Berliana, seorang polisi wanita yang harus berpura-pura mencintai seorang buronan bernama Gabriel.
Saat akad nikah, polisi datang untuk menangkap Gabriel.
"SEENGGAKNYA GUE HANYA PENJAHAT BUKAN PENGKHIANAT SEPERTI LO! YANG MENJADIKAN CINTA SEBAGAI MAINAN," ucap Gabriel dengan menahan amarah yang berkecamuk di hatinya.
"Aku memang jahat, tapi apa yang kau buat ini lebih jahat. Aku yang bersalah, kenapa hatiku yang kau hukum?" tanya Gabriel dengan mata berkaca.
Mama mohon baca setiap bab tanpa menunggu tamat. 🙏🙏
Terima kasih.
Note : cerita hanya fiksi belaka, apa bila ada kesamaan kejadian atau tempat hanya kebetulan belaka. 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Pindah Ke Kota
Berliana mengambil surat-surat penting ke rumahnya. Dia juga membawa pakaian dan barang berharga miliknya. Cincin yang Gabriel belikan untuk pernikahan mereka masih di simpan dengan baik sama Berliana.
Dengan air mata yang terus membasahi pipi, Berliana berjalan menuju ojek. Namun, tidak ada satu pun warga yang mau membawanya. Mungkin takut dikucilkan di kampung jika menolongnya.
Berliana tidak putus asa, dia terus saja berjalan. Hanya karena ini, dia tidak akan putus asa. Masih ada Nicole sebagai penguat dirinya.
Tiga kilo meter dia berjalan, ada seorang bapak paruh baya yang menggunakan becak sepeda menghampirinya. Berliana kenal dia adalah salah seorang teman almarhum ayahnya.
"Nak Liana, mau kemana?" tanya Bapak paruh baya itu.
Berliana menghapus air matanya. Dia berusaha tersenyum dengan bapak itu. Tidak mau terlihat rapuh.
"Aku mau ke rumah sakit, Pak. Bapak mau kemana?" Berliana balik bertanya. Dia mendekati Bapak paruh baya itu.
"Bapak tidak kemana-mana. Biar Bapak antar kamu, Nak!" ucap Bapak itu. Dia turun dari sepedanya dan mendekati Berliana. Mengangkat tas yang dibawa wanita itu dan membawa masuk ke becak.
Air mata Berliana tumpah. Bapak itu melihat dengan tatapan heran. Dia lalu meminta wanita itu naik ke atas becaknya. Keduanya hanya diam hingga sampai di rumah sakit.
Berliana memberikan uang pada pria paruh baya itu. Namun, ditolaknya. Dia mengembalikan pada wanita itu lagi.
"Ambil saja buat jajan anakmu. Kenapa kamu bawa barang banyak begini, Nak?" tanya pria paruh baya itu.
"Aku akan pindah ke kota, Pak. Terima saja ini, Pak. Cuma sedikit," ucap Berliana dengan mengulurkan uang itu kembali.
Bapak itu menggelengkan kepalanya. Dia lalu berjalan menuju becaknya. Mengambil sesuatu dari dalam saku jaket yang tergantung di sepeda. Kembali ke hadapan Berliana, pria itu memberikan uang ratusan beberapa lembar.
"Ambil ini, Nak. Bisa buat tambah uang makan kamu," ucap pria itu.
Berliana menolaknya. Dia tahu jika pria itu hanya hidup sederhana. Pasti juga membutuhkan uang itu.
"Tidak perlu, Pak. Untuk Bapak saja. Ibu pasti membutuhkan uang itu," ucap Berliana.
Pria itu menggelengkan kepalanya dan memaksa Berliana menerima uang itu lagi. Dia tampak sangat memohon.
"Bapak banyak berhutang budi dengan Bapak kamu. Dia sering menolong Bapak. Hanya ini yang dapat beri sebagai balasan," ucap pria itu, masih memaksa.
"Bapak saya pasti menolong dengan ikhlas, tanpa mengharapkan balasan," jawab Berliana.
Bapak itu terus memaksa sampai memohon. Akhirnya Berliana dengan terpaksa menerimanya. Pria paruh baya itu mengatakan jika uang itu juga bonus dari seseorang yang dia tolong. Mungkin itu memang rezekinya Berliana yang diberikan melalui tangannya.
"Terima kasih banyak, Pak. Hanya Tuhan yang bisa membalas semua kebaikan Bapak," ucap Berliana.
Pria itu pamit dan menitip salam buat Nicole. Dia tidak bisa masuk karena harus menarik becak lagi. Berliana memandangi hingga dia menghilang dari pandangan.
Berliana lalu masuk ke rumah sakit menuju kamar rawat inap anaknya yang berada di kelas tiga. Beruntung kamar yang ditempati Nicole saat ini sedang kosong. Hanya ada dia seorang.
Nicole langsung membuka matanya begitu mendengar langkah kaki. Dia tersenyum melihat kehadiran ibunya. Berliana berjalan cepat menuju putrinya. Dia memeluk sambil mengecup rambut anak itu.
"Maafkan Ibu, meninggalkan kamu sendirian di sini cukup lama," ucap Berliana merasa sangat bersalah.
Nicole membalas dengan senyuman. Putri kecilnya itu bagai malaikat di mata Berliana. Dia selalu mengukir senyum walau hidup kekurangan. Bocah cilik itu tidak pernah sesuatu yang aneh.
"Tidak apa, Bu. Bagiku berapa lama pun ibu pergi, tidak masalah. Asal tetap kembali dengan sehat," ucap bocah cilik itu.
Berliana makin mempererat pelukannya pada Nicole mendengar ucapannya. Walau kehadiran putri cilik itu awalnya sesuatu yang tidak disengaja, tapi dia sangat bersyukur. Nicole telah memberikan warna bagi dunianya.
Dengarlah ucapan Nicole. Tidak akan ada yang mengira ucapan itu keluar dari seorang bocah berusia lima tahun. Keadaan membuat dia menjadi dewasa.
"Sekarang kamu makan dulu. Ibu belikan ayam goreng kesukaan kamu," ucap Berliana mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin menangis jika terus mendengar ucapan gadis ciliknya.
Setelah makan, Nicole dimandikan Berliana. Perawat datang memberikan obat. Tidak lama putrinya tertidur. Wanita itu ikut memejamkan mata ditepi ranjang putrinya.
Tiga hari di rawat, Nicole diizinkan pulang oleh dokter. Setelah melakukan pembayaran, dia membawa putrinya keluar dari rumah sakit.
Berliana memesan taksi yang akan membawanya menuju terminal. Wanita itu memutuskan kembali ke kota, tempat dia dan Gabriel pernah bertemu.
Semalaman Berliana telah berpikir langkah apa yang harus dia lakukan untuk kesembuhan putrinya. Dia telah memutuskan akan mencari keberadaan ayah biologis Nicole.
Sampai di terminal, wanita itu dengan anaknya langsung menuju bus yang akan membawanya ke kota. Di setiap helaan napasnya, Berliana berharap dan berdoa, Gabriel akan percaya dan mau menerima putrinya.
Nicole yang baru pertama kali menaiki Bus, menatap setiap sudutnya tanpa kedip. Dia tampak takjub. Setelah bus berjalan, barulah dia duduk.
"Ibu, kita mau kemana?" tanya Nicole akhirnya.
"Kita akan ke kota!" jawab Berliana. Dia memeluk dan mengecup pipi putrinya itu dengan penuh kasih sayang.
"Apa di kota semua yang kita inginkan ada yang menjualnya, Bu?" tanya Nicole.
"Semua yang kamu inginkan dan butuhkan ada yang menjual. Mau apa saja ada di kota," jawab Berliana dengan tersenyum.
Nicole tampak menganggukan kepala mendengar jawaban ibunya. Dia menatap wajah ibu dengan intens.
"Nanti di kota aku ingin bekerja membantu ibu mencari uang," ucap Nicole.
"Tidak perlu, Sayang. Ibu bisa mencari uang sendiri," jawab Berliana.
Nicole memeluk lengan ibunya. Dia tampak sedikit bingung. Sehingga Berliana bertanya kembali.
"Kenapa Nicole ingin membantu ibu mencari uang. Apa Nicole inginkan sesuatu?" tanya Berliana. Dia bisa membaca wajah anaknya yang kebingungan.
"Aku ingin menabung untuk membeli ayah," jawab Nicole akhirnya.
Jawaban yang diberikan Nicole membuat Berliana terkejut. Selama ini dia tidak pernah mengutarakan keinginannya untuk memiliki ayah. Dari mana dan kenapa tiba-tiba putrinya berpikir tentang seorang ayah.
...----------------...