Rumus selamat dari pembullyan di sekolah adalah berteman dengan cowok ternakal.
Dan sialnya, cowok itu adalah Rifat Basuki. Pemilik pondok pesantren ternama dimana omku menimba ilmu. Dia yang sejak dulu kukagumi, Gus Rifat.
Semenjak pindah ke ibu kota, aku jadi tahu jati diriku dan sungguh aku sangat kecewa dan memutuskan pergi dari rumah.
Beruntung ada om tampan tapi menyebalkan, Samuel Darius Alexander yang mau menampungku dengan syarat mau merawat kekasihnya yang sedang mengalami koma.
Namaku Alina Jovanca Putri
---
Hidup gue amat tenang selama 16 tahun ini. Tapi sejak kehadirannya, seolah semua keberuntungan berpihak padanya.
Dia merampas kasih sayang papa, dia berteman dengan bad boy sekolah yang super keren, dia cerdas, dan dia juga punya sugar Daddy yang sangat tampan.
Ahhh.... Gue iri!
Awas lo, kembaran!
Hidup lo nggak boleh tenang.
Kenalkan, nama gue Alisa Permata Yudha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bund FF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deklarasi Kebencian
Tiga pasang mata memandang geram akan kedekatan Alin dan geng Rifat yang selama satu setengah tahun ini seolah tak menerima cewek model apapun untuk mendekati mereka.
Tapi baru juga masuk, kenapa Alina bisa terlihat begitu dekat dengan mereka?
Hal itu membuat Lisa dkk menjadi naik pitam. Mereka bahkan sudah menandai Rifat, Tora dan Axel untuk mereka dekati.
"Siapasih sebenarnya cewek ngeselin itu? Mereka terlihat sangat akrab meski memang tak pernah ada interaksi selain ucapan, apa karena Alin yang berhijab mereka jadi suka?" tanya Via, teman geng Lisa.
"Apa kita juga harus berhijab biar mereka juga mau kita dekati?" seru Zee, panggilan dari Zeenara yang juga teman Lisa.
"Lo Kristen, masak mau pakai hijab, Zee?" tanya Via dengan wajah serius.
"Becanda kali, Vi. Lo serius amat" balas Zee dengan masih menatap Alin yang sudah keluar dari parkiran dengan diiringi Rifat dan kedua temannya yang memakai motor sport.
"Aahh, gue mau kak Rifat" rengek Lisa manja.
"Awas ya lo, Alina. Tunggu pembalasan gue!" ungkap Lisa mendeklarasikan kebenciannya terhadap Alina.
Kebencian yang tak beralasan. Dan menghadapi orang semacam ini memang membingungkan tapi membahayakan.
Rasa iri yang tiba-tiba muncul dan diiringi dengki yang ingin menjatuhkan mangsanya dengan berbagai cara.
Alin sedang tidak baik-baik saja untuk ke depannya tanpa gadis itu sadari.
Sementara Alin sudah sampai di pelataran klinik dokter hewan yang tadi pagi dia sambangi, setelah memarkirkan motornya dengan aman, Alin mendekati Rifat karena tahu jika cowok itu akan berpamitan.
"Terimakasih ya, gus. Tapi kamu masih hutang satu penjelasan sama aku. Kenapa kamu bohong yang katanya pindah ke Papua?" kata Alin berterima kasih sekaligus ingin memarahi Rifat.
"Memangnya siapa yang bilang pergi ke Papua?" tanya Rifat yang tak ingat pernah berkata begitu, bahkan dia tak pernah berpamitan pada siapapun dulu saat abahnya memindahkannya.
"Omku sih yang bilang" kata Alin sedikit bingung.
"Mungkin lo ngotot tanya ke paman, makanya paman ngasal saja jawabnya. Makanya lo itu jangan suka ngotot. Kurangi keras kepala lo" ucap Rifat.
"Iya. Huft. Yasudah, aku masuk dulu ya. Gus Rifat pergi saja sana" usir Alin.
"Malah ngusir. Awas saja kesasar, nanti nangis" ancam Rifat.
"Nggak akan. Aku telepon kakak kalau nanti nyasar lagi, weekk" kata Alin sambil mengejek.
"Bodo amat. Pulang ah. Duluan ya ,Lin. Assalamualaikum" pamit Rifat sambil melambaikan tangan dan tersenyum pada Alin yang juga melambai.
"Waalaikumsalam" balas Alin.
Sebenarnya memang sesayang itu Rifat pada Alin. Menjadi anak semata wayang membuat Rifat sangat ingin memiliki saudara. Hingga paman Alin yang ditugaskan untuk mengasuhnya sejak kecil pun dianggapnya saudara, dan begitu mengenal Alin sebagai teman wanita pertamanya, Rifat pun sudah menetapkan Alin sebagai adiknya.
Kini Alin sudah berada di dalam klinik, menemui perawat yang ternyata masih orang yang sama.
"Assalamualaikum, selamat sore kak. Saya mau melihat kucing yang tadi pagi. Apa sudah bisa diambil?" tanya Alin.
"Oh iya. Baru saja saya mau telepon kamu" kata suster yang sudah beranjak dan berjalan ke suatu ruangan, dan Alin mengekor padanya.
"Dia sudah dirawat oleh dokter. Sekarang tinggal proses penyembuhan" kata suster memperlihatkan kucing oren yang di beberapa bagian tubuhnya dibalut perban.
"Kucing itu sangat kuat. Meski banyak sekali luka di tubuhnya, dia mau untuk berjuang agar bisa sembuh" ucap seorang dokter pria yang entah sejak kapan berada di belakang Alin.
"Oh, dokter. Tapi kenapa dia masih tidur?" tanya Alin.
"Efek obat bius. Nanti juga dia bangun. Kamu mau bawa dia pulang atau ingin membiarkan orang lain merawatnya?" tanya dokter, kebetulan di klinik itu juga selalu memberikan informasi untuk pecinta hewan yang ingin mengadopsi hewan tak bertuan.
"Saya bawa pulang saja, dok. Tapi bagaimana caranya, ya?" tanya Alin bingung, mungkinkah dia akan menggendong kucing itu?
"Kami menyediakan tas hewan. Kamu bisa meminjam atau kalau berminat kamu bisa membelinya" kata dokter.
"Saya mau membayar biaya perawatannya dulu saja, dok. Untuk tasnya, nanti kita bicarakan lagi" kata Alin sok menawar.
Dokter itu terkekeh kecil, dia tahu Alin berhati tulus.
"Ini rincian biayanya, dik" ucap suster yang dengan cekatan memberikan sebendel kertas yang berisikan rincian biaya penanganan kucing itu.
"Lima ratus ribu ya kak" tanya Alin dengan suara lirih.
Tangannya mengambil uang dari dalam sakunya yang hanya tinggal dua puluh ribu saja. Membuatnya mau tak mau harus memakai kartu ATM pemberian kakaknya untuk urusan ini.
"Nanti aku ganti dengan cara dicicil deh" gumam Alin sambil mengeluarkan kartu itu dari dalam tasnya.
Gumaman kecil yang terdengar oleh dokter itu membuatnya semakin merasa kagum atas ketulusan hati Alin.
"Ini kak, saya bayar pakai kartu debit, ya" kata Alin yang digiring ke meja kasir oleh sang suster, sementara dokter itu menyiapkan tas hewan agar Alin bisa membawa si kucing.
"Kamu yakin mau membawanya?" tanya dokter itu menegaskan.
"Iya dokter" jawab Alin.
"Baiklah. Karena kamu anak yang baik, maka saya memberikan hadiah tas hewan ini untukmu. Kamu tidak usah mengembalikannya kesini" kata dokter.
"Uwah, terimakasih ya dokter" Alin sungguh senang karena tak ada tambahan biaya lagi untuk membeli tas hewan.
Dengan bantuan suster, Alin yang sudah berpamitan kini memakai tas hewan itu seperti memakai tas punggung. Sementara tas sekolahnya dicantolkan di motornya.
Alin pulang dengan hati ringan dan riang. Memiliki hewan peliharaan adalah impiannya sejak lama. Tapi dirumah, bunda yang takut pada ekor kucing melarangnya untuk memelihara kucing.
"Lin, kamu darimana saja? Sudah jam delapan malam baru pulang. Masih hari pertama sekolah sudah keluyuran begini kamu ya" Vee mencerca Alin dengan banyak pertanyaan saat gadis itu baru saja memasuki halaman, belum juga memasukkan motornya ke garasi.
"Ehm, aku nyasar kak" ucap Alin yang membuat Vee tak jadi marah, tapi malah tertawa.
"Dasar kepala batu, kalau kamu diantar supir kan pasti selamat" kata Vee berusaha meredam tawanya.
"Kalau diantar supir, aku nggak akan punya hewan peliharaan, kak" jawab Alin sambil melenggang pergi ke garasi, sementara Vee kembali masuk untuk mengintrogasi sang adik.
"Hewan apa?" tanya Vee yang melihat ada tas besar di punggung Alin.
"Kucing, kak. Kasihan tadi ketabrak motor. Ehm, tapi aku minta maaf ya karena sudah memakai uang di ATM untuk membayar biaya pengobatannya" ucap Alin sambil menurunkan tasnya dan mengeluarkan si kucing yang nampak malang.
"Tidak apa-apa, Lin. Saya senang kamu punya kepedulian pada sesama makhluk Tuhan" ucap Seno yang sudah berdiri sambil merangkul istrinya.
"Terimakasih, kak. Tapi nanti Alin akan ganti kok uangnya meski dicicil" kata Alin yang menidurkan si kucing diatas keset tebal di pinggir kulkas.
"Terserah kamu saja" jawab Seno yang tahu bahwa keputusan Alin tak akan bisa dirubah.
"Tidur yang tenang ya kucing, besok kita bertemu lagi" kata Alin.
Vee dan Seno hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang adik yang kadang lucu kadang juga membuat kesal.
"Ssst, heh Saher sini lo" ucap Lisa pada teman sekelasnya pagi ini, sesaat sebelum bel berbunyi.
"Apaan?" tanya Saher, cowok manis keturunan India yang orang tuanya mempunyai bisnis bengkel yang sukses.
"Lo bisa otomotif nggak?" tanya Lisa.
"Lo ngejek gue? Tentu gue paham sampai ke akar-akarnya. Hobi gue banget itu" jawab Saher merasa tertantang.
"Oke. Kalau lo memang jago, coba lo bikin bensin di tangki motornya si Alin jelek itu habis. Biar kapok tuh anak" kata Lisa dengan setengah berbisik untuk menyampaikan ide konyolnya.
"Itu gampang banget asalkan ada ininya" ucap Saher sambil menggosok jempol ke jemari lainnya yang mengisyaratkan adanya uang.
"Itu mah gampang. Nih, segini cukup kan" kata Lisa memberikan tiga lembar uang berwarna merah pada Saher.
"Boleh. Tapi ingat, kalau sampai ada apa-apa, jangan sampai lo bawa-bawa nama gue, paham?" tanya Saher yang tak mau berurusan dengan BP.
"Gampang, nggak akan ada yang tahu" kata Lisa bersemangat. Pokoknya dia harus membuat hidup Alin menderita, kalau bisa supaya Alin bisa pergi dari Mahardika.
Saher tersenyum smirk, sebuah tantangan yang menyenangkan. Dapat bonus uang pula.
"Nice boy" ucap Lisa yang bertos ria dengan Via dan Zee. Mereka sangat senang rasanya.
Segera Saher lakukan tugas itu saat pelajaran sudah dimulai. Beralasan ingin ke kamar mandi, Saher membelokkan langkahnya ke parkiran untuk mencopot selang bensin di motor Alin untuk sementara. Sampai semua bensin di dalam tangki motor matic Alin habis.
Sementara bensin itu keluar secara perlahan, Saher pergi ke toilet agar tak ketahuan. Dan saat dirasa jika bensin itu sudah pasti habis, Saher kembali untuk merapikan selang bensin ke tempat semula agar tak mencurigakan.
Dan setelah semua selesai, Saher kembali ke kelasnya.
"Bagaimana?" tanya Lisa berbisik saat Saher berjalan melewati kursinya.
"Aman" balas Saher yang membuat Lisa, Via dan Zee tertawa bahagia.
"Rasain lo, Alina yang jelek. Songong sih jadi orang" kata Lisa berbisik dengan kedua temannya.
Dengan bahagia, Lisa membayangkan nasib Alin yang akan kelelahan untuk menuntun motornya sampai menemukan penjual bensin.
Dan dia sudah tidak sabar untuk melihatnya.
Bongkar dong kebusukan Hansen
benar..
Alin jadi anak binti Vani, bukan anak bin Yudha😊