Binar Ayudhisa Daneswara harus terpisah dengan kekasih nya Kenzie Janardana, sepasang kekasih saling mencintai itu harus menjalani LDR karena Kenzie harus mengambil S2 di luar negeri.
Binar tidak tau jika kepergian Kenzie bersama dengan sahabatnya Mozza yang diam-diam mencintai Kenzie dan selalu merasa tau tentang Kenzie kebiasaannya dan hobbynya.
Di karenakan kesibukan mereka perpisahan yang seharusnya masih bisa membuat hubungan mereka tetap terjalin akhirnya tidak pernah kontak lagi, mereka terpisah oleh jarak dan waktu.
Malam sebelum mereka berpisah Binar telah menyerahkan miliknya yang berharga ke Kenzie kekasihnya itu.
Bagaimana kisah cinta segitiga Binar-Kenzie-Mozza.. yuk ikuti ceritanya..
Salam,
ariista
🩷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Binar Pulang Ke Rumah
Binar memikirkan keputusannya untuk pergi dengan dengan banyak pertimbangan. Hari ini ia akan pulang ke rumahnya dan akan memberikan pengakuan kepada papinya Dipta Daneswara.
Binar tau papinya pasti akan ngamuk kepadanya, mami Tari tidak akan bisa berbuat apa-apa jika papinya sudah marah.
Binar meyakinkan dirinya jika ia harus berani mengakui kesalahannya dan akan menerima konsekwensinya apapun itu.
Binar berdoa dan menarik napasnya ia sudah berada di depan pintu rumah papanya yang megah. Papanya termasuk salah satu pengusaha tajir yang di perhitungkan di dunia bisnis.
Binar mengucapkan salam, ia membuka pintu rumah, tampak lengang tidak ada orang.
Bibi muncul tiba-tiba dari dapur.
"Eh neng Binar,"
"Ya ampun Biii, kaget Binar Bi, papi mami kemana Bi?"
"Lagi pada istirahat neng, di kamar nya,"
"Oh ya udah Binar ke kamar aja,"
Binar akan ke lantai dua di kamarnya, di tangga Binar berpas-pasan dengan maminya.
"Putri mami, pulang diam-diam aja,"
"Mi," Binar memeluk maminya cipika cipiki.
"Papi mana Mi? Tidur ya?"
"Papi udah bangun tadi dari kantor juga, sejak kakakmu lanjutkan S2 nya papi langsung ambil alih lagi, kamu gak mau bantu papi gitu?"
Mami dan Binar turun ke lantai satu, mereka duduk di ruang tengah.
"Mi, ada yang mau Binar sampaikan ke mami papi,"
"Apa itu sayang?"
"Binar ngomongnya tunggu papi aja Mi,"
Papi Dipta turun dari tangga.
"Itu Papi sayang, Piii.. ini Binar ada mau ngomong katanya Pi,"
"Hem," papi Dipta dengan auranya yang dingin membuat Binar mengkeret duluan.
Papi mendatangi istri dan putrinya di sofa ruang keluarga.
"Pulang kalo ada maunya, begitu?" suara berat papi membuat nyali Binar ciut.
Tangannya sudah dingin wajahnya pun sudah pias.
"Apa yang mau kamu omong kan, katakan,"
Binar meremas ujung bajunya.
"Em.. Pi, Mi, em.."
"Em apa sayang?" tanya mami lembut.
"Papi, Mami jangan marah," Binar melihat dulu raut wajah kedua orang tuanya.
"Jangan mencla mencle Binar ada apa?"
"Pi, Mi, Bin.. Bin.. Binar minta maaf sebelumnya," airmata Binar sudah mengalir duluan di pipinya.
"Jangan buat papi, mami naik darah Binar, bicara yang jelas ada apa,"
"Bin.. Binar ham.. ham.. mil Pi,"
"Apa?!" teriak papi mami.
Plak
Tangan kanan papi melayang ke pipi mulus putrinya. Mami memeluk tubuh putri kesayangannya.
"Pi, sabar,"
"Sabar, sabar bagaimana lagi Mi? Mami yang suka memanjakannya makanya ngelunjak, mau di taruh di mana muka Papi, Mi, putri Daneswara hamil di luar nikah, katakan Binar siapa lelaki brengsek itu?!"
Wajah papi sudah merah padam, aliran darahnya melesat ke ubun-ubun.
"Pi, sabar, ingat tensi papi," mami menenangkan papi melihat wajah papi yang sudah merah padam.
"Papi tidak mau semua orang tau tentang aib ini, Binar kau bisa pindah dari kota ini, papi tidak mau orang tau kalo putri papi hamil tanpa suami, katakan siapa laki-laki itu Binar?! Kalau kamu tak mau mengatakannya jangan anggap papi lagi sebagai papi mu," bentak papi.
"Papi!" teriak mami.
Binar menangis sejadi-jadinya. Ia bersimpuh di kaki papinya meminta maaf.
"Pi, maafkan Binar Pi, maaf kan Binar, hiks.. hiks..Binar akan pergi dari kota ini Pi, Binar tidak mau Papi, Mami, Kak Gala malu gara-gara Binar Pi, Binar pulang ingin minta izin ke Papi, Mami untuk pergi dari kota ini,"
"Baguslah, kalau kamu sadar, pergilah kamu ke tempat nenek mu di kota B, jangan muncul di kota ini lagi," papi berjalan kembali menaiki tangga papi masuk ke ruang kerjanya. Papi akan memerintah kan salah seorang pengawalnya untuk mengikuti dan mengawasi putri nya.
Papi Dipta sebenarnya sangat menyayangi putrinya hanya saja karena pembawaannya yang kaku dan dingin Dipta sulit mengungkapkan perasaannya ke orang-orang yang di sayanginya.
Dipta duduk di kursinya di ruang kerjanya. Ia memijit pelipisnya air matanya menetes. Putrinya satu-satunya memberikan aib di keluarga mereka. Ia selama ini membiarkan putrinya di luaran sana biasanya ia meminta seorang pengawal mengawasi putrinya, tapi karena dirinya percaya dengan putrinya, Dipta tidak mengawasi putrinya di luaran sana, dan inilah akibatnya, putrinya hamil di luar nikah.
Nasi sudah menjadi bubur, Dipta belum tau siapa laki-laki yang sudah berbuat nekat menghamili putrinya jika ia tau pasti ia akan memberikan pelajaran yang tak terlupakan pada lelaki itu. Dipta tak terima putri di hamili tanpa ada nya pernikahan.
Di ruang keluarga mami masih menenangkan Binar.
"Sabar sayang, mami kecewa denganmu tapi semua sudah terjadi, ada nyawa yang harus kamu jaga di perutmu, siapa lelaki itu, kenapa tak kamu minta ia menikahi mu? Biarkan dia ke rumah untuk melamarmu, sayang,"
"Mi, hiks.. hiks.. dia sedang kuliah ambil S2 Mi, dia sedang meraih masa depannya,"
"Kamu juga bagian dari masa depannya, nak, mintalah dia bertanggungjawab, kasihan bayimu jika kamu tidak memberitahukannya,"
"Binar belum bisa Mi, Binar belum bisa mengatakannya, jika ia tau Binar juga gak tau apa iya mau dengan bayi ini,"
"Apa maksudmu Nar? Dia yang berbuat kenapa dia gak mau menanggungnya,"
"Binar gak tau Mi, Binar gak tau, hiks.. hiks.."
"Ya sudah, kamu tidak boleh menangis terus, kasihan bayimu, kamu tidur sini malam ini ya,"
Binar menggelengkan kepalanya.
"Binar pulang aja ke apartemen Mi, Binar mau persiapkan kepergian Binar besok Mi,"
"Kamu yakin mau pergi dari kota ini, sayang, mami harap kamu gak pergi sayang, papimu gak sungguh-sungguh menyuruh mu pergi, Nar,"
"Gak Mi, Binar mau pergi menenangkan diri, Dinar gak mau di kota ini Mi, restui Binar pergi Mi, jika nanti Binar kangen Mami, Binar akan menelpon mami,"
"Nar, mami mau kamu di sini aja mami bisa menjagamu, mengantarkan kamu ke dokter sayang,"
"Terimakasih, Mi, Binar sayang Mami, hiks.. hiks.."
Mami dan putrinya saling memeluk erat. Mereka bertangis-tangisan.
"Binar pergi ya Mi, jaga kesehatan Mami, Binar akan menjaga cucu mami dengan baik, doakan Binar Mi dimanapun Binar berada,"
"Baiklah Nak, hati-hati di jalan kalau ada apa-apa kasih tau Mami ya, jika kamu mau pulang rumah ini selalu terbuka untuk kamu,"
Binar akhirnya berpisah dengan maminya, perasaan Binar hancur, ia telah merusak kepercayaan papinya, dulu papinya ingin memeberikannya pengawal dan akan mengawasi dirinya tetapi ia tidak mau dan ia meyakinkan papinya kalau dirinya bisa dipercaya. Tapi sekarang apa, papinya pasti kecewa dengan dirinya.
Airmata Binar terus menetes. Rasa di dadanya sesak ia merasa dirinya benar-benar tak berguna, membuat malu keluarga dan tidak mau mendengarkan perintah papi nya.
Malam ini Binar akan tidur di apartemen Kenzie, tempat tidur kenangannya bersama kekasihnya, Binar akan memberikan pesan kepada kekasihnya. Ia tidak tau apakah mereka akan bertemu lagi. Malam ini Binar akan membuat kenangan terakhir di kamar itu mengingat kekasih hatinya yang telah mendua. Binar sangat kecewa, ia patah hati, hidupnya terasa hancur.
Binar melajukan mobilnya ke apartemen kekasihnya.
Bagaimanakah Binar melanjutkan hidupnya? Kemanakah ia akan pergi? Apakah ia akan pergi ke rumah nenek ibu dari papinya?
emang murahan sih gituan sebelum nikah.. wajar menderita itu karma..
paling ha suka cerita ceweknya gampangan laki2nya pecundang dan cemen.. gimana bisa bertanggung jawab sama keluarga bertanggung jawab sama keputusan sendiri jg ga bisa.. jd males bacanya
maaf thor