Suatu hari Pretty meninggal dunia karena sebuah kecelakaan di belokan menuju ke puncak saat pergi liburan bersama teman-teman kuliahnya. Dia terjatuh di atas aspal hitam. Dari arah berlawanan, bus dan truk menabrak dirinya hingga anggota tubuhnya hancur dan isi organnya berceceran di jalanan. Siapa yang mengira kematiannya itu bersumber dari salah satu jin yang menjemput arwahnya untuk menjadi budak tawanan iblis. Tumbal demi mendapatkan kekayaan adalah dari anak perempuan yang paling di sayangi. Pesugihan titik kuning geger menjadi perbincangan hangat warga. Sebuah tempat yang bukan rahasia umum lagi untuk menempuh jalan kesesatan. Bagaimana akhir kehidupan dari orang-orang yang sudah masuk di dalam jalan hitam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegilaan
Dono dan Roy menahan menarik Brojo untuk segera pergi. Tiga mobil berpasang-pasangan, mereka menuju ke sebuah diskotik. Memesan tiga kamar, tanpa sengaja Brojo meninggalkan dompetnya di toilet.
“Sayang, kamu duluan aja ya nanti aku menyusul” ucapnya.
“Jangan lama-lama ya sayang__”
Di toilet pria, dia memergoki anaknya sedang bercumbu dengan seorang perempuan. Dia mengikuti Jeki menuju hotel yang bersebelahan dengan kamarnya. Kelakuan binal bapak dan anak itu seperti binatang haram. Iblis membisik di sela daun telinga menjerumuskan dalam lembah hitam. Saat Jeki akan masuk ke dalam kamar, dia menarik lalu menampar wajahnya.
“Anak kurang ajar! Jadi ini yang kau lakukan di belakang orang tua mu!” bentak Brojo.
Rika ketakutan bersembunyi di belakang, dia tidak berani melihat ayahnya Jeki. Riri hadir melerai pertikaian itu, dia mengusap kepala Jeki namun anak itu mengelak mendorongnya.
“Kamu jangan kasar dong sama anak sendiri. Udah sana kembali ke kamar kamu.”
“Siapa kau? kenapa bersama ayah ku?” tanya Jeki.
“Kenalin. Aku Riri. Ibu kamu, istri muda ayah kamu”
“Kau bukan ibu ku!”
Plakk__
Brojo menampar Jeki sangat kuat hingga dia mimisan. Riri mendorong Jeki sambil melotot agar mematuhi perkataannya. Dia masuk ke dalam kamar bersama Rika sedangkan Brojo di tarik masuk ke dalam kamarnya. Buah tidak jatuh dari pohonnya. Ayah dan anak yang tidak takut dosa, hasrat dunia lebih besar mengalahkan akal waras mereka.
......................
“Dari mana saja mas? Semalaman kau tidak memberi ku kabar” ucap Kasni.
“Biasalah bu, urusan meeting di kantor padat”
“Jeki kamu nggak makan?”
“Nggak lapar bu, aku ngantuk” jawabnya sambil melengos menaiki tangga melihat Brojo.
Perkumpulan ibu-ibu arisan, Kasni buru-buru menghabiskan makanan lalu meraih tasnya. Brojo melirik perhiasan istrinya, dia berpikir pasti istrinya menyimpan lebih banyak lagi. Dia membongkar semua isi lemar, mengambil semua perhiasan milik Kasni. Emas batangan terakhir hasil pesugihan menumbalkan Pretty di ambil Brojo. Dia menjual semua emas itu, ada tiga tas berukuran sedang berisi tumpukan uang dari hasil penjualannya.
“Jangan lupa jatah ku ya mas” ucap Riri.
“Ya, hari ini juga semua kemauan mu akan ku turuti. Tapi kau harus hemat sebelum aku bisa memberikan mu uang kembali” pesan Brojo padanya.
Riri mengangguk, dia sudah menyembunyikan beberapa ikat uang Brojo ke dalam tasnya. Kehidupan manusia yang sudah terjerat dengan setan itu berlanjut meminta tumbal kembali Tepat setelah mereka kehabisan uang. Kasni mengomel, dia membanting benda yang di dekatnya. Tidak ada selembar uang pun di dalam brankas. Uang simpanannya juga habis dan yang lebih mengagetkannya adalah semua perhiasannya hilang.
“Maling!” teriaknya merontah-rontah.
“Mana malingnya bu?” Tanya Jeki.
“Ibu baru saja pulang arisan, semua habis! Cepat kumpulkan semua pekerja!”
Hanya Yani yang tidak Nampak, semua orang mempertanyakan kemana wanita itu. Perlahan dia berjalan berdiri ke barisan para pekerja. Rambutnya basah, pandangan mata berjaga dia menutup bajunya rapat mencengkram kuat pada bagian depan.
“Dari mana kau Yani? Apa kau tau dimana perhiasan ku?” bentak Kasni.
“Saya tidak tau non. Saya__”
“Sudah lah bu, kalau Cuma perhiasan saja yang hilang kan kita bisa beli lagi yang baru” ucap Jeki menyela sambil melototi Yani agar tidak mengadukan kelakuannya.
“Apa kataku Cuma perhiasan? Ibu nggak mau ya rumah ini ada celpto si tukang curi! Cepat sekarang kamu hubungi polisi,dan untuk kalian semua jangan ada yang pergi dari rumah ini sebelum polisi menyelidiki siapa yang mencuri perhiasan saya!”
Berselang beberapa jam, para aparat kepolisian menyelidiki kasus tersebut. Salah satu kamar yang terkunci menjadi pusat perhatian mereka. Kasni ngotot agar kamar itu tidak perlu di buka karena banyak dokumen penting di dalamnya.
“Bu Kasni, bagaimana kami bisa bekerja dengan maksimal jika pelapor tidak mengijin kan kami memeriksa seluruh rumahnya? Agar mempercepat proses penyelidikan tolong jangan halangi kerja kami”
“Maaf pak polisi, saya yakin sekali di kamar itu tidak ada perhiasan yang sedang di cari”
Adu pendapat, menyangkal hingga menggunakan jurus terakhir menyuap polisi mencabut kembali tuntutannya. Dia terpaksa mengikhlaskan semua emasnya yang hilang agar kedua polisi itu tidak mendesaknya membuka pintu kamar yang mereka curigai.
Kamar ritual pesugihan terkhusus hanya Kasni seorang yang bisa masuk ke dalam. Melihat Kasni seperti menutupi sesuatu, Jeki mendekati kamar lalu menempelkan telinganya. Kasni menarik tangannya menyuruhnya menjauh.
“Bu, kenapa tiba-tiba menyuruh mereka pergi? Memangnya apa yang ada di dalam kamar itu bu?”
“Sudah kamu jangan banyak tanya. Ibu mau kasih makan adik-adik kamu dulu”
Jeki tetap penasaran pada kamar yang selalu terkunci itu. Dia kembali menempelkan telinga, suara lengkingan hampir memecah gendang telinganya. Dia mengintip dari sela bawah pintu, terlihat langkah mondar-mandir di bawah sinar lampu yang redup.
“Ada orang di dalam sana! Aku harus mencari waktu yang tepat untuk mengetahui apa yang ada di dalam kamar itu” gumamnya.
......................
Masa depannya telah di hancurkan si anak majikan. Yani membayangkan kelakuan bejar Jeki yang memperkosa dirinya. Dia sudah mandi sebanyak tiga kali bahkan tubuhnya menggigil kedinginan, tapi dia merasa sangat jijik membayangkan Jeki menyentuh dirinya.
“Sekarang aku harus bagaimana? Jika aku mengadu pada tuan dan nyonya pasti mereka mengusir dan memenjarakan ku. Mereka adalah orang yang sangat kaya raya” gumam Yani.
Tujuannya bekerja di kota untuk membantu kedua orang tuanya yang sakit-sakitan di kampung. Setiap bulan dari hasil kerjanya dia mengirim semua gajinya untuk kedua orang tuanya. Yani membayangkan jika kedua orang tuanya mengetahui hal yang dia alami pasti terkena serangan jantung mendadak.
“Sekarang apa yang harus aku lakukan? Hiks”
Tanpa sadar dia tidak sadarkan diri. Bi Mar berteriak melihat Yani, dia minta tolong pada pekerja lainnya untuk mengangkatnya ke kasur. Di rumah itu tampak sepi, Yani sudah berjam-jam tidak sadarkan diri sehingga bi Mar memanggil dokter untuk mengobatinya.
“Dari mana bibi bayar dokter itu?” bisik pak Udin.
“Pakai sisa uang belanja di tambah uang simpanan saya saja pak. Kasian si Yani kok sampai pucat fasih begitu”
“Ya sudah saya tinggal berkebun ya bi.”
Sang dokter mengatakan Yani sedang mengalami stress sehingga suhu badannya naik, dia di beri obat demam dan vitamin. Bi Mar membayar tunai lalu mengucapkan terimakasih padanya. Di dalam kamar, Yani yang sudah sadar memukul dirinya sendiri. Bi Mar menghentikannya, dia ingin mengatakan hal yang telah dia alami akan tetapi yani sangat malu mengutarakannya.
“Kamu kenapa ndok? Bibi khawatir sekali. Kamu istirahat saja ya biar bibi yang ambil alih semua pekerjaan kamu.”
“Terimakasih banyak bi.”