NovelToon NovelToon
CASANOVA ARROGANT

CASANOVA ARROGANT

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:56.7k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Patah hati karena cintanya harus kandas tanpa sempat bersemi membuat Agam Mahardika semakin tidak tersentuh. Meski kerap menghabiskan malam panas bersama banyak wanita cantik yang rela menyerahkan diri untuk menemani malam-malamnya, namun pria tampan dengan berjuta pesona itu tetap memilih menutup rapat pintu hatinya. Menguncinya bersama satu nama yang sudah sedari awal mendiami relung hatinya.

Namun, pertemuan tidak terduga dengan seorang gadis cantik yang terpaut usia jauh di bawahnya, perlahan mulai mengusik relung hati.

Akankah pintu hati yang telah lama tertutup itu kembali terbuka, atau akan tetap terkunci tanpa tersentuh, membiarkan hatinya tetap layu tanpa pernah bersemi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Kedatangan Agam di kantor pusat Mahardika Group tentu disambut hangat oleh Vino Mahardika. Bukan hanya sekedar memperkenalkan Agam sebagai penggantinya pada para petinggi perusahaan, Vino juga berniat berbicara hal pribadi pada putra bungsunya itu. Ia berniat mengurai kesalahpahaman yang membuat hubungannya dengan Agam merenggang selama lima tahun belakangan.

Begitu rapat singkat bersama jajaran dewan direksi sekaligus serah terima jabatan selesai. Agam justru memilih berkeliling gedung, sengaja tidak menggubris pesan yang dikirimkan sang Ayah yang meminta Agam untuk menemuinya di ruangan pribadi Vino setelah rapat selesai.

Agam yang tengah berjalan bersama beberapa karyawan yang akan menemaninya berkeliling gedung perusahaan terpaksa harus menghentikan langkah saat mendengar Hyun terus memanggil namanya sambil berlari.

Meski merasa malas, Agam tetap menoleh, menunggu Hyun yang akhirnya berhasil mengejar setelah berusaha berlari menyusuri koridor panjang.

Dengan dada naik turun, kulit wajah yang memerah dan napas yang berlarian, Hyun masih mampu menepuk keras bahu Agam setelah lebih dulu mengelap bulir keringat yang mengalir di pelipisnya.

Agam berdecak kesal saat Hyun dengan sengaja menepuk bahu kemudian mengelap tangannya yang penuh keringat pada jas mahal yang Agam kenakan. "Jorok sekali," decaknya, kemudian melepas jas yang ia kenakan.

Hyun yang tengah sibuk menstabilkan detak jantung dan mengatur napas yang masih berlarian, sama sekali tidak memperdulikan reaksi berlebihan Agam. "A-ayahmu... beliau memintamu untuk... " Hyun menjeda kalimat, menelan ludahnya sebelum kembali menatap wajah Agam yang masih terlihat datar. "Ayahmu... maksudku Tuan Vino," Hyun buru-buru meralat ucapannya saat melihat beberapa karyawan di samping Agam menatap ke arahnya. "Tuan Vino meminta agar anda segera menemuinya di ruangan pribadi beliau," lanjut Hyun mengganti kalimatnya dengan lebih formal. Ia segera sadar, posisi Agam saat berada di lingkungan perusahaan adalah seorang atasan yang harus dihormati, bukanlah seorang sahabat yang biasa ia jahili.

Sejenak Agam membeku, rahangnya sedikit mengeras, matanya menyipit tipis seolah tengah menimbang keputusan yang hendak ia ambil. Bertemu dengan ayahnya secara pribadi, seolah membuka luka lama yang sampai saat ini belum mengering sepenuhnya.

Melihat Agam yang hanya terdiam, Hyun hendak menyadarkannya. Namun Agam lebih dulu terlihat menghela napas pelan dan kembali mengalihkan pandangan ke depan.

"Pergilah ke ruangan Pak Teguh, katakan pada beliau untuk menyiapkan ruangan pribadi untukmu," ucap Agam.

Hyun mengangguk paham, ia merasa lega karena akhirnya Agam mau berbicara langsung dengan ayahnya, Hyun yakin saat ini Agam tengah berusaha keras menekan ego yang selama ini menguasai perasaannya. Tidak lagi menahan Agam, Hyun kemudian berpamitan lalu melangkah menuju ruangan Pak Teguh, sesuai arahan Agam. Sementara Agam, setelah lebih dulu berpamitan pada beberapa karyawan yang hendak menemaninya berkeliling, ia kemudian melangkah menuju lift yang akan membawanya ke lantai paling atas untuk menemui sang ayah. Agam sadar, ia tidak mungkin terus menerus menghindari sang Ayah.

****

Di salah satu ruangan di lantai dua, Viona tengah berusaha menahan gejolak emosi sembari membersihkan tumpahan kopi di atas lantai yang sengaja ditumpahkan salah satu atasannya tepat di depan mata Viona. "Saya sudah selesai membersihkannya," ucap Viona selesai mengepel lantai sesuai arahan sang atasan yang sedari tadi berdiri menatap penuh minat pada Viona.

Viona yang sudah selesai dengan pekerjaannya, hendak melangkah keluar sambil mendorong troli kecil tempat menaruh beberapa alat kebersihan sederhana. Namun langkah Viona mendadak terhenti, saat pria bertubuh gempal berkepala plontos itu lebih dulu menahan pergerakan dengan menarik kasar dan mencengkram erat lengan Viona.

"Kamu belum boleh keluar dari ruangan saya," ucap pria itu sambil menarik sudut bibir, menatap gadis cantik di hadapannya penuh maksud.

Viona menatap tangan yang mencengkram erat pergelangan tangannya. Nafasnya sedikit tercekat, namun ia tetap berusaha menahan emosi yang kian memuncak. "Pak Teguh, tolong lepaskan tangan anda. Tindakan anda saat ini sudah berada di luar batas," ucap Viona tanpa sedikit pun keraguan dan rasa takut. Ia bahkan berani menatap tajam wajah Pria bernama Teguh itu.

Bukannya melepaskan cengkramannya, pria itu malah terkekeh pelan, matanya menyipit penuh arti. "Ah, Viona... jangan terlalu galak padaku. Kau tahu bukan, aku hanya ingin kita bisa lebih akrab sebagai atasan dan bawahan," ucapnya tanpa berniat melepaskan tangan Viona.

Viona mengeratkan rahang, merasa muak saat melihat pria yang sudah memiliki istri dan tiga orang anak itu tersenyum penuh arti padanya. Ia mencoba memberontak dengan menarik tangannya, tapi genggaman itu justru semakin kuat. "Lepaskan tangan saya!" ucapnya tidak menyerah. "Saya akan melaporkan semua tindakan anda ini," ancamnya sambil terus berusaha melepaskan diri.

Pak Teguh mendekat, semakin mengikis jarak. Sama sekali tidak menggubris ancaman Viona yang baginya hanya sebuah angin lalu. Posisinya yang terbilang cukup tinggi dalam jajaran perusahaan membuatnya merasa tidak takut apapun. "Kamu ingin melaporkan ku?" bisiknya pelan. "Siapa yang akan percaya dengan laporan bodohmu itu?" ucapnya meremehkan.

Viona terdiam sejenak. Ucapan pria itu sama sekali tidak membuatnya gentar, justru semakin menyulut keberanian yang semakin berkobar. Dengan mengumpulkan seluruh tenaganya, Viona menginjak keras kaki Pak Teguh.

Pak Teguh yang tidak menyangka dengan perlawanan Viona, melepaskan genggaman tangannya lantas mundur beberapa langkah. Rasa nyeri yang menjalar dari punggung kaki hingga ke paha setelah diinjak sekuat tenaga oleh Viona cukup mempengaruhinya. "Brengsek," umpatnya sambil memegang satu kaki yang terasa nyeri.

"Anda yang brengsek," sahut Viona, membalas mengumpat sambil menatap tajam pria yang sudah berani mengumpat padanya.

"Lihat saja, saya akan melaporkan semua perbuatan anda," ucap Viona kemudian berbalik hendak melangkah menuju pintu. Namun pergerakannya kembali tertahan, saat satu tangannya kembali dicekal.

Viona tidak patah arang, ia menoleh sekilas kemudian dengan sebuah gerakan cepat ia kembali membalikkan badan, menendang pangkal paha pria tidak bermoral itu hanya dalam satu gerakan cepat, hingga cengkraman pria itu kembali terlepas bahkan tubuhnya sampai terhuyung ke belakang. Kali ini bukan hanya satu punggung kaki yang terasa nyeri, tapi juga pangkal pahanya.

"Viona! kamu... " pria itu tidak melanjutkan kalimatnya, pangkal pahanya semakin terasa nyeri saat ia mencoba bergerak.

"Ini peringatan terakhir dari saya! Jika anda kembali berbuat di luar batas, bukan hanya tendangan yang mampir di tubuh anda. Tapi saya bisa pastikan, anda akan kehilangan satu bagian berharga dari tubuh itu," ucap Viona menatap tajam ke arah tubuh bagian bawah Pak Teguh sebagai isyarat.

Sambil menahan nyeri, pria itu menggeram penuh amarah. Harga dirinya terasa dihancurkan begitu saja oleh gadis ingusan yang masih berdiri tegak tanpa rasa takut.

"Viona... Saya pastikan, kamu dipecat saat ini juga."

"Siapa yang berani memecat siapa?" ucap seorang pria tampan yang tiba-tiba masuk setelah mendorong pintu yang memang terbuka sedikit sebelumnya. Pria tampan itu berdiri tegak dengan sorot mata tajam menatap wajah Pak Teguh yang tampak terkejut melihat kehadirannya.

*****

1
Three Flowers
ciee.. Viona ikutan baper. Memang enak kalo mempunyai seorang pelindung
Three Flowers
dia lagi marah, Viona
Three Flowers
kamu terlambat, Damar
Three Flowers
mulai timbul sifat posesif nya nih
Three Flowers
apakah damar naksir viona?😅
Three Flowers
apa yang terjadi semalam?😅
Three Flowers
jadi sedih, ternyata dibikin nyaman untuk viona seorang diri, bukan bersama Agam
Three Flowers
berarti secara tidak langsung, Agam ingin rumah itu terasa nyaman saat ia mudik ke rumah mertua, ya? ciee...berasa nikah beneran, bukan sekedar kontrak 😍
Three Flowers
takut ada yang ngintip, ya Gam?
Three Flowers
perhatian banget Viona sama Agam😍
Three Flowers
Veronica masih cinta Hyun ya?
Three Flowers
ternyata viona berprestasi ya
Three Flowers
enak banget, duit segitu banyak buat pasangan beracun ini
Three Flowers
kenapa pamannya kejam sekali nyebut vio jalang?😭
Three Flowers
mereka mau kemana sih?
Three Flowers
minta ditampol mulutnya si Agam
Three Flowers
enak saja ngomongnya... nggak ikut mengandung malah mau ambil anaknya
Three Flowers
ish ish... yang dipanggil calon suaminya.. wkwk 😂
Three Flowers
daddy siapa ini maksudnya?
Teteh Lia: Daddy Rayyan, ayah angkat Agam. mantan suami bunda alya
total 1 replies
Three Flowers
jangan main jodoh2an saja, bu... Agam udah mau nikah sama cewek lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!