Arkan Bagaskara seorang duda yang dijodohkan dengan seorang mahasiswanya yang hobi membuat masalah dikelasnya. Arkan merasa diumurnya yang cukup matang menjalin hubungan dengan Febriana Indriana adalah hal yang sulit, dia ingin hubungan yang serius bukan seperti anak remaja yang baru jatuh cinta. Apalagi sifat kekanak-kanakan dan memberontak yang Febri miliki membuat kepalanya sakit. Tapi mau bagaimana lagi keluarganya memiliki hutang budi dengan keluarga Febri dan mau tak mau Arkan harus menikahi Febri. Namun apakah semua berjalan Lancar disaat Febri jatuh Cinta dengan pria yang lebih muda darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gulla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Bab 5
Arkan berbaring di kamar miliknya, ia menggeser sedikit bantal di kepalanya. Ia memejamkan mata mencoba mengatur napasnya sejenak, akhir-akhir ini hidupnya yang tenang benar-benar berubah berkat gadis kecil itu. Apakah ia yakin dengan menerima perjodohan itu? lagi pula ini adalah permintaan ibunya. Ibunya yang merawatnya dari ia kecil hingga besar saja tidak pernah menuntutnya macam-macam sedang dia selalu minta apa-apa kepada ibunya, namun ketika ibunya hanya menginginkan satu permintaan kenapa ia tidak menurutinya. Ia akan merasa menjadi pria yang tidak tahu diuntung.
Arkan menggeliat dalam posisi tidurnya, kemudian ia teringat ponsel Febri yang masih berada di sakunya. Dia mengambil ponsel Febri kemudian membukanya, sesuai dugaannya bocah itu ceroboh sekali tidak mengunci ponselnya. Ia mulai memeriksa dari pesan Whatsaap Febri, ia ingin tahu Febri itu seperti apa. Arkan hanya menggelengkan kepala kadang tersenyum tidak jelas membaca pesan yang dikirimkan Febri ke Grup genknya yang beriskan Savira, dan Rini. Febri selalu membawa-bawa namanya disana, kadang gadis itu menjelek-jelekannya tidak laku.
Arkan mendengus lihat saja besok apa yang akan aku lakukan pada gadis itu, tanganya bergerak membuka Gallery disana terpampang foto-foto narsis Febri. Arkan menelan ludah ketika melihat Foto Febri yang tidak mengenakan Jilbab sangat cantik dan seksi kulitnya sangat putih dan sepertinya terasa. Astaga buru-buru ia keluar dari sana bisa-bisanya dia tergoda dengan gadis cerewet itu.
Arkan beristiqfar berkali-kali. Ia cepat-cepat keluar dari foto laknat itu, ia tidak bisa membayangkan jika ponsel ini dipegang oleh pria lain pasti mereka akan berimajinasi tentang Febri lebih kotor lagi darinya. Sialan! Arkan benci membayangkan hal itu. Kenapa dia jadi posesif gini, apa karena gadis ini akan menjadi calon istrinya? ia memijat keningnya pelan.
Arkan kemudian mencari yang lain, keningnya berkerut ketika melihat Foto-fotonya di Galery Febri. Untuk apa gadis itu menyimpan fotonya jika gadis itu membencinya. Dari mana gadis itu mendapatkan fotonya, astaga Arkan bahkan tidak pernah merasa mempunyai foto itu, apa Febri diam-diam memfotonya ketika pelajaran dan melihatnya. Arkan menghela napas entah kenapa pipinya terasa panas. Apa gadis itu menyukainya tapi Febri bersikap seoalah-olah membenci dirinya? Dada Arkan bergemuruh debaran yang tidak pernah ia rasaan terasa begitu nyata. Debaran yang tidak pernah ia rasakan untuk siapapun. Cukup sudah ia tidak berani lagi membuka ponsel itu. Ia takut menemukan hal-hal yang bisa menganggu kesehatan jantungnya. Sialan bukannya dia yang mendapatkan senjata buat menaklukan Febri malah dia yang termakan senjata dari Febri.
"Ibu kenapa jantung saya masih berdebar seperti ini," ucap Arkan sambil memegang dadanya. Arkan menutup matanya merasakan debaran jantung yang belum pernah ia rasakan bahkan di saat bersama istrinya dulu. Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, tapi sekarang apa-apaan dia malah merasakan cinta anak remaja. Arkan mendengus menyimpan ponsel Febri di lacinya dalam hati dia mengutuk ponsel itu.
"Sialan! Dasar ponsel sialan!"
"Foto Laknat"
*****
Febri mengigit jarinya dia lupa satuhal kalau diponselnya itu ada foto-foto Arkan. Bagaimana jika pria itu melihatnya? Febri rasanya ingin menangis, pasti pria itu akan berpikiran macam-macam padanya. Ini salahnya juga yang punya hobi mengoleksi foto-foto pria tampan dan melihat pria sejantan dan setampan Arkan membuatnya tak bisa berhenti membidik kameranya untuk mengambil foto pria itu diam-diam mulai dari pertamakali dia masuk kuliah.
Andai saja pria itu baik dan perhatian, pasti Febri akan jatuh pada pandangan pertama. Tapi pria itu selalu sinis padanya dan mengomelinya, bahkan disaat itu ia tidak sengaja menabrak Arkan pria itu membentaknya dengan kata-kata sinis. Febri menggelengkan kepalanya sekarang bukan saatnya berpikir tentang menyukai pria itu, tapi dia harus berpikir bagaimana caranya ponsel itu kembali padanya atau paling tidak ia harus mempunyai keberanian yang kuat saat bertemu pria itu.
"Apa yang harus aku lakukan?" Febri langsung menjatuhkan dirinya di kasur. Dia mengacak-acak rambutnya frustasi rasanya ia ingin menangis.
"Apa aku harus kerumahnya saja yah? Ayahkan kenal sama pak Arkan. Jadi kemungkinan ayah tau alamatnya. Lagipula ini masih jam 7 malam," Febri segera berganti pakaian untuk menjalankan misinya. Entahlah nanti disana ia mau ngapain paling tidak ia harus tahu kondisi Arkan sekarang seperti apa?
"Ayah,"
"Iya sayang."
"Ayah kenal pak Arkan yah."
"Bagas maksud kamu." Febri mengangguk ketika Reno menyebut nama belakang Arkan.
"Taulah, dia anaknya temen ayah."
"Kalau rumahnya Pak Arkan ayah tau." Reno menyipitkan matanya, aneh dengan ucapan putrinya. Dia baru sadar jika putrinya sudah cantik dengan blouse biru panjang selutut dan celana pensil tidak lupa kerudung pasmina putihnya.
"Kenapa?"ucap Reno curiga.
"Febri mau kesana yah, mau ngasih tugas. Tadi Febri lupa ngumpulin."
"Yakin." Reno mencoba memancing, tapi Istrinya datang seakan-akan senang dengan ucapan Febri. Sekalian anaknya itu PDKT sama calon suaminya.
"Kamu mau kerumah Arkan Febri," tiba-tiba ibunya mencela dengan senyum senang. Febri memincingkan mata curiga.
"Sekalian kasih brownies buattan ibu yah untuk mamanya Arkan,"
"Tapi mah,"
"Ngak ada tapi-tapian, nanti kamu biar di anter Pak Rahmat. Kamu sendiri yang mau kesana, jadi sekalian." Febri mendengus tapi tidak ada jalan lain selain mengangguk, keluarganya ini aneh sekali kok akrab banget sama Pak Arkan. Seperti ada yang mereka sembunyikan.
*****
Disinilah Febri sekarang, berada di depan rumah Arkan. Ia mencoba mengatur napas sebelum mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Rumahnya sangat sederhana beda dengan dirinya yang sangat mewah.
"Assalamualaikum, pak Arkan." Sambil mengetuk pintu, karena tidak ada yang menjawab. Febri menyebut nama Arkan dengan kencang.
"Pak Arkan."
"Pak Arkan."
"Pak Arkan,"
Tiba-tiba pintu di buka dan menunjukkan sosok yang sedari tadi ia sebut.
"Berisik kamu tahu ngak,?" mata arkan membulat saat melihat Febri di depannya sangat cantik. Tiba-tiba bayangan foto Febri yang tadi ia lihat membuat pipinya panas memerah sialan.
"Bapak kenapa pipinya merah." Arkan tanpa sadar memegang pipinya sendiri, Febri terkikik melihatnya. Arkan yang sadar ia dijahili langsung memasang wajah seram dan menatap tajam gadis di hadapannya.
"Mau apa kamu kesini malam-malam." Arkan berpikir ada apa geranagan Febri repot-repot kerumahnya dan tahu darimana alamat rumahnya. Apa gadis itu juga punya kebiasaan menguntit dirinya selain hobi aneh Febri yang menyimpan Fotonya diam-diam. Belum sempat Febri menjawab, ibu Arkan datang.
"Eh nak Febri," sapa Iren Ramah, ia senang sekali calon menantunya mengunjuginya bahkan ia menghiraukan keberadaan anaknya sendiri di sana.
"Assalmualaikum tante."
"Waalaikumsalam ayo masuk."
"Iya tante."
"Panggil ibu saja, jangan tante."
"Eh iya bu."
Mereka berduapun masuk meninggalkan Arkan yang masih berada di ambang pintu. Arkan merasa kehadirannya benar-benar tidak dianggap oleh mereka. sialan! Arkan menghembuskan napas. Ia mengikuti keduanya yang duduk di ruang tamu. Semoga saja Febri tidak menyadari jika pipinya memerah karena foto gadis mungil sialan itu.
mohon maaf kak author cantik
batuk nih dudanya meresahkan