NovelToon NovelToon
ADORABLE FRIENDSHIP

ADORABLE FRIENDSHIP

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:544.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: destiara kim

Berawal dari motor yang rusak mendadak, hingga akhirnya bertemu dengan sang pujaan hati. Banyak kenyataan pahit yang harus dialami oleh Devan dan Elina. Terjerat dalam hubungan friendship membuat Elina tak bisa berbuat banyak. Apalagi dengan kedatangan Juna, seseorang dari masa lalu Elina, yang semakin melebarkan jurang perpisahan Elina dan Devan. Serta beberapa kebohongan yang diciptakan Devan semakin mengacaukan semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon destiara kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6.6 What's Wrong

Akhir-akhir ini, Raya semakin menjauh dari Elina. Bahkan, Raya juga sengaja bertukar tempat duduk dengan Ririn, untuk sekadar mogok bicara dengan Elina. Astaga! Ada apa sih ini? Ternyata Raya benar-benar marah sama Elina.

Pintu kelas diketuk tiga kali. Membuyarkan konsentrasi guru bahasa inggris itu dalam menerangkan materi. Pintu yang hanya tertutup setengah itu kini menampilkan sosok yang sangat Elina kenal.

"Excuse me, sir, I have business with Elina to pick up journals outside of school."

Astaga! Itu Devan. Elina memandang Devan bingung. Elina meminta penjelasan Devan lewat sorot matanya.

"Elina, please follow his. I allow it," ucap guru bahasa Inggris itu.

"Yes, sir! Excuse me," pamit Elina.

DEG!

Elina segera bangkit dan berjalan menghampiri Devan. Namun, sebelum sempat menutup pintu, Elina sekilas melirik Raya. Terlihat Raya sedang memberinya tatapan tajam. Setelah berhasil keluar dari kelas dan menutup pintu, Devan segera menyambut Elina dengan senyum riangnya.

"Ada apa, Dev? Ada masalah?" tanya Elina.

"Jurnal kegiatan bakti sosial kita tertinggal di desa terpencil itu. Kita harus mengambilnya sekarang," jawab Devan langsung pada intinya.

"Kita? Gak ada yang lain?" tanya Elina.

"Aku kan ketuanya, jadi ini menjadi tanggung jawabku," jelas Devan.

"Terus kenapa ngajak aku?" tembak Elina. Devan menggeretakkan gigi bagian atas dengan gigi bagian bawahnya.

"Ya…kalau kamu mau," ucap Devan.

Elina tampak menimbang-nimbang. Ini juga menyangkut dirinya. Berhubung dia anggota bakti sosial, sudah sewajarnya Elina membantu Devan untuk mencari keberadaan jurnal itu. Dengan pasrah, Elina menganggukkan kepalanya.

"Ya udah ayo," sahut Elina.

Devan mengangguk lantas menarik senyum simpul. Dengan cepat, Devan menggenggam tangan Elina. Hangat sekali. Hingga hangatnya menjalar ke hati Elina. Entah dinamakan apa sebongkah rasa bahagia yang sedang melapisi hatinya saat ini. Tepat saat itu juga, Raya melihatnya. Raya yang saat itu akan membuang sampah plastiknya kini terpaku seketika. Diremasnya sampah plastik itu kuat-kuat.

Dengan kekesalan yang mencapai maksimum, dibuangnya sampah itu pada sebuah tong berwarna kuning. Hatinya begitu tercacah-cacah. Seperti daging yang akan dimasak menjadi sate.

"Hei kunyuk, buanglah sampah pada tempatnya!" marah sesosok laki-laki, yang entah datang dari penjuru mana.

"Diam!" kesal Raya.

"Seseorang kayak kamu ini memang harus kena sanksi," ucap laki-laki itu.

"Sanksi apa? Jangan macam-macam!" kesal Raya.

"Sanksi karena sudah melanggar aturan!" ucap laki-laki itu.

"Memangnya siapa kamu? Apa perihal kamu ngelarang-larang aku? Pacar bukan suami juga bukan!" keluh Raya. Laki-laki itu memajukan tubuhnya.

"Aku…Delana, salah satu osis di sekolah ini dan juga wakil ketua bakti sosial yang berpengaruh di sekolah ini serta pengurus komunitas pecinta lingkungan di luar sekolah ini," bisik laki-laki itu di telinga Raya.

"Sepertinya aku pernah mendengar nama itu," ucap Raya.

"Eh astaga! Ah iya, kamu temannya Kak Dev kan? Ayo ngaku!" Raya meloncat heboh.

"E-eh, ya jelaslah, aku kan terkenal. Jadi semua orang tahu siapa aku," ucap Delana.

"Yang populer itu bukan kamu ya, tapi Kak Dev!" sanggah Raya.

"Iya deh. Dasar bocah," cibir Delana.

"Aku masuk kelas dulu ya, salam buat Kak Dev," ucap Raya seraya berlalu.

Hampir saja jemarinya menyentuh knop pintu, jemari tangan Delana sukses mencengkeram tangan Raya. Raya tak memberontak, karena semakin memberontak, cengkeraman Delana akan semakin kuat.

Delana segera menarik Raya ke sebuah ruangan. Rupanya itu sebuah laboratorium IPA yang sudah jarang digunakan. Dan hanya digunakan dalam keadaan kepepet saja.

"You must cleaning this laboratory. Harus bersih!" tegas Delana.

"Woy aku ke sini bayar buat sekolah ya, bukan jadi cleaning service!" sentak Raya.

"Semua sama di sini. Karena lo tadi buang sampahnya sembarangan, jadi terpaksa gue kasih sanksi," tegas Delana.

"Ya tapi kan…."

"Gak usah banyak cang cing cong deh! Cepet beresin!" suruh Delana.

Dengan wajah ditekuk, Raya melakukan perintah Delana. Namun karena Delana cerewetnya minta ampun, emosi Raya menjadi memuncak.

"Itu yang sebelah sana masih kotor."

"Nah yang pojokan itu juga masih kotor."

"Lo bisa bers…."

"LO BISA DIEM GAK SIH! BANTUIN ENGGAK, MALAH CEREWET DARI TADI!" bentak Raya.

Delana langsung terdiam seketika. Napas Raya terdengar ngos-ngosan. Dengan emosi yang masih dipuncak ubun-ubun Raya mengelap sebuah meja berdebu, lantas menghampiri Delana. Delana yang kurang cekatan pun langsung terhimpit ke dinding akibat dorongan Raya. Raya menatap tajam mata Delana. Kedua telapak tangan Raya menyentuh dinding di samping kanan dan kiri kepala Delana.

"Ini hadiah buat lo." Raya menyeringai.

"E-eh gue mau diapain nih, jangan dimesumin ya!" keluh Delana. Ia masih setia menatap wajah Raya yang seribu kali lebih menyeramkan.

"Surprise!"

Tangan kanan Raya yang tengah membawa lap berdebu itu bergerak mengelap wajah Delana. Delana pun terbatuk-batuk akibat debu yang menempel ria di wajahnya. Delana refleks mendorong tubuh Raya.

"Woy kampret, gue alergi debu, bego! Makanya gue gak bantuin lo. Sukses lo bikin gue menderita hah?" marah Delana.

Delana berbalik menghimpit Raya di dinding. Saat ini Raya dapat melihat wajah Delana yang memerah serta matanya yang menyorot tajam.

"Ini balasan karena lo udah kurang ajar," ucap Delana seraya memajukan wajahnya.

Mata Raya membelalak. Ia mengira bahwa Delana akan melecehkannya, makanya Raya berusaha memberontak. Namun, tenaganya tak mampu mengalahkan Delana.

Karena melihat wajah takut dari Raya, Delana memanfaatkan kesempatan ini. Tangan kanannya secepat kilat merebut lap berdebu itu dari tangan Raya. Kini tangan Delana bergerak mengelap wajah Raya.

PLAK!

Raya seketika menampar pipi Delana. Delana spontan memegangi pipinya.

"Aduh, skincare gue yang mahal jadi terbuang sia-sia karena lo!"

"Elo juga bikin alergi gue kumat, hatchi!" pekik Delana.

Wajah Delana terasa semakin gatal dan memerah. Disertai dengan bersin yang berulang-ulang. Raya menatap Delana nanar.

"Gue mau ke toilet aja hiks!" pekik Raya dengan air mata membanjiri pipinya.

"E-eh, tunggu!"

Delana berusaha menghentikan Raya namun tak berhasil. Raya telanjur pergi. Sementara Delana kini mematung. Merasa bersalah.

HATCHI!

"Kok gue jadi ngerasa bersalah sih! Au ah, gue mau ke toilet aja bersihin nih wajah terus ke uks, hatchi!" keluh Delana.

***

Di sisi lain, Elina berjalan mengekor di belakang Devan. Anak-anak yang kemarin bertemu dengan keduanya pun ikut menghambur ke arahnya. Devan mengulas senyum. Salah seorang anak itu ikut tersenyum.

"Kakak ada perlu apa?" tanya bocah yang kemarin teriak-teriak ketika memanggil ibunya itu.

"Jurnal Kakak ketinggalan, Dik, bisa tolong carikan?" ucap Devan.

"Tentu saja, Kak. Kemarin udah aku simpan di rumah. Ayo ikuti aku," ucap bocah itu.

Mati-matian Elina mengatur napas. Bagaimana bisa mereka betah tinggal di tempat kumuh seperti ini? Tinggal di dekat area pembuangan sampah. Ini sungguh tidak layak bukan?

Elina terus saja mengekori Devan. Sementara Devan sibuk mengekori bocah cilik itu. Bocah itu sesekali menyapa teman-temannya yang kebetulan tengah duduk-duduk di luar rumah, ralat gubuk. Ya, gubuk-gubuk itu telah mereka anggap sebagai rumah, atau bahkan sebagai satu-satunya istana nyata yang mereka punya. Bocah itu membuka pintu gedek, atau sejenis pintu dari anyaman bambu. Di dorongnya pintu reyot itu ke barat, atau lebih tepatnya ke dalam rumah.

"Silakan masuk, Kak, maklumlah kalau tidak higienis," ucap bocah laki-laki itu.

Elina meneguk salivanya susah payah. Atap rumah itu hanya tertutupi sebuah terpal panjang berwarna biru. Sementara alasnya, ia menggunakan tumpukan jerami yang telah digelari tikar rusak di atasnya untuk tidur dan untuk tempat duduk tamu. Miris. Bocah itu melangkah masuk menyusuri rumahnya. Lantas kembali membawakan sebuah jurnal dengan hati-hati.

"Ini, Kak, jurnalnya," ucap bocah itu.

Devan tampak membolak-balikkan setiap halaman dalam jurnal itu. Kertas-kertas jurnal itu masih terlihat putih bersih seperti sedia kala.

"Kami pulang dulu ya," ucap Devan. Bocah laki-laki itu menggeleng cepat.

"Jangan dulu, Kak, Ibu sudah siapin kita makanan. Yah, anggap saja sarapan."

Astaga! Hati Elina luluh sekarang. Beruntung sekali bocah ini, bisa merasakan masakan ibunya sejak kecil. Sementara Elina, sampai saat ini tak pernah sekali pun mencicipi masakan ibunya.

"Wah, pasti enak tuh. Kak Elina boleh mencicipinya?" tanya Elina setelah ibu bocah itu datang membawa senampan berisi nasi dan semangkuk sayur asem.

"Silakan dimakan aja, Nak, gak usah malu-malu. Kalau gak enak, ya dibuang saja gak papa," ucap ibu bocah itu. Elina mengambil sendok dan mulai menyeruput kuah sayur itu.

"Wah enak banget, Bu. Masakan Mama saya kalah ini," puji Elina.

"Ah jangan seperti itu, Nak. Masakan Mama kamu pasti juga enak," ujar ibu bocah itu.

"Mama gak pernah masak, Bu. Mama itu wanita karier yang gila kerja, gak bakal ada waktu buat masakin. Jadi Elina gak pernah makan masakan Mama Elina deh hehe," ucap Elina. Ibu bocah itu tertawa.

"Ya dimaklumi saja, Nak. Mama kamu walaupun begitu, pasti semua yang dia lakukan itu buat anak-anaknya. Yah meskipun caranya sedikit salah sih, namun berkat begitu kan kamu dan saudara kamu kebutuhannya selalu terpenuhi kan? Hidup layak juga," ucap ibu bocah itu. Elina tersenyum seraya menganggukkan kepala.

"Ibu permisi dulu ya, Nak," ucap ibu bocah itu. Elina mengangguk sekali lagi.

"Ibu memang cerewet, Kak, jangan dimasukin hati omongannya," celetuk bocah itu.

"Eits, jangan gitu ah. Nanti kualat loh," ucap Devan. Bocah itu meringis.

"Iya-iya," ucap bocah itu.

****

Tidak terasa, nasi berlauk sayur asem itu telah habis. Elina juga merasa tidak selahap itu sebelumnya. Namun tak bisa dipungkiri, masakan ibu bocah itu lebih enak rasanya. Terkadang ucapan orang yang bilang, "masakan rumah lebih enak daripada masakan luar" itu ada benarnya juga. Elina menepuk perutnya pelan.

"Duh, kenyang banget," ucap Elina.

"Ya iyalah, orang kamu makannya banyak banget!" cibir Devan. Elina melotot tajam.

"Masakan Ibu memang enak, Kak. Dulu sebelum pindah ke sini, Ibu pernah jadi chef di restoran. Tapi gara-gara ada orang yang gak suka sama Ibu, ibu dipecat gara-gara disabotase," ucap bocah itu.

"Dipecat?" tanya Devan.

"Iya, masakan Ibu dikasih sesuatu sama orang itu, sampai akhirnya semua orang yang makan masakan Ibu jadi keracunan. Ibu disuruh ganti rugi. Rumah kami Ibu jual dan uangnya untuk biaya pengobatan orang-orang yang keracunan itu."

Hati Elina mencelos seketika.

"Kami terkatung-katung di jalanan. Gak lama sih, sampai akhirnya kita nemuin tempat ini dan memutuskan tinggal di sini."

Oke, Elina bisa melihat air mata mulai menggenang di pelupuk mata bocah laki-laki itu.

"Kaget sih, awalnya aku hidup berkecukupan. Bisa sekolah kayak kalian. Bisa beli handphone. Bisa nge-game. Main robot-robotan. Bisa beli es krim. Hingga tiba-tiba, aku jadi gak bisa ngelakuin itu semua. Tapi aku bersyukur, aku masih punya Ibu. Seandainya saja Ibu gak ngejual rumah kami, aku pasti lagi kesepian di rumah itu. Aku gak bisa makan masakan Ibu. Aku gak bisa denger suara cerewetnya Ibu. Karena pasti, Ibu sudah dipenjara."

Setitik air mata jatuh dari pelupuk Elina. Sementara bocah itu tetap enggan menjatuhkan air matanya. Devan menundukkan kepalanya.

"Ibu segalanya buat aku."

Bocah itu menunduk. Elina menghampiri bocah itu lantas memeluknya erat. Terkadang dunia memang sekejam itu. Tapi selalu ada cara Tuhan untuk membuat kita bersyukur.

"Jadi ungkapan 'harta yang paling berharga itu adalah keluarga' memang bener ya?" ucap Devan. Bocah itu menganggukkan kepalanya.

"Bapak kamu di mana?" tanya Devan. Bocah itu menatap Devan tanpa binar mata.

"Bapak selingkuh sama orang yang sudah mensabotase Ibu, Kak. Bapak memang jahat. Bapak lebih memilih wanita licik itu daripada kami!" cetus bocah itu.

Hanya mendengar ceritanya saja, hati Elina terenyuh. Bagaimana mungkin, ada orang setega itu. Setega bapak dari bocah itu. Setega wanita licik itu.

"Ya sudah, kami balik ke sekolah dulu ya? Nanti takutnya dikira bolos," ucap Devan. Bocah itu menganggukkan kepalanya.

"Makasih, Kak, udah jadi teman curhatku," ucap bocah itu.

"Kami yang makasih, karena udah dimasakin masakan paling enak dari ibu kamu…."

Devan bangkit dari duduknya. Devan lantas memakai sepatunya yang tadi ditinggal di area yang tidak terkena tikar. Elina membuntutinya. Elina juga memakai sepatunya cepat-cepat.

Devan memberikan jurnal itu kepada Elina. Elina mengernyitkan dahi. Hingga terbentuklah perempatan siku-siku di dahi Elina.

"Kan kamu yang bonceng, jadi kamu yang bawa," ujar Devan enteng. Elina mendengus.

"Oh jadi kamu ngajak aku, supaya aku bisa disuruh-suruh?" kesal Elina.

"You are my assistant." Devan tersenyum miring.

Elina mendengus seraya memutar bola mata jengah. Ditatapnya laki-laki itu tajam.

"Iya-iya, daripada ditinggalin di sini," ucap Elina pasrah.

Sepeda motor Devan melaju. Membelah jalanan yang lumayan sepi. Entah mengapa, suara degup jantung milik Elina bisa terdengar oleh pemiliknya. Elina memegangi dadanya. Takut-takut jika jantungnya bisa loncat sewaktu-waktu. Devan melihat ekspresi wajah Elina dari kaca spion, lantas terkikik.

"Gak biasa ya diboncengin cowok ganteng?" goda Devan. Elina mendengus.

"Pede!" ketus Elina.

Devan mengegas motornya. Membuat motor itu melaju lebih cepat lagi. Tanpa sadar, dihadapannya terdapat sebuah perempatan jalan. Devan yang terkejut seketika menginjak rem, karena lampu sudah berganti merah. Diberhentikannya laju motor itu secara paksa. Satu hal yang paling Elina benci: rem mendadak. Tanpa sadar, Elina memeluk Devan. Erat sekali. Sedetik kemudian, Elina memukuli punggung Devan.

"Jail banget sih!" keluh Elina.

"Ya maaf, habisnya lampu stopannya tiba-tiba merah."

"Makannya jangan ngebut-ngebut!" marah Elina.

"Kalau gak ngebut yang ada gak nyampe-nyampe sekolah," protes Devan.

Lagi-lagi Elina mendengus. Bukan itu yang sebenarnya membuat Elina marah. Tapi tentang satu hal yang sengaja disembunyikan Elina dari Devan. Bahwa jantungnya berdegup lebih kencang saat Elina melihat Devan. Dengan rem mendadak seperti ini, Elina tidak mau Devan bisa mendengar suara degup jantungnya. Degup jantung, yang menyuarakan kata yang tak mampu Elina utarakan.

1
AnggieYuniar
aku mampir yaaa
gang jasad
gjbnbj
Halimah Nst
like 100😉
Halimah Nst
bbbbbbbb
Halimah Nst
lanjut
febry jo
bosen, alur cerita n kata2nya diulang2 terus
Natania Liu
ceritanya bagus, penyampaiannya enak. tapi kok gada yg vote? aku vote duluan dh, btw aku juga selalu tinggalin like 👍
Febriyanita N Sunai
males baca novel kayak gini perempuan nya kayak ngak ad harga diri banget udah di ijek" masih ad ngemis" untuk di cintai cih😏
Febriyanita N Sunai
kesel sama devan bego banget jdi cwo poloss bngett 😏 si el juga sama begoknya greget banget 😒
Febriyanita N Sunai
kesel sama si raya egois banget jdi cwe mentibgan diri sindri katimbang sbntr cihhh 😒
Febriyanita N Sunai
kasian banget delana 😭
Febriyanita N Sunai
agak bingung aku bcnya
Nothing
Semangat up nya kakak 🥳
Like dariku sudah melayang tuh hehe 😁

Jangan lupa feedback ceritaku yah, judulnya "Asisten Husband".

Jangan lupa tinggalkan jejak 🙏🏻☺️
Ezrahi
Hadir.. like mendarat.
mampir ya
kcandra
secara tidak langsung Devan sudah mengkhianati Eliana karna sudah Baper malah suka sama disa,,, kasihan Eliana mending cerei aja ,,,,
Ezrahi
hadir.. aku mampir kembali ☺
semangat Thor
mampir ya
kcandra
mendingan cerei aja Dr PD makan ati,,, kaya GK ada cowo lain aja
Febriyanita N Sunai: iya ihh pke mohon " lgi ih jijik 😏
total 1 replies
kcandra
akhhhh padahal pengennya selama sama eliana
Ezrahi
aku mampir untuk yang kesekian kalinya

membawa like dan komen..


semangat Thor...

mampir ya
SecretW
halooo... baca novelku yuk judulnya don't come back dengan genre comedy romantic, thankyouuu😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!