~NOVEL KE 7~
Ini adalah kisah tentang Sundari. kehidupan harmonis nya bersama sang suami, Atmaja, mulai diuji ketika sang suami di PHK dari tempat kerja nya.
Atmaja yang penyayang mulai berubah perangai jadi seorang yang pemarah.
Ditambah Atmaja pun mulai gemar berjudi. Sehingga hutang nya kepada rentenir pun perlahan menumpuk dan kian menumpuk.
Percekcokan pun mulai sering terjadi dalam keluarga kecil tersebut.
Bagaimana kelanjutan kisah nya? mampu kah Sundari bertahan? Terlebih ia memiliki Yuna dan juga calon bayi dalam perut nya.
***
kembali tersebar soundtrack karya mel dlm novel ke 7 ini.
1. "Mama" by Mel di eps. 6
2. "Tidurlah, Nak!" by Mel di eps. 16
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meli meilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penampilan Yuna di pensi
Keesokan lusa nya, Sundari sedang bersiap-siap untuk pergi ke acara pentas di sekolah Yuna. Putri nya itu sudah mengingatkan Sundari sedari semalam agar tak lupa hadir ke sekolah nya besok.
Tadi pagi pun. Yuna kembali mengingatkan Sundari untuk hadir. Sementara kepada Atmaja, Sundari menyadari kalau Yuna jadi menjaga jarak dengan Papa nya itu.
Ingatan Sundari pun melayang ke waktu sore kemarin.
Flashback.
"Pa! Papa! Besok Yuna ada acara pensi di sekolah. Nanti Papa datang juga ya sama Mama?!" Pinta Yuna langsung bergelayut ke lengan Atmaja.
Saat itu Atmaja baru kembali dari luar. Entah dari mana saja suami nya itu pergi. Yang jelas, saat Atmaja pulang, raut wajah nya pun masih sama cemberut nya seperti sebelum kepergian nya tadi pagi.
Atmaja sedang menonton TV saat Yuna bergelayut ke tangan nya.
"Mm!" Sahut Atmaja tak jelas.
"Kok mm sih, Pa?! Papa nanti datang kan?! Mama juga mau datang kata nya. Iya kan, Ma?" Yuna menoleh ke arah Sundari yang sedang menyapu.
Sundari memberi putri nya itu senyuman dan anggukan singkat.
"Tuh, Pa! Mama juga mau datang. Nanti Papa datang juga ya sama Mama!" Ucap Yuna memastikan.
"Mm!" Sahut Atmaja kembali tak jelas.
Yuna lalu kesal. Ia tak puas dengan jawaban dari Atmaja itu. Karena itulah ia reflek menepuk keras lengan sang Papa di samping nya itu.
Bugh. Bugh!
"Ah! Berisik! Bisa diam gak sih?! Papa lagi lihat TV, tahu! Sudah sana main saja di luar!" Hardik Atmaja dengan wajah memerah karena amarah.
Yuna tersentak kaget. Begitu pun juga dengan Sundari.
Ini adalah kali pertama Atmaja memarahi sang putri. Sehingga Sundari langsung bisa menebak rupa rasa putri nya iti saat ini.
Tanpa pikir panjang, Sundari pun menaruh sapu di pojok ruangan. Lalu menghampiri Yuna dan memeluk nya.
Kepada Atmaja, Sundari berkata.
"Gak perlu semarah itu, bisa kan Mas.. Kasihan Yuna nya kaget begini," tegur Sundari langsung.
"Bang s*t! Kenapa semua perempuan di rumah ini berisik sekali! Sudah lah! Aku mau tidur saja! Jangan ganggu tidur ku! Awas kau!" Ancam Atmaja sambil berjalan menuju kamar tidur nya.
Sundari lalu berkata kepada Yuna.
"Maafin Papa ya, Sayang. Papa lagi ada masalah. Jadi akhir-akhir ini Papa agak lebih sensitif," tutur Sundari menjelaskan.
Yuna menganggukkan kepala nya di pelukan Sang Mama. Dan sore itu pun ditutup dengan suasana rumah yang tak nyaman karena sikap Atmaja.
Flashback selesai.
Kembali ke saat ini, ketika Sundari sedang memoles wajah nya menggunakan bedak. Saat itulah Atmaja masuk ke kamar dan melihat nya.
"Mau ke mana kau? Berdandan menor seperti itu!" Hardik Atmaja curiga.
Sundari langsung mengerutkan kening nya.
"Adek mau ke sekolah nya Yuna, Mas. Mas ingat kan kalau hari ini ada acara pensi di sekolah nya? Lagipula, menor gimana sih, Mas? Lha wong Adek cuma pakai lipstik sama bedak aja," Sundari membela diri.
"Ya itu! Bibir kamu dimerah-merahin begitu! Kamu mau pamer kecantikan mu ya sama guru lelaki di sekolah Yuna?!" Tuding Atmaja menyakiti hati Sundari.
Sundari langsung berbalik dan menghadap ke Atmaja.
"Mas! Apaan sih? Kok mikir nya negatif begitu? Adek cuma mau lihat penampilan Yuna aja, Mas. Kemarin Yuna juga ajakin Mas untuk pergi lihat dia kan? Kalau Mas gak percaya sama niatan Adek ke sekolah, ya udah ayo ikut adek tengokin Yuna tampil!" Balas Sundari dengan nada sedikit meninggi.
Sundari dan Atmaja pun aaling membalas tatapan satu sama lain. Setelah beberapa lama, akhirnya Atmaja pun berkata.
"Oke! Mas ikut kamu ke sekolah! Awas saja kalau kamu sampai ketahuan main mata sama lelaki-lelaki yang ada di sana!" Ancam Atmaja, yang langsung membuka kaos yang sedang ia kenakan.
Atmaja hendak berganti baju.
Sementara itu, Sundari merasa kesal dengan ucapan dan tudingan Atmaja kepada nya tadi.
'Tega benar kamu, Mas, menuding ku yang enggak-enggak! Astaghfirullah..!' keluh Sundari dalam hati.
Akhirnya, Sundari pun pergi ke sekolah Yuna bersama Atmaja.
Begitu sampai di sekolah, Atmaja langsung meninggalkan Sundari begitu saja. Padahal seingat Sundari, biasanya suami nya itu selalu menggandeng tangan nya bila mereka bepergian keluar rumah bersama-sama.
"Hh.. sabar, Ndar.. sabar. Kang Mas masih kesal karena tak mendapatkan kerja. Nanti kalau Kang Mas sudah menemukan pekerjaan yang baru, Kang Mas pasti akan kembali seperti dulu," gumam Sundari yang menatap punggung Atmaja dari belakang nya.
Kedua nya lalu duduk di kursi penonton yang berjajar rapih di ruang aula sekolah.
Mulai jam sembilan pagi itu, acara pensi pun dimulai.
Yuna tampil menjelang waktu zuhur. Ia menyanyikan sebuah lagu tentang Mama bersama dengan ke sembilan anak lain nya.
Sundari merasa puas dan bahagia saat melihat putri nyabitu tampil di atas panggung sana. Dan ia juga terharu karena mendengar lirik dalam lagu yang dinyanyikan oleh Yuna bersama kawan-kawan nya itu.
Begini lah lirik lagu berjudul "Bunda" yang diciptakan oleh Lazuli Nun.
...
Seperti matahari, yang tak henti tuk menyinari..
Layak nya hujan, yang jatuh perlahan, membawa kehidupan..
Sesejuk desau angin, hmm... Penyampai damai dari syurgawi..
Sekukuh atap langit, menaungi, perisai bagi bumi..
Bridge: Tangan rapuh mu merengkuh,
Dengan balutan lembut kasih,
Hembusan kata, kau sulam doa..
Beban dunia di pundak mu,
Tak menghentikan langkah diri,
Kau cipta semesta, tuk yang kau yakini..
Reff:
Bahagia nya aku.. dengan mu di sisi,
Kau sirami cinta kasih, dari Yang Maha Cinta,
Ku meminta, bahagia bagi mu selama nya..
Ohh.. bahagia nya aku, dengan mu di sisi..
Kau sirami cinta kasih, dari Yang Maha Cinta..
Ku meminta bahagia bagi mu selama nya...
Juga selalu pada akhir nya..
...
Tuhan, Kasihi Bunda, seperti Bunda padaku,
Bunda yang telah mengasihi aku sedari kecil..
Tuhan, sayangi Bunda, seperti Bunda padaku,
Bunda yang menyayangi ku, di waktu ku masih kecil..
Dan selalu.. hingga kini... Dan nanti..
(Kembali, mel siapkan lagu karya Mel untuk novel ke tujuh ini. Judul nya adalah "Bunda". Lagu yang sengaja Mel persembahkan buat semua ibu di dunia.. Buat nya udah lama banget sih. Bertahun-tahun yang lalu.. hehe.. pesan Mel, ingat tuk selalu sayang Bunda kalian ya, kawan-kawan!)
Selesai Yuna menyanyi, Sundari memberi tepukan meriah untuk sang putri. Sementara di samping nya, Atmaja terlihat hanya asal tepuk tangan saja.
Sundari sempat melihat wajah Yuna yang sedikit kecewa saat melihat reaksi Atmaja usai melihat penampilan nya. Hal ini membuat Sundari merasa kesal dengan sang suami.
"Mas! yang semangat dong tepuk tangan nya! Kan Yuna yang barusan tampil! dia anak kita lho! bukan anak orang lain!" tegur Sundari dengan berbisik ke telinga Atmaja.
Atmaja cuek bebek dengan teguran dari sang istri. Ia malah langsung berhenti bertepuk tangan, di saat semua orang di sekitar mereka, termasuk juga dengan Sundari, masih bertepuk tangan dengan meriah.
'Astaghfirullah.. Mas kebangetan deh!' gerutu Sundari tanpa suara.
***
perkedel jagung tapi
semangat menulis 🤗
ma'af baru mampir 😟
semangat, q ksih kmbang sepatu 🌺 y