Seorang anak yang mana kehadirannya tidak dikehendaki oleh ayahnya sendiri hanya karena ia terlahir sebagai anak perempuan.
Meydina namanya. Seorang anak yang semasa kecilnya tidak dianggap keberadaannya, kini telah tumbuh menjadi gadis cantik yang sederhana.
Pekerjaannya mempertemukan Meydina dengan seorang pria tampan dan gagah bernama Maliek Putra Bramasta yang merupakan atasannya.
Bagaimana kelanjutan hubungan mereka bila ternyata Meydina dan Maliek ada ikatan saudara?
Bagaimana pula kehidupan Meydina setelah ia disia-siakan?
Apakah hubungan ayah dan putrinya itu akan membaik seiring berjalanya waktu?
--------------
Cerita ini hanya fiksi, jika ada nama, tempat, dan kejadian yang serupa, itu hanya kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah Meydina
Happy reading...
"Gue yang akan bayar baju itu."
Rendy datang menghampiri, setelah tadi dia harus menerima panggilan telepon terlebih dahulu. Dia merasa kesal saat mendengar sahabatnya dihina oleh gadis yang kini ada dihadapannya.
"Hai, Manis. Teman gue lebih dulu pegang baju itu. Tolong berikan baju itu padanya!" pinta Rendy sambil memberi isyarat dengan matanya.
Gadis itu seolah mulai tersadar dari keterkagumannya pada pria muda tampan yang ada di hadapannya.
"Enak aja. Gue yang pertama lihat," gerutunya.
"Siapapun yang lewat disini bisa lihat, tapi teman gue yang pertama mau ambil baju ini." Rendy mulai merasa emosi.
"Gue bilang enggak, ya ENGGA!" ujarnya tidak kalah emosi.
Meydina yang melihat itu semua segera melerai.
"Udah yu ah, gue udah nggak pengen," ucapnya sambil menarik lengan Rendy dan berlalu dari hadapan gadis itu.
"Tapi, mey..."
"Udah. Dia benar. Gue nggak akan sanggup beli baju di situ. Lagian juga gue cuma pengen lihat, nggak akan beli."
"Geu yang bayar, Mey. Ayo kesana lagi!" ajak Rendy.
Meydina segera menahan langkah Rendy yang hendak kembali ke arah butik tadi. Sudah cukup hatinya merasa tersakiti mendengar ucapan gadis itu.
"Lagian yaaa, gue tuh ngajak loe belanja di toko baju pinggir jalan, eh malah di ajak kesini." Mey merasa kesal.
Rendy hanya bisa menghela nafas kasar. Dirinya bermaksud akan membelikan apapun yang diperlukan Meydina hari ini.
Namun, sahabatnya itu memang bukan orang yang suka menerima sesuatu dari orang lain dengan mudah.
"Mey, gue simpen ini dulu di bagasi mobil yaa, biar nggak ribet." Ucap Rendy sambil mengangkat beberapa paper bag yang berisi belanjaan Meydina.
"Oke, gue tunggu di tempat makan yang itu," sahut Mey sambil jarinya menunjuk salah satu restoran cepat saji yang ada di mall tersebut.
Mereka memang sudah berencana akan makan siang setelah selesai belanja.
***
Seorang gadis dengan wajah ditekuk terlihat susah payah menelan makanan yang ada di mulutnya. Dia merasa sangat kesal karena harus berebut sesuatu dangan orang lain yang tidak dikenalnya.
"Amiera, jelek lho mukanya kalo di tekuk gitu. Kenapa sih? sejak keluar dari butik tadi kamu kesel banget." Seorang pria yang merupakan kakak dari gadis itu menyelidik.
"Kak Alvin kemana dulu sih? aadi Amie di marahin sama dua orang yang nggak dikenal. Kalau ada kakak kan bakal ada yang bela," dustanya mencoba mengadu.
"Oh, ya? pantes aja kamu kesel gitu." Ujarnya sambil mengernyitkan dahinya.
"Sorry dek, tadi kakak ketemu temen di lantai bawah," tambahnya lagi.
Tak lama,,, terlihat seringai di wajahnya. Di lihatnya dari kejauhan seseorang memasuki restoran tersebut. Ujung matanya yang tertunduk melihat seseorang yang berjalan mendekati tempatnya duduk. Digerakkannya perlahan kakinya kesamping, tak lama kemudian..
Bruukkk
Seorang gadis yang tak lain adalah Meydina jatuh tersungkur karena tersandung kaki seseorang.
Awalnya dia bermaksud mengabaikan, namun saat melihat bahu seorang gadis yang membelakanginya bergerak-gerak seolah sedang menahan tawa, dihampirinya meja itu.
Alvin yang sudah berdiri hendak meminta maaf. Belum sempat ia berucap, dilihatnya gadis itu seperti sedang menatap wajah adiknya seolah mengingat-ingat sesuatu.
Byuurrr....
Segelas besar minuman bersoda sudah ditumpahkan di atas kepala Amira. Yang tentu saja mengejutkan siapapun yang melihatnya. Terlebih mereka yang ada di meja tersebut.
"Eh, Loe. Maksudnya apa? adik gue nggak sengaja kali," ujar Alvin kesal. Hilang sudah keinginannya untuk meminta maaf atas nama sang adik.
"Nggak sengaja??" ucap Meydina.
Ia yang tidak melepaskan tatapan tajamnya dari gadis yang kini sudah berdiri sambil menahan malu karena rambut dan setengah pakaiannya sudah basah.
"Kalo emang dia nggak sengaja pastinya bakalan minta maaf."
"Loe nggak lihat, dia malah cekikikan?" tanya Mey balik menatap pria disebelahnya dengan mata yang dibulatkan seolah ingin menerkam.
"Kenapa Mey?" Rendy yang datang menghampiri merasa heran melihat Mey yang sedang naik pitam.
Saat dilihatnya gadis yang tengah menahan amarah juga menahan malu itu orang yang sama yang berebut baju dengan Mey di butik tadi, ia seolah mendapat jawaban dari keheranannya.
"Gue terima hinaan loe yang tadi. Tapi nggak dengan yang kedua kalinya!" matanya kembali menatap gadis itu.
Amarah Amiera semakin memuncak, saat sebelah tangan yang hendak dilayangkan ke wajah Meydina ditahan oleh tangan Rendy.
"Udah impas. Loe tadi hina teman gue, dan sekarang loe dapat balasannya," ujar Rendy sambil menghentakkan genggaman tangannya kesamping.
"Kita makan ditempat lain aja!" ajak Rendy sambil menggenggam tangan Meyfina, menarik keluar dari restoran tersebut. Meninggalkan tatapan dingin mereka yang sedang menahan amarah.
***
Tak sepatah katapun terlontar dari bibir Meydina selama berada dalam perjalan pulang. Mereka juga mengurungkan rencana makan siang karena suasa hati Mey yang sedang tidak baik.
Tiba di depan rumah Mey..
Meydina hendak melangkah keluar pintu mobil, gerakannya terhenti saat dirasa lengannya di pegang oleh Rendy.
"Ini," ucapnya sambil memberikan sebuah plastik yang didalamnya terdapat sebuah dus.
"Ren, ini beneran buat gue?" tanya Meydina setelah mengetahui apa yang diberikan oleh Rendy.
Ia ragu untuk menerima. Namun, rona kebahagiaan tidak bisa di sembunyikan dari wajahnya. Betapa tidak, itu adalah sebuah sepatu pantofel yang sangat di inginkannya.
Tadi, Rendy memang sengaja beralasan menyimpan belanjaan Mey ke bagasi mobil. Karena ia berencana membelikan sepatu pantofel yang sempat dilirik Meydina saat melewati sebuah toko sepatu.
" Anggap aja itu hadiah dari gue, karena loe udah dapat kerjaan baru. Kan gue belum ngasih apa-apa," ucap Rendy dengan senyuman di wajahnya.
"Thanks ya," ucap Mey.
Rendy menunjukkan jari ke arah pipinya, berharap Meydina memberinya sebuah kecupan sebagai tanda terima kasih.
"Oggah!" ucap Mey sambil melanjutkan langkahnya turun dari mobil Rendy.
Ia tertawa ringan saat dilihatnya Rendy sedang memajukan bibirnya pertanda kesal.
"Dasar pelit," ucap Rendy.
"Iya gue pelit. Pulang, sono! nggak usah makan di rumah gue." Ucapnya dengan mata mendelik.
"Enak aja. Gue udah kangen masakan tante Anita."
Merekapun berjalan beriringan masuk ke rumah Meydina untuk melanjutkan rencana makan siang mereka yang tadi sempat tertunda.
--------------
Hai readers!🤗
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya🙏
Sampai jumpa lagi☺
baru nemu novel kayak gini biasanya setiap bab alur dan penulisannya seakan berada cerita in,,,semangat thor💪🏼💪🏼
kirim bungga sekobong❤️❤️
orang baru aja jadian lagi sayang sayangnya kok mau dipisahin 😁