Putri Balqis yang biasa di panggil Balqis adalah gadis muda yang hidup sebatang kara.Gadis cantik dan lemah lembut yang tidak pernah tahu siapa orang tuanya karena ia hidup di besarkan oleh seorang nenek yang menemukannya saat bayi. Hingga akhirnya ia hidup seorang diri setelah sang nenek meninggal.
Muhammad Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan panggilan Baim adalah seorang pemuda yang memilih hidup di jalan daripada di rumah. Meninggalnya sang ibu dan merasa ayahnya lebih sayang pada sang kakak membuatnya menjadi pemuda pemberontak yang tidak mau di atur hingga ia memilih menjadi bagian dari geng motor.
Baim jatuh cinta pada Balqis yang telah menolongnya dari pengeroyokan yang menimpanya.
Bagaimana kehidupan keduanya selanjutnya setelah pertemuan hari itu?
Happy Reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasa Al Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUB 6 Jawaban
Balqis Untuk Baim (6)
Begini, Balqis. Saya boleh bertanya ?"
" Silahkan, Ustadzah."
"Apa Balqis sudah punya calon suami?" tanya Ustazah Jihan langsung pada inti pertanyaannya.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
"Jawabannya apa, Umi?" tanya seorang laki-laki yang menghampiri ibunya yang ada di dapur.
Tak ada suara, hanya gelengan kepala.
"Alasannya?" tanya sang anak penasaran.
" Dia merasa tidak pantas untuk menerima pinanganmu. Dia bilang dia hanyalah seorang perempuan dengan latar belakang tidak jelas. Tidak pantas bersanding denganmu."
Deg
Apa jangan-jangan hari itu dia mendengarkan apa yang aku bicarakan dengan Panji? tanyanya dalam hati.
Akbar jadi merasa bersalah telah menilai seseorang tanpa tahu orangnya seperti apa.
"Apa Umi sudah menjelaskan kalau itu tidak masalah."
"Sudah. Tapi, Balqis tetap dengan pendiriannya. Dia bilang, kamu pantas mendapatkan perempuan yang sepadan."
Akbar menghela nafas. Padahal, ia sudah tidak peduli jika nanti Panji mengatainya karena menjilat ludah sendiri. Namun, kenyataannya tidak sesuai dengan harapannya.
" Umi tidak bisa memaksa Balqis untuk menerimamu. Dia berhak untuk menentukan pilihannya sendiri." Umi Balqis menepuk pundak anaknya yang tampak murung mengetahui lamarannya di tolak.
"Iya, Umi."
Di kontrakan Balqis
" Sebenarnya apa yang kalian bicarakan tadi, Qis? Kenapa kamu jadi aneh setelah berbicara dengan Ustadzah Jihan?" Arumi menghampiri Balqis yang hanya melamun setelah sampai di kontrakannya.
"Hmm. Ustadzah Jihan meminang ku untuk Kak Akbar." Jawabnya lirih.
"Lalu apa jawabanmu?" Arumi yang penasaran langsung mendudukkan bokongnya di samping Balqis di atas tikar.
"Balqis, ayo jawab!!" teriak Arumi yang sangat penasaran namun Balqis hanya diam.
"Aku menolaknya." Jawabnya sendu.
"Kenapa ?"
" Kau dengar juga kan kemarin perkataan Kak Akbar tentangku?"
" Hmm. Jadi, karena itu ?"
"Ya."
"Lalu kenapa kamu sedih? Apa karena dari lubuk hatimu yang paling dalam kamu justru ingin menerimanya ?"
" Bukan karena itu. Aku hanya sedih memikirkan nasibku. Apakah akan ada yang mau menerimaku apa adanya. Tanpa memikirkan latar belakang ku?" tanyanya.
Belum sempat Arumi menjawab, Balqis sudah berbicara lagi. "Kau lihat kak Akbar, dia berubah hanya setelah melihatku. Itu artinya dia hanya tertarik pada wajah ini. Pada penampilan ini. Tidak dengan masa laluku yang aku sendiri tidak tahu seperti apa ceritanya."
"Sudahlah. Jodoh itu di tangan Allah. Aku yakin di luaran sana akan ada orang yang mau menerimamu apa adanya, Qis. Percayalah." Arumi menepuk pundak sahabatnya.
"Hmm.. Semoga."
"Aamiin."
...******...
"Kau sudah memikirkan apa yang kamu inginkan ?" tanya Bang Elang kepada Baim.
Malam ini hampir semua anggota ada. Sehingga markas terasa ramai.
"Sudah."
"Apa yang kau minta?" tanyanya
"Aku mau keluar dari geng motor ini. Aku harap Bang Elang mau mengabulkannya.
"Apa kamu sudah menemukan orang yang engkau cintai atau kamu mau pergi ke luar kota?."
"Apa?"
"Mereka yang keluar kebanyakan karena dia hal. Pertama, perempuan kedua pergi ke luar kota." Jelas Bang Elang.
"Hmm. Itu, aku menyukai seseorang. Apalagi saat aku di keroyok waktu itu aku berjanji pada Almarhumah ibuku akan hidup lebih baik lagi jika aku selamat. Dan aku benar-benar selamat karena bantuan perempuan itu." jelasnya jujur.
Bang Elang menarik satu sudut bibirnya.
"Minggu depan, lawanlah aku. Siapapun yang menang di antara kita, aku akan mengizinkanmu. Ini sebagai balas budiku. Karena, biasanya aku tidak akan membiarkan siapa pun keluar jika tidak bisa mengalahkan aku." Bang Elang menatap Baim dengan tajam.
"Apa tidak ada pilihan lain. Aku tidak bisa melawan Abang." Baim berharap ada pilihan lain.
"Berikan aku yang sepuluh juta jika kamu tidak mau melawanku."
"Sepuluh juta?"
"Hm..Pilihanmu hanya dua. Melawanku atau memberiku sepuluh juta. Karena aku yakin kamu tidak akan memilih melepaskan perempuan itu." Jelasnya beranjak meninggalkan Baim. "Pikirkanlah baik-baik." Bang Elang berhenti tanpa menoleh ke arah Baim.
Baim mematung.
...******...
"Abang sudah menyampaikan niat Abang pada Bang Elang?" tanya Indra yang mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia cepat pulang karena besok ada acara di kampusnya dan ia tidak boleh terlambat.
"Hmm " Baim hanya berdehem sambil melihat ke langit-langit kamar.
Walaupun hanya deheman, Indra yakin Baim sudah menyampaikan maksudnya pada Bang Elang.
"Bagaimana jawabannya? Bertarung seperti biasa?" Indra menebak.
"Ya."
"Tidak ada cara lain?," tanya Indra. Ia tahu Baim tidak akan bisa melawan orang yang dekat dengannya. Sekalipun ia mampu karena ia ahli beladiri.
"Ada."
" Apa?"
"Memberinya uang sebanyak sepuluh juta." jawabnya tanpa ekspresi.
"Se_sepuluh juta?" tanya Indra terbata. Sepuluh juta bukan uang sedikit. Bagaimana bisa Baim yang selama ini ia tahu tidak punya pekerjaan bisa memberikan uang sebanyak itu pada Bang Elang?
"Lalu apa keputusan Abang?"
"Aku lebih memilih memberikannya uang daripada harus bertarung melawannya atau melepaskan perempuan yang aku sukai." Jawabnya yakin.
" Darimana Abang mendapatkan uang sebanyak itu?"
"Aku ada simpanan. Awalnya aku tidak akan pernah memakainya. Tapi, aku rasa aku membutuhkannya saat ini."
"Abang punya?" Indra terkejut.
Indra tak pernah tahu latar belakang Baim. Ia pun tidak pernah mengorek informasi dari Baim tentang masa lalunya. Ia tidak ingin terlalu mencampuri urusan orang lain. Kecuali orang itu yang bercerita sendiri.
"Hmm"
"Aku sebenarnya terkejut dan penasaran darimana Abang memiliki uang itu. Tapi, aku juga tidak ingin terlalu kepo dengan urusan orang lain."
"Suatu hari akan aku ceritakan. Tapi, tidak saat ini. Yang pasti ini uang halal." Jelas Baim .
Indra terkekeh dengan pernyataan Baim. "sejak kapan kita memikirkan halal dan haram. Pahala dan dosa. Bukankan kita melakukan semu semua kita tanpa pernah memikirkan itu semua?"
Bain tersenyum getir. "Benar. Kita tak pernah peduli akan semua itu. Selama kita bahagia dengan apa yang kita dapatkan kita akan menikmati itu semua."
Baim merenungi obrolan mereka. Memang benar. Sudah lama ia tak pernah peduli pada dosa. Bukankah yang ia nikmati itu minuman laknat yang di haramkan? Bukankah selama ini dia pun sudah tbanyak melakukan kemaksiatan.
"Ibu, Maafkan Ibra." Lirihnya. Bahkan saking pelannya Indra tidak dapat mendengar apa yang di katakan Baim.
...******...
"Jadi, apa pilihanmu?" tanya Bang Elang.
Hari yang di tentukan tiba juga. Kini Bain kembali menghadap kepada ketuanya. Memberikan jawaban atas pilihan yang telah ditetapkan.
"Aku memilih membayar sejumlah uang seperti permintaan Abang. Aku tidak mau bertarung melawan Abang ataupun memilih melepaskan perempuan yang ingin aku miliki." Baim berkata dengan tenang. Tidak ada keraguan sedikitpun pada hatinya.
Bang Elang tertawa. "Sudah kuduga."
"Maaf sudah membuat Abang kecewa dengan keputusanku." Baim menyerahkan tas keresek berisi uang sepuluh juta.
"Hmm. Ya, kamu mengecewakanku. Aku benar-benar kecewa." Ucapnya sambil menerima kantong kresek berwarna hitam itu lalu menyimpannya.
"Abang tidak ingin menghitungnya?"
"Aku percaya padamu."
"Baiklah aku pamit." Baim melepaskan jaketnya yang merupakan salah satu atribut geng motor mereka.
"Aku akan menyimpannya baik-baik. Jaga-jaga jika kamu berniat kembali."
Baim tersenyum. "Semoga tidak pernah terjadi."
Baim pun pergi meninggalkan markas yang saat itu tidak terlalu ramai. Semua yang ada melihat ke arah Baim. Mereka paham yang terjadi tanpa harus di jelaskan.
"Bang Baim!" panggil seseorang
TBC
... ----------------...
...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...
...Terima kasih atas dukungannya...
...🥰🥰🥰...