"Aku bersumpah demi setiap tetes darah Chaca yang menyatu dengan air, demi setiap air mata yang ia keluarkan hari ini, dan demi setiap detik rasa sakit yang ia rasakan. Kau ... Devon Albara dan yang lainnya, jika suatu hari nanti kalian tahu kebenarannya, kalian akan merasakan yang namanya kematian itu lebih baik daripada hidup dalam bayang-bayang penyesalan. Dan untukmu Darent Al Jeck, semoga kau bahagia setelah menghianatiku dan memilih dia. Sekarang aku sudah tidak memiliki harapan untuk hidup, semuanya sudah terbawa bersama buih lautan darah Chaca, jadi untuk apa aku tetap tinggal di dunia ini, selamat tinggal, semoga suatu hari kita bisa dipertemukan lagi di akhirat teman-teman."
~Lisa~
"Enggak ada gunanya gue hidup, semua teman-teman gue udah pergi menyusul Chaca, dan satu-satunya orang yang gue cintain ternyata tega ingin membunuh gue karena rekaman palsu yang di buat seseorang, jadi ... selamat tinggal."
"Tidaaaakkk!"
~Lista~
__________________
JAUH JAUH SANA PLAGIAT!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cha_Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinner part 2
Author POV
Chanisa dan pelayan setianya akhirnya sampai juga di halaman depan pavilum bulan. Ia lalu memarkir sepedanya tak lupa menguncinya agar tidak hilang
Sedangkan Ba Hi Lun yang baru pertama kali menaiki sepeda, beberapa kali memuntahkan isi perutnya.
Tak tega melihat hal itu, Chaca pun memberikan sebutir obat muntah yang selalu ia bawa di kantungnya.
"Pil apakah ini putri? Apakah ini yang namanya pil tingkat dewa?" Chaca sontak mengerutkan keningnya mendengar hal itu, karena ia bingung apa maksud dari perkataan pelayan itu.
Tak mau ambil pusing, ia pun mengiyakan saja perkataan pelayannya itu.
"Makan lalu minumlah air ini agar kau cepat sembuh," ujar Chaca sambil memberikan segelas air yang ia bawa di tas selempangnya.
"Tapi putri, saya hanyalah seorang pelayan rendahan. Saya tidak pantas menerima pil penyembuh dan air surgawi itu," kata Ba Hi Lin menunduk merendah.
"Sekali lagi kau berkata kau tidaj pantas menerima pemberian dariku, kau akan aku kembalikan ke keluargamu!" ancam Chaca bercanda.
Tentu saja ba hi lun tidak mau itu terjadi, maka dengan segera ia memakan dan menelan susah payah pil yang diberikan Chaca itu karena rasa pahit yang luar biasa.
"Bagus, sekarang ayo kita masuk," ucap Chaca lalu menarik tangan Ba Hi Lun. Jika pelayan lain yang melihat hal itu, maka sudah di pastikan akan iri dengan Ba Hi Lun yang di perlakukan layaknya teman oleh tuannya.
Ternyata teman temannya yang lain sedang menunggu kedatangan Chaca sedari tadi di depan pintu masuk Pavilun Bulan milik permaisuri.
"Chaca cepetan jalannya jangan kek siput gitu dong!" Seru ralia sebal saat melihat chaca dari kejauhan berjalan dengan santai menurutnya.
"Iya iye bacot, ini gue lari bukannya jalan, bajunya aja yang keberatan, udah gitu panjang benner lagi kek gaun pengantin," runtuk Chaca mengeluh.
"Ye, itumah alasan lo aja kampr*t, bilang aja kali kalau lo lagi-lagi ketiduran, ya kan?" kata Chalista sinis.
Chanisa yang ketahuan, hanya bisa memanyunkan bibirnya karena kesal sambil menghentakkan kakinya ke tanah berkali-kali.
Ralia menggelengkan kepalanya berkali-kali melihat tingkah Chaca yang tak pernah berubah l. "Pengawal, buka pintunya!" perintah Ralia pada para penjaga pintu masuk Pavilun Bulan
"Putri Ming Zhu Shan, Putri Xiao Luo, Putri Xiao Tien, dan Putri Xiao Lian memasuki istana!" teriak pengawal itu lantang.
____________________________________________
Di dalam istana pavilum bulan...
Permaisuri tengah mempersiapkan makan malam kerajaan yang diadakan oleh kaisar, sekaligus merayakan kembalinya putri mereka.
"Pelayan, makanannya cepat panaskan! kaisar, para selir, pangeran dan putri telah tiba," seru permaisuri kepada para pelayan istana.
Makanan segera disajikan dan telah ditata rapi diatas meja makan yang panjangnya hingga 5 meter.
Permaisuri menyambut dengan antusias mereka semua lalu kaisar, para selir, pangeran dan putri pun menduduki tempat masing masing.
Namun beberapa putri termasuk putrinya Xiao Luo belum kelihatan batang hidungnya sedari tadi.
Permaisuri sedikit cemas, hingga berjalan kian kemari di depan pintu ruang makan kerajaan untuk menunggu kedatangan putrinya.
Raja yang melihat kegelisahan permaisuri pun berseru, "Istriku, tenanglah mereka pasti akan segera datang, kudengar mereka sedang dalam perjalanan kemari. Sekarang duduklah di tempatmu sembari menunggu kedatangan mereka."
Permaisuri yang mendengar itu tak bisa membantah, jadi dengan terpaksa ia pun pasrah. Namun, pada saat ia hendak berbaik, terdengar suara salah seorang pengawal mengumumkan kedatangan orang-orang yang ia tunggu dari tadi.
"Putri Ming Zhu Shan, Putri Xiao Luo, Putri Xiao Tien, dan Putri Xiao Lian memasuki istana!"
Hampir semua orang tak begitu menganggap kedatangan Chaca dkk. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Terkecuali Permaisuri, Kaisar, Pangeran Hua Luan, Pangeran Jian Lu, dan Selir Ling yang sudah menunggu kedatangan mereka sedari tadi.
Dan pintu pun terbuka...
Semua mata seketika tertuju pada pintu masuk ruang makan kerajaan.
Tampillah 4 sosok putri yang tampak sangat cantik dari biasanya. Dengan aura mereka yang berbeda dari biasanya mampu menghipnotis semua pasang mata, sehingga suasana hening beberapa saat.
"Ekhm ekhem!"
Suara batuk kaisar mencairkan suasana dan menyadarkan semua yang terpesona terhadap putri-putrinya.
"Putriku," ujar permaisuri dan selir Ling lantas memeluk putri putrinya, kecuali selir tertua yang entah mengapa terlihat acuh tak acuh pada Zu shan(Ralia).
"Cih! lo kira gue akan sebodoh itu meminta di peluk oleh ular kobra macam lo? Gak akan! Gue bukan lagi anak yang dapat lo manfaatin seenaknya dengan kasih sayang busuk lo yang palsu itu," tukas Ralia membatin pedas pada Selir Qin.
Pangeran mahkota dan pangeran Ming Jian Lu memeluk adik-adik mereka antusias, tak terkecuali Ralia yang ikut mereka peluk.
"Waw sayang, dari mana kailan mendapatkan bahan kain yang sangat halus ini? Ini bukannya kain sutra kualitas terbaik, yah?" tanya Permaisuri sumringah.
"Em ibu, apakah kalian percaya bahwa kamilah yang membuat pakaian ini?" ujar Ralisa memastikan.
"Benarkah? Kalau begitu buatkan para ibumu ini pakaian terbaik buatan kalian," kata Selir Ling tersenyum manis saat mengangkat dagu Ralisa dengan sayang.
"Tentu saja ibu," kata Chaca tersenyum menampilkan deretan giginya yang putih.
Hal itu tidak luput dari penglihatan semua orang, mereka kaget dengan reaksi Putri Xiao Luo yang baru itu.
"Waw adikku, sering seringlah tersenyum seperti itu. Kau terlihat makin cantik dan sangat manis saja," ujar pangeran Hua Luan memuji adiknya.
Mereka pun tertawa bersama, namun bukan berarti tak ada yang iri dengan mereka
"Is, baru begitu saja kok bangga."
"Cantikan aku kali kemana mana."
"Liat saja aku bakalan balas penghinaan ini, putri ini bakal buat kalian semua malu di pesta perayaan nanti seperti yang terjadi pada tahun-tahun lalu."
Batin putri xiao jia, Ming xiao tian, dan si zu hua
"Sudah, mari kita santap makanan ini, kalian pasti lapar bukan? Ayo semuanya kembali ketempat duduk kalian," ucap Kaisar Roung Hua.
Mereka pun menyantap makanan dengan lahap. Kecuali, para anggota BlackBerry Girls.
"Sayangku xiao luo, kenapa kau belum makan juga, apakah masakan permaisuri ini tidaklah enak?" sahut permaisuri sedih melihat makanannya tak di sentuh oleh putri-putrinya.
"Bukan begitu ibunda ratu, kami tidak terbiasa memakan makanan tinggi kalori saat malam seperti ini," jawab Ralisa sedikit tak enak.
"Kalori? Benda apa itu?" tanya Jian Lu mewakili semua orang yang sama-sama kebingungan.
"******! Gue keceplosan lagi," runtuk Ralisa membatin.
Chaca dkk tak tahu mau harus menjawab apa, kalau mereka menjelaskan apa itu kalori, maka sudah di pastikan akan ada banyak pertanyaan lain yang di lontarkan oleh orang-orang.
"Lalu apa yang biasanya kalian makan? Terutama kau putriku, kau biasanya sangat suka memakan masakan kakak tertua, bahkan waktu sakit kau hanya ingin dibuatkan bubur oleh kakak tertua," tanya selir kedua heran. Ralisa lagi-lagi berada dalam situasi rumit. Tapi bagi Chaca dan yang lain, pertanyaan itu adalah penyelamat.
"E em bukan begit—" jawab Ralisa namun segera di potong oleh seseorang.
"Karena kondisi tubuh kami yang masih dalam tahap penyembuhan, maka dari itu tabib menyarankan agar kami tidak mengonsumsi makanan tinggi kalori, karena hal itu dapat menghambat kinerja penyembuhan kami," kata Chalista memberi alasan yang dibuat-buat agar si polos Ralisa itu tidak keceplosan lagi.
"Huh ... selamat," batin Ralisa lega.
"Tunggu sebentar, pelayan tolong ambilkan kami air yang telah direbus hingga mendidih," seru Chaca.
"Hei chaca, air itu untuk apa?" bisik Ralia.
"Tentu saja untuk menyiram ini." Chaca mengeluarkan 4 bungkus mie instan goreng dari dalam tas selempangnya. Ia sangat tahu bahwa kebiasaan ia dan temannya itu sama, yaitu tak suka memakan makanan berkalori tinggi jika malam hari.
Ketiga sahabatnya yang melihat itu pun langsung berebut mengambil mie instan tersebut yang tak luput dari penglihatan keluarga mereka yang lain.
"Hei adik, gege mu ini belum pernah melihat hal seperti itu sebelumnya? Apakah itu makanan? Lalu pembungkus macam apa itu?" tanya pangeran Hua Luan pada adiknya, Chaca.
"Ini—" kata Chaca terpotong.
"Akhirnya airnya datang juga, aku tak sabar memakan mie ini," lanjutnya sumringah.
"Gege hanya perlu diam dan lihat saja apa yang kami lakukan, nanti kami jelaskan."
Merekapun asik menyeduh, meniriskan, memberi bumbu instan dan mengaduk mie tersebut hingga rata dengan bumbu-bumbunya.
"Tada, mie goreng ala chef profesional telah jadi," kata chanisa tersenyum bangga. Sedangkan temannya yang lain hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu.
"Hmm, baunya sangat menggiurkan adikku. Bolehkah gege mu ini mencicipinya sedikit?" tanya pangeran Jian Lu memohon.
"Tentu saja gege, sini aku suapi!" jawab Chaca sambil menyodorkan sesendok mie dari piringnya.
Pangeran Jian Lu pun memakan makanan itu dengan semangat. Lalu detik berikutnya, ia melotot tak percaya dengan rasanya yang sangat enak.
"Enak sekali adikku, dari mana kau mendapatkan makanan seperti itu?" tanya pangeran itu lagi.
"Tentu saja kami yang membuatnya," jawab chanisa memberi kode kedipan mata kepada para sahabatnya.
"Zen juga mau mencobanya, apakah rasanya akan sama dengan aromanya yang menggiurkan?"
"Gege mu ini juga mau"
"Ibumu juga mau sayang," Sahut mereka semua tak mau kalah dari Jian Lu.
"Baiklah baiklah, kalau begitu aku akan memberikan kalian semua satu untuk mencobanya," ucap Chalista mengeluarkan satu kardus penuh dengan mie goreng instan yang telah ia keluarkan dari handphonenya di bawah meja beberapa saat lalu.
Ralia dan Ralisa pun membantu untuk membagikan mie instan tersebut kepada seluruh anggota kerajaan, termasuk para pelayan dan para pengawal agar semuanya dapat mencicipi rasa mie instan itu.
Mereka semua pun bahagia dapat merasakan makanan tersebut. Kalau bagi BlackBerry Girls sudah pasti hal itu hanyalah hal biasa bagi mereka, toh mereka sudah merasakan segala masakan restoran bintang 5 saat kehidupan mereka dahulu.
**Segitu dulu yah guys,
Cerita ini masih panjang, ini hanyalah awal petualangan BlackBerry girls
Jangan lupa di comen dan vote sebagai bentuk penyemangat author agar terus melanjutkan cerita ini
See you next time**:-)
semngat thor..
pada nunggu nih kita kita
apa ni crita mau di berhentikankah thor
kok udah habis sih 🥺🥺🥺🥺
Lagi dong, please🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Next....
Semangat buat kelanjutan ceritanya ya...
Semangat....
ih jahat banget sih🥺🥺🥺🥺