Ketika Cinta suaminya terbagi untuk orang lain, maka semua kebiasaannya mulai berubah.
Akankah Nigar akan mempertahankan haknya? Atau dia akan meminta berpisah dari suaminya ketika dia merasa tidak bahagia didalam pernikahan nya.
Ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mona Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Maduku menjadi posesif
Akhirnya, Amora dan Hansel pun selesai berbulan madu dan mereka kembali ke rumah besar. Hansel membawa satu koper oleh-oleh untuk Nigar dan Briana. Awalnya Amora keberatan, namun demi mendapatkan kembali cinta Hansel seutuhnya, maka diapun membawa oleh-oleh untuk madunya itu.
"Aku akan langsung kerumah Nigar. Kau pasti lelah, kau bisa istirahat setelah ini," ucap Hansel memeluk dan mencium kening Amora sebelum pergi meninggalkan nya.
Hansel lalu masuk ke mobil hitam miliknya dan meluncur ke rumah Nigar.
Dirumah Nigar, Briana sudah tidak sabar menunggu kedatangan ayahnya yang sudah satu bulan tidak datang.
"Ma, papa kok ngga datang-datang?" tanya Briana menatap wajah ibunya.
"Hari ini ayahmu sudah pulang. Dia akan datang kemari,"
Tidak lama kemudian, terlihat Hansel masuk dengan mobilnya .
"Papa...." Briana berteriak sambil berlari dan menghambur memeluk papanya.
"Hem....sayang....papa jangan.."
"Aku juga kangen papa. Kenapa keluar kota sangat lama?"
"Tidak lagi...." Hansel mencium kedua pipinya.
"Jangan pergi lagi...." Briana memeluk papanya dengan hati yang polos.
"Apa itu?" tegur Nigar ketika melihat kardus disamping koper.
"Oleh-oleh untuk kalian. Papah pergi sebulan, dan papah selalu teringat padamu juga ibumu..."
Hansel menatap romantis tepat di manik mata Nigar. Nigarpun tersipu dan membalas tatapannya dengan sendu.
Debaran dihati mulai dirasakan oleh mereka berdua seiring kebersamaan yang telah dilalui.
Tangan Hansel meraih jemari Nigar dan meremasnya.
"Bagaimana kabarmu?"
"Aku selalu teringat pada kalian," ucap Hansel masih menggenggam erat jemari Nigar.
"Benarkah?" Nigar semakin berdebar dan mereka kembali saling menatap dengan romantis.
"He em...ayo kita buka kopernya!" Hansel duduk di permadani dan mulai membuka koper. Dia mengeluarkan semua oleh-oleh yang dia beli disana.
"Wow... terimakasih ayah..." ucap Briana senang.
"Dan....Boneka ini bisa joget dan bicara," Kata Hansel dan membuka kotak berisi boneka itu lalu mencoba menyalakannya.
"Waaahhh lucunya...." Nigar tersenyum manis.
"Lucu ya mah...." ucap Hansel takjub menatap senyum Nigar yang manis.
"Hem. Lucu sekali...."
"Takuuuttt," ucap Briana dengan ekspresi lucu.
"Dia malah takut...padahal sangat lucu...." Nigar menangkap boneka yang berjalan berputar-putar itu.
"Jangan takut. Ayo kita dengar suaranya...."
"Hahahaha...." suara boneka itu.
"Wah dia ketawa..." ucap Nigar. Dan beberapa detik kemudian, Briana juga ikut tertawa menirukan suara boneka itu.
Hansel senang dan merasa bersyukur dengan kebahagian dan keramaian dirumahnya.
Briana anak Nigar mudah akrab dengannya dan rasa canggung itu sudah mulai sirna. Mereka saling merindukan jika tidak bertemu layaknya Ayah dan anak pada umumnya.
"Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti saat ini..." ucap Hansel tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Mungkin karena aku anak tunggal. Aku terbiasa dengan rasa kesepian setiap hari. Dan setelah menikah denganmu, mereka membuat aku tidak kesepian lagi. Aku benar-benar bahagia...."
"Ya...semoga kita terus bahagia seperti ini..." Nigar menyandarkan kepalanya di bahu Hansel.
"Amiin...."
.
Dua Minggu kemudian, Amora merasakan perutnya mulai mual. Diapun pergi kedokter dan memeriksa kan sendiri kondisinya.
"Bagaimana dok?" Amora tidak sabar menunggu kabar baik dari dokter yang memeriksanya.
"Positif hamil. Selamat ya Bu...dan untuk kehamilan trisemester pertama sebaiknya ibu jangan terlalu banyak gerak. Sepertinya kandungan ibu lemah dan harus bedrest,"
"Apa!?"
"Nanti akan saya berikan resep agar kandungan ibu kuat dan ada vitamin yang harus diminum juga..."
"Iya dok."
Amora langsung mengambil handphone nya dan menelpon Hansel.
"Hallo...." suara Hansel yang sedang memijit Nigar karena kakinya terkilir barusan.
"Coba tebak aku ada dimana?"
"Hem...di mall?"
"Bukan!"
"Lalu?" Hansel berhenti memijit dan memberikan bahasa isyarat pada Nigar.
"Amora...."ucapnya lirih. Nigarpun mengangguk.
"Aku hamil Han...." ucap Amora penuh suka cita.
"Apa? Kau hamil? Syukurlah. Apakah kau sekarang bersama dokter?" Hansel menebak dimana posisi Amora saat ini.
Sedangkan Nigar tersenyum melihat kebahagiaan dimata Hansel saat mengetahui jika Amora tengah hamil anaknya.
"Benar Han. Aku sedang kedokter. Dan dokter mengatakan jika aku hamil. Dan....bisakah kau jemput aku sekarang?" ucap Amora masih di sambungan telepon.
"Tapi...aku baru tiga hari disini," Hansel menatap Nigar.
Hansel lalu berbisik lirih ke telinga Nigar.
"Pergilah. Saat ini dia ingin berbagi kebahagiaan denganmu. Kau juga pasti tidak sabar ingin mendengar langsung dari dirinya bukan?"
"Tapi...aku baru tiga hari disini. Bukankah harusnya aku selesaikan sampai hari Minggu?"
"Tidak perlu Han. Kau bisa pergi menjemput Amora..." ucap Nigar dengan penuh pengertian.
"Baiklah kalau begitu...tapi... bagaimana dengan kakimu?"
"Sudah lebih baik...." jawab Nigar menatap Hansel yang berdiri dan memakai jam tangannya.
"Kalau begitu, akan aku kabar jika nanti sudah bertemu dengan Amora..." pamit Hansel mengecup kening Nigar dengan lembut.
"Baiklah...."
"Mah, papah mau kemana?" tanya Briana yang sebentar lagi ulang tahun yang ke delapan tahun.
"Papah menginap hanya tiga hari disini. Dan sekarang akan bertemu dengan mama Amora"
Nigar berkata sambil mengelus rambut Briana.
"Biasanya kan satu Minggu disini. Kenapa sekarang menjadi tiga hari? Ini tidak adil!" Celetuk Briana merasa kecewa. Dia sudah mempersiapkan permainan yang akan dia mainkan dengan papahnya. Tapi papahnya malah pergi dan hanya menginap tiga hari saja.
Wajah kecewanya terlihat jelas dan dia menunduk ke lantai kendati kedua tangannya sibuk membereskan permainan yang sudah dia siapkan.
lanjut
jangan lama² kalo bisa sehari 2x upnya