Tak disangka-sangka nasib buruk menimpa Putri Isnari, gadis belia yang baru berumur 21 tahun, ia harus menikah dengan pria arogan dan sombong. Pernikahan tersebut baginya adalah mimpi terburuk dalam hidupnya. Ia harus menikahi seorang pria yang sama sekali tak dikenalnya!
Pernikahan itu sama sekali tak ada landasan cinta dan juga kasih sayang.
Mampukah ia menjalani rumah tangga yang teramat rumit itu, mampukah dia membuat pondasi rumah dengan cinta dan kasih sayang?
Yuk bareng-bareng baca kisahnya:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oktavia Ellisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Istri (part 1)
Putri tersentak saat merasai tangannya ditarik seseorang ia menoleh kebelakang dan....
Plakkkk...
Tamparan keras mendarat di pipi Putri.
"A... Ayah," ucap Putri gugup.
flasback on
"Apa Putri sudah ada dirumah?"tanya Doni.
Dia menelfon Nasar, karena seseorang yang dicari-carinya tidak ia jumpai, ia kira Putri sudah pulang.
"Maksud tuan bagaimana, bukankah Putri bersama Tuan sekarang?" tanya Nasar balik.
"Ya tadi dia bersamaku, tapi dia kabur dariku," geram Nasar.
"Apa... Putri kabur... kau tenang saja Tuan Doni saya akan langsung menuju hotel, Tuan Doni share lock saja alamatnya, nanti saya bantu cari Putri disana," tutur Nasar.
Tut Tut Tut...
Doni langsung mematikan obrolan tanpa membalas ucapan Nasar.
"Dasar anak tak tau di untung, apa susahnya menuruti kata-kata orang tua, merepotkan saja," gerutu Nasar.
"Ayah kenapa?" tanya Iis heran melihat suaminya yang masuk kedalam kamar dengan mulut yang komat-kamit, dan wajah muram.
"Itu si Putri, dia kabur, dan pasti Tuan Doni akan menarik kembali saham yang sudah ditanamkan di perusahaan kita," ucap Nasar frustasi.
"Dasar ya si Putri, Anak tak tau diri, itukan sama saja balas budi dengan orang tuanya karena telah merawatnya dengan baik," ketus Iis.
"Ayah akan kehotel, Ayah yakin pasti Putri masih ada disana, karena tidak mungkin ia bisa keluar dari hotel
itu," ucap Nasar.
flashback off
~
"Beraninya kau membantah ucapan Ayah hahh... dasar
Anak durhaka!" teriak Nasar.
"Ma.. maafkan Pu.. Putri Ayah," ucap Putri memegangi pipinya yang terasa perih dan panas.
"Kau tau... kau telah merepotkan semua orang, sekarang kembali kekamar hotel dengan Tuan Doni," tegas Nasar.
"Putri gak mau Ayah..." ucap Putri ketakutan disertai
gelengan kepalanya.
"Kau masih mau membantah lagi, sekali lagi kau membantah, Ayah tidak akan pernah mengakui mu sebagi Anak, kau mengerti!" teriak Nasar.
"Ayah Putri mohon, jangan perlakukan Putri seperti ini, Putri gak mau Ayah," tangis Putri pecah.
"Tidak ada penawaran Putri," ucap Doni langsung menarik tangan Putri.
Ridho yang melihat itu semua, segera keluar dari mobil, dan berjalan mendekati Putri.
"Ada apa ini?" tanya Ridho dingin.
Pyarrr.... seperti disambar petir, mereka semua
terkejut dengan siapa mereka sekarang berhadapan,kecuali Putri.
"Putri siapa mereka?" tanya Ridho.
"Di.. dia Ayah sa.. saya Tuan," ucap Putri
"Ayah... kau masih mau mengakuinya sebagai Ayahmu," ucap Ridho tersenyum sinis.
"Maaf Tuan Muda, Tuan Besar menyuruh Tuan Muda untuk kembali kerumah," ucap Roy sopan, ia keluar dari mobil setelah mendapat notif masuk dari Wira (ayah Ridho).
"Pasti ayah akan menagih janji, ia kan sangat ingin aku menikah" batin Ridho.
"Baiklah, kita pulang sekarang," ucap Ridho datar.
"Putri... ayo kita pulang," ucap Ridho dingin.
"Mak.. maksud Tuan?" tanya Putri heran.
"Kau akan ikut aku pulang Putri, aku akan mengenalkan mu dengan keluarga ku, karena kau calon istriku," ucap Ridho dengan menekan kan kalimat terakhirnya.
"Calon istri..." ucap Nasar dan Doni, mereka terkejut dengan ucapan Ridho.
"Iya.. Putri adalah calon istriku, jadi jangan berani-beraninya kalian mengganggu wanita ku, jika kalian tidak ingin berurusan denganku," tegas Ridho.
Roy yang mendengar penuturan dari tuan mudanya pun ikut terkejut, namun ia teringat dengan ucapan Tuan Besar.
flasback
Seminggu yang lalu
malam
"Ridho... ada yang mau papa bicara'in sama kamu," ucap Wira seusai makan malam.
"Bicara soal apa pa?" tanya Ridho.
"Begini Nak, Papa dan Mama ingin kamu segera menikah, Papa tidak mau kamu menikah diumur yang sudah menginjak kepala tiga," tutur Wira.
"Tapi Pa, Ridho belum mau menikah, lagian Ridho juga belum punya calon," balas Ridho.
"Masih ada waktu Nak untuk mencari calon, Mama ingin sebelum Mama tiada, Mama bisa mendampingimu dipelaminan, dan Mama juga ingin memiliki kesempatan untuk melihat cucu Mama Nak," saut Ayu (ibu Ridho).
"Tapi kan Ma..." ucap Ridho terpotong, ia melihat gurat kecewa dari kedua orang tuanya, walaupun ia orang yang terkenal kejam dan dingin, namun jika sudah bersama keluarganya ia bersikap normal, dan sangat hangat kepada keluarganya.
"Baiklah.. Ridho akan usahakan," pasrah Ridho.
"Mama kasih waktu seminggu ya Nak, Mama sudah tidak sabar pengen punya menantu," ucap Ayu antusias, hilang sudah mimik wajah kecewa Ayu
Uhukk... uhukk....
"Makan nya hati-hati Kak, gak usah terburu-buru, gak ada yang minta kok," ucap Keila sembari menyodorkan minum kepada Kakaknya (adik kedua Ridho).
"Itu terlalu cepat Ma," bantah Ridho.
"Pokoknya Mama mau dalam waktu seminggu kamu sudah mendapatkan calon istri, tidak ada bantahan lagi Idho," ucap Ayu penuh penekanan.
Ridho hanya bisa mengiyakan permintaan kedua orang tuanya, sebenarnya dia sendiri bingung harus bagaimana.
~
"Yasudah Putri kau boleh pergi dengan Tuan Ridho, Ayah mengizinkan mu," ucap Nasar lembut.
Doni yang mendengar penuturan dari Nasar pun membulatkan matanya, namun Nasar hanya menggelengkan kepalanya sebagai isyarat untuk tidak komplen
"Putri tidak perlu izin dari Anda, walaupun Anda tak mengizinkan nya, saya akan tetap membawanya," ucap Ridho datar.
"Baiklah Tuan, maafkan saya," ucap Nasar sopan.
Ridho tak menanggapi, ia langsung masuk kedalam mobil
"Ayah maafkan Putri, jika Putri membuat Ayah kerepotan," ucap Putri menunduk.
"Sudahlah Nak lupakan, cepat masuklah, sebelum Tuan
Ridho berubah pikiran," ucap Nasar lembut.
"Putri pamit ya Ayah," ucap Putri.
"Iya Nak, ingat pesan Ayah, jangan pernah kau membuatnya marah, turuti semua perintahnya, kau paham.." ucap Nasar memperingati.
Putri tersenyum lalu masuk kedalam mobil.
"Kita kembali sekarang Tuan?" tanya Roy.
"Tidak, tahun depan saja Roy," ketus Ridho.
"Kau mau ku tendang atau kulempar kelautan Roy," lanjut Ridho.
"Maafkan saya Tuan," ucap Roy terkekeh.
Roy melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal
karena jalanan yang lenggang mempercepat mereka sampai dikediaman Wira Aditama.
Kurang lebih setengah jam mereka sudah sampai, mobil memasuki gerbang yang menjulang tinggi, Roy mengarahkan mobilnya didepan pintu utama kediaman Wira Aditama.
Ridho turun setalah Roy membukakan pintu,
sedangkan Putri hanya terdiam memandangi rumah yang sangat megah itu.
"Ini mah bukan rumah tapi istana," batin Putri.
"Kau mau turun atau tetap disini hah..?" tanya Ridho datar.
"Ehh iyaa,maaf," ucap Putri menunduk.
"Pulang dan istirahat lah Roy," perintah Ridho.
"Baik Tuan Muda," ucap Roy.
"Selamat malam Tuan Muda," sapa Pak Gun (kepala pelayan dikediaman Wira Aditama)
Ridho hanya mengangguk, dan terus berjalan masuk kedalam rumah.
Semua pelayan menundukkan kepalanya memberi hormat.
Putri terus membuntuti Ridho dari belakang.
*Ruang Keluarga
"Ridho kau sudah pulang, mana menantu Mama, kau pulang membawa menantu Mama kan Nak, kau menepati janjimu kan Nak," cerocos Ayu ,Wira hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya.
"Mama ini Anak pulang bukannya ditanya kabar, ini malah diserbu sama pertanyaan menantu," rajuk Ridho, ia mencebikkan bibirnya.
Rilli dan Keila tertawa terbahak-bahak melihat kakaknya yang merajuk.
"Akh sudahlah, kan Mama sudah melihatmu baik-baik saja, jadi untuk apa Mama bertanya lagi," ucap Ayu.
"Selamat malam Tuan Nyonya," sapa Putri sopan.
.....
Tunggu part selanjutnya yaa
Jangan lupa Like dan Vote yaa😊