Tidak ada suami yang bisa memilih antara sang Ibu dengan Istrinya, begitupun dengan Yusuf. Lalu, apa yang bisa Yusuf lakukan? Jika, sang Ibu mengaggap istrinya tidak seperti anak sendiri? Dan mampukah Febri Ayundi mempertahankan pernikahannya dengan sang suami? Dimana selalu ada Ibu Marsella sang mertua yang ikut campur dalam hubungan rumah tangga mereka. Saksikanlah, kisah penuh menguras emosi dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon febrianis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Rumah Berantakan.
Bab 6 Rumah Berantakan.
Jantung Febri seraya ingin berhenti berdetak, ternyata suaminya mengetahui. Jika, ia berbelanja mengunakan uang pribadi. Bukan, yang diberikan oleh sang suami.
"Itu—"
Febri bingung untuk mengatakan yang sebenarnya, hingga sang suami terus mendesaknya dan akhirnya dia pun menjelaskan. Alasan kenapa, dia menggunakan uang pribadinya.
"Ibu minta dibelikan skin care, Mas. Bukan, Adek nggak mensyukuri apa yang mas berikan. Tapi … kebutuhan yang lain lebih mendesak. Daripada memberikan ibu skin care," jelas Febri apa adanya.
Yusuf hanya mampu membuang nafasnya berat, tidak bisa dipungkiri. Jika ibunya, selalu merasa iri dengan apa yang dimiliki oleh sang istri. Baik dari segi pakaian, hingga masalah perawatan.
Namun, yang jadi masalah adalah Yusuf yang merasa tidak bisa membahagiakan ibu atau istrinya. Karena, gajinya yang hanya sebagai office boy tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.
ingin rasanya Yusuf marah dengan keadaan, akan tetapi itu sama saja dia melawan kehendak Tuhan. Sebagai manusia, apalah daya seorang Yusuf. Kecuali, menerima segala ketentuan dan ikhlas dalam menjalani hidup ini.
"Ya sudahlah, nanti Mas ganti. Tunggu gaji bulan depan tapinya," jelas Yusuf yang tidak ingin memperpanjang masalah tersebut.
Febri hanya mengangguk kecil, dia juga tidak ingin menjatuhkan harga diri suaminya. Walaupun sebenarnya, jika ingin beradu saingan. Tentu dirinya akan menang dalam mendapatkan yang namanya penghasilan.
Namun, selayaknya seorang istri yang Saleh. Febri harus menunduk, dalam artian dia harus menjunjung sang suami. Sebagai tulang punggung keluarga, walaupun berpenghasilan sedikit.
Tidak ada masalah yang terasa berat, kecuali masalah keuangan. Besarnya dan himpitan ekonomi yang berat, tidak jarang membuat pasangan suami istri bercerai.
akan tetapi, semuanya dikembalikan kepada pribadi masing-masing. Bagaimana cara menyikapi kehidupan ini, Sebab, tidak ada rumah tangga yang tidak diuji. Sekalipun, pasangan yang terlihat harmonis.
"Maafkan Mas, dek. Mas harus bekerja lebih giat lagi, setidaknya. Bisa mencukupi kebutuhan ibu dan kamu," batin Yusuf bertekad.
*************************★★★************************
Keesokan paginya, Febri dan Yusuf berangkat bekerja bersama. Yusuf yang merasa kasihan dengan sang istri, membantu segala pekerjaan wanita tersebut. Walaupun, dengan omelan dari sang ibu. Tidak lupa pula dengan sumpah serapah wanita yang telah melahirkan–nya ke dunia ini. Sebab, Ibu Sella. Sangat membenci sikap Yusuf, yang selalu memanjakan Febri.
"Mas, Ibu gak apa-apa?" tanya Febri di balik jok motor sang suami.
Mau seberapa kejam ibu mertuanya tersebut, Febri tetap tidak tega. sebab, dia telah menganggap ibu sehat. Sama seperti ibu kandungnya sendiri, walaupun wanita tersebut tidak menganggapnya anaknya.
Suara Febri kalah saingan dengan suara knalpot yang bising, deru mesin yang lalu lalang. Membawa hanyut suara Febri yang kecil, hingga sang suami tidak mendengar apa yang dia katakan.
Karena, tidak digubris oleh suaminya. Febri memilih diam, hingga motor yang dikendarakan oleh sang suami telah memasuki halaman kantor.
Setelah, Yusuf memarkirkan motornya. Barulah Febri mengulangi kata-katanya yang tadi," Mas, Ibu gak apa-apa, kalau dibiarkan begitu?"
Yusuf yang baru saja melepas helm, menatap heran kepada istrinya. Dia menggeleng pelan, menjawab pertanyaan dari wanita itu.
Tanpa banyak berbicara, Yusuf melangkah meninggalkan sang istri. Perasaannya sedikit tidak nyaman, dia telah berusaha menjadi suami yang baik.
namun, apalah daya. Ibu Sella, selalu menjadi tameng terbesar untuk mereka. Dalam merajut rumah tangga, bagaikan duri yang menusuk kulit. Itulah perumpamaan Ibu Sella, yang selalu mengusik rumah tangga Yusuf dan Febri.
Febri yang paham akan keadaan suaminya, memilih untuk mengalihkan pikirannya. Dia melangkah cepat, menuju ke dalam kantor. Pikiran Febri hanya tertuju pada pekerjaannya. Mau seberapa banyak pun, akan dia selesaikan hari ini juga.
Pasangan suami istri yang memiliki problema tersendiri dalam bekerja, Yusuf dengan pekerjaannya. Febri dengan pekerjaannya pula, akan tetapi mereka memiliki tujuan yang sama. Yaitu mencari uang, untuk menyambung kehidupan mereka yang pahit ini.
Yusuf masih merajuk, hingga makan siang pun dia tidak ke kantin. Sedangkan Febri, juga begitu. Terlalu larut dalam pekerjaan, atau lebih tepatnya. Mengalihkan pikiran, agar tidak menanggapi apa yang hari ini terjadi.
Hingga, sore harinya pun. Pasangan suami istri tersebut, bagaikan orang yang asing dan baru bertemu.
Namun, ketika baru pulang ke rumah. Febri dan Yusuf di kagetkan dengan ke adaan ruingin sekali Febri menendang sama tua, yang tidak tahu diri tersebut. Jika, dia tidak mencintai Yusuf. Mungkin hal itu telah dia lakukan jauh sebelum ibu Sheila masuk ke dalam kehidupannya.
Ingin sekali Febri menendang sama tua, yang tidak tahu diri tersebut. Jika, dia tidak mencintai Yusuf. Mungkin hal itu telah dia lakukan jauh sebelum ibu Sella masuk ke dalam kehidupannya.
"Mas, ibu sudah ketemu?" Tanya Febri kepada sang suami. Akan tetapi, dibalas dengan gilingan kepala dan helaan nafas panjang.
Mau tidak mau, pasangan suami istri itu harus membereskan rumah. Lelah seharian bekerja, ditambah pekerjaan rumah. Siapapun akan menjadi stres, akan tetapi Yusuf berusaha untuk terlihat tegar.
Sebab, Ibunya lah yang membuat ulah. Entah kemana wanita itu, yang pasti ini sudah sering kali terjadi.
Febri sudah kotor, karena membersihkan dan mencuci piring serta pakaian kotor. Memilih untuk mandi, biar pekerjaan yang lain dia kerjakan nanti. Begitulah pikirnya, yang penting dia rileks dulu.
Ketika, Febri baru memasuki kamar mereka. Betapa terkejutnya ia, melihat isi lemarinya yang telah diobrak-abrik. Seperti seorang pencuri yang tengah melakukan aksinya, tangannya mengepal erat. Giginya mengatup kuat, dia amat merasa kesal dan ingin marah.
"Mas!" panggil Febri dan tidak berapa lama sang suami pun datang.
"Ada apa, Dek. Mas tadi—" belum selesai Yusuf meneruskan ucapannya, dia pun syok. Melihat isi kamar mereka yang berantakan, akan tetapi hal yang membuat dia merasa semakin merasa tidak enak. Ketika, dia melihat ke arah yang istrinya tuju.
"Apa maksudnya ini!" pakai Febri menahan amarah.
Yusuf berusaha menenangkan sang istri, diusapnya pelan bahwa wanita itu. Dia tahu, siapa lagi pelakunya. Kalau bukan Ibu Sella.
"Mungkin Inu mencari sesuatu, Dek. Lalu lupa untuk membersihkannya," jelas Yusuf.
ini bukan kali pertama, Febri yang baru pulang kerja mendapati keadaan seperti ini. mata wanita itu tertuju kepada kotak perhiasannya tanah dengan langkah cepat dia mengambil kotak tersebut.
Seolah bola matanya ingin loncat keluar dari tempatnya, dia menatap kotak perhiasannya yang telah kosong. Lalu dia menatap sang suami, seolah minta pertanggung jawaban.
"Dek," panggil Yusuf pelan. Tidak mungkin dia menuduh sang ibu yang mengambil perhiasan istrinya adalah walaupun tidak ada tersangka lain. Selalu wanita itu, akan tetapi Yusuf memungkirinya.
"Adek kurang pengertian bagaimana lagi, Mas! Sama, Ibu?" pekik Febri dengan pilunya.
sabar yak, Febri😌