NovelToon NovelToon
Hate You, Love You

Hate You, Love You

Status: tamat
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Obsesi / Menikah Karena Anak / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 4.9
Nama Author: MeeGorjes

Amara berencana untuk menyusul tunangannya ke Amerika setelah ia selesai menyelesaikan pendidikan pasca sarjananya. Ia dan Danis akan menikah di sana. Danis yang terikat kontrak kerja, tak bisa pulang ke Indonesia hingga Amara lah yang harus pergi ke sana.

Tapi kenyataan tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Amara mengalami malam naas bersama seorang lelaki yang bernama Giovanni Abraham hingga dirinya hamil.

Sebagai anak orang kaya dan dari keluarga terpandang Gio harus menjaga nama baik keluarganya. Ia terpaksa menikah dengan Amara.

"bayi kita menangis Ara, susui dia !!"

"jangan panggil aku, Ara ! dan dia bukan bayi kita, dia anakmu !" balas Amara dengan suara meninggi.

"kecuali... kecuali kamu bisa membayarku dengan harga tinggi, mungkin aku mau untuk melakukannya," lanjut Amara dengan tatapan penuh rasa benci pada lelaki yang saat ini menjadi suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeeGorjes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Noda

"cuit.. cuit.. cuit..'' terdengar cicit burung-burung gereja yang bertengger di batang pohon. Seorang lelaki mulai terjaga dari tidurnya padahal hari masih gelap.

"Ough..," lelaki itu mengaduh sembari memijit pelipisnya yang sakit dan berdenyut hebat. Kepalanya masih terasa berat dan pening walaupun kesadarannya mulai kembali. Ia terbangun karena udara dingin mulai membelai bagian tubuh bawahnya yang ternyata setengah terbuka.

Menyadari hal itu Gio langsung memaksakan tubuhnya untuk duduk. "F*ck," makinya kasar saat melihat celananya sudah terbuka hingga sebatas paha. Bahkan ia bisa melihat inti tubuh bawahnya sendiri yang tak tertutup kain itu.

"Gila !! Gue habis ngapain ?" Tanya Gio panik pada dirinya sendiri. Dan dirinya semakin panik saja saat mendapati bercak noda merah yang telah mengering di inti tubuhnya itu.

" F*ck !! F*ck !! F*ck !!" Maki Gio berulang kali. Ia segera berdiri dengan kepalanya yang berdenyut hebat. Memakai kembali celananya dengan sempurna dan menyingkap selimut yang teronggok kusut di atas ranjang karena Gio tertidur di atasnya.

Dengan jantung berdegup kencang, Gio menyingkirkan selimut itu. Pelan-pelan Gio melakukannya dan berharap dalam hatinya agar apa yang ada dalam pikirannya saat ini tak terjadi.

"Ah shiiiiitttt !!!" Maki Gio lagi saat apa yang ia takutkan terjadi. Gio melihat noda merah yang cukup banyak menghiasi sprei nya yang berwarna biru muda. Dan Gio yakin jika noda merah itu adalah darah yang telah mengering. Sebagai lelaki dewasa tentu Gio tahu apa yang terjadi dengannya semalam.

Gio meraup wajahnya frustasi dan juga menjambak rambutnya kuat berulang kali. "Ingat-ingat apa yang lu lakukan semalam, Bod*h !!" Maki Gio pada dirinya sendiri. Tapi sayangnya Gio tak mengingat apapun saat ini dan itu membuatnya semakin frustasi saja.

Lalu ia melihat pada pintu kamarnya yang tak tertutup sempurna. Gio yakin jika seseorang yang tak dikenalnya telah meninggalkannya seperti itu. Karena semua orang yang tinggal di rumah itu tahu jika Gio sedang berada di dalam kamarnya, maka pintu itu harus tertutup rapat.

"Ah F*ck !!" Gio mengumpat sembari menendang asal.

"Ough," Gio mengaduh saat kakinya menginjak sesuatu yang keras dan menyakitinya tanpa sengaja.

Segera Gio berjongkok untuk mengambilnya. Ternyata itu hanya sebuah tanda pengenal yang bertuliskan nama saja. "Amara Mahreen" bacanya pelan. Gio berkerut alis, karena ia tak pernah sekalipun mendengar nama itu dalam hidupnya.

"Apa lu yang masuk ke kamar gue semalam ?" Tanya Gio pelan.

"Sudah bangun, Sayang ?" Tiba-tiba sang ibu telah masuk ke dalam kamar anak tunggalnya itu. Kedatangannya tak terdeteksi karena pintu kamar Gio yang tak tertutup rapat. Cepat-cepat Gio sembunyikan tanda pengenal itu ke dalam saku celananya agar ibunya itu tak bisa melihatnya.

Lalu Gio pun segera berjalan menuju ibunya itu, agar sang ibu tak melihat ke arah ranjangnya yang bernoda. "Aku baru saja bangun, Ma," jawab Gio.

"Bagaimana dengan acara semalam ?" Tanya Gio pada ibunya itu.

"Semalam... acara berjalan dengan lancar," jawab sang ibu dengan senyuman yang dipaksakan.

"Maaf Gio gak bisa turun ke bawah dan menghadirinya,"

Lagi-lagi sang ibu memaksakan senyumnya. "Tak apa, Mama mengerti," sahutnya pelan.

"Maafkan Mama juga yang tak lagi melihat keadaanmu, karena..,"

"Karena Papa melarangnya ?" Tebak Gio, dan ibunya itu hanya tersenyum saja.

Dari senyuman ibunya yang dipaksakan itu, Gio tahu jika tebakannya benar. Dalam hatinya Gio bersyukur karena ibunya itu tak melihat keadaannya semalam. Akan sangat memalukan jika ibunya memergoki Gio dalam keadaan tak sadar dengan inti tubuhnya yang terbuka. Belum lagi jika ibunya tahu tentang noda merah itu, pasti beliau akan sangat merasa sedih dan kecewa sekali.

"Kamu tak meminum obat yang Mama berikan ? Itu untuk mengurangi rasa mabukmu," tanya sang ibu saat ia melihat minuman yang ada dalam cangkir, yang dibuatnya semalam, jumlahnya tak berkurang sama sekali.

Gio pun mengikuti arah pandang ibunya itu dan melihat sebuah cangkir di atas meja. "Ah.. Gio gak tahu Mama nganterin obat, Gio ketiduran," ucap Gio bohong.

"Oh begitu.. Ya sudah nanti Mama buatkan yang baru. Kamu segera bersihkan dirimu dan minta maaflah pada Papa, agar beliau tak bertambah marah,"

Gio mengangguk pelan, menyetujui saran dari ibunya itu.

"Baiklah, Mama tunggu di bawah,"

"Ma," kata Gio, hingga membuat ibunya itu hentikan langkahnya.

"Ya ?"

"Mmm.. siapa yang mengantar cangkir itu tadi malam ?" Tanya Gio. Dalam hatinya ia berharap ibunya itu bisa memberikan sebuah jawaban yang detail hingga ia bisa menemui gadis malang itu.

"Entahlah.. Mama tak ingat, karena banyak sekali orang,"

"Dia pekerja event organizer ?" Tanya Gio lagi penuh selidik.

Ibunya itu berpikir untuk beberapa saat lalu menggeleng pelan. "Mama tak ingat, tapi gadis itu mengenakan seragam hitam putih, sepertinya sih salah satu pegawai catering,"

Deg !

Jantung Gio terasa diremas dengan kuatnya saat sang ibu membenarkan ada seorang gadis yang datang ke dalam kamarnya. Gio pun menelan ludahnya sendiri dengan sangat susah payah.

"Kenapa ?"

"Hah ? Oh gak pa-pa, hanya saja dia pergi dengan pintu yang masih sedikit terbuka. Gio yakin bukan orang rumah yang melakukannya,"

Mendengar penjelasan Gio yang masuk akal, ibunya pun tak bertanya lagi "Oh.. baiklah, Mama tunggu di bawah untuk sarapan. Dan Mama harap kali ini kamu menurutinya,"

"Ya, Ma. Gio mau mandi dulu dan berganti baju," sahut Gio.

Ibunya itu menatap Gio dengan perasaan iba, di dalam hatinya ia merasa hancur saat melihat anak kesayangannya itu dalam keadaan yang memprihatinkan. Rambut Gio sudah panjang dan tak beraturan, lelaki itu masih mengenakan setelan jas yang dipakainya sejak kemarin. Dan bulu-bulu halus di wajahnya mulai terlihat. Tak seperti Gio yang dulu, yang selalu tampil rapih dan wangi.

"Ya," sahut sang ibu pelan dan ia pun memutar tubuhnya untuk kembali berjalan keluar dari kamar anaknya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat ia melihat sesuatu di atas karpet.

"Gio, apa kamu terluka ?" Tanya sang ibu sembari memutar kembali tubuhnya dan menatap Gio penuh tanda tanya.

"Ng.. nggak kok, kenapa ?" jawab Gio terbata

"Benarkah ? Lalu ini noda apa ?" Tanya ibunya sembari menunjukkan beberapa bercak merah yang mengotori karpet itu.

bersambung....

ramein yuuu novelnya. jangan lupa like, komen dan share sebanyak-banyaknya sama teman, sahabat, pacar, gebetan, selingkuhan, sodara, kakak, adek (yang cukup umur ya) biar aku makin semangat nulis nulisnya.

jangan lupa vote dan hadiah ya soalnya novel ini aku ikutin lomba. kali aja aku beruntung hehe

terimakasih

1
Heny Sri Wahyuti
semangat kk , abaikan org² yg iri akan karyamu .
Fat Imah
ya mungkin juga efek pemerkosaan jdi. darahnya banyak
Meggy Natonis Tuulima
ya elah pada nyalahin Amara helloo dia itu di perkaos tdk gampg menerima org yg sdh melakukan itu
yenny pendang
cerita yg sangat bagus, keren. /Heart/ top markotop/Good//Good//Good//Good/
Anafiya
aku suka cerita nya thor..... ini cerita yg masuk akal dan nyambung baca nya.. ngak bosan bacanya thor
j@s🙄n
Karya luar biasa
Efratha
logika maneh teh timana koneng,ma inya ninggalkeun salaki demi tunangan,aissss rujit maneh mah
Efratha
si batu amara
Efratha
jangan lakukan itu Gio,kamu sama Dea aka
Efratha
tikung aja Dea,jangan kasih ampun 🤣🤣
Efratha
ambil aja Dea,sayang dianggurin
Efratha
menurutku di usia segitu gak setrauma itulah,itu namanya berlebihan,makanya buka hati jangan kepala batu,orang gionya juga karna mabuk kan,tapi kesannya si pemarah ini memposisikan gio seperti penjahat kelamin
Efratha: baiklah jelessss
total 2 replies
Efratha
dah langsung lahiran aja Thor,trus berangkatkan lah si pemarah itu ke Danis,habis tuh Gio nikah sama Dea
Efratha
Thor harusnya ending cerita ini,si Gio Ama si Dea berjodoh
Efratha
dah deh Gio,kamu juga cari cewek lain jugalah,secara kamu kan ganteng dan kaya,biar nyaho eta si betina si tukang selingkuh
Efratha
sampai usia kehamilan 7 bulan,dia belum bisa menyayangi anaknya,padahal usianya sudah dewasa,izin Thor saya tambahin namanya jadi "AMARAH YANG TAK PERNAH PADAM"
Efratha
nitip batu Thor,buat nimpuk kepala si amara,biar waras dikit,itu laki dah baik bertanggung jawab,kaya lagi,eh malah pengen gugurin bayi biar bisa ngasih apem bekas ke Danis
Efratha
baru Nemu wanita dewasa yang tidak sayang sama janinya,padahal bapak si janin bertanggung jawab,

lieurrrrrr aing mah,Cinta Danis,cinta Danis,makan tuh Danis
Komang Diani
amara pikiran kolot,, kata nya mahasiswa berprestasi tp kok pikirannya??
Komang Diani
amara kok gitu sih khasian gio
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!