Kisah gadis yang bernama Zahra Andriani yang tak pernah mendapatkan kasih sayang layaknya seorang anak di dalam keluarganya, di karenakan dirinya bukan anak kandung dari ayahnya
dan ia memutuskan untuk pergi merantau mencari tempat dimana dia bisa di anggap dan di pandang orang lain seperti impiannya.
sampai akhirnya ia menemukan seseorang yang menjadi sandaran hidupnya.
bisakah Zahra bahagia dan bertemu dengan ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EtyRamadhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06 Masa lalu
Flashback off
Malam itu Hujan deras turun, membuat Zahira yang di kala itu masih berusia 3 tahun tertidur lelap dengan balutan selimut tebal hingga menutup seluruh tubuh mungil Zahira.
ketika Zahira sudah terlelap, perlahan Venti (ibu Zahra) beranjak dari tempat tidur Zahira, untuk sekedar melihat suasan di luar rumah melalui kaca jendela. hujan begitu derasnya dengan tiupan angin yang sedikit kencang, Venti memutuskan untuk menutup semua tirai jendela.
Malam itu hanya Venti dan Zahira yang berada dirumah. sementara Ibunya ibu (nenek Zahira) pergi ke rumah paman Zahira yang berada di luar kota.Adam(Ayah Zahira) yang pada saat itu belum pulang dari kantor ,sudah 1 minggu Adam sering lembur karena pekerjaan yang menumpuk.
Venti melangkahkan kaki untuk kembali ke kamar Zahira.
belum jauh melangkah suara ketukan pintu terdengar.
"tok, tok, tok" Venti menghentikan langkahnya suara ketukan itu terdengar lagi "tok, tok, tok"
rasa penasaran membuat Venti berbalik badan dan melangkah menuju jendela , sedikit menyibak kan tirai jendela.
Terlihat di luar seorang laki-laki mengenakan jaket kulit berwarna hitam sedang membelakangi pintu. Venti mengingat-ingat siapa lelaki itu jika di lihat dari postur badannya itu bukan Adam (ayah Zahira) .
Namun Venti penasaran, perlahan Venti memutar knop pintu dan membukanya. "Maaf mas cari siapa? " masih dengan posisi yang sama membelakangi Venti.
"Selamat Malam Venti" sapa lelaki itu sambil berbalik badan dan mentap Venti dengan tersenyum.
"Ma... mass Bram" Venti membulatkan mata dan terkejut melihat siapa lelaki yang ada di hadapannya.
"Iyah Venti bagaimana kabarmu",
"ba.. bagaimana mas tau kalau aku disini?" Venti gugup ada rasa takut bercampur bingung dalam diri Venti.
"Kau tak perlu tau soal itu Venti ,yang perlu kau tau aku masih mencintaimu Venti dan berharap ku menjadi milikku" ucap lelaki itu yang tak lain adalah Bram mantan kekasih Venti sebelum Venti menikah.
"tapi mas itu tak mungkin dan tak akan pernah terjadi, sekarang aku sudah memiliki suami dan anak " Cegah Venti.
seketika mata Bram lelaki itu memanas mendengar penuturan Venti ,tangannya mengepal sampai terlihat biku tangannya.
"aku tak perduli Venti aku masih mencintaimu, dan ingat Venti ingat ! kau menikah dengan Adam itu bukan karena kau mencintainya tapi karena perjodohan orang tuamu yang di landasi utang piutang" Suara Bram meninggi raut wajahnya seketika memerah menahan emosi.
"Cukup mas cukup apapun itu aku sudah tidak mencintai mu lagi, aku sudah punya kehidupan sendiri, di hidupku hanya ada mas Adam dan juga Zahira anakku.kau hanya masalalu ku jadi berhenti mengejarku"
suara Venti bergetar menahan tangis dia tak ingin rumah tangganya hancur karena kehadiran masalalunya di dalam rumah tangganya.
"sekarang pergilah mas, aku tak ingin mas Adam melihatmu aku tak ingin rumah tanggaku hancur, Pergilah"
Venti mengusir lelaki itu dengan segera menutup pintu namun dengan cepat tangan Bram menahan pintu.
"dengar Venti seharusnya kau milikku bukan milik si Adam Brangs*k itu" Bram mencoba terus mendorong pintu.
dengan sekuat tenaga Venti menahan pintu tersebut, namun apalah daya tenaga Venti tak sebanding dengan tenaga lelaki itu, sampai pada akhirnya Venti menyerah dan perlahan melangkah kan kakinya mundur.
"keluarr kamu Mas, Keluarr ! "
teriak Venti, namun Bram tetap terus melangkah mendekati Venti dengan tatapan tajam dan muka memerah menahan amarah.
"seharusnya kau milikku Venti"
dengan terus berjalan ke arah Venti, langkah Venti terhenti karena tak adalagi ruang untuk mundur, Tubuh Venti sudah berbenturan dengan sofa yang ada di belakangnya.
Bram tetap maju mendekati Venti
"Pergilah mas Kumohon pergi" Venti menangis ketakutan.
"Diamlah venti! sudah seharusnya aku yang memilimu" Bram meraih bahu Venti dan menjatuh kan tubuh Venti ke sofa.
Venti memberontak dan terus berteriak histeris ketika tubuh Bram menindih tubuh Venti. Air mata membasahi pipi putih Venti dengan deras. seketika pakaian yang di kenakan Venti di robek oleh tangan Bram.
Yah Bram memperk*sa Venti dengan sangat brutal, emosi dan nafsu menguasai dirinya sehingga Bram kehilangan akal dan kesadaran.
Venti hanya bisa menangis tak sanggup untuk memberontak lagi karena usahanya untuk terlepas sia-sia tenaga Bram lebih besar dari dirinya.
Pandangan Venti mulai kabur dan seketika gelap Venti pingsan tak sadarkan diri. beberapa saat kemudian Bram menyadari Venti pingsan dan menghentikan aktivitas bejadnya.
"Venti... Venti bangun Venti" Bram menepu-nepuk pipi Venti , terlihat wajah Venti pucat dan masih belum sadarkan diri.
"apa yang sudah aku lakukan Venti a... ak..aku telah menyakitimu. Venti... Venti bangun Ven, "
Bram panik dan terus menepu-nepuk pipi Venti.
"Arrggggghhhhhh" teriak Bram frustasi sambil mencengkram rambutnya...
butuh Vote dan komentar yang membangun Guys 😊😊😊 maaf jika terlalu banyak typo.
salam manis Author
~EtyRamadhi
lanjut dong..