NovelToon NovelToon
He'S Obsessed With Me

He'S Obsessed With Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Mafia / Balas Dendam / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cinta pada Pandangan Pertama / Roman-Angst Mafia
Popularitas:25.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dini_S

Hampir semua anggota keluarga Grizelle dibantai dan seluruh hartanya lenyap tidak tersisa. Hanya tersisa Laquitta Grizelle saja yang kebetulan tidak ada di tempat saat kejadian pembantaian itu.

Namun, kini ia terpaksa tinggal bersama pria yang mengekang, memenjara, dan merampas kebebasannya.

Dia adalah Adyan Abercio, sang mafia yang menganggap sebuah nyawa tidak bernilai. Pria yang dibenci Itta sekaligus pria yang berhasil mencuri seluruh isi hatinya.

Penasaran? Yuk, ikuti kisah mereka sekarang juga!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini_S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RENCANA MEREKA

Rencana sudah dirancang sedemikian rupa, pun sudah disepakati bersama. Kini tinggal menunggu waktu di mana rencana itu akan dijalankan.

Mereka akan memulai rencananya saat malam hari, tatkala salah satu dari mereka dipanggil 'ke luar ruangan', yang tubuhnya akan disewa orang lain. Orang itulah yang memiliki peran besar. Dia lah yang akan menjadi kunci berhasil atau tidaknya rencana ini.

Izume, wanita yang mengambil peran yang sangat penting itu. Tanggung jawab yang besar membuat dia ragu mempercayai dirinya sendiri. Akan tetapi, ia tidak mempunyai pilihan lain.

Wanita yang ke 'luar ruangan' selalu diacak dan tak mudah ditebak. Terkadang orang yang sudah pernah keluar pun bisa keluar lagi.

"Dengar! Siapa pun yang keluar hari ini harus siap membun*h seseorang. Rencananya mudah, bun*h orang yang mengantar kita saat menuju ke kamar tempat para tamu berada, lalu ambil kuncinya segera!"

Suara Elia saat membuat rencana menggema di kepala Izume. Elia termasuk orang yang penting dalam membuat rencana ini. Meski awalnya menentang keras, akhirnya ia setuju juga.

"Jangan lupa membersihkan jejak darah setelah membun*hnya. Jangan sampai ada yang melihat pembun*han itu." Isni menambahkannya.

"Dia benar, setelah itu kita akan masuk ke rencana kedua," ucap Elia lagi.

Sebagian besar rencana ini didapat dari Isni dan Elia. Mungkin ada beberapa orang yang ikut berpendapat, namun tidak sebanyak mereka berdua.

Izume melirik ke arah pria berjas hitam di sampingnya, lalu matanya menjelajah sekitar. Suasananya sudah sepi. Tidak ada orang yang terlihat selain mereka.

Langkah Izume memelan. Ia meneguk ludah. Tangannya yang terikat diam-diam mengeluarkan cutter yang didapat dari Isni.

"Cutter ini tidak begitu berguna, tapi bisa digunakan untuk memotong tali. Kudengar mereka mengikat wanita yang ke luar dengan menggunakan tali."

Sesuai yang dikatakan Isni, Izume memotong tali ini diam-diam. Lalu sesuai dugaan, pria berjas itu membalikkan badan tatkala menyadari langkah Izume yang memelan.

Saat itu tiba, dengan cepat cutter di tangan Izume mengincar matanya. Belum sempat jeritannya menggema, Izume sudah menusuk jantungnya terlebih dahulu menggunakan pisau dari saku pria berjas hitam itu.

Ia membekap mulutnya sendiri, tak percaya dengan tindakan tak manusiawi yang baru saja dilakukan. Air mata di pelupuk tidak bisa ditahan hingga akhirnya menetes begitu saja.

Izume menampar pipinya pelan berulangkali, berharap kesadaran segera didapatnya. Ia tidak boleh membuang waktu di saat teman-temannya yang lain membutuhkannya.

Susah payah Izume menggeret tubuh pria itu menuju ruangan terdekat. Untungnya di ruangan itu tidak ada orang.

Jas hitam yang dipakai pria itu dilepas, lalu digunakan untuk membersihkan jejak darah di lantai.

Suara langkah kaki terdengar di telinganya. Secepat mungkin Izume menyembunyikan diri di ruangan yang digunakan untuk menyembunyikan mayat pria tadi.

Ia membekap mulut, berharap tak ada sedikit pun suara yang keluar darinya. Sementara itu, jantungnya memompa kencang tak karuan.

"Tunggu sebentar!"

Seseorang bersuara di balik tembok yang di tempati Izume. Sontak, wanita itu menegang.

"Ada apa?" sahut yang lainnya.

"Kau mencium bau amis darah tidak?"

Wanita itu semakin menegang. Ia menggenggam erat cutter yang dibawanya.

"Tidak. Sepertinya penciumanmu bermasalah," balas temannya.

"Kau yang bermasalah!"

"Sudahlah, kita harus cepat membawa wanita dari ruangan 154 sebelum Tuan Eric marah."

Kemudian, mereka kembali melangkah hingga akhirnya suara langkah kaki itu tidak terdengar lagi.

Izume menghembuskan napas lega. Rasanya sangat mendebarkan hingga hampir mati. Namun, perkataan pria tadi sedikit mengusiknya.

"Ruangan 154?" Wanita itu mengerutkan keningnya. "Apa maksudnya? Apakah itu ruanganku atau ada ruangan lain?"

Izume menggelengkan kepalanya. Kalau terus berpikir, ia akan melupakan tujuan awalnya.

Ia meraba-raba baju pria itu, mencari kunci dan beberapa benda yang mungkin diperlukan, seperti pisau, pistol, dan handphone.

Selesai mengambilnya, wanita itu bergegas menjalankan rencana selanjutnya.

Rencana kedua adalah kembali ke ruangan tempatnya dan wanita-wanita lain dikurung, kemudian membantu membebaskan mereka.

Izume berjalan cepat. Beberapa kali ia menjumpai pria berjas hitam lainnya, lantas dengan cepat ia menyembunyikan diri.

Waktunya tak banyak. Cepat atau lambat akan ada seseorang yang menyadari keganjalan yang ada.

"Bagaimana caraku mengalihkan perhatian kedua penjaga itu, ya?"

Izume telah sampai di dekat ruangannya. Otaknya berputar mencari sebuah cara yang tepat. Tak butuh lama, terlintas lah sebuah pemikiran.

Gadis itu mengarahkan pistol pada sebuah jendela yang terlihat di matanya. Ia mengatur napas.

Ini akan menjadi tembakan pertamanya di dunia ini. Meski hanya menembak benda mati, namun tetap saja rasanya gemetar mengingat ia tidak pernah menembak apa pun selama ini.

Tangan lentiknya menarik pelatuk, lalu munculah suara tembakan dari seberang sana. Hal itu membuat kedua penjaga tersentak.

"Aku yang akan memeriksanya. Kau tunggu di sini," ucap salah seorang dari mereka.

"Baik," balas yang lainnya.

Salah seorang dari mereka pergi, menciptakan peluang bagi Izume. Lantas, dengan cepat wanita itu menusuk pria yang masih berjaga di depan ruangan dari arah belakang. Pria itu tidak menyadari kehadiran Izume, jadi tidak sulit bagi Izume untuk membun*hnya.

Untungnya Izume memahami letak jantung manusia dengan baik. Ia bisa langsung menusuk pria itu tanpa menimbulkan kegaduhan.

Darah mengalir deras dari dada pria itu. Izume meneguk air liurnya sendiri melihat banyaknya darah yang keluar. Jika di situasi normal, ia akan merasa jijik dan takut, tetapi kini ia tak punya waktu untuk itu.

Izume segera membuka pintu ruangannya menggunakan kunci tadi.

"Bagus! Kau berhasil!" ujar Elia.

Wanita itu keluar dari ruangan bersama dengan yang lainnya. Sementara itu, Isni mengambil kesempatan mencuri pisau, pistol, dan handphone pada pria penjaga yang telah mati.

"Kita harus segera memindahkan mayat ini ke dalam ruangan," ujar Oldia. Mereka semua mengangguk setuju.

Bersama-sama, mereka memindahkan mayatnya, lalu kembali mengunci ruangan itu. Sementara Killa dan Hela membantu membersihkan jejak darah.

"Kau tahu jalan keluarnya?" tanya Lesya pada Izume.

"Tidak. Aku tidak sempat mencari tahu," jawab Izume.

"Sudah kuduga." Lesya menghela napas berat. "Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"

"Aku mendapatkan handphone dari pria tadi. Mungkin saja ada informasi dari benda ini." Isni mengangkat benda persegi itu.

"Bagus. Sebelum itu, kita harus mencari tempat persembunyian terlebih dahulu," ujar Elia.

"Kau benar. Tak lama lagi akan ada seseorang yang curiga, jadi kita tak punya banyak waktu," balas Isni.

Riana, seorang wanita yang memiliki rambut pendek di antara mereka, mengangkat tangannya.

"Sepertinya aku tahu tempat yang cocok. Saat mereka membawaku ke luar ruangan dulu untuk disewa, aku tanpa sengaja menemukan tempat kosong yang tidak dihuni siapa pun," ucap Riana, membuat mereka menghela napas lega.

Nampaknya, rencana ini berjalan cukup lancar.

Sementara itu, Itta tak banyak bicara, ia hanya mengikuti semua instruksi yang diberikan tanpa berniat memberi pendapat ataupun ikut membantu.

...—————•••—————...

Daftar wanita yang berada di dalam ruangan 110 :

Laquitta Grizelle / Itta

Isni

Elia

Hela

Zora

Killa

Lesya

Oldia

Riana

Izume

Yilse (Dijual)

Tasha (Dijual)

Shia (Dijual)

Devia (Dijual)

Avira (Dijual)

1
Arina Nur
thorr lanjut dooongg
wikha Sandra
sntah la aku bgung alur ceritany.berbelit²
aaaaaaiii
Kecewa
Mawar Di
Buruk
Mawar Di
Kecewa
Dinn: haloo kak, terimakasih udah comment. maaf juga gak sesuai harapan ceritanya. oh ya boleh dispill alasannya kak? biar nanti aku coba perbaiki lagi kualitas ceritaku 🙏🏻💙
total 1 replies
Lusy Anna
bunuh aja bang bunuhh
Lusy Anna
Okokk
Lusy Anna
tuh kan ketauan
Lusy Anna
hayoo ketauan
Lusy Anna
skinship terosss banggg
Lusy Anna
penasaran visualnya
Lusy Anna
iyaya kok itta ga pernah disewa gitu sih? kan katanya dia cantik banget
Lusy Anna
kalo aku jadi Ita bakal pilih dilepasin bajunya
Icye Anun: Murahan kau ya
total 1 replies
Lusy Anna
otaknya adyan gk pernah jauh2 dari kata ciuman /Chuckle/
Lusy Anna
saya suka dengan kedunguanmu
Lusy Anna
ciyeee udah mulai falling in love
Lusy Anna
gw kalo jadi Ita takut banget asli
Lusy Anna
runn mbakk runnn
Lusy Anna
baru sadar mbak? kemana ajeeee
Lusy Anna
murah banget mbakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!