Di lanjutkan season 2.
Mohon maaf jika up nya sedikit ya, soalnya author nulis 2 judul. 🙏🙏🙏
Moli adalah seorang gadis SMA yang periang. namun di balik cerianya itu Dia adalah seorang gadis yang sangat kesepian.
hingga suatu ketika Dia beretemu dengan seseorang yang lelaki yang masih duduk di bangku SMP bernama Yoga. Seiring berjalannya waktu mereka mulai akrab.
namun di sisi lain. hubungannya dengan sang kekasih (Diki) justru mulai retak karena kedatangan wanita lain. wanita yang telah lama mengenal Diki dari kecil.
Hubungan Moli dan Diki pada akhirnya merenggang. sementara Moli kini mulai terbiasa dengan kehadiran Yoga yang menurutnya bisa membuat dirinya selalu tersenyum menggantikan ruang sepi yang selama ini terjadi.
penasara.??? yukk langsung aja kepo in???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motifasi_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Enam
Pagi harinya, Moli sudah di jemput oleh Diki. Dan tanpa menunggu lama, Moli masuk ke dalam mobil, namun dengan wajah pias.
“Kamu sakit Mol?” tanya Diki.
Moli tetap melamun dan tak menggubris pertanyaan Diki.
“Moli!” panggil Diki lagi.
“Eh iya... kenapa?” Moli menoleh.
“Kamu sakit? Kok pucet gitu?” Diki terlihat khawatir.
“Nggak, cuma sedikit pusing aja.” Jawab Moli sekenanya. Tentu saja Ia tak ingin Diki sampai tahu kejadian semalam. Bisa-bisa nggak dibolehin keluar malam. Jiwa badung nya bisa meronta ronta. Ck!
“Yakin kamu nggak papa?” Diki mengusap kening Moli.
“O ya. Nanti kamu pulangnya sendiri ya. Aku ada sedikit urusan.” Diki memarkirkan mobilnya di samping gedung sekolah dimana biasanya para mobil dan motor berjejer rapi.
Moli menggamit tas di pangkuan nya kemudian keluar dari mobil. Hanya ke khawatiran palsu ternyata. “Urusan apa emangnya?” tanya Moli sambil menutup pintu mobil.
“Jemput teman lama...”
“Cewek atau cowok?”
Belum sempat memberi jawaban Fani dan Mia memanggil namanya dari kejauhan. “Moli! Ayo ke kelas.” Teriak Mia melambaikan tangan.
“Udah di panggil tuh...” celetuk Diki.
Moli mendengus. “Si Diki mau kemana sih?” gumamnya lirih. Raut wajah Diki seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Entah apa itu. Si Fani dan Mia pake manggil segala sih! Jadi belum sempat di jawab jadinya kan!
“Yuk.” Fani menggaet lengan Moli ketika sudah berada di hadapannya.
“Eh Mol. Elo semalam pulang duluan? Gue cariin nggak ketemu juga.” Dengus Fani sambil memainkan ujung poni nya yang sedikit berantakan.
“ lo, lo pada bakal nggak percaya sama apa yang gue alami semalam.” Moli duduk di kursinya dengan tangan di lipat di atas meja. Wajahnya terlihat serius. Mia dan Fani saling pandang. Kemudian mereka ikut duduk menatap wajah Moli.
“Kenapa emang semalam?” tanya Mia.
“Gue hampir jadi pelampiasan lelaki hidung belang. Ngeri nggak tuh!” jelas Moli dengan tatapan tajam nya.
“Maksudnya?” Fani mengerutkan dahi. Tanda bahwa Ia belum mengerti ucapan Moli.
Mia menjitak kepala Fani. “Dasar ****'. Gitu aja nggak paham lo.”
“Ye... emang gue nggak ngerti kok.” Semprot Fani. Dasar si Fani emang orang nya agak lola sih. Perlu di jelasin lagi kalau nggak dia nggak akan pernah bisa paham.
“Kok bisa si Mol? Tuh cowok muncul dari mana bisa sampai deketin elo?” tanya Mia penasaran.
“Gue nggak tahu. Tiba-tiba waktu gue keluar dari toilet tuh Cowok udah ada di situ.” Jelas Moli setengah bergidik mengingat apa yang hampir di perbuat pria tersebut.
“Maksudnya lo hampir di perkosa?” ceplos Fani tiba tiba yang langsung membuat seisi kelas menoleh kepada nya dengan tatapan aneh.
“Ck! Pelan-pelan dong!” gerutu Moli jengkel. Fani menutup mulutnya.
“Sory. Kebablasan.” Kebiasaan emang Fani. Orang nya suka grusa grusu. Nggak pernah lihat sikon.
“Terus gimana lanjutannya?” Mia menatap tajam wajah Moli yang masih terdiam. Kemudian mulut mungilnya mulai bergerak.
“Untungnya sih ada yang nolongin gue. Jadi gue belum sempat di bawa tuh orang songong.” Jelasnya sambil memainkan pulpen di atas meja.
Mia dan Fani manggut-manggut. “Siapa yang nolongin lo? cewek atau cowok?” tanya Fani. Kenapa juga harus cewek atau cowok. Bisa jadi yang nolongin pak satpam kan?
“Cowok. Dia yang waktu itu kita tabrak.”
Mereka berdua saling ternganga. “Maksud lo bocah SMP itu?” celetuk Mia.
Moli mengangguk menandakan perkataan dua sahabatnya itu benar. Kalau nggak ada Yoga bisa hancur masa depan Moli karena di lecehkan pria hidung belang.
“Sstt, diam! Ada Diki.” Kata Moli ketika Diki masuk kedalam kelas. Kedua sahabatnya langsung terdiam di bangku masing-masing.
Pelajaran sudah dimulai. Suasana kelas menjadi hening ketika Bu Demora masuk kedalam kelas. Suara langkah sepatunya terdengar jelas menusuk telinga. Guru bhs.inggris satu ini memang paling menakutkan seantero sekolahan. Satu yang kadang bikin nyengir sendiri, tampilannya lebih sering menirukan gaya tahun sembilan puluhan. Nggak banget kan? Secara ini tahun berapa bro?
“Hari ini kita ulangan...” kata Bu Demora yang membuat keadaan kelas sedikit gaduh.
“Sial gue belum belajar!” celetuk Fani kebingungan.
“Kok ulangan sih?” suara dari kursi belakang.
“Sama...”
Mereka saling bersahutan.
“Diam! Dan kerjakan!” Bu Demora menggebrak meja dengan telapak tangannya. Kemudian membagikan lembaran kertas ulangan ke setiap masing-masing siswa.
Ck! Memang selalu bikin panik guru yang satu ini. Nggak bisa lebih selow apa?! Seisi kelas hanya diam meratapi kertas ulangan yang tergeletak di atas meja masing- masing.
“Pst! Bagi jawaban dong Mol...”
Moli menoleh pada seseorang yang duduk di belakangnya. “Apa sih lo! Kerjain sendiri!” semprotnya lirih.
Moli manyun. Sementara Mia yang duduk di samping Moli sudah memulai mengerjakan ulangannya. Fani hanya asal asalan kalau urusan pelajaran bahasa Inggris, mau belajar sampai kapan pun tetap nggak ada cerdasnya kalau memang dari awal emang udah nggak suka sama mata pelajaran bahasa inggris.
Satu jam kemudian ulangan telah usai. Semua murid berhamburan menuju kantin mencari pengganjal perut. Fani masih bertekuk muka. Ia benar-benar payah dalam pelajaran bhs. Inggris. Ia memainkan pensil nya dengan wajah bertelungkup pada ke dua tangannya. “Pasti jelek deh nilai gue...”
“Santai sob... kan udah biasa lo dapet nilai jelek...” Mia tertawa dengan satu tangan memegang perut nya yang gatal.
“Resek Lo!!”
“Moli. Mau ke kantin nggak?” ajak Diki mendekati Moli yang masih ngobrol dengan Kedua sahabatnya.
“Ayo... gue duluan ya...”
Moli dan Diki berpaling dari mereka berdua. Melenggang menghampiri Diki yang sudah melangah di depan pintu.
****
“Dik. Kamu jadi jemput temen kamu?” tanya Moli ketika sudah berada di kantin.
Diki duduk dengan membawa satu gelas jus jambu. “Jadi. Nanti sekitar jam 2 siang, sepulang dari sekolah.”
“Cewek ya?”
“Maksudnya?” Diki mengerutkan dahi.
Moli mendengus. “Ya temen kamu itu cewek atau Cowok?”
“Cewek. Temen aku dari Tk.” Diki nyengir menampakkan gigi putihnya.
“Ooo...” Moli melengos membuang muka. Cowok emang kadang nggak peka ya?
“Rencananya Dia juga bakal pindah sekolah disini.”
Moli terbelalak menelan ludah ketika mendengar apa yang diucap kan Diki. “Sekolah disini?”
“Iya. Soalnya di Jakarta Cuma aku orang yang dia kenal.” Jelas Diki tanpa menyadari kecemburuan Moli.
“Oo... serius itu Cuma temen?” Moli memalingkan wajah.
“Ya iya dong... pacar aku kan kamu...”
“Hmmm...”
“Aku balik ke kelas dulu ya...” ucap Moli ketus. Ia meninggalkan Diki yang masih memandang langkah nya.
“Kan belum pesen makan Mol?” teriaknya ketika Moli sudah keluar. “Kenapa sih Dia?”
Dasar cowok emang nggak ngerti! Tahukah kalian wanita itu terkadang cemburu tapi tak mau di ungkapkan. Ngerti dong jadi cowok! Ck!
Jalanan lumayan sepi. Tak banyak orang yang berjalan kaki di sekitar trotoar. Sepulang sekolah Moli tak langsung balik ke rumah tapi Ia mampir ke sebuah restoran untuk makan siang. “Diki menyebalkan banget sih!” gerutu Moli sesampainya di tempat tujuan. Ia membantingkan tas nya di kursi sebelah tempatnya duduk.
“Mau pesen apa mbak?” tanya pelayan restoran.
“Nasi ayam sama jus jeruk aja mbak.”
Moli membuka whatapp nya. Melihat status teman teman nya. Lalu tak di sangka Ia di kejutkan dengan sebuah postingan dari Diki. Diki memposting sebuah foto bersama seorang cewek cantik. Kelihatannya foto itu di ambil dari sebuah terminal bus kota. Tentu saja, hari ini kan Dia mau jemput teman wanitanya itu. Sungguh menjengkelkan!
“Kenapa musti di posting sih!” Moli melempar ponselnya di meja hingga hampir terjatuh.
“Halo kak Moli...”
Sapa seorang pria yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya. Ia duduk di kursi itu menghadap Moli dengan dagu yang di sangga tangan kanannya. “Cemberut aja. Jelek tahu!”
“Brisik lo!” bentak Moli. “Ngapain lo disini? Ngikutin gue ya?”
“Ikut gue yuk!” Yoga menggandeng tangan Moli menyeretnya keluar dari restorant itu.
“Tapi makanan gue...”
Tanpa menghiraukan ucapan Moli. Yoga terus menarik lengan Moli. Mereka berlarian menyusuri jalanan yang mulai ramai. “Mau kemana sih?” celetuk Moli yang mulai ngos-ngosan. Mereka berjalan di sebuah lorong hingga sampai di depan sebuah gedung yang sudah lama di tinggalkan.
Yoga menggandeng lengan Moli menaiki anak tangga menuju atap gedung.
“Capek gue...” Moli membungkuk menyangga lututnya dengan kedua tangannya. Nafas nya tersengal sengal tak beraturan. Kenapa juga mesti ke tempat ginian? Kaya nggak ada tempat lain.
“Sialan lo!” Moli memukul pria yang sedang berdiri disampingnya. Moli kelelahan hingga tepar tergeletak di samping Yoga.
“Diem ih! Nikmati dong angin yang berhembus...” Yoga melentangkan kedua tangannya. Menikmati angin yang mulai menabrak tubuh tegapnya. Moli mendesah lirih.
“Apa enaknya kaya gitu? Angin doang.” Gerutu Moli yang sudah terduduk di samping Yoga.
Ck! Dasar cewek aneh. Disuruh menikmati kencangnya angin kok malah sewot. “Cemberut mulu! Lagi ada masalah?” tanya Yoga menatap wajah Moli yang murung.
“Lo pernah nggak diselingkuhin pacar?” tanya Moli sambil menatap awan yang mulai berubah warna.
Yoga yang hampir tertawa langsung menekuk kedua bibirnya supaya tak menyembur keluar. “gue mana pernah pacaran...” ucap Yoga kalem. Berusaha menyembunyikan tawanya karena mendengar pertanyaan Moli. Segitu lucunya kah? “Jadi nggak pernah di selingkuhin lah...”
“Gue lupa. Lo kan masih bocah... mana ngerti soal pacaran...” Moli tertawa dengan ucapannya sendiri.
Yoga hanya diam memandangi Moli yang tertawa lepas. Sungguh cantik rupa gadis ini. Andai bisa memilikinya. Yoga bergidik. “Mikirin apa sih gue!” gumamnya dalam hati.
“Eh Yoga. Elo kelas berapa? Udah gede juga masih betah pakai baju putih dongker mulu!” Sindir Moli yang masih ragu dengan umur Yoga. Siapa yang percaya kalau Yoga masih Anak SMP. Tubuhnya yang bongsor lebih pantas berada di gedung sekolah SMA. Terlampau tinggi buat anak seumurannya.
“Kelas 2 SMP... masalah buat situ?” Yoga mencibirkan mulutnya.
“Jangan- jangan Elo nggak naik kelas ya?” Moli menunjuk muka Yoga dengan tatapan menghina.
Yoga mendengus. “Sembarangan! Gue termasuk anak cerdas ya...” semprot Yoga.
“Be the way makasih buat pertolongan lo kemarin malam ya...” Moli menatap Yoga dengan senyuman.
Yoga manggut-manggut. “Balik yuk. Udah sore...” Yoga berdiri. Ditatap jam tangannya sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.
***
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
semoga jd novel terbaik 😍😍😍
maaf ya thor kalau aq kasih kritikan ✌️✌️✌️
semoga lebih teliti lagi ya thor
Truss hubungan nya Ama season 1 apa?
Jangan lupa mampir di cerita saya yang berjudul Cinta Abdinegara dan Putih Abu-Abu di tunggu feedback nya 🤗🤗🤗
Terimakasih 🙏🙏🙏