Bermodal paras cantik dan tubuh yang indah. Gendhis, bukan nama aslinya. Bertahan hidup dengan bekerja sebagai koki di sebuah hotel bintang lima. Namun, sesuatu hal yang tak terduga terjadi padanya, hingga Gendhis bertekad untuk mengambil pekerjaan sampingan sebagai "teman kencan semalam" tamu-tamu VIP hotel Pacifik.
Narendra Arjuna Guinandra, pengusaha di bidang perhotelan dan pariwisata yang terobsesi untuk menyewa jasa Gendhis. Berapa pun budget yang dia keluarkan, dia tidak perduli. Asalkan gadis itu tetap berada dalam genggaman dan menuruti segala perintahnya.
Sebuah fakta terungkap, membuat Narendra terperosok semakin jauh ke dalam dendam dan kebencian atas kejadian yang tidak pernah dilakukan oleh Gendhis. Hingga gadis itu harus berjuang untuk sebuah kepercayaan yang menyakinkan hati seorang Narendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najwa Camelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulanglah dulu
Happy reading..
Tiba-tiba terdengar derap langkah yang semakin mendekat ke arah Gendhis, suara sepatu yang beradu dengan debaran jantung gadis yang terduduk sedang menunggu di depan ruang operasi. Nampak sekali wajahnya yang begitu cemas. Tangan dan kakinya terasa dingin sejak ruang operasi itu tertutup rapat. Rasa takut kehilangan Ibunya, membuat hati Gendhis tidak tenang. Dia membuang jauh-jauh pikiran buruk yang terjadi di dalam ruangan itu, dimana Ibunya sedang menjalani operasi.
Menit telah berganti jam, tubuhnya lelah. Hingga kedua matanya terpejam. Entah sudah berapa lama, Gendhis terlelap dengan menyandarkan tubuhnya di kursi besi itu.
"Naya," suara yang sudah tak asing lagi di telinganya.
Perlahan gadis itu membuka matanya, kemudian menoleh mencari sumber suara.
Gendhis terkesiap. Entah sudah berapa lama, laki-laki yang memakai jas putih itu telah berdiri tepat di hadapannya.
"Dokter Darius," sapa Gendhis.
Wajah lelahnya pun tidak dapat menutupi ketampanannya. Gendhis menatap Dokter Darius, yang merawat Ibunya selama ini. Hanya dia satu-satunya Dokter yang dia kenal baik. Dokter yang merawat Ibunya dengan sangat sabar dan baik.
"Alhamdulillah, Naya," Dokter Darius tersenyum ke arahnya.
Gendhis langsung beranjak dari duduknya, mensejajarkan berdiri di depan Dokter Darius.
Gendhis tidak pernah mengetahui bahwa Dokter Darius adalah pewaris rumah sakit itu, dia akan menggantikan kakeknya sebentar lagi. Hanya menunggu hitungan hari saja, Dokter Darius akan menjabat sebagai owner Premier Hospital.
"Bagaimana dengan operasi Ibu saya?" tanya Gendhis, ingin segera mengetahui kondisi Ibunya.
Dokter Darius menyunggingkan sudut bibirnya kembali. "Operasinya Alhamdulillah berjalan lancar. Kita hanya tinggal menunggu proses pemulihannya saja, semoga semuanya baik-baik saja," Pria yang berjas putih itu, mengelus pundak Gendhis.
"Alhamdulillah, Ya Alloh. Engkau telah mengabulkan doa-doa hamba," perasaan lega seketika menyelimuti hati Gendhis, yang tanpa sadar dia menjabat erat tangan Dokter tampan itu, lalu mencium punggung tangannya sebagai rasa terimakasih dan hormat nya pada Dokter Darius yang selama ini telah banyak membantunya dalam pengobatan Ibunya.
"Pulanglah dulu, untuk beristirahat sejenak. Kamu juga butuh pemulihan tenaga," ucap Dokter Darius menyarankan pada Gendhis.
"Tapi, Dok," Gendhis ingin membantah ucapan Dokter Darius, karena dia hanya ingin selalu berdekatan dengan Ibunya. Bayang-bayang buruk masih menyelimuti hati dan pikirannya.
"Masih ada perawat yang menjaga Ibu kamu. Jika ada apa-apa, mereka bisa langsung menghubungi kamu," Dokter Darius menatap intens pada wajah Gendhis.
Sadar wajahnya sedang diperhatikan oleh Pria di depannya. Refleks, gadis itu langsung menundukkan kepalanya, menghindari dari tatapan Dokter Darius.
"Kenapa dengan wajahmu, Naya?" pertanyaan itu akhirnya dilontarkan juga oleh Dokter Darius pada Gendhis.
"Tidak apa-apa, Dok. Mungkin saya kurang tidur saja," Gendhis memberikan alasannya.
"Kurang tidur? Betulkah?" Dokter Darius masih merasa ada yang disembunyikan oleh gadis yang berdiri di hadapannya itu.
"Iya, Dok. Tadi sebelum ke sini, saya harus kerja lembur dulu. Jadi ya begini, kurang tidur," jawab Gendhis masih ngeles. "Oh, ya, Dok. Saya mau ke kamar mandi sebentar, mau cuci muka dulu biar segar," cengir Gendhis, segera berlalu dari hadapan Dokter Darius. Dia takut bila berlama-lama dengan Dokter tampan itu, bisa ketahuan apa yang telah terjadi pada dirinya semalam.
-
-
-
Narendra memasuki lobby Hotel Pasific dengan suasana hati yang buruk. Dia berjalan ke arah lift, lalu masuk ke dalam lift dan memencet angka lima menuju ke ruangan Tyaga.
Tanpa bertanya pada petugas resepsionis Narendra langsung menuju ruangan pemilik Hotel Pasific itu. Kehadirannya sempat membuat mata kaum hawa menatap dengan tatapan berbinar.
"Lumayan untuk penyegaran mata," celetuk petugas resepsionis dengan tag name di dadanya, Yuliana.
"Hahaha.. Benar-benar, walaupun tidak ikut memiliki, bisa memandangnya saja sudah bersyukur. Menikmati Ciptaan-Nya," kekeh Rihana menimpali.
Ceklek..
Suara pintu berbahan kayu itu telah dibuka seseorang dari luar ruangan.
Narendra langsung masuk ke dalam ruangan yang bernuansa klasik.
"Untuk siapa uangmu, hingga kau bekerja selarut ini!"
Ucap Narendra mengambil tempat duduk di sofa yang berada di dalam ruangan itu.
"Hei, kapan datang, kawan? Kenapa kau tak mengabari ku terlebih dulu?" Tyaga mematikan layar laptopnya. Lantas berjalan menghampiri Narendra, kawan lamanya dan ikut duduk di sofa.
"Apa perlu aku buat janjian dulu, baru bisa menemui seorang Tyaga," cibir Narendra.
"Angin apa yang membawamu ke sini? Tumben mau menginjakkan lagi ke Hotel yang penuh kegilaan?" tanya Tyaga langsung pada tujuan Narendra datang ke Hotel nya.
"Santai, kawan. Slow down!" kata Narendra, menanggapi ucapan Tyaga.
"Aku bisa menebak kedatangan kamu ke sini, Narendra! Pasti ada orang yang berani bermain dengan Keluarga Guinandra!" tebakan Tyaga tidak pernah meleset.
Tyaga menatap Narendra dengan tatapan penuh selidik.
"Good, Tyaga. Kamu selalu bisa menebak kedatangan ku kemari!"
"Kita berteman dari kecil, Narendra. Aku sudah hafal betul, sifat kamu. Apalagi berhubungan dengan kakak perempuanmu itu. Jiwa iblis mu pasti keluar, jika ada yang menyakiti Nindy," ujar Tyaga.
Narendra menatap tajam ke bola mata Tyaga, kemudian menghela nafas dalam.
"Apa pekerjamu yang di lantai VVIP, ada yang bernama Dewi Nayaka Arzaquna," Narendra langsung ke pada tujuannya.
Terlihat Tyaga seperti berfikir sejenak, lalu menjawab pertanyaan Narendra. "Tidak ada."
"Jangan menutupi identitas karyawanmu, Tyaga!" suara Narendra mulai meninggi.
"Aku tidak menutupinya, Narendra. Memang tidak ada nama itu di daftar karyawan di lantai VVIP!" jawab Tyaga tegas.
"Siapa sebenarnya yang sedang kau cari," tanya Tyaga menatap Narendra penuh dengan kecurigaan.
"Semalam Heru mentransfer dalam jumlah besar pada nomor rekening Hotel Pasific dan nomor rekening atas nama Dewi Nayaka Arzaquna!" lantang Narendra.
-
-
-
Rasa capek yang menderanya membuat otot-otot nya terasa kaku. Gendhis melempar tubuhnya ke atas ranjang yang sudah tidak empuk lagi. Memejamkan matanya sesaat. Ia merenungi ujian yang bertubi-tubi datang padanya. Kenapa masalah datang silih berganti, hampir lima belas menit, dirinya merebahkan tubuhnya. Lantas bangkit dan melepas kemeja juga celana jeans yang sejak semalam dipakainya.
Dia menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri, untuk meluruskan saraf-sarafnya agar tidak tegang. Setelah berolahraga sedikit, dia berjalan ke kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya dengan air agar menjadi segar. Bau keringat yang menempel di tubuhnya berganti dengan bau harum sabun yang dipakainya.
Selesai membersihkan dirinya, Gendhis memakai handuk yang dililitkan pada tubuhnya sebatas dada dan pahanya. Keluar dari kamar mandi dengan mengayunkan langkahnya santai. Mumpung dia bisa beristirahat sejak hari ini.
Ketika akan mengambil baju dalam lemari, Gendhis dikagetkan dengan seseorang yang tiba-tiba berdiri di belakangnya. Dan membisikkan sesuatu tepat di telinganya. "Berapa harga tubuhmu dalam semalam?"
Gendhis langsung terjingkat dengan cepat membalikkan tubuhnya. "Siapa kau?" hardiknya.
🍁🍁🍁
dan semoga nayaka berbahagia dengan ...... tuan gapian . yesss 😍
ganbatte, nay 💪💪💪
di novel aja ada judulnya tuh
CINTA DAN DENDAM
atau
CINTA DI ANTARA DENDAM
atau
MENIKAH KARENA DENDAM
awalnya mah dendam, nay.... eehhhh ujung ujung nya duit ...ehhh salah 😅
ujung ujungnya cinta lahhh
kaya miskin
cantik jelek
....... bukanlah suatu patokan akan hadirnya cinta dan kemana cinta akan bermuara .
jadi .... jangan pesimis, nay ..... 💪😁