkit berdiri, meninggalkan area kolam renang, masuk ke dalam mansion. Namun, baru saja, dia melewati pintu, Rena tiba-tiba menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap Via.
"Via, apa yang aku lakukan biasanya? Maksudku, apa kegiatanku sehari-hari?"
Via dan Riri saling pandang. Mereka kelihatan bingung. Namun, Via tetap menjawab. "Biasanya, Nyonya akan ... duduk di balkon kamar sambil minum teh."
"Apa aku pernah keluar?"
Via menggelengkan kepalanya. "Tidak pernah, Nyonya. Anda biasanya hanya berdiam diri di dalam kamar."
Rena menganggu-anggukkan kepalanya. Dia paham, karna dia sudah menebaknya. Walaupun, di novel tidak diceritakan secara detail, namun dari pengamatan Rena, tokoh Renazia termasuk tokoh yang penyendiri.
Wanita itu kembali melangkahkan kakinya, masuk ke dalam. Untuk sekarang, sepertinya dia harus menahan diri untuk tidak ke bangunan itu.
...
"Silakan masuk, Tuan." Enzo mempersilakan Dante masuk ke dalam sebuah ruangan privat di salah satu restoran.
Di dalam ruangan itu, sudah menunggu, Julian. Dante hanya meliriknya, dan duduk di kursi yang berseberangan dengannya.
"Ada apa, anda memintaku untuk bertemu?" Dante bertanya to the point.
Julian menghela napas. "Kamu tidak ada sopannya dengan mertua kamu, yah?"
"Aku sudah cukup sopan. Yang tidak sopan, adalah anda yang tiba-tiba datang bertamu ke rumahku dan, mengganggunya. Aku kira, kita sudah membuat perjanjian, Tuan Julian." Dante bersandar dengan mata yang masih tertuju pada Julian. "Di surat perjanjian kita, anda tidak boleh bertemu dengan wanita itu, tanpa seizin saya."
Julian berdecak. "Tapi, dia anakku."
"Dia istri saya sekarang. Dan, jangan lupa, anda sendiri yang menyerahkannya," Dante membalasnya dengan nada tenang dan tegas, membuat Julian terdiam sejenak.
Julian menghela napas panjang. "Aku tau. Kemarin, aku rencananya ingin bertemu denganmu, tapi kamu tidak ada. Jadinya, aku menemuinya."
Dante mendengus. Dia tau, pria di depannya itu berbohong padanya. Namun, Dante tidak ingin mempermasalahkannya. Karna, dia tau, Julian pasti akan berhati-hati setelah, dia memperingatinya.
"Aku menemuimu, karna ... aku membutuhkan uang."
Alis Dante terangkat sebelah. "Uang? Apa uang yang anda dapatkan dariku sebelumnya, tidak cukup?" Uang yang Dante berikan sebelum pernikahannya, sangat banyak sehingga, Dante berpikir jika, Julian akan mencari uang lagi. Namun, ternyata tidak.
"Aku ada keperluan mendadak. Dan, kemarin aku melunasinya dengan uang yang kamu berikan."
Dante menoleh ke arah Enzo yang berdiri di belakang. Enzo yang mengerti, segera mengeluarkan sebuah cek dan memberikkannya ke Dante.
Dante menandatanganinya dan memberikannya stempel milikinya. Lalu, dia sodorkan ke depan Julian. "Isi nominalnya. Dan, ini terakhir kalinya, anda menemui saya."
Pria itu bangkit berdiri, dan melangkah keluar ruang privat itu, meninggalkan Julian yang menatap cek yang diberikan Dante. Dia mengambilnya, dan memasukkannya ke dalam saku jasnya.
...
Dante memutuskan untuk kembali ke mansion, walaupun hari masih siang. Karna, pekerjaannya masih bisa dia kerjakan dari rumah.
Alisnya mengernyit, ketika menemukan Rena yang sedang duduk di sofa ruang keluarga sambi menonton drakor. Memang akhir-akhir, dia melihat Rena sudah jarang mengurung dirinya. Tapi, untuk nonton di ruang keluarga, itu merupakan kemajuan yang bagus.
Wanita itu mendongak ketika mendengar suara langkah kaki. Dia melirik Dante sekilas, dan kembali fokus menonton.
Dante juga akhirnya memilih mengabaikannya, dan melangkah menuju ruang kerja. Mendengar langkah kaki menjauh, Rena menatap ke arah perginya Dante. Rena merasa kesal, karna Dante kembali dari tempat kerjanya, lebih cepat dari biasanya.
Padahal, dia sudah membuat Via dengan Riri sibuk, supaya dia bisa diam-diam ke bangunan. Tapi, Dante malah pulang lebih cepat. Helaan napas panjang terdengar darinya.
Dante tidak langsung mengerjakan pekerjaannya. Dia terlebih dahulu mengecek rekaman CCTV yang dia lewatkan lewat komputer di ruang kerjanya.
Dia memajukan tubuhnya, ketika melihat hampir di setiap rekaman CCTV, sosok Rena muncul. Dia memperhatikan gerak-gerik, Rena yang sepertinya menatap ke satu arah, belakang mansion.
"Apa yang sebenarnya, dia cari?" gumamnya.
Suara ketukan mengalihkan perhatiannya. Enzo segera membuka pintu, dan sosok Riri berdiri di ambang pintu.
"Masuk," perintah Dante yang langsung dilaksanakan Riri. Wanita yang masih kelihatan muda itu, membungkukkan tubuhnya.
"Tuan, saya akan melaporkan kegiatan nyonya Rena hari ini."
Dante menganggukkan kepalanya, walaupun Riri tidak melihatnya. Riri perlahan menegakkan tubuhnya.
"Nyonya seharian berkeliling. Tapi, saya rasa, nyonya sedang tertarik dengan bangunan di belakang mansion. Beberapa kali, saya melihat, nyonya menatap ke arah sana. Dan, sepertinya, nyonya mencoba ingin ke sana."
"Baiklah. Kamu bisa kembali bekerja."
Riri menundukkan badannya, sebelum dia keluar dari ruang kerja. Dante menatap Enzo.
"Robohkan bangunan itu, tapi lakukan secara diam-diam."
Enzo terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya. "Baik, Tuan. Malam ini, saya melaksanakannya."
..bersambung