Kehidupan Nadira semakin menderita sejak kejadian malam itu. Mulai dirinya yang ternyata hamil di luar nikah, di keluarkan dari kampus secara tidak hormat. Semua orang mengecapnya sebagai wanita tidak baik. Pupus sudah impiannya selama ini untuk bisa lulus kuliah dan bekerja kantoran. Yang ada dirinya harus hidup penuh penderitaan. Leon yang merupakan ayah dari anak yang di kandungnya pun tak mau bertanggung jawab.
Hingga pada akhirnya kedua orang tua Leon tahu kelakuan anaknya. Mereka terpaksa menikahkan Leon dengan Nadira. Setelah menikah pun kehidupan Nadira jauh lebih menderita dari sebelumnya, karena Leon memperlakukannya dengan buruk.
Suatu hari mantan kekasih Leon yang bernama Vanesa meminta kembali menjalin hubungan dengannya. Hampir setiap hari Leon dan Vanesa bermalam bersama di rumah yang sama dengan Nadira. Hati Nadira semakin sakit saat melihat kemesraan mereka. Biar bagaimana pun Leon adalah suaminya dan tak pantas berselingkuh di depan matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menantu idaman Bu Salma
Nadira terbangun saat mendengar alarm dari ponselnya berbunyi. Sudah biasan baginya bangun pagi setiap harinya. Perlahan ia beranjak dari atas ranjang lalu bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Nadira merasa jika ia tak bisa berdiam saja di rumah itu. Biar bagaimana pun ia tinggal menumpang. Sudah sepantasnya ia bantu-bantu disana. Nadira keluar dari kamarnya lalu pergi ke dapur. Ia melihat Bi Ijah yang sedang memasak nasi.
''Bi, biar saya bantu,'' ucap Nadira sambil menghampiri Bi Ijah.
''Tidak usah, Non. Lebih baik Non Nadira istirahat saja,'' ucap Bi Ijah.
''Ayolah, Bi. Kali ini saja izinkan saya yang memasak.'' Nadira menampakan wajah memelas.
Bi Ijah tak tega melihat Nadira yang sepertinya sangat ingin memasak. Apalagi Bi Ijah tahu jika saat ini Nadira sedang hamil. Mungkin saja keinginannya memasak itu atas kemauan anaknya.
''Baiklah, tapi Bibi bantu ya,'' tawarnya.
''Tidak usah, Bi. Saya bisa sendiri kok.'' Nadira mencoba meyakinkan Bi Ijah bahwa ia bisa memasak tanpa di bantu.
''Baiklah, kalau begitu Bibi akan mengerjakan pekerjaan lain. Kalau ada apa-apa Non panggil Bibi saja ya,'' pintanya.
''Siap, Bi.'' Nadira mengacungkan satu jempolnya.
Nadira senang karena akhirnya bisa memasak. Ia membuka kulkas, melihat menu apa saja yang ada disana. Dengan keterampilannya ia memasak menu sesuai bahan yang ada di dalam kulkas.
Bu Salma yang baru keluar kamar menghhirp aroma nikmat di indra penciumannya. Bergegas pergi ke sumber aroma yang membuatnya penasran itu. Ternyata itu bau masakan yang sepertinya sangat nikmat.
''Wah menantu mamah rajin sekali. Kenapa kamu yang memasak, Nak? Memangnya Bi Ijah kemana?'' tana Bu Salma kepada Nadira.
''Tadi aku yang memaksa Bi Ijah agar mengizinkanku memasak,'' ucap Nadira.
''Harusnya kamu tidak usah repot-repot, Nak. Lagian kamu itu sekarang majikan juga di rumah ini,'' ucap Bu Salma.
''Tapi aku sudah biasa memasak, Mah. Jadi, tidak salahnya jika aku memasak pertama kalinya untuk semua orang yang ada di rumah ini,'' ucap Nadira.
''Mamah bangga sama kamu, Nak. Kamu memang memantu yang baik.'' Lalu tatapan Bu Salma beralih ke masakan Nadira. ''Wah sepertinya ini enak sekali, Nak.''
''Mamah bisa cobain dulu gih. Siapa tahu bumbunya ada yang kurang di lidah mamah,'' ucap Nadira.
Bu Salma mencoba mencicipi masakan Nadira. Baru merasakannya saja membuatnya terbelalak. Ini sungguh nikmat, bahkan lebih nikmat dari masakan yang biasa di jual di restoran.
''Nad, mamah bangga sama kamu. Kapan-kapan kamu ajarin mamah masak seenak ini ya,'' pinta Bu Salma.
''Mamah terlalu berlebihan. Iya kapan-kapan kita masak bersama, Mah.''
Kini Nadira menghidangkan masakannya di meja makan di bantu oleh Bu Salma.
Satu jam kemudian.
Semua orang sudah berkumpul di meja makan, termasuk Nadira. Namn, Nadira merasa canggung berada di antara keluarga Leon. Ini baru pertama kalinya ia sarapan bersama mereka.
''Nad, layani suami kamu!'' pinta Bu Salma.
''Tidak usah, Mah. Lagian Leon bisa ambil sendiri kok,'' tolak Leon.
''Biar saya yang ambilkan.'' Nadira mengambil nasi dan hendak menaruhnya di piring leon, tetapi Leon menepisnya sehingga nasi tersebut jatuh ke atas meja.
''Leon, jaga sikap kamu!'' tegur Bu Salma.
''Ya dianya saja yang tidak nurut. Kalau tidak ya tidak,'' kata Leon.
''Sudah-sudah, jangan ada yang bertengkar di meja makan! Lebih baik kita mulai saja sarapannya,'' ucap Pak Prayoga.
Mereka semua diam, tak ada lagi yang berbicara. Leon terlihat lahap menikmati hidangan miliknya. Begitu pun dengan Pak Prayoga yang tak berkomentar apa pun dengan makanan yang sedang di lahapnya.
''Bagaimana, Pah, Leon. Apa menu sarapan pagi ini enak?'' tanya Bu Salma sambil menatap suami dan anaknya yang duduk di depannya.
''Ini enak sekai, Mah. Cocok di lidah papah,'' jawab Pak Prayoga sambil tersenyum.
''Benar kata papah, masakan ini sangat lezat. Tumben sekali masakan Bi Ijah jadi tambah enak seperti ini,'' ucap Leon tanpa menghentikan sarapannya.
''Kata siapa ini masakan Bi Ijah. Yang masak sarapan itu Nadira,'' ucap Bu Salma.
Tiba-tiba Leon tersedak saat mendengar ucapan ibunya. Bisa-bisanya ia memuji masakan yang ternyata masakan Nadira. Sudah pasti Nadira akan besar kepala dan mengira jika ia menikmati makanan itu.
Leon mengambil gelas miliknya dan meneguk habis air minumnya. ''Leon duluan, sudah tidak berselera lagi makan masakan dia. '' Leon sedikit melirik Nadira.
Nadira hanya tersenyum kecil. Ia tahu jika saat ini Leon merasa mau pada dirinya karena tadi dengan jelas memuji masakannya.
''Nad, lanjutkan saja sarapanmu! Tidak usah pedulikan Leon. Paling dia malu setelah tadi memuji masakanmu,'' ucap Bu Salma.
''Baik, Mah,'' jawab Nadira.
...
...
Brak brak brak
Nadira yang berada di kamar terlihat kaget saat mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya dengan begitu keras. Ia memegangi dadanya sambil mengatur napasnya. Entah siapa yang berani mengetuk pintu sekeras itu, ia pun tak tahu.
Cklek
Nadira membuka pintu kamarnya, melihat Leon berdiri disana dengan santainya.
''Apa Kak Leon tidak memiliki tata krama saat mengetuk pintu?'' tanya Nadira.
''Tidak usah mengaturku! Lebih baik Lo cepat ikut! Mamah dan papah sudah menunggu kita di ruang keluarga,'' ucap Leon.
''Baiklah.'' Nadira keluar dari kamar, mengikuti Leon yang sudah melangkah duluan.
Bu Salma mempersilakan Nadira dan Leon untuk duduk. Kebetulan memang ada hal yang ingin ia sampaikan. Ini menyangkut hadiah pernikahan yang akan di berikan untuk anak dan menantunya.
''Leon, Nadira, ada yang ingin mamah sampaikan. Jadi, mamah dan papah sudah menyiapkan sesuatu untuk kalian,'' ucap Bu Salma sambil sedikit melirik suaminya yang duduk di sebelahnya. Lalu memberikan kotak kecil yang sedang di pegangnya kepada Leon.
''Apa ini?'' tanya Leon sambil menatap sebuah kotak kecil yang sudah berada di tangannya.
''Buka saja! Nanti juga kamu akan tahu isinya,'' sahut Pak Prayoga.
Leon membuka kotak tersebut dan ternyata isinya sebuah kunci. Dari bentuknya terlihat seperti kunci rumah atau pun sejenisnya.
''Kunci apa ini?'' tanya Leon.
''Itu kunci rumah baru kalian. Mulai sekarang kalian akan tinggal berdua,'' ucap Bu Salma.
''Apa? Jadi, mamah sama papah merasa keberatan jika kita tinggal disini, maka dari itu menyuruh kami tinggal di tempat lain?'' tanya leon sambil menatap keduanya.
''Leon, sebentar lagi kamu akan menggantikan papah sebagai CEO perusahaan. Jadi, kamu harus mandiri dengan cara tinggal terpisah dengan kita,'' ujar Pak Prayoga.
''Lagian dengan kalian tinggal berdua, kalian bisa lebih dekat,'' sahut Bu Salma.
Sebenarnya memberikan kado pernikahan berupa rumah itu adalah ide dari Bu Salma. Jika mereka terus tinggal disana maka hubungan Leon dan Nadira pasti akan sangat sulit untuk lebih dekat. Berbeda jika mereka hanya tinggal berdua. Bu Salma sangat berharap jika Leon bisa menerima kehadiran Nadira dan menganggapnya sebagai istri.
Leon yang tadinya tak setuju kini tampak berpikir. Mungkin memang lebih baik jika mereka tinggal terpisah dengan orang tuanya. Itu berarti ia bisa leluasa untuk menindas Nadira.
''Baiklah, Leon menerimanya. Terima kasih karena sudah repot-repot memberikan kado segala.'' Leon berpura-pura bahagia di hadapan orang tuanya. Ia melakukan itu agar terlihat meyakinkan.
Sejak tadi pikiran Nadira berkelana entah kemana. Ia merasa tak siap jika hanya tinggal berdua bersama Leon. Terlebih sikapnya yang semena-semena dan tak berperasaan.
...
hrs Leon yg minta maaf ma nadira krn bohong
g suka bila lelaki yg sudah selingkuh tetap diterima istrinya