Cinta yang tak kunjung menemukan tempat berlabuh kian lama kian meredup dan menyerah pada sang takdir.
Hati yang kini diantara ingin menyerah dan kalah semakin terpuruk karena segala prasangka yang datang. Akan kah Indira akan tetap diam menerima segala takdir yang di berikan pada nya? Atau dia akan mulai mencari jalan takdir nya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak UPe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
Rumah besar ini terasa nyaman semenjak kepergian Mbak Silvia. Tak ada lagi yang memata- matainya. Ditambah lagi Bang Anggara juga tak selalu bermalam di rumah ini.
Memang setiap hari Bang Anggara pasti akan mengunjungi Indira, tapi malam nya dia pasti akan kembali ke rumah mbak Silvia yang ternyata juga tinggal di Bandung sekarang.
Menyadari kondisi nya yang kurang pengawasan itu, Indira pun berpikir kalau ini adalah saat yang tepat untuk membuat Dikta membayar apa yang telah Dikta lakukan pada nya.
Dikta adalah orang yang membuat nya ada disini. Dan itu tidak sekali. DUA KALI! Maka Dikta lah yang harus mengeluarkan Indira dari neraka ini.
Dan rencana Indira adalah membuat Dikta membawa lari Indira dengan keinginan DIkta sendiri. Untuk mewujudkan hal itu, maka Indira harus bisa kembali dekat dengan Dikta dan membuat DIkta tergila- gila kembali pada nya.
"Hallo... ada apa Indira?" sapa Dikta di sana.
"Gak ada apa-apa, Dik. Aku hanya ingin meneleponmu." sahut Indira datar.
Oh, aku kira ada apa..” Ujar Dikta tersendat di ujung sana.
"Aku kangen sama kamu Dik." Sebut Indira dengan sengaja untuk melihat respon DIkta.
"Aku pun begitu." Jawab DIkta namun hanya di dalam hati saja. Dia tidak berani mengatakan hal itu pada seseorang yang jelas- jelas adalah kakak ipar nya.
"Kok kamu diam saja DIk? Apa kamu tidak kangen dengan aku?"Desak Indira.
"Apa suamimu ada di rumah?" tanya Dikta ragu- ragu.
"Hemm... Bang Anggara lagi kerja. Makanya aku bisa telepon kamu. Dik, bisa kita ketemu sebentar?" pancing Indira lagi.
Dikta terdiam. Indira juga terdiam menunggu jawaban Dikta. Terdengar suara desah suara Dikta di sana. Sepertinya Dikta ragu-ragu untuk memberi jawaban.
"Kalau memang tidak bisa, tidak apa- apa! Lupakan aja permintaanku tadi." Ucap Indira cepat.
"Jangan!! Hmm- Aku juga ingin ketemu kamu. Aku juga kangen sama kamu, Ra." Akhir nya Dikta kalah dengan cinta terpendam nan terlarang nya pada Indira.
Indira tersenyum lebar, ternyata apa yang di rencana kan berjalan dengan mulus.
Pertemuan itu pun menjadi pertemuan pertama Indira dan Dikta secara sembunyi- sembunyi di belakang bang Anggara.
*****
Bang Anggara memeluk Indira dengan eratnya.
Bekerja seharian membuatnya lelah. Bang Anggara duduk di tepi tempat tidur, sementara Indira masih berdiri di dekatnya.
Diciuminya perut Indira penuh kasih sayang.
Andaikan saja Indira tidak pernah tahu sandiwara cinta yang bang Anggara main kan, maka Indira pasti sudah akan mati kegirangan dengan perlakuan super romantis nya bang Anggara! Tapi karena Indira telah mengetahui semua rencana busuk bang Anggara dan mbak Silvia, Indira tak senang dengan adegan ini.
Sebab apa? Sebab ia tahu Bang Anggara tak sepenuhnya tulus pada dirinya. Bang Anggara hanya mengincar janin yang akan lahir dari rahimnya.
“Jangan harap kau dan Mbak Silvia akan memilikinya, Bang. Tak akan kubiarkan kalian mengambil bayi ini dariku. Kalian boleh saja membeli diriku tapi tidak dengan bayiku. Aku tidak sebodoh yang kalian kira,” Ujar Indira dalam hatinya.
"Kau sudah minum vitamin, sayang?" tanya Bang Anggara pada Indira dan Indira pun mengangguk sambil tersenyum.
Indira tahu kalau di mata orang - orang dia terkesan munafik. Tapi apakah orang tahu seperti apa sakit yang Indira rasakan. Di hina. Di caci. Di pukuli. Lalu di tipu cinta nya? Tidak ! Tidak ada yang tahu!
Sebaiknya kalian yang mengatakan indira munafik cukup tutup mulut kalian!
Kalian yang mengatakan indira bodoh kenapa tidak lari saja, please! tutup juga mulut kalian atas bawah! Karena di dunia ini tidak ada satu orang pun melebihi Indira yang ingin lari dari ini semua. Tapi dia telah mencoba dan gagal hingga akhir nya dia lelah mencoba dan memutuskan untuk melakukan apa yang dia inginkan mulai saat ini.
Jika menjadi toko protagonis membuat nya selalu di cap lemah, maka kali ini Indira tidak lagi mengingikan peran itu.! Dia telah menjual hati nya pada sebuah dendam yang ingin untuk di tuntaskan. Dengan cara nya sendiri !
Indira membiarkan Bang Anggara mulai meraba tubuhnya.
Ciumannya yang penuh rasa rindu itu seolah sedang mencari setiap jengkal tubuh Indira untuk ia sapa.
Dibaringkannya Indira di tempat tidur. Dan seperti biasa, Indira tak menolak sedikitpun. la sepertinya pasrah pada perlakuan lembut bang Anggara. Tidak ada salah nya menikmati hal indah ini dalam pembalasan dendam nya.
Sebab tak bisa Indira pungkiri dirinya kini mulai candu dengan sentuhan Bang Anggara.
Namun sekelebat bayang Dikta hadir di tengah kenikmatan sentuhan Bang Anggara. Mungkin karena dia usai bertemu dengan Dikta.
"Salah kah aku membayang Dikta disaat aku bercinta dengan bang Anggara?"
"DIIAM Indira diam! Berhenti lah memikirkan benar salah! Terserah kau membayang kan siapa saat ini! Yang penting terima saja sentuhan ini dan buat diri mu rilek dengan bayangan siapa pun itu!" Teriak setan di telinga Indira.
"Kamu benar-benar menikmatinya, sayang?" tanya Bang Anggara di tengah hembusan napasnya yang mengira Indira sedang menikmati percintaan dengan nya.
Indira tak menjawab. Dia benar - benar menikmati sisi liar nya saat ini. Sisi yang selama ini terkekang karena segala norma yang ada di dalam kepala nya.
Ingat! Indira bukan lah tokoh protagonis yang baik hati, lembut namun selalu tertekan.
Dia telah berubah menjadi tokoh protagonis yang penuh dendam, yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan nya.
Dan saat ini fisik Indira memang bersama Bang Anggara tapi di dalam pikiran nya dia sedang bercinta dengagn Dikta. Bahkan saat dia mencapai puncaknya hanya ada bayang wajah Dikta dalam pikiran nya.
***
"Hallo... Indira." sapa suara Dikta di sana yang tiba-tiba menelpon pagi setelah bang Anggara pergi kerja.
"Hay... Dik. Aku senang sekali kamu telepon." Sambut Indira senang karena makin hari Dikta makin jatuh dalam perangkap nya.
"Aku ingin berbagi cerita padamu, Ra. Kamu tahu mimpi apa aku semalam?"
"Emang kamu mimpi apa, Dit?"
"Hemm... aku mimpi bercinta denganmu, Ra." Sebut Dikta malu- malu.