NovelToon NovelToon
Istri Tertukar Tuan Anres

Istri Tertukar Tuan Anres

Status: tamat
Genre:Pengganti / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:180.3k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Memiliki suami tampan, kaya dan mapan, serta hidupnya diratukan, adalah impian semua perempuan. Seperti Elena yang tiba-tiba berubah menjadi Elea, istri dari Anres Alvaro Tanujaya, serta ibu dari si cantik Arabella. Hidup Elena pun berubah bak seorang ratu dari negeri dongeng.


Tapi, bagaimana jika semua itu hanya pinjaman. Bagaimana jika satu saat pemilik sahnya datang, dan meminta kembali semua yang sudah dipinjamkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 06

Butuh waktu beberapa saat untuk Elena menenangkan diri dan menetralisir perasaannya kembali, sebelum ia kembali masuk ke dalam rumah kediaman Tanujaya yang super megah.

Beruntung wanita itu masih ingat dengan jelas, arah yang menuju kamarnya. Atau lebih tepatnya, kamar yang ditempatinya di rumah ini, yang mungkin memang merupakan kamar Elea yang asli. Jika saja ia tidak ingat, maka bisa saja ia tersesat. Tersesat dalam rumah sendiri adalah hal yang sangat lucu sekali.

Dan langkahnya terhenti saat di salah satu ruangan, dilihatnya

Arabella sedang berada di pangkuan Anres. Lelaki berbadan tegap itu mendekap sang putri di dadanya. Tangan nya membelai-belai rambut Abel dengan lembut. Tak ada kata yang terucap darinya. Sedangkan isakan pelan dan lembut terdengar dari bibir putrinya.

Indah, perempuan dua puluh lima tahun--pengasuhnya Arabella-- yang berdiri jarak lima langkah dari posisi Anres duduk, terlihat membungkukkan badan seraya mengatakan pada anak asuhnya.

"Nona kecil, mama ada di sinj. Mama tidak pergi."

Atas ucapan Indah, terlihat Arabella sedikit mendongak.

"Itu mama!" tunjuk Indah ke arah Elena yang berdiri tidak jauh dari mereka.

Arabella melepaskan diri dari dekapan papanya, dan memutar kepala ke arah Elena. Gadis kecil nan jelita itu menatap lekat pada wanita yang baru diyakini sebagai ibunya tersebut dengan diamnya. tanpa lepas, dan tanpa kata.

Dalam netra bening Arabella terangkum banyak kata yang tak bisa atau memang tidak mau untuk dilafadzkan. Namun, Elena seperti dapat merasa apa yang anak itu rasakan. Wanita itu lalu menuruti kata hati, ketika kedua tungkai melangkah mendekati. Dalam jarak empat langkah Elena berhenti. Ia menekukkan kedua lututnya di atas karpet bulu yang tebal. "Sini sana mama, Sayang." Dan kedua tangannya pun direntangkan. Siap untuk memberikan pelukan.

Arabella masih tetap bungkam dan tak melepas pandangan. Namun secara perlahan tubuhnya menggerososh dari pangkuan Anres. Ia melangkah pelan ke arah Elena, sedangkan tatapannya enggan berganti arah. Anak itu seperti sedang menjajaki apa benar ibunya tak akan pergi. Atau ini hanya iming-iming semata, seperti selama ini.

Elena memberikan senyum meyakinkan. Agar anak itu tak ragu untuk memberikan kepercayaan. Hingga tubuh mungil itu pun berada dalam rengkuhan. Elena menciumi pucuk kepalanya dengan sayang, secara berulang. Hatinya tak dapat menafikan, kalau ia sudah jatuh cinta pada Arabella sejak pandangan pertama. Sampai ia berpikir kalau mungkin alam merestui sandiwara yang ia jalankan sebagai Elea. Hingga rasa sayang yang cukup besar, hadir dalam hatinya untuk Arabella.

"Kenapa nangis, Sayang?" tanya Elena lembut, saat meraba wajah Abel yang terasa basah.

Arabella hanya menggeleng dan tak memberikan jawaban.

"Nona kecil kawatir nyonya pergi lagi." Indah yang memberikan jawaban. Menerjemahkan arti tangisan Arabella.

Mendengar itu, Elena kian mengeratkan pelukan seraya berbisik pelan. "Mama tidak akan pergi. Mama akan tetap di sini menemani Abel."

Arabella mendongak, netra beningnya menyapu wajah cantik Elena, dan kemudian senyum pun terbit di bibirnya yang mungil dan merah.

Tak ada yang Arabella katakan, tapi semua pasti bisa merasakan apa yang dia inginkan. Anak itu ingin ibunya. pasti selama ini ia sudah sering menelan kekecewaan. Karena Elea yang sering bepergian. Rasa kecewa yang terus berulang, dan tak bisa disampaikan. Dan seiring hal itu, kepercayaannya kepada sang mama kian berkurang.

"Abel sudah tenang?"

Itu pertanyaan Anres, setelah cukup lama tak terdengar lagi isakan Arabella. Batita cantik terlihat tenang dalam pelukan Elena. Sepasang matanya tidak terpejam, ia tidak tidur, mungkin ia tengah menikmati rasa dawai dalam dekapan kasih seorang ibu.

"I-iya," jawab Elena gugup. Entahlah, kenapa mendengar suara Anres saja, sudah menciptakan ritme tersendiri di jantungnya. Apalagi memang lelaki tampan itu duduk tak jauh darinya. Bahkan kini diam-diam Elena mencuri pandang ke arahnya. Ia jadi teringat peristiwa tadi, sebelum Elena terburu-buru pergi untuk mengejar Edward.

"Mungkin aku tidak akan pernah bisa melihat lagi selamanya, Elea."

Itu pengakuan Anres tadi. Yang membuat Elena sangat terkejut sekali. Bahkan ia masih cukup lama terdiam, atas sebuah fakta yang tak pernah ia duga. Fakta yang tidak diberitahukan oleh Edward sebelumnya. Dan juga tidak tercatat dalam buku panduan yang dipelajarinya demi kesempurnaan peran sebagai Elea.

Sayang sekali, lelaki setampan ini, lelaki sesempurna Andres ini, harus hidup dalam kegelapan, karena tak memiliki daya penglihatan. Keluh Elena di dalam hati.

Elena mengembuskan napas pelan. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak. Ada satu sisi dalam dirinya yang ingin segera memeluk Anres dan menguatkan jiwa lelaki itu yang pasti tengah terluka. Tapi, ia sadar, ia bukan siapa-siapa. Ia tak pantas untuk melakukan semuanya.

Sedangkan di satu sisi, ia juga merasa, Bukankah saat ini ia adalah Elea, bukan Elena. Ia adalah nyonya di rumah ini. Ia menjadi ibu dari Arabella. Dan tentu ia sedang menjadi istri Anres pula. Apa salahnya jika sandiwara ini ia selami, sekedar menunjukkan rasa empati. Teman saja, atau hanya sekedar orang yang kita kenal secara sekilas, bila ia sedang dirundung duka, yang lain dianjurkan untuk menghibur dan membesarkan hatinya. Apalagi jika itu ternyata adalah keluarga kita sendiri. Suami atau istri, Hukumnya malah menjadi wajib bukan.

Satu sisi dari Elena ber-argumentasi.

Iya, wajib. Tapi, itu dalam konteks rumah tangga yang asli. Bukan rumah tangga pinjaman seperti yang sedang dijalani oleh Elena saat ini.

Sisi lain dari dirinya menyampaikan jawabn yang berseberangan.

Hal mana membuat wanita itu kini terjebak dalam dilema. Dan jalan terakhir yang dipilih Elena, ia menyentuh punggung tangan Anres yang bertumpu di atas meja. "Sabarlah. Semua pasti ada jalan keluarnya." Elea merasa sedih dan seakan ikut kecewa, entah karena hal apa. Hingga kata-kata lembut yang mengandung kesan yang dalam itu mengalir dari mulutnya.

"Terima kasih, Elea," sahut Anres. Wajah itu masih terlihat datar dan tak terbaca. Hingga Elena tak tahu apakah Anres menyadari keaslian istri yang ada di depannya saat ini, atau tidak.

"Mm, mungkin kau butuh minum, atau apa ... aku bisa mengambilkannya." Elena berinisiatif keluar dari suasana sendu yang tiba-tiba terasa. Ia takut hatinya akan terbawa, lalu tiba-tiba memeluk Anres, yang tampannya hampir merapuhkan jiwa.

'Tidak, terima kasih. Aku hanya ingin kembali ke kamar saja." Lelaki itu membuat gerakan seperti akan berdiri.

"Perlu aku bantu?" Elena berdiri lebih dulu dan bersiap untuk memberikan tenaganya pada lelaki itu.

"Tidak." Dan lagi-lagi Anres menolak bantuan darinya. "Aku bisa sendiri. Kau keluar saja lebih dulu dari sini," putusnya.

"Eh em baiklah."

Elena memutuskan patuh saja untuk segera keluar. Sedangkan dalam benaknya terus bertanya. Apa ini sudah benar? Apa memang seperti itu interaksi Anres selama ini dengan Elea asli? Jika iya, tidakkah ini sedikit aneh. Dan jika tidak, apakah Anres akan dapat merasa kalau Elea yang ada di depannya itu bukan yang asli.

"Elea!" Panggil Anres. Dan itu memutus lamunan Elena dengan seketika, dan juga membuatnya menghentikan langkah dengan tiba-tiba.

"Iya?"

"Kau melupakan sesuatu?" Anres terlihat sudah berdiri dan menghadap ke arah Elena yang sudah hampir mencapai pintu.

"Sesuatu apa?" tanya Elena tak mengerti. Ia merasa tak meninggalkan apa pun di tempat ini. Bahkan ia keluar juga dengan tetap tak memakai alas kaki.

"Sesuatu yang biasa kau lakukan padaku," jawab Anres.

"Oh." Elena kini jadi bingung sendiri. Ia berpikir keras untuk membuat kemungkinan dengan cepat, tentang hal apa yang biasa dilakukan oleh Elena pada sang suami. "Ten-tentu saja aku tidak lupa, Anres." Wanita itu mengubah gaya bicaranya menjadi terkesan semakin akrab.

Ia lalu melangkah mendekat. Meraih tangan Anres dan mengangkatnya, kemudian mencium punggung tangan itu. Tak peduli tindakannya ini sudah benar atau tidak. Sudah sesuai dengan yang biasa Elea lakukan atau tidak. Yang penting ia hanya menuruti apa yang terbersit dalam benak. Yaitu mencium tangan Anres sebelum pergi. Bukankah itu menjadi salah satu kebiasaan istri shaliha yang berbakti pada suami.

Elena segera melenggang keluar dengan bergegas. Ia tak berani mendongak menatap Anres, kawatir akan reaksi lelaki tersebut atas tindakannya barusan. Setiba di depan ruangan, Elena masih berdiri menyandar, ia mengatur napasnya pelan-pelan. Akibat debaran sekaligus kekawatiran yang hampir saja melemahkan badan.

Teringat semua itu, ia menatap Anres diam-diam, menanti apa reaksi lelaki itu sekarang. Di satu sisi ia juga mulai menyiapkan diri jika tiba-tiba Anres menodongnya sebagai bukan Elea, atas apa yang tadi dilakukan. Tapi, ternyata lelaki itu segera bangkit meninggalkan ruangan, tanpa menitipkan ucapan.

"Mbak Indah, apa yang terjadi tadi?" tanya Elena pada pengasuhnya Arabela yang masih tetap berdiri di sana.

"Saat nyonya mengejar mas Edward keluar, nona kecil menangis. Dia pikir nyonya akan pergi lagi. Karena biasanya ..." pada kalimat itu, Indah langsung menuntaskan ucapan, padahal apa yang disampaikan masih belum mencapai titik. Ia seperti merasa takut atau setidaknya tak enak hati untuk melanjutkan.

"Karena biasanya apa, Mbak?" tanya Elena penasaran.

"Maaf, Nyonya. Saya sudah salah bicara." Terlihat Indah sedikit membungkukkan badannya. Sepertinya wanita itu tak berniat melanjutkan ucapannya kembali.

Sedangkan Elena merasa kalau keterangan Indah, mungkin sangat penting baginya demi kesempurnaan peran sebagai Elea. Karenanya wanita itu tak berdiam diri saja. "Katakan saja, gak papa. Sejak mengalami benturan dalam kecelakaan, jadi ada beberapa hal yang aku lupa, yang mungkin itu sudah jadi kebiasaanku."

"Iya, mbak Ranti juga mengatakan itu, Nyonya," sahut Indah.

"Karena itu katakan saja, gak papa." Elena memberikan senyum meyakinkan, sementara tangannya tak berhenti mengusap-usap lembut rambut Arabella.

"Biasanya, Nyonya sering pergi bersama mas Edward."

"Hah??"

1
Deuis Lina
kak naj ,,,
Deuis Lina: ya aku baca ulang istri tertukar tuan anres,,tapi aku penasaran sama lanjutan Kalam cinta untuk nafsa hehehe
total 2 replies
Elisabeth Ratna Susanti
waduh kejedot tembok pasti sakit banget yaaakkkk
Micke Rouli Tua Sitompul
alea datang
YuWie
benar, semakin banyak manusia yg mengedepankan akal tapi mengabaikan hukum Tuhan. Aku sampai bayangkan, besokkk kedepannya 20 atàu 30tahun kedepan ketika anak2ku menjadi ibu akan semakin seperti apaaaaa kehidupan ini. Yg salah jadi terlihat benar dan semakin merajalela
YuWie
ahhh..untunglah klo edward tidak terlibat.
YuWie
lahhh edward tau semua...
YuWie
hedewwww..kakehan misteri...genre detektif kali ya..gak ada romantis nya blas
YuWie
polisi wae bingung, apalagi aku...suspect baru
YuWie
motif nya apa Damita..harta lagi, kurang banyaknya bagiannya
YuWie
owww, begituuu alurnya
Zahwa Putri Bunda
tetep.semangat terus untuk berkarya kak Najwa..aku suka sama cerita novel² kak Najwa...,💪🏻💪🏻👍🏻👍🏻💞
Isti Qomah
ini Edward Wiliam bkn si kak,,
kalau dilihat dari crita awal ny si ada bawa2 bama Pramudya corp..
Mommy elle
makasih Najwa akhirnya cerita ini diselesaikan juga. memang tulisannya Najwa selalu memuat konflik yg berat tp di situ juga sebenarnya menariknya. karena seberat apapun konfliknya, penyelesaiannya selalu sangat memikat. semangat terus berkarya 💪💪💪
Liza Arjanto: baguuuusss ceritanya. sarat kesan moral. Trims author
total 2 replies
Deuis Lina
tapi nunggu lanjutannya anaknya mas damares atau babang erald kok d lanjutin kak nazwa
Najwa Aini: Iya, Kak. Mau dilanjutin juga
total 1 replies
Deuis Lina
keren pokonya endingnya,,
Najwa Aini: Matur Nuwwun kak
total 1 replies
andriya
ku tunggu karya selanjutnya kak Naj...
semangat ya...
Najwa Aini: Makasih ya Kak.
Karya baru udah ada..Hadir ya..
aku tunggu lhoo
total 1 replies
Deeha
bagus mrnarik ceritanya
kurnia rahayu
Luar biasa
Zahwa Putri Bunda
itulah tokoh² kak Najwa yg selalu mengedepankan sifat² yg positif pada tokoh utamanya....
HANAMI DEWATI
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!