Hantu Istriku Balas Dendam
(Season 1)
Ketika seseorang di butakan CINTA, dan pria itu hanya menyukai satu orang untuk selamanya, Lala Kesuma.
Arika, sahabat Lala yang telah jatuh hati lebih dulu dan memendam perasaan 7 tahun pada Bram Agung, suami Lala.
Setelah kematian tragis sahabatnya, dia bertekad memiliki pesona Lala, pesona orang mati, agar memikat Bram untuk menjadi suaminya.
Berhasilkah Arika?
Cerita ini telah tamat. Untuk kelanjutannya silahkan membaca season kedua.
❤️❤️❤️❤️
Hantu Istriku kembali
(Season 2)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan Konyol Yang Aku Ciptakan
Matanya melompat cerah, seakan menemukan harapannya di sana, dan mendesis pada dirinya sendiri, "Aku udah lama bersabar, tujuh tahun lamanya!"
Arika membuka simpul tali dengan jemari yang terasa serakah, ingin segera meraup harta di dalamnya. Inilah saatnya.
Tali terlepas.
Matanya menangkap wajah cantik yang terbingkai dalam satu gambar, "Kau memang cantik, tetapi aku tidak kalah darimu. Seharusnya suamimu jatuh menyukaiku, setelah kau mati dalam kecelakaan konyol yang aku ciptakan."
Arika meremas photo itu, dan teringat akan kalimat sang dukun yang membentengi, sekaligus telah memberikan dia susuk pemikat.
Walau kau sudah mengenakan susuk pemikat, aji pengasihan. Tetapi di antara seribu orang, tetap akan ada satu-tiga yang di sulit di tundukkan. Bram Agung, salah satu dari banyak orang itu.
Arika terkekeh, mendapatkan harta lainnya dalam ikatan kain hitam tadi, "Sekarang, aku akan memiliki pesona seperti Lala Kesuma, aku yakin, kau akan luluh padaku!"
Mengambil satu pakaian indah, berikut pakaian dalam mendiang Lala Kesuma, sahabatnya sendiri, yang pernah dia curi dari keranjang pakaian kotor.
Garis senyum terlihat naik di ujung bibirnya, melengkung sempurna bak busur tersenyum puas akan rencananya sendiri, seakan kehidupan sebagai Lala Kesuma, adalah saat-saat yang dia tunggu, "Kematianmu, memang aku rencanakan Lala, agar aku bisa menjelma menjadi isteri yang paling di cintai Bram Agung."
Arika membuka kembali simpul kertas koran di bawah lapisan pakaian itu, mengambil dalam genggamannya helaian rambut yang begitu banyak, potongan kuku jari-jari kaki dan tangan. Semua itu milik Lala Kesuma, yang telah dia simpan, dan sudah saatnya, dia mengenakan pesona mendiang istri Bram Kesuma, yang telah tiada.
"Menjadi Lala kedua bagimu, akupun bahagia ..., asalkan Arika Dewi bisa memejamkan mata di saat malam hari, dan membuka mata di pagi hari, dan orang yang selalu di sisiku, adalah Bram Agung. Aku mencintaimu,Bram. Aku ingin memanggilmu sayangku."
...****************...
Bram berbaring dan terus berkutat dengan satu adegan. Ruh Lala memeluknya. Jikaingat hal itu, jantung Bram seakan bergegas menerobos daging.
Dup—dup—dup
Debar jantung Bram masih berdetak tak karuan, setiap bayangan pertemuan dengan sosok halus Lala, istrinya, membuat jantungnya kehilangan ritma stabilnya. Mengalahkan rasa jatuh hatinya pertama kali dia bertemu Lala. Pertemuan malam itu, bertemu sosok wujud lain Lala setelah kematiannya, membuat seluruh raga dan pikirannya jatuh dalam satu kesempatan dengan satu harapan.
Apakah kita masih bersama? harapnya dalam hati.
Setiap urat nadi Bram bergetar, takut bercampur rindu. Bram mempertanyakan hal yang sama terus berkali-kali pada dirinya, seakan seluruh raga menyatakan—tidak mungkin. Namun, seluruh hatinya menyatakan—tidak ada yang mustahil.
Dalam tangan yang bergetar, dia meraih ponselnya di atas nakas, sikunya tanpa sengaja bersinggungan dengan gelas di atas nakas.
Prank!
Gelas jatuh menabrak ke lantai, dan puing kaca berserak di lantai.
Seorang suster datang mendengar suara tersebut, bergerak akan membantu, namun suara pria itu serak mengusir ketika dia baru saja tiba di depan pintu.
"Keluar!" teriak Bram.
Suster tidak bergeming sebentar, namun segera melangkah mundur. Pasien VIP ini terkenal sangat arogan, dan suka meludah amarah, dan melempar kuasa. Dua temannya telah di pecat, karena kuasa telunjuk pria ini yang tidak ingin dibantah.
Bram bersikap acuh dan tidak acuh, dia hanya duduk malas di ranjangnya, tidak peduli dengan puing-puing gelas. Dirinya dikejar tujuan aslinya, dia berburu satu nama dalam daftar kontak ponselnya.
Agus Kesuma
Bram menekan dial hijau, dan memanggil nama pria paruh baya itu dan meminta mertuanya untuk datang dan menemuinya, untuk bercerita, bahwa dia telah menemui sosok halus Lala. Tepatnya Lala dalam wujud hantu.
"Cepatlah kemari!" Bram terdengar membentak daripada meminta orang mengunjunginya, suaranya serak terdengar seperti orang marah pada ponselnya.
Mengakhiri panggilan ponsel, dia barulah mengatur napasnya, seakan menyesal telah membentak kasar mertuanya, dia bertutur sambil mengurut dadanya sendiri, "Maaf, Lala. Aku akan berusaha lebih lembut dengan ayahmu."
Dalam tiga puluh menit, Agus Kesuma menginjak ruangan. Tapak kaki dengan suara ketokan ujung tongkat, berhenti di garis pintu. Dia hanya berdiam mematung memandangi sorot mata menantunya, tak lama raut wajahnya terlihat menuai rasa prihatin, akan berat badan Bram yang terlihat sangat merosot banyak, dengan wajah yang terlihat pucat, dan sorot mata itu terlihat jelas, telah kehilangan gairah hidupnya.
Agus menelan pahit rasa sedih hatinya, matanya nanar di depan pintu, pria di ranjang itu berbadan tegap dan jiwa jauh lebih muda, namun hatinya lebih rapuh dari pada siapapun, dia mengeluh akan pilihan mendiang Puterinya.
Aduh, nak .... Betapa lemahnya jiwa orang pilihanmu, jauh dari pelajaran agama, sehingga mencintai dirimu, melebihi Tuhannya. kelahiran dan kematian adalah takdir yang harus dihormati, dan sejak lama telah menjadi rahasia ilahi. Agus mengeluh dalam hatinya.
Setelah menenangkan riak-riak dan gelembung-gelembung isak mengisi rongga dadanya, Agus berjalan dengan bantuan tongkatnya, tapak kaki terdengar pelan, suara ujung tongkatnya terdengar keras menabrak ubin, karena berat sebagian tubuhnya bertopang pada tongkat. Namun, tua yang memasuki usia 60 tahun itu, tidak pernah merasa rendah diri ataupun merengek meminta orang lain untuk membantunya, dia merasa mampu untuk menjalani hidup yang sudah di gariskan untuk dia jalani.
Agus Kusuma mencapai sisi ranjang, matanya masih awas menghindar serpihan kaca di lantai. Melihat pria paruh baya itu datang di sisinya, tak kuasa Bram luyut menangis dan mulai bercerita.
Agus memasang telinganya dengan cermat, tidak satupun kisah Bram dia lewati. Apalagi Bram bercerita dalam air mata, dengan suara serak tangis pertemuannya dengan sosok halus Lala Kesuma—puteri pertamanya.
Pertemuan dengan sosok halus, bukanlah hal yang mengejutkan bagi Agus. Bukan hanya mimpi pertemuan dalam diam, setiap malam rumahnya serbak bau melati sering dia dapati masuk ke dalam rumahnya, diapun mengira sosok halus Lala pastilah telah berkunjung. Namun, hanya doa yang dia panjatkan, agar Puterinya bisa tenang dan bebas pergi tanpa beban tertinggal.
Hening. Agus tak menanggapi dalam satu katapun, dia hanya mengeluh dalam hatinya, Rindu tak berujung, adalah kesalahan, nak!
Bram turun dari ranjang. Mengira Agus Kusuma terlalu lama berdiri, dia ingin mengantar pria itu untuk duduk.
Baru saja tapak kakinya menginjak ubin.
Blep!
Satu beling kaca tipis menancap telapak kaki telanjang Bram. Rasa sakit tertancap, tidak membuat dirinya bergeming mengaduh, seakan tidak ada sakit di telapak kakinya. Rasa sambut akan kehadiran mertuanya, membuat seluruh perhatian hanya datang menyambut pria tua itu. Dengan lembut dia membantu pria yang berjalan dengan bantuan tongkat itu, duduk di atas kursi.
......................
Bersambung ....