NovelToon NovelToon
Sekutu Rasa

Sekutu Rasa

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Poligami / Percintaan Konglomerat / Mafia / Identitas Tersembunyi / Mata-mata/Agen / Chicklit / Tamat
Popularitas:19k
Nilai: 5
Nama Author: Iftiati Maisyaroh

Tatapannya masih menusuk tajam, tangannya mengunci dua lenganku ke atas. Menghimpitku ke dinding, aku seperti dejavu dengan posisi ini.

Mimpi itu ...

"Kamu kira aku bodoh, Gauri? Jika seseorang ingin menghancurkanku, maka bukan Yosita kuncinya." katanya penuh penekanan.

"Pria itu sudah kamu libatkan dalam masalah serius seumur hidupnya jika berhasil meniduri Yosi. Apa kamu tahu? Kenapa dia tak kunjung hamil, heh?"

Dengan kasar dia menarik bajuku hingga robek. Tubuhku terekspose hanya tertutup tanktop saja. Dia mencengkeram dagu dengan kuat. Menciumku secara brutal. Mataku mulai basah dengan sikapnya.

"Kamu terlalu naif dan gegabah, Gauri! Jangan salahkan aku jika kamu akan benar-benar tak bisa lepas dariku!" bisiknya di sela hembusan nafas.

"Kamu sudah ada dalam genggamanku. Adik-adikmu tak akan bisa memperbaiki kondisimu sekarang. Hanya aku. Aidam Ishwar Sura! Aku tak akan pernah membiarkanmu terluka, Gauri! Jadi, bersikaplah yang manis, hm?"

Klik Subscribe dulu sebelum baca!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iftiati Maisyaroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Sebuah Tamparan

Bab 6 Sebuah Tamparan

"Jadi kan, Ri?"

"Bentar ya, Ken? Tunggu lima menit!" pamitku berlari melewati kedua pria itu menaiki tangga.

Kenzie masih sama seperti yang kukenal. Aku tahu pasti nggak mudah untuk menerima ajakanku keluar tadi. Pasalnya dia pasti harus menata hati dan emosinya kembali bertemu denganku yang sudah tak lagi sama. Aku sudah menikah, setelah sebelumnya dia melamarku.

Ya. Semua salahku tak mengabari dan bertanya padanya tentang ini. Bahkan bisa dikatakan hubunganku dengannya pun belum ada kata putus. Dua tahun pacaran, dia seperti sempurna tak ada cacat. Lebih banyak meminta maaf dan mengalah. Bisa mengendalikan amarah dan sifat kekanakanku. Mungkin itulah akhirnya tak berjodoh denganku. Terlalu sempurna untukku yang banyak kurangnya.

Hanya mengenakan kaos oversize dipadu celana jeans belel, kupadukan dengan jaket rajut buatan Mama aku kembali menyapanya.

"Lo ikut kita, Ar! Gitu aja, nggak usah ganti baju! Cuma kangen battle aja, sih. Ikut yuk!"

Ajakanku disambut lompatan girang Arkaan yang sejak tadi hanya bermain PS di ruang keluarga. Awalnya bersama dengan Nizam dan Langit, tapi sudah pukul sembilan pasti dua bocah itu pindah ke kamar.

Mulai dari Adnan yang dimasukkan ke kelas bela diri pencak silat. Aku dan adikku yang lain jadi menggemari olah raga yang sama. Walaupun hanya Adnan dan aku yang serius hingga mendapat penghargaan tertinggi. Semenjak adik tertuaku itu dikirim Ayah untuk mengembangkan perusahaan di Semarang, aku jadi jarang turun ke arena.

"Ken, maaf ya? Harusnya aku selesein hubungan kita dulu sebelum memutuskan nerima Aidam kemarin. Maaf ... mungkin itu juga yang jadi nasibku seperti ini?"

Kubuka obrolan saat mobil yang dikendarai Kenzie sudah melaju. Aku menoleh ke samping, memastikan raut wajahnya yang fokus ke jalanan. Tetap datar dan masih belum menjawab permintaan maafku.

"Nggak ada yang tahu jodoh kita, Ri. Dan semoga ini yang terbaik buat kamu dan aku. Bukan salah siapa pun. Jangan salahin diri kamu sendiri." jawabnya memandangku sekilas.

Tangannya sudah terangkat hendak menyentuh kepalaku, tapi diurungkan. Kembali menggenggam setir hingga uratnya menonjol.

"Maaf ... Ken ...." lirihku mengusap lengan atasnya.

Dia hanya berdehem dan mengangguk pelan.

"Sial! Gue jadi obat nyamuk di sini! Tau gitu, gue mending karatan di depan PS, deh!" omel Arkaan setengah melongok melalui celah kursi kabin depan.

"Udah diem aja, lebih ganteng Lo!"

Satu kalimat saja dihadiahi jambakan di kepangan rambutku oleh Arkaan.

"Kamu udah ijin suami kamu kan, Ri? Aku nggak mau dia salah paham nanti."

Pertanyaan Kenzie berhasil membuat pergulatan tanganku dengan bungsunya Ayah Abyasa terhenti. Aku menatapnya dengan tubuh masih menyamping ke belakang.

"Itu salah satu yang mau aku omongin ke kamu, Ken. Aku butuh bantuan teman-teman kita di IPSI juga."

Perjalanan menjadi hening setelah aku mengatakannya. Tak ada percakapan lagi hingga mobil berhenti di basecamp. Sebuah arena latihan bela diri pencak silat independent yang tidak terikat oleh pemerintah atau negara. Jadi semua jenis bela diri bisa menggunakan tempat ini untuk latihan.

Masuk ke dalam, kami disambut teman-teman lamaku. Tepatnya teman Ken dan Arkaan juga, sih. Ken seorang karateka, ini adalah tempat pertemuanku dengannya. Banyak kenangan tersimpan di sini.

Satu jam berlalu dengan cepat, setelah sedikit melemaskan otot. Aku beradu kemampuan tanpa kekuatan otot maksimal, bisa dikatakan hanya sparing ringan.

Aku lebih suka melampiaskan seluruh amarah dan emosiku di arena latihan seperti ini. Setiap kali sedang dilanda kerisauan atau kalut. Lebih memilih ke sini, entah menantang seseorang atlet untuk bertarung. Atau malah melawan samsak hingga lelah dan lega setelahnya. Daripada harus menangis seperti wanita kebanyakan.

"Lo tuh aneh, Ga! Wanita tangguh. Bisa-bisanya ngalahin lawan dengan nangis kayak gitu?" kekeh salah seorang pesilat yang baru pertama melihatku.

"Bukan nangis, ini air mata kepuasan! Dan nggak menyakitkan di sini!" balasku menyeka keringat dilanjutkan meneguk air dari botol.

Sebuah tangan mengulurkan sapu tangan di depan wajahku. Kenzie yang melakukannya. Seperti hari-hari sebelumnya. Perhatian kecil sebagai bentuk ungkapan rasa sayangnya padaku.

Aku mendekat pada kumpulan teman-teman yang sudah akrab, Ken mengekor. Duduk berselonjor kaki di lantai di antara tiga teman lainnya, termasuk Arkaan.

"Gue butuh bantuan Lo semua, Guys! Gue yakin Lo pasti udah pada tau berita soal gue." Aku mulai menceritakan tujuanku kemari.

Rencananya aku akan pilih salah satu dari mereka buat deketin Si Artis Yosita Ashari. Setidaknya tahu seluk beluk asli tentang dirinya. Karena selama ini yang tampil di permukaan adalah sebuah kepalsuan dalam dirinya.

"Kayaknya Mada yang paling pas, deh. Kira-kira Lo bisa masuk sebagai apa, Da?"

"Em ... tenang, adik gue fans berat doi kayaknya. Jadi ... coba gue nglamar jadi body guard atau keamanan rumahnya gitu kali, ya?"

Aku menggeleng kuat atas apa yang baru saja disampaikan lelaki berawakan tinggi berwajah khas Timur Tengah itu.

"Kalo Lo bisa lebih dekat dari itu. Jadilah asisten pribadinya. Atau kalo nggak ... langsung tembak, bikin gimmick di media. Buat doi penasaran sama Lo dan sekaligus Lo bisa pansos ke dia juga, gimana? Seru dan menguntungkan buat karier Lo, kan?"

Bukan tanpa alasan aku memiliki ide ini. Mada seorang selebgram yang masih kelas medium. Belum begitu terkenal memang, tapi cukup banyak diminati tak kasat mata. Mungkin nanti dia bisa berakting lebih dalam lagi. Bukan hanya menjadi endorse sebuah produk olah raga saja. Who knows?

Pria bernama lengkap Mada Yudhistira itu mengangguk setuju, siap memulai aksinya besok pagi.

"Ken, Lo bisa resign dari kantor kamu?"

Pria pemilik wajah oriental itu menoleh dengan wajah menuntut. Kami sudah berada di depan gedung. Duduk di sebuah kursi taman dengan ditemani dua cangkir kopi panas di tangan. Arkaan memilih pulang bareng Mada dan merencanakan sesuatu untuk misinya.

"Kamu jadi backingan di perusahaan Papa. Bantu aku. Arkaan akan ikut resign juga, dampingi aku pimpin perusahaan Papa. Aku butuh orang yang setia dan bisa dipercaya, Ken. Bukan orang lain lagi, cuma kamu. Aku percaya sama kamu." lanjutku menatapnya penuh harap.

Jarak kami sangat dekat. Bahu saling menempel hingga tampak jelas sorot matanya yang memancarkan kebingungan. Pandangan kami saling beradu. Dalam hatiku terus berharap agar dia setuju dengan ideku, mau membantuku.

"Gauri! Apa yang kalian lakukan di tempat seperti ini?"

Suara yang sedikit terkejut dan diakhiri nada tinggi mengalihkan perhatianku. Refleks aku dan Kenzie berdiri berhadapan dengannya. Pria berkaos biru langit dibalut blazer hitam itu menatap nyalang pada Kenzie.

"Aidam ...."

Pria itu menarik kaos Kenzie. Tangan sudah terangkat hendak melayangkan pukulan.

"Apa yang kamu lakukan? Hentikan!!!" teriakku dengan satu tamparan keras di pipinya setelah sedikit maju berdiri di tengah dua pria.

...***...

^^^Bersambung ....^^^

1
Fareza Gmail.Com
kok alurnya maju mundur. udah tau yosi slingkuh masih dipertahankan. maksudnya apaa
Mukmini Salasiyanti
apa mgkn ada anak kembar dr beda benih? 🤔
Iftiati Maisyaroh: Sudah ikuti media sosialku belum, Kak?
Maaf banget nggak bisa sebutun di sini🙏
Pf baca online gratis juga di sana, Kak 😬
inisial F 😅
Maaf baget ya Kak🙏
total 4 replies
AriNovani
Kak 🤭
AriNovani: 😂😂😂😂😂
total 6 replies
Noviyanti
terus semangat, bunga hadir
Mukmini Salasiyanti
Benar, Gauri...
mgkn lbh baik
Sendiri...
Mukmini Salasiyanti
yg mana nih yg lbh Tokcer, thor???
🤭😵‍💫🤕
Mukmini Salasiyanti
Mada menembak Kenziee?????
Remi Abdillah
kenzie menembak haiji mouro kali yah🤭🤭
Remi Abdillah
keren lanjutkan menulis
Iftiati Maisyaroh: Terima kasih Kak🙏
Keren banget sih Kakak?
Sekali baca seharu aja dah kelar sampai bab terakhir 👍😍😇😇😇
total 1 replies
Remi Abdillah
lah loh Mada masih hidup lengkap sudah kebingungan ku🤭🤭
Remi Abdillah
betul itu Gauri, jangan menjadi dalih kepengecutan suaminya yg selalu mengatas namakan dalih agama.
Iftiati Maisyaroh: 😍😍😍 Mantap Kakak bener-bener baca maraton 👍🙏 terima kasih
total 1 replies
Remi Abdillah
oh si yosita ternyata adik gaurika juga toh? oalaaaahh! makin bertanya2
Iftiati Maisyaroh: 🤔 baca lagi yuuk Kak 😅
total 1 replies
Remi Abdillah
kenapa si aidam itu selalu berkata istri harus patuh sama suami. dia gak bisa patuh sabagai suami yg melindungi istri😡😡kesal aku!!
Iftiati Maisyaroh: Sabaaar 😇
Semua akan kesel pada waktunya 🤭
total 1 replies
Remi Abdillah
tambah blenger ceritanya .. tp sayang ku ikuti cerita ini sampai membawaku kemana😁😁🤭🥰🥰
Iftiati Maisyaroh: kita main detektif ini Kak 🤭
total 1 replies
Mukmini Salasiyanti
Hmmmm
okelah, Thor...
Lanjutkan. kebingunganku ini.. 😁🤣
Remi Abdillah
kok ceritanya jadi negono ya
Remi Abdillah
keren lanjutan🥰🥰🥰
Remi Abdillah
seru nich!!
Remi Abdillah
wow keren itulah perempuan yg sudah di hianati lanjut..
Iftiati Maisyaroh: siiip lah👍
Terima kasih 🙏
total 1 replies
Remi Abdillah
kok aku jadi gregetan yah hhm!!
Iftiati Maisyaroh: lanjut terus pokoknya👍😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!