Klara baru bangun dari koma setelah tiga tahun, anak yang dulu di kandungnya kini sudah menjadi balita yang bisa melihat hantu.
Di saat Klara ingin dekat dengan putrinya, tiba-tiba anak dari suaminya datang dan hadir di antara mereka. Membuat hubungan yang hendak dibangun menjadi sangat rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ka Umay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Gegera delivery
Kyos mendekat, dia menyangga kedua tangannya sehingga tidak menimpa Klara, ciuman ringan datang, lalu berlanjut menjadi ciuman panas, Klara mengalungkan tangannya di leher Kyos.
"Cepat mandi sana," perintah Kyos melepas ciuman, membuat Klara kecewa.
"Ini nggak mau dilanjutin?" tanya Klara dengan bibir cemberut.
Kyos ingin, tapi ia harus menahan diri karena sama-sama lelah. Klara harus istirahat, kalau sekali main maka Kyos bisa bablas hingga berjam-jam.
"Aku capek," jawab Kyos bohong, dia memang capek tapi ia khawatir Klara lebih capek.
Klara mengerti, perlahan duduk dan menurut untuk mandi tanpa membalas ucapan Kyos.
Klara memasuki kamar mandi, melepas baju satu persatu dan ia pandang dirinya di cermin. Klara mengamati wajahnya dengan seksama. Wajahnya cantik, bisa dibilang menawan tanpa riasan seperti ini. Badan Klara pun lumayan sexy, itu menurut cermin.
Dibandingkan dengan para wanita yang mendekati Kyos, sebenarnya Klara kalah jauh, pertanyaannya adalah kenapa Kyos bisa jatuh cinta pada Klara? Bahkan sampai tergila-gila dan meninggalkan tunangannya.
Klara belum pernah menanyakan pertanyaan itu, walaupun umur pernikahan mereka hampir 4 tahun, tapi momen kebersamaan mereka hanya sedikit, itu akibat musuh Kyos yang ingin membalas dendam. Jadi mungkin bisa dibilang umur pernikahan mereka baru sekitar satu tahun. Dan itu tanpa perkenalan.
"Sayang! Cepat mandinya! Mas lapar, buatkan mas makan!" teriak Kyos dari balik pintu kamar mandi.
"Iya bentar!" jawab Klara.
Kebiasaan lama Klara, mandi untuk tempat melamun. Walaupun Klara sudah telanjang dari tadi tapi belum ada setetespun air mengenai tubuhnya.
Klara mandi cukup lama, sampai akhirnya ia keluar dengan melilitkan handuk di dada. Ia mendapati Kyos masih berkutat pada ponselnya, tak memandang Klara sama sekali.
"Aku dah pesen makanan, sebentar lagi delivery nya dateng," ucapnya tanpa memandang Klara, masih fokus pada ponsel.
Klara terkejut dan buru-buru mengenakan baju.
"Jangan mas, please batalin!"
Kyos memicingkan alisnya kemudian memandang Klara tak mengerti.
"Kenapa?"
"Kamu mau perang dingin sama Paman lagi?" tanya Klara.
"Emang apa hubungannya sama Paman?"
"Bibi pasti udah masak buat kita, kalau Mas pesen dari luar sama aja nggak menghargai Bibi. Nggak menghargai Bibi sama saja nggak menghargai Paman."
Kyos terlihat terkejut dengan penjelasan Klara. "Kenapa nggak bilang dari tadi?"
"Aku mau bilang waktu selesai mandi,"
Kyos tepuk jidat, dia meraih ponselnya untuk membatalkan delivery.
Tapi semua terlambat, "Klara! Kamu pesen delivery ya?" teriak paman dari pintu kamar.
"Ii...ya Paman, udah dateng ya..?" tanya Klara terbata-bata.
Klara melirik ke arah Kyos, tapi Kyos hanya mengangkat bahu. Klara segera melangkah keluar kamar diikuti oleh Kyos.
Paman menyerahkan makanan itu dengan wajah marah, sementara Bibi terlihat sedih dan membereskan makanan yang sudah ia siapkan di meja makan.
Dengan berat hati Klara menerima bungkusan makanan yang Paman ulurkan kepadanya, "Aku pikir Bibi nggak masak." Klara mencoba membela diri.
"Bibimu selalu antuasias menyambutmu. Tapi kenapa kamu malah pesan makanan dari luar? Apa kamu biasa makan enak di rumah suamimu sampai tidak mau makan masakan Bibimu lagi?"
Klara semakin tertunduk, "maaf ... Klara nggak bermaksud seperti itu."
"Paman ... Sebenarnya yang pesan makanan itu saya." Kyos mencoba memotong kemarahan Paman pada Klara.
Tatapan Paman berpindah ke Kyos, lalu kembali ke Klara. Setelah itu Paman membuang muka.
"Mentang-mentang kamu kaya, seenaknya tidak menghargai masakan orang tua, keluarga ini memang tidak sepadan dengan keluargamu. Seharusnya kamu tidak pernah menikahi Klara kalau kamu tidak bisa menyusuaikan diri!" bentak Paman.
Klara melihat tangan Kyos mengepal, Klara tau suaminya menahan amarah. Menurut Klara ucapan paman sudah keterlaluan tapi apalah dayanya. Klara tidak bisa melawan paman kalau tidak mau dibilang anak durhaka.
Paman pergi meninggalkan mereka.
"Sabar Mas, maafin Paman ya....?" Klara mengelus punggung Kyos.
"Kalau dia bukan Pamanmu, aku pasti sudah memakinya," ucap Kyos sebelum masuk kamar.
Sebelum Klara mengikutinya aku menghampiri Bibi dan meminta maaf. Serta memberikan delivery makanan itu ke Bibi.
"Iya Bibi nggak papa, Bibi ngerti," jawab Bibi ketika Klara berkali kali bilang maaf.
"Makasih ya Bibi udah pengertian." aku memeluk bunda.
"Suamimu pasti lapar, cepat bawakan dia makanan."
Klara hanya mengangguk dan mulai menata makanan untuk Kyos. Klara sering mendengar dari sepupunya Vina, dia sudah menikah lebih dulu dari Klara. Dia pernah bercerita mengenai suaminya yang tidak bisa akur dengan ayahnya. Bahkan untuk hal-hal sepele mereka berdebat. Klara tak menyangka hal seperti itu akan terjadi antara Kyos dan paman.
Klara membawakan makanan ke kamar, ia terkejut melihat Kyos bersiap-siap meninggalkan rumah.
"Aku sudah beli apartemen yang dekat dari sini, cepat kemasi barang-barangmu kita pergi malam ini juga," ucap Kyos sembari mengancingkan kemejanya.
Klara meletakkan nampan berisi makanan itu di atas meja rias. Masalah akan bertambah runyam jika mereka meninggalkan rumah sekarang.
"Mas, Paman itu cuma marah sebentar. Aku mohon ucapannya jangan diambil hati." Klara menarik tanggannya ke dalam genggaman Kyos.
Kyos memandang Klara sebentar lalu mendesah. "Ucapan pamanmu sudah keterlaluan, kamu tau itu 'kan?"
"Aku tahu, tapi kalau kita pergi seperti ini masalah sama Paman tidak akan pernah selesai, kita cuma seorang anak. Menghormati orang tua adalah kewajiban. Aku mohon besok kita minta maaf ke Ayah ya?"
Wajah Kyos terlihat berat, "padahal dia bukan ayahmu. Dia cuma pamanmu, tapi kenapa dia sangat berlebihan?"
Kali ini Klara yang mendesah, ia benar-benar tidak suka dengan ucapan Kyos, karena bagaimanapun Paman sudah seperti ayahnya yang telah membesarkan Klara dengan penuh kasih sayang.
"Bagaimanapun Paman sudah seperti orang tuaku, kalau kamu memang mencintaiku mas. Tolong hormati beliau."
"Kenapa kamu bicara seperti itu, kalau aku tidak menghormatinya sudah dari tadi aku membalas ucapannya. Oke besok kita minta maaf tapi setelah itu kita pergi dari sini."
Klara mengangguk setuju.
Walaupun berat, keesokan harinya paman mengizinkan mereka untuk pergi, beliau juga sudah memaafkan mereka. Ketika mereka keluar rumah untuk masuk ke dalam mobil. Lagi-lagi Klara mendengar suara seruling alias rumor yang disebarkan Bude Watini. Tapi kali ini Kyos juga mendengarnya.
"Kalian tau nggak. Sebenarnya Klara itu cuma nikah siri. Di sini nggak ada yang tau kan kapan mereka nikah, kemungkinan Klara cuma dijadikan istri kedua. Suaminya aja ganteng banget kayak gitu, jadi nggak mungkin kalau istrinya cuma satu, kalian ingat juga kan kalau maharnya sampai 700 juta, bisa-bisanya ya Klara kayak gitu." kali ini seruling yang dia tiup cukup menyebalkan.
"Maafin saya, kalau kali ini saya mau bunuh orang lagi," ucap Kyos ketika geram mendengar ucapan Bude Watini. Klara mencegah Kyos menghubungi bawahannya yang biasa dia perintahkan untuk membunuh orang.
"Jangan Mas, biar aku aja yang ngasih pelajaran buat orang itu, ayo masuk mobil dulu ntar Paman sama Bibi tahu dan ikut sakit hati denger omongan Bude Watini."
Mereka masuk ke dalam mobil dan melajukan dengan kecepatan sedang.
"Gimana kamu ngasih pelajaran ke orang itu?" tanya Kyos.
"Liat ini." Klara memperlihatkan layar ponselku padanya. Dia memperhatikan dengan seksama.
Klara membuka sosmed, lalu menaruh komentar di setiap status Facebook Bude Watini, dia membahas semua aib Bude Watini yang selama ini ditutup-tutupi.
Sebenarnya, Bude Watini adalah pelakor.
"Cuma seperti itu? tidak mungkin dia jera." Kyos protes.
"Yang penting efeknya kan?"
Kyos memicingkan sebelah alisnya. Tidak puas. "lain kali biar Mas aja yang ngasih pelajaran."
nyimak aah