terjadi kesalahan cerita, cerita akan di mulai dengan cerita baru. cerita ini tiba-tiba terjadi kesalahan yang tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Cinta untuk Nona Muda"
Pagi itu, Lucy berdiri di depan cermin kamarnya yang retak di salah satu sudut. Di tangannya, sebuah kotak softlens baru—masih berwarna hitam, tapi kali ini dengan ketebalan yang sedikit berbeda. Kacamata di wajahnya juga bukan yang lama. Bingkainya lebih tipis, lebih ringan, dan lensanya tidak setebal sebelumnya.
"Kau mengganti kacamata dan softlens?" tanya Lili dari atas tumpukan buku.
"Perlahan-lahan," jawab Lucy, menyisir rambutnya. Hari ini dia tidak mengepang dua. Sebagai gantinya, dia mengikat rambut hitamnya ke belakang—ekor kuda rendah yang sederhana, diikat dengan karet gelang hitam polos. "Aku tidak bisa berubah drastis dalam semalam. Itu mencurigakan."
"Jadi kau membuat perubahan kecil. Kacamata lebih tipis, rambut diikat, dan..."
"Dan itu saja untuk sekarang." Lucy memasang softlens hitamnya, menutupi mata biru Dewi Rubah di baliknya. "Aku masih Lucy si kutu buku. Hanya saja... Lucy si kutu buku yang sedikit lebih rapi."
Lili mendengus. "Kau benar-benar menikmati permainan ini."
"Setiap detiknya."
Sekolah berjalan seperti biasa. Di kelas, Kaito Fujiwara dan gengnya masih sama—berisik, santai, menguasai barisan belakang seperti kerajaan kecil mereka sendiri. Lucy duduk di tempatnya, buku terbuka, tapi matanya sesekali melirik ke arah Kaito.
Tiga hari lagi sebelum acara. Klub basket juga pasti latihan. Tapi untuk sekarang, fokusku masih pada Ren. Kaito bisa menunggu.
Saat jam istirahat, Lucy berjalan ke ruang klub musik. Hari ini latihan gabungan lagi—sesi A dan sesi B digabung untuk persiapan acara. Begitu dia masuk, tiga suara ceria langsung menyambutnya.
"Lucy! Sini, sini!" Nao melambai dari sudut ruangan.
Hari ini mereka berempat sudah seperti teman lama. Rina duduk di atas meja sambil mengayunkan kakinya, Mika menyetel senar gitar, dan Nao sibuk membuka-buka buku partitur. Lucy menghampiri mereka dengan senyum kecil—masih mempertahankan persona pemalunya.
"Eh, Lucy, rambutmu diikat hari ini?" Rina memiringkan kepalanya. "Cocok lho! Jadi kelihatan lebih segar."
"Ka-kacamata kamu juga baru ya?" tambah Mika, menyipitkan matanya. "Kelihatan lebih... ringan gitu."
Lucy menunduk, pipinya memerah—sebagian akting, sebagian lagi karena dia memang tidak terbiasa dipuji sebagai "Lucy si kutu buku". "A-ah, iya... yang lama udah rusak..."
"Bagus kok!" Nao menepuk bahunya. "Eh, tapi bentar ya. Kita kan udah latihan dari tadi. Sekarang waktunya... makeover!"
"Ma-makeover?" Mata Lucy membulat di balik kacamatanya yang baru.
"Kita bosan latihan terus! Lagian besok juga masih ada waktu." Rina sudah mengeluarkan sesuatu dari tasnya—bedak compact kecil, lip balm berwarna pink, dan... sebuah pita merah. "Sini, sini, duduk yang manis."
"A-aku—"
"Di-em aja!" Mika mendorong Lucy ke kursi. "Kamu kan temen kita sekarang. Temen-temen itu tugasnya mendadani temen yang lain."
Lucy hanya bisa pasrah. Ketiga gadis itu mengelilinginya seperti tim kecantikan dadakan. Rina mengaplikasikan bedak tipis di wajahnya—menutupi lingkaran hitam di bawah mata dan membuat kulitnya yang sebenarnya cukup putih terlihat lebih cerah. Mika mengoleskan lip balm pink muda di bibirnya—memberi sedikit warna pada bibir yang biasanya pucat. Dan Nao, dengan hati-hati, melepas ikatan rambut Lucy dan menyisirnya, lalu mengikatkan pita merah kecil di samping kepalanya.
"Selesai!" Nao mundur selangkah, mengagumi hasil karyanya. "Coba lihat cermin!"
Mika mengeluarkan cermin kecil dari sakunya dan menaruhnya di depan wajah Lucy.
Lucy menatap bayangannya. Bedak tipis itu membuat kulitnya terlihat lembut dan bersinar. Lip balm pink memberi kesan segar di bibirnya. Pita merah kecil di rambut hitamnya menambahkan sentuhan imut yang kontras dengan kacamatanya. Dia masih terlihat seperti Lucy si kutu buku, tapi sekarang... versi yang jauh lebih manis.
"Waaah, kamu sebenernya cantik lho, Lucy!" seru Rina. "Cuman butuh sedikit polesan aja!"
"Ku-kulit kamu juga putih banget sih," tambah Mika. "Jarang perawatan aja ya?"
"A-aku... nggak punya banyak waktu..." Lucy menggumam, kali ini benar-benar malu. Bukan karena pujiannya, tapi karena dia—Dewi Rubah yang biasanya justru mendadani dirinya sendiri dengan standar surgawi—sekarang didadani oleh tiga gadis manusia dan justru... menikmatinya.
Mereka baik, pikirnya. Tulus. Tidak ada motif tersembunyi. Hanya ingin membantu temannya yang culun terlihat lebih cantik.
Rasanya... hangat.
"Yaudah! Latihan lagi yuk!" Nao bertepuk tangan. "Nanti habis latihan kita pulang bareng lagi ya!"
Lucy mengangguk kecil. "Iya..."
Latihan berlangsung lebih intens hari ini. Acara ulang tahun sekolah tinggal tiga hari lagi, dan penanggung jawab klub musik mulai panik. Mereka meminta semua grup untuk tampil maksimal, dan grup Nao—yang sekarang terdiri dari tiga vokalis dan satu gitaris—mendapat giliran latihan lebih lama.
Saat latihan selesai, jam sudah menunjukkan pukul 17.30. Matahari mulai condong ke barat, mewarnai langit dengan jingga.
"Kita pulang dulu ya, Lucy!" Nao melambai dari pintu. "Kamu yakin nggak mau bareng?"
"A-aku masih ada urusan sedikit..." Lucy menggaruk pipinya. "Kalian duluan aja..."
"Yaudah. Hati-hati ya!"
"Besok kita ketemu lagi!"
Ketiga gadis itu pergi, obrolan mereka memudar di koridor. Dan Lucy, sekali lagi, sendirian di ruang klub musik.
Tapi kali ini dia tidak langsung mengambil gitar. Sebagai gantinya, dia melihat sekeliling. Ruangan itu berantakan—partitur berserakan, kabel mikrofon kusut, beberapa alat musik belum dikembalikan ke tempatnya.
"Aku harus membersihkan ini," gumamnya.
"Kau? Membersihkan?" Suara Lili di kepalanya terdengar tidak percaya. "Kau, Dewi Rubah yang punya sembilan pelayan di kastilmu?"
"Kau pikir aku suka?" Lucy mendengus, mulai merapikan partitur. "Tapi kalau aku ingin menarik perhatian Ren, aku harus terlihat seperti gadis yang rajin. Bukan pemalas."
"Kau benar-benar mengorbankan harga dirimu."
"Aku akan tagih semua ini nanti. Dengan bunga."
Dia mulai membersihkan. Menyusun partitur, menggulung kabel, mengembalikan keyboard ke sudutnya. Gerakannya canggung—jelas dia tidak terbiasa melakukan pekerjaan seperti ini. Tapi dia terus melakukannya, sambil sesekali menggerutu dalam hati.
Ini semua untuk permainan yang lebih besar. Untuk kesenangan yang lebih besar.
"Dia datang," suara Lili tiba-tiba. "Ren Arisugawa. Dia baru selesai rapat OSIS. Sekarang di ujung koridor."
Jantung Lucy berdetak lebih cepat. Bukan karena gugup—tapi karena antisipasi.
"Sekarang?"
"Sekarang. Dia akan melewati pintu ini dalam... tiga puluh detik."
Lucy melihat sekeliling dengan cepat. Dia butuh sesuatu. Sesuatu yang dramatis tapi tidak berlebihan. Sesuatu yang—
Matanya tertuju pada kotak berisi mikrofon tua di atas lemari. Sempurna.
Dia meraih kotak itu, lalu dengan gerakan yang diperhitungkan, dia pura-pura tersandung kakinya sendiri.
Brak.
Kotak itu jatuh. Isinya berhamburan. Dan Lucy mendarat dengan keras di lantai, pergelangan kakinya terpelintir dalam sudut yang—syukurlah—tidak benar-benar cedera, tapi cukup untuk membuatnya meringis.
"Ah—" Rasa sakit menjalar dari pergelangan kakinya. Lucy tidak perlu berpura-pura untuk yang satu ini. Jatuhnya memang disengaja, tapi sakitnya nyata.
Dia duduk di lantai, memijat kakinya yang terkilir. Air mata menggenang di sudut matanya—bukan karena dia menangis, tapi karena rasa sakit itu memicu refleks alami tubuhnya.
Pintu terbuka.
"Ada suara jatuh. Apa yang—" Suara itu berhenti.
Lucy mendongak.
Ren Arisugawa berdiri di ambang pintu, satu tangannya masih di gagang pintu. Dia masih mengenakan seragam OSIS lengkap dengan ban lengan. Wajahnya—seperti biasa—datar. Tapi saat mata abu-abunya menatap Lucy yang terduduk di lantai, sesuatu bergetar di sana.
Hening.
Lucy sadar apa yang Ren lihat sekarang. Seorang gadis dengan rambut hitam diikat rendah dan pita merah, kacamata tipis yang bertengger di hidung, pipi yang dihiasi bedak tipis, bibir dengan sedikit warna pink, dan mata yang berkaca-kaca karena menahan sakit. Kulitnya yang putih—yang biasanya tersembunyi di balik penampilan kusam—kini terlihat jelas, kontras dengan pita merah di rambutnya.
Dia tidak terlihat seperti kutu buku yang menyedihkan.
Dia terlihat... imut. Cantik. Rapuh. Seperti seseorang yang harus dilindungi.
"Ke-Ketua OSIS..." Suara Lucy gemetar. "A-aku... aku tersandung..."
Ren tidak menjawab segera. Dia masih berdiri di pintu, menatap Lucy dengan ekspresi yang sulit diartikan. Akhirnya, dia melangkah masuk.
"Kau bisa berdiri?"
"A-aku... aku coba..." Lucy mendorong tubuhnya dengan tangan, mencoba berdiri. Tapi begitu kakinya menahan beban, rasa sakit menjalar lagi. Dia terhuyung, hampir jatuh—
Dan Ren menangkapnya.
Tangannya yang kokoh mencengkeram lengan Lucy, menahannya agar tidak ambruk. Tubuh mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter. Ren bisa mencium aroma samar—bedak murah dan sesuatu yang manis, seperti vanila.
Dia menatap gadis di pelukannya. Mata berkaca-kaca itu menatapnya balik. Ada ketakutan di sana. Ada rasa malu. Ada sesuatu yang murni.
Kenapa aku tidak merasa terganggu? Ren bertanya pada dirinya sendiri. Dia biasanya tidak suka disentuh. Tidak suka menyentuh. Tapi gadis ini—gadis yang sama yang dia lihat bernyanyi kemarin—terasa... berbeda.
"Kau tidak bisa berjalan," katanya, suaranya tetap datar meskipun pikirannya berkecamuk. "Di mana rumahmu?"
"A-apa?"
"Rumahmu. Aku akan mengantarmu."
"A-aku... apartemen... di dekat distrik Higashi..."
"Higashi?" Alis Ren sedikit terangkat. Higashi adalah distrik elite—satu jalan dengan rumahnya. "Nomor berapa?"
"Blok... Blok 7, nomor 12..."
Ren mengangguk. Tanpa peringatan, dia membungkuk, meletakkan satu tangan di punggung Lucy dan satu lagi di bawah lututnya. Dalam satu gerakan, dia mengangkatnya.
"M-MAU APA?!" Lucy mencengkeram blazer Ren dengan panik. "Ke-Ketua OSIS—ini—turunkan aku—!"
"Diam." Suara Ren tenang tapi final. "Kau tidak bisa berjalan. Aku tidak akan meninggalkan murid yang terluka sendirian di sekolah."
"Ta-tapi—"
"Aku bilang diam."
Lucy menutup mulutnya. Pipinya merah padam—kali ini bukan akting. Digendong seperti ini oleh Ren Arisugawa, melintasi koridor sekolah yang mulai gelap... Rencana berjalan lebih baik dari yang kuduga.