Hana di paksa menikahi Janghyun seorang CEO perusahaan terkenal hanya untuk membalaskan dendam keluarganya dan merebut kembali perusahaan yang telah Janghyun ambil dari keluarganya.
Tetapi, setelah Hana menikah dengan Janghyun ternyata sifat pria itu tak seperti yang di rumorkan orang-orang. Dia malah adalah orang yang manja kepada Hana dan sosok ayah yang baik untuk putrinya.
" Sadarlah Hana, kau tak boleh terbawa perasaan pada pria itu " Batin Hana semakin bingung.
Yuk baca keseruan dan apa yang akan Hana pilih, apakah ia akan memilih tetap membalaskan dendam keluarganya atau membiarkan hatinya berlabuh dengan cinta Janghyun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan
Satu bulan kemudian, tak perlu waktu lama menunggu untuk melangsungkan acara pernikahan bagi Hana dan Jnaghyun. Hari ini adalah hari bahagia yang seharusnya Hana rasakan dalam hidupnya. Sebab, hari ini adalah hari pernikahannya dengan Park Janghyun.
Namun sangat di sayangkan, Hana harus kembali sadar di karenakan tamparan kenyataan bahwa pernikahan tersebut hanya berlandaskan paksaan dan kerja sama demi mendapatkan kembali aset perusahaan keluarga Kim.
"Kenapa wajahmu murung?" Janghyun yang sejak tadi melihat keanehan raut wajah sang istri akhirnya mulai membuka suara.
"Tidak ada kok, hanya masih tak menyangka bahwa kita berdua sudah menikah dan resmi menjadi pasangan suami istri sekarang..." Hana tersenyum manis menatap wajah pria yang kini telah berstatus sebagai suaminya sekarang.
"Aku juga begitu kok..." Janghyun tersenyum lembut sambil mengelus pipi Hana.
Acara pernikahan tersebut di gelar di sebuah gedung mewah yang telah di sewa oleh Janghyun sendiri. Dan kini, acara pernikahan tersebut telah berlangsung dengan sangat lancar tanpa hambatan apa pun.
...✧・゚: *✧・゚:*✧・゚: *✧・゚:*✧・゚: *✧・゚:*...
Sore harinya
Seluruh tamu undangan sore itu kini telah kembali pulang. Janghyun sendiri tampak mengawasi para anggota Wedding Organizer yang sedang beres-beres.
"Jadi sekarang Eun-hye boleh panggil mama ke bu guru?" ucap antusias Eun-hye menatap Hana.
" Tentu saja boleh sayang." Hana menanggapi ucapan anak tirinya itu dengan tersenyum dan terkekeh pelan.
"Yeeei! Sekarang Eun-hye sudah punya mama lagi!" Eun-hye tersenyum senang sekali dan langsung memeluk tubuh Hana dengan sangat erat.
"Hana, ikut denganku sebentar?" Jiho berjalan ke arah Hana dengan ekspresi datar yang ia miliki.
"Ada apa kak?" Hana menjadi bingung dan takut.
"Kita perlu bicara empat mata tanpa anak itu!" sinis tajam Jiho ke arah Eun-hye yang masih dalam pelukan Hana.
"Tapi..." ucapan Hana kembali terpotong dengan Jiho.
"Ingat Hana, tidak ada kata tapi-tapian. SEKARANG!" Ucap Jiho dengan penuh nada penekanan di akhir kalimatnya itu.
Jiho langsung berjalan pergi setelah mengucapkan kalimat tersebut kepada sang adik. Hana akhirnya melepaskan pelukan Eun-hye lalu tersenyum menatap anak tirinya itu.
"Eun-hye sayang, mama pergi sebentar buat ngobrol dulu sama paman Jiho ya nak?" Hana mengelus puncak kepala Eun-hye penuh sayang.
"Apa lama ma?" Eun-hye hanya menatap polos Hana. Gadis kecil itu masih lugu dan suci, tak seharusnya ia tahu rencana busuk keluarganya.
"Tidak akan lama, tunggu saja di sini sampai papamu selesai bicara dengan bawahannya ya nak." Hana mengecup kening Eun-hye lalu berdiri dan berjalan pergi mengikuti arah Jiho pergi tadi.
Eun-hye melambaikan tangan kecil nan mungilnya itu lucu ke arah Hana. Tanpa Hana sadari ternyata Janghyun sejak tadi melihat ke arahnya dari kejauhan. Raut wajah nan tegas dan tampan itu tampak semain datar di saat melihat istrinya pergi bersama kakak iparnya itu.
...✧・゚: *✧・゚:*✧・゚: *✧・゚:*✧・゚: *✧・゚:*...
Sementara itu di belakang gedung pernikahan tersebut
"Kenapa kakak ingin bicara denganku?" Hana langsung menanyakan inti permasalah mereka.
"Jangan pernah mau melakukan hubungan intim bersama pria itu jika kau tak ingin sakit hati Hana!" Jiho menatap wajah sang adik sambil menghela nafas pelan.
"Tapi kenapa tidak boleh kak?" Hana tampak kaget dan bingung di saat yang bersamaan.
"Jadi kau ingin sekali melakukan hubungan intim dengan pria itu hm?" sindir sinis Jiho kepada Hana.
Hana sekejap langsung terdiam membeku karena ucapan dari pertanyaan Jiho tadi itu adalah jebakan untuknya.
"Ayo jawab Hana, kau benar-benar ingin melakukan hubungan intim bersama musuhmu sendiri? Pria yang kau nikahi tanpa ada dasar cinta?" Ucapan jiho tersebut semakin membuat dada Hana menjadi sesak akan ulah sang kakak yang membuatnya kembali tertampar oleh kenyataan yang pahit.
"Ingatlah rencana kita Hana, jika kau melakukan hal intim dengan pria brengsek itu kau pasti akan mengandung anaknya dan lupa akan rencana kita!" Jiho sedikit mengguncang kedua bahu Hana.
"Jalankan rencana kita, dan bersandiwara lah sesempurna mungkin agar tak ada seorang pun yang sadar akan rencana kita!" Jiho menatap Hana dengan penuh keseriusan dan ekspresi penuh kebencian serta dendam kepada Janghyun.
"Baiklah kak, akan ku lakukan sebisa ku lakukan." Hana akhirnya pasrah dan menuruti apa yang di katakan oleh Jiho.
"Gadis pintar, ini baru adik kecilku yang pintar dan cantik." Jiho akhirnya tersenyum mengacak-acak gemas puncak kepala Hana.
"Dan berikan aku informasi setiap harinya tentang perusahaan pria itu, paham Hana?" Jiho kembali tersenyum senang. Sebab, rencana yang ia jalankan kini sudah selangkah ke depan.
"Aku paham kak Jiho, kalau begitu aku akan kembali sebelum Janghyun atau yang lain malah melihat dan curiga dengan kita kak" Hana langsung melihat sekeliling dengan perasaan was-was.
"Ya, pergilah" Jiho juga akhirnya pergi dari sana.
Segera, Hana langsung pergi kembali masuk ke dalam gedung untuk menemui Eun-hye yang pastinya sedang menunggunya saat itu.
Tetapi ternyata Eun-hye sudah duduk berdua bersama Janghyun sambil memakan eskrim di tangan mereka.
"Itu mama sudah kembali, pa!" Eun-hye yang sadar dengan keberadaan Hana langsung menunjuk riang sosok Hana tak jauh di depan mereka.
Hana akhirnya tersenyum manis berjalan ke arah anak dan suaminya itu sekarang. Wajah Hana memang pintar bersandiwara namun, tidak dengan hatinya.
"Dari mana saja?" Janghyun menatap Hana bingung.
"Kak Jiho tadi ingin mengucapkan salam perpisahan denganku, lagi pula aku akan tinggal bersamamu dan juga Eun-hye mulai sekarang hingga selamanya." Hana tersenyum sambil melap mulut Eun-hye yang celemotan karena eskrim yang di makannya menggunakan tissue.
"Yasudah, ayo pulang. Biarkan sisanya asistenku yang mengurusnya." Janghyun langsung menggendong Eun-hye dengan satu tangan, dan tangan lainnya menggandeng erat tangan Hana menuju mobil sport mewahnya.
Sesuatu yang hangat tampak menjalar ke sekujur tubuh hana akibat genggaman tangan dari Janghyun. Sungguh, rasanya seperti ada kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Rasa senang, bahagia, namun juga rasa tak tega dan juga sedih bercampur menjadi satu di hati Hana.
Mobil Sport mewah itu langsung di kendarai oleh Janghyun menuju kediamannya yang ada di pusat kota. Mobil Sport itu kini memasuki sebuah kawasan perumahan elit di sana, dan berhenti di depan sebuah rumah yang megah dan besar tiga tingkat tersebut.
"Ayo masuk, kita sudah sampai!" Janghyun langsung turun dari mobilnya setelah selesai memarkirkan mobil sportnya itu ke garasi.
"Ini rumah lebih besar dari rumah lamaku!" ucap batin hana benar-benar takjub dengan nuansa megah dan elegan dari rumah milik Janghyun tersebut.