( Tahap Revisi)
Apapun yang sudah ditakdirkan untuk datang dalam hidupmu, tidak akan pernah pergi sekeras apapun hatimu membenci.
Taani tidak pernah menyangka hatinya akan berlabuh pada laki-laki pendiam, kutu buku yang menyebalkan.
laki-laki Sederhana yang selalu dibanggakan oleh Ayahnya.
Karena bagi sang Ayah, tidak ada lagi laki-laki terbaik di seluruh negeri ini selain pilihannya.
Pernikahan yang harus Taani jalani dengan terpaksa. Tanpa ada cinta dihatinya.
Bagi Rizwan, Melihat Taani tersenyum di pagi hari, sudah cukup untuk membuatnya semangat pergi bekerja.
Kemanakah bahtera rumah tangga Rizwan akan berlabuh?
Akan kah semuanya kandas begitu saja?
Karena yang sudah tertulis untukmu, tidak akan pernah ditulis untuk orang lain.
......
selamat membaca 💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzanabuq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ini Nyata
Setelah puas memandangi tanaman di samping rumah, Taani berjalan menuju kamar yang di tunjukkan oleh Rizwan. Melangkah perlahan, kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar.
Aroma wangi maskulin menyeruak di hidungnya, kamar yang begitu wangi dan rapih terawat.
Di kamar itu hanya ada ranjang king size, lemari pakaian yang cukup besar dan meja kecil di samping tempat tidur.
Semuanya terlihat rapih dan bersih.
Sangat jarang menemukan kamar seorang pria seperti ini.
Taani berjalan menuju tempat tidur kepalanya terasa begitu berat.
Hatinya merasa sangat lelah menghadapi kenyataan yang begitu pahit ini.
Duduk menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur menekuk satu kaki untuk menyandarkan kepala di lututnya.
Oh Ayah, apa anakmu akan kuat bertahan sendirian?
Aku bukan wanita kuat seperti yang kau katakan
Air mata kembali mengalir deras rasa sakit dan ketidak berdayanya kembali menyergap saat bayangan sang ayah muncul di kepalanya.
Ya Tuhan, rasanya aku tidak sanggup menjalani rumah tangga ini.
Ayah, aku mau ikut!
Hatinya kembali menjerit perempuan itu kembali tergugu, dia benci dengan semua takdir ini.
*****
TOK TOK TOK
Taani ter lonjak saat suara pintu kamarnya di ketuk.
Sudah berapa lama ia tertidur?
Rasanya Taani benar benar enggan sekali untuk bangun.
"An..." Suara Rizwan di luar sana memanggilnya mengetuk pintu kamar Taani dengan hati hati.
"An, apa kau mendengarku?" kembali bertanya karena tidak ada sahutan dari dalam.
Rizwan mengetuk pintu kamar untuk yang kedua kalinya perasaan panik langsung menyergap hatinya.
Pasalnya setelah kedatangan Taani di rumah ini sudah dua hari Rizwan tidak bertemu dengan istrinya.
Rizwan percaya istrinya baik baik saja karena ketika pulang bekerja dia akan menemukan makanan di dapurnya.
Sore ini Rizwan baru pulang dari bekerja setelah menikah pun tidak ada kata cuti dalam hidupnya. Lagipula cuti untuk apa? memang mereka akan melakukan apa.
Rizwan mengetuk pintu kamar lagi. Agak keras karena tidak ada sahutan dari dalam ataupun tanda tanda pintu akan dibuka.
Kumohon jangan terjadi sesuatu apapun padamu!!
"Iya."
Mendengar sahutan dari dalam kamar, sudah cukup membuat perasaannya begitu lega.
"Apa ada sesuatu yang kau butuhkan?"
Rizwan kembali bertanya menempelkan telinganya di daun pintu.
Hening.
Tak ada jawaban.
Setelah beberapa saat terdiam hingga pria itu pun melangkahkan kaki menuju kamarnya.
Rizwan duduk di atas ranjang yang sudah dua hari ini menjadi tempatnya beristirahat.
Memandangi pigura kecil yang ada di tangannya.
Potret seorang wanita cantik dengan senyum merekah di bibirnya.
" Maaf, aku pasti membuat hidupmu menderita." Mengusap pelan wajah cantik yang ada di dalam pigura itu.
Kembali memandangi wajah yang selama ini selalu menjadi mimpi dalam tidurnya.
Kegiatan yang tidak pernah absen dalam hidup Rizwan selama ini.
Tidak ada kata bosan seolah senyum yang tercetak di wajah cantik itu memberikan energi tersendiri untuk hatinya.
Oh Taani.
Setelah dirasa puas memandanginya. Rizwan meletakkan pigura itu dibalik bantal kemudian beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
****
Rizwan menepuk pipinya berkali-kali mencubit bahkan memukul lengannya.
Memastikan bahwa ini bukanlah mimpi.
Oh, ayolah kenapa berlebihan sekali pria itu!
Wanita yang sedang berdiri membelakanginya dengan rambut hitam yang di ikat tinggi dan dengan apron di tubuhnya terlihat sedang asyik mengaduk sayur di dalam panci.
Ya Tuhan, ini sungguhan kan.
Dia istriku?
Rizwan mengerjap gugup saat tubuh yang ia pandangi itu berbalik dan tersenyum ketika menyadari kehadirannya di dapur ini.
Ya Tuhan, senyuman itu ia berikan untukku
ini sungguhan.
Rizwan ingin pingsan saat ini juga.
"Kau sudah mandi?"
Oh Ibu, ini benar-benar sungguhan.
ini nyata. Dia bertanya padaku Bu!
"Sampai kapan kau akan berdiri di sana?" Taani
Membawa sayur untuk diletakkan di atas meja makan.
Yang ditanya hanya diam mematung berdiri di samping meja makan, mengerjap seperti orang bodoh.
Lidahnya terasa kelu seluruh tubuhnya benar benar terasa membatu.
"Maaf dua hari ini aku merepotkanmu, aku tidur seperti kerbau, jadi sebagai permintaan maaf hari ini aku memasak, ayo makan." Suara perempuan itu sudah terdengar kesal karena yang ditanya tak merespon sedikitpun.
"Oh, i- iya." setelah tersadar dari kegugupan nya Rizwan menjawab kaku.
Hanya untuk mengucapkan dua kata saja rasanya begitu sulit.
Astaga Rizwan, ayo kendalikan dirimu!
Rizwan bergerak menarik kursi untuk ia duduki.
"Apa kau suka ikan goreng?" Taani bertanya.
Rizwan mengangguk mantap, terlebih saat matanya menatap sekumpulan ikan yang tidak berdosa itu tergolek di atas piring. Dengan warna hitam di setiap sisinya. Astag ini bukan ikan goreng.
lebih tepatnya ikan gosong.
Aku akan memakan apapun yang dimasak oleh istriku!
Keduanya makan dengan diam hanya terdengar bunyi sendok yang beradu dengan piring.
Setelah makan malam dengan keheningan Rizwan berjalan menuju kamar. Mengunci pintu menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur mengambil benda favorit yang tidak pernah bosan ia pandangi itu.
Aku sungguh tidak bermimpi kan?
Aku kembali bisa melihat senyumanmu. Ada apa dengan wajahmu, kenapa tidak pernah hilang rona kecantikan yang membuatku seperti orang gila.
Kembali mengusapkan ibu jarinya di wajah yang seolah benar-benar sedang tersenyum padanya.
Ya Tuhan, ada apa dengan dadaku!!. Rizwan menyentuh dadanya yang terasa bergemuruh.
flashback.
Taani ter lonjak saat pintu kamarnya di ketuk.
Tak ada niatan untuk membuka pintu, wanita itu masih marah hatinya masih belum bisa bersahabat dengan takdir yang seolah sedang mempermainkannya.
Setelah tak terdengar suara di luar sana.
Taani beranjak dari tempat tidurnya, menatap nanar keluar jendela.
menghela nafas pelan.
Ya Tuhan aku sungguh berdosa.
Maafkan aku.
Aku yang menyetujui pernikahan ini.
Tidak sepantasnya aku melampiaskan kemarahan ku padanya.
Ayah, maafkan aku.
Lantas perempuan itupun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
setelah beberapa saat Taani keluar kamar menuju dapur.
Aku ingin lihat sejauh mana takdir ini terus mempermainkan ku!
Bersambung...
sukses
semangat