Diseret paksa oleh ayahnya untuk menggantikan kakaknya yang kabur sehari sebelum pernikahan, membuat hidup Aneska berubah 360 derajat.
Aneska yang membutuhkan uang untuk biaya berobat ibunya, yang sudah bercerai dengan ayahnya itu, akhirnya menerima perintah tersebut dengan berat hati.
Dan saat Danish mengetahui kalau sebenarnya yang dia nikahi bukan Aresha, melainkan Aneska, membuat ia menjadi sangat marah, dan bahkan tidak mempedulikan Aneska. Terlebih setelah fitnah yang Aresha lakukan pada adiknya sendiri.
Sementara Aneska menjalani kehidupan terburuknya setelah pergi dari Danish, dan ditinggal sang ibu untuk selamanya, tiba-tiba teman masa kecilnya datang. Pria itu juga membawa Aneska jauh dari kota tersebut, membuat Aneska meninggalkan kenangannya dengan sang suami, membawa benih cinta yang tertanam di rahimnya.
***
Original story by MYLIHU
Image from Freepik
Edited by Canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EgaSri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita tak tahu malu
Menyelesaikan pekerjaan dengan setumpuk masalah yang teronggok didalam pikiran, membuat Liam gelisah. Rapat penting itu sudah selesai, tapi Liam malah tampak tak fokus dengan apa yang Danish bicarakan.
"Liam? Are you okay?" tanya Danish ketika mereka duduk didalam mobil, hendak kembali ke kantor.
Liam menoleh kearah Danish, dan mengangguk.
"I'am okay," balas Liam.
Danish mengangguk saja. Ia percaya, jika Liam tak bisa mengatasi masalahnya sendiri, laki-laki itu pasti akan bicara dengannya.
Liam mengemudikan mobil cukup kencang. Jam makan siang yang sudah usai, membuat jalanan tak begitu padat, seperti saat berangkat bekerja.
Mobil range Rover hitam itu melaju dengan gagah, hingga tiba ditempat parkir VIP perusahaan Danish.
Keduanya turun dari dalam mobil, Danish berjalan terlebih dahulu, dan diikuti oleh Liam dibelakangnya dengan sebuah tab ditangannya.
Saat Danish baru akan tiba di lobby, dia melihat seorang wanita yang sangat dikenalnya sedang duduk dikursi tamu yang disediakan disana.
"Itu kekasihmu," sahut Liam tiba-tiba.
"Tanpa kamu beritahu pun, aku sudah tahu, Sat!" sinis Danish sedikit kesal. Perbuatan Zoya padanya semalam membuat Danish hilang respect. Sungguh wanita itu benar-benar berniat untuk menjebaknya.
Zoya lekas berdiri saat melihat Danish berjalan memasuki kantor. Tapi pria itu malah mengabaikannya dan terus berjalan seakan dirinya tak terlihat ada disana.
Zoya yang kesal kemudian berlari mengejar Danish, hingga tangannya berhasil menangkap lengan kekar pria tersebut.
"Danish!" Suara Zoya terdengar keras dan juga terkesan kasar, itu membuat Liam maju menepis tangan wanita itu dari lengan Danish.
"Mohon sopan sedikit!" tegas Liam, setelahnya dia menghempas tangan Zoya.
Wanita itu memandang Liam kesal. "Ini tak ada hubungannya denganmu. Aku perlu bicara dengan Danish!" seru Zoya.
Perdebatan itu ditonton oleh para karyawan yang kebetulan lewat disana. Mereka tentu tahu kalau Zoya adalah wanita yang berhasil menaklukkan hati Danish, sehingga pria itu menjadikannya kekasih.
Saat mereka tahu kalau Zoya adalah kekasih Danish, banyak dari sebagian wanita yang menjadi karyawan disana patah hati, dan merasa kalau Zoya tak pantas untuk Danish yang hampir masuk dalam kategori laki-laki idaman para mertua.
Danish yang tak ingin perdebatan mereka dilihat oleh para bawahannya, memilih untuk menyuruh Zoya ikut dengannya.
Mereka bertiga masuk kedalam lift yang sama, menuju ruangan Danish yang ada dilantai paling atas gedung tersebut.
"Ada apa?" tanya Danish yang tampak acuh.
Mendengar perkataan Danish, kemudian Zoya melirik kearah Liam. "Tak bisakah kita bicara berdua saja?" tanya Zoya menyindir.
Paham dengan maksud sang kekasih, Danish menggeleng. "Tak bisa, dia harus disini menemaniku," jawab Danish.
Zoya tampak tak senang ketika melihat Liam yang tampak mengejeknya. Pria itu duduk dengan tenang di sofa sembari melihat tab yang ada ditangannya sedari tadi.
"Kamu kenapa bekuin semua kartu kreditku?" tanya Zoya. Wanita itu tampak sangat kesal saat mengatakannya. "Kamu tahu, gara-gara kamu membekukan kartu kreditku, aku jadi malu karena gak bisa bayar tas yang tadi aku pilih," sambungnya.
Mendengar perkataan Zoya, Danish kemudian tertawa mengejek.
"Menurutmu aku peduli?" tanya Danish.
Sontak saja perkataan itu membuat Zoya dan juga Liam terkejut.
"Kamu kenapa ngomong gitu sama aku, sih? Kamu marah sama aku?" Zoya bertanya seakan dirinya sudah lupa dengan apa yang dia perbuat pada Danish semalam.
Tawa Danish semakin kencang.
"Kamu melupakan prilakumu semalam, Zoya?!" tanya Danish. Kini raut wajah pria itu tampak serius dan juga marah. Ia tak suka dengan rencana busuk Zoya semalam. Kalau saja tak ada Aneska yang membantunya, mungkin saja Danish sudah masuk rumah sakit.
Mendengar perkataan Danish, Zoya menundukkan kepalanya.
"Aku kira, kamu akan kembali padaku, saat kamu butuh pelepasan," ujar Zoya menundukkan kepalanya.
Wanita berpakaian minim itu kemudian bangkit, dia berjalan kearah Danish dan memeluk pria itu, memohon maaf karena tingkahnya yang membuat Danish marah.
Mendengar perkataan Zoya, sontak Danish tertawa.
"Maaf? Maaf katamu? Bahkan sekarang, aku bahkan sudah tak ingin mengenal kamu lagi, Zoya!"
Danish melepaskan tangan Zoya yang memeluknya.
"Liam, bawa dia keluar dari ruangan ini!" perintah Danish.
Zoya terkejut, ia kemudian menggeleng dan semakin memperkuat pegangannya pada Danish.
"Danish, aku tahu aku salah. Aku datang kesini untuk minta maaf sama kamu," ucap Zoya, yang mengatakannya sembari terisak. "Aku minta maaf, Danish. Tolong jangan marah padaku." isak Zoya.
"Hahaha!! Datang untuk minta maaf katamu? Bukankah karena kartu kreditmu tidak bisa digunakan lagi?" tanya Danish sarkas.
Liam yang melihat kemarahan dimata Danish, lekas menarik Zoya untuk keluar dari sana. Wanita itu memberontak, dan meminta Danish memaafkannya. Tapi pria itu mengabaikannya.
Perbuatan Zoya semalam sudah cukup bagi Danish untuk menjadikan alasannya meninggalkan wanita tersebut. Ditambah lagi dengan perkataan Zoya semalam tentang mamanya.
"Lepaskan aku, sialan! Beraninya kamu padaku! Kamu tahu, aku ini kekasih bosmu, kan?!" Zoya terus berteriak ketika satpam membantu Liam membawanya ke mobilnya.
"Kamu lupa? Sekarang kau bukan lagi kekasih Danish. Pria itu sudah mencampakkanmu, karena tingkahmu sendiri!" jawab Liam, dengan senyum kemenangan.
"Sialan kamu Liam! Lihat saja nanti, aku pasti bisa mendapatkan Danish kembali!" Zoya berteriak penuh percaya diri sebelum pergi dari sana.
Setelah selesai mengurus Zoya yang lumayan menguras tenaga, Liam kini duduk dihadapan Danish yang sedang fokus bekerja.
"Dia sungguh memberimu obat?" tanya Liam. Walaupun tadi Danish tak mengatakan secara langsung, tapi Danish paham dengan apa yang wanita seperti Zoya lakukan.
Mendongak, kemudian Danish berdehem mengiyakan apa yang Liam tanyakan.
"Dasar wanita sialan itu! Sungguh tidak tahu diri!" Liam mengumpat, dan bahkan dia terlihat lebih marah daripada Danish.
"Dan semalam ... kamu dengan Anes?"
"Iya," jawab Danish singkat, paham dengan maksud pertanyaan Liam.
Mendengar jawaban bodoh Danish, Liam mengusap wajahnya kasar.
"Hanya 'iya'?" tanya Liam. "kamu tak berniat untuk menemaninya setelah membuatnya kesakitan?" sambungnya. Menurut Liam, kalau berurusan dengan wanita, Danish adalah manusia yang paling bodoh.
"Bukankah tadi kamu yang datang menjemputku untuk rapat?" tanya Danish. Ia membalikkan keadaan membuat Liam mendengus kesal.
"Lalu sekarang kamu tak ingin pulang dan melihat bagaimana kondisinya?" tanya Liam lagi.
"Haruskah?" tanya Danish polos.
"Aihh... Dasar si bodoh ini!" Liam mengumpat dalam hatinya.
"Harus!!"
***
Perang batin yang Danish alami karena ucapan Liam membawanya pulang kerumah, untuk menemui istrinya.
Seperti perkataan Liam, yang mengatakan kalau dirinya harus menemani Anes hari ini, terlebih setelah melakukan hubungan seperti semalam.
"Loh, Danish. Kok kamu udah pulang aja? Tumben banget?" Marisa yang melihat Danish berjalan menuju tangga, menegur anak lelakinya tersebut.
Mendengar pertanyaan mamanya, Danish tersenyum simpul.
"Itu Ma, pekerjaan Danish hari ini cuma datang ke rapat aja. Jadi setelahnya bisa bisa pulang cepat," jawab Danish.
Tentu saja dirinya berbohong. Pekerjaannya masih banyak, tapi sesuai perkataan Liam tadi, kalau laki-laki itu yang akan mengurus pekerjaan hari ini.
Marisa menatap Danish, tak percaya kalau anaknya yang sangat gila kerja itu akan mengatakan hal tersebut.
"Kamu yakin?" tanya Marisa, menatap Danish penuh selidik.
Danish mengangguk. Ia melirik kearah tangga. "Ma, Danish capek. Mau istirahat. Keatas dulu, ya, Ma," ucap Danish berpamitan. Setelahnya ia bergegas menaiki tangga, takut akan ditanyai lagi oleh sang mama.
Melihat sikap anaknya yang cukup aneh, membuat Marisa tertawa pelan sembari menggelengkan kepalanya.
"Semoga kamu bisa menerima pernikahanmu dengan Anes secepatnya, Danish. Mama harap kamu selalu membahagiakan dia, dan tidak membuatnya kecewa."
***
Happy reading!!