Hayu Hasmita, seorang yatim piatu yang rela menguras isi rekening demi bertemu dengan seorang pria asal Qatar, yang dia kenal melalui aplikasi kencan online. Dia harus menerima kenyataan bahwa lelaki bernama Ferhat Al Malik itu hanya main-main terhadapnya.
Demi bisa kembali ke Indonesia, Hayu harus mengumpulkan uang dengan bekerja sebagai pelayan di rumah Ferhat. Sebuah rahasia pun terungkap, dan membuat Hayu semakin sakit hati dengan keluarga besar Al Malik.
"Bodoh, adalah salah satu kata yang tepat untukku. Aku terlalu berharap bisa menggapai langit, padahal kaki serta tanganku tak cukup panjang untuk menjangkaunya." - Hayu Hasmita.
Rahasia apa yang disembunyikan oleh Ferhat dan keluarganya? Mampukah Hayu merebut hati Ferhat sehingga usahanya pergi ke Qatar tidak sia-sia? Atau Hayu memilih menyerah dan kembali ke Indonesia setelah uangnya cukup untuk pulang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika Ssi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Mulai Bekerja
Cahaya matahari menyelinap masuk ke dalam kamar Hayu. Perempuan itu mulai menggeliat di atas ranjang, tetapi gerakannya berhenti. Gedoran pintu sontak membuatnya segera bangkit dari pembaringan.
Perlahan perempuan itu turun dari ranjang dan mulai melangkah ke arah pintu. Belum sampai Hayu memutar tuas, seseorang telah mendorong pintu itu. Kejadian tersebut sontak membuat Hayu tersungkur ke atas lantai.
"Bilqis?" Hayu terbelalak ketika mengetahui siapa yang menerobos masuk ke kamarnya.
"Kenapa?" tanya Bilqis ketus seraya melipat lengan di depan dada.
Hayu hanya bisa melongo. Bilqis yang biasanya bersikap ramah dan lembut, hari ini bersikap begitu kasar. Bahkan nada bicaranya yang sopan kini berubah ketus.
"Cepat kamu kemasi barang-barangmu! Tuan memintamu untuk keluar dari kamar ini dan pindah ke bawah."
Hayu masih berusaha mencerna kalimat yang keluar dari bibir Bilqis. Tak lama kemudian, perempuan dengan seragam khas pelayan itu keluar dari kamar. Dia juga membanting pintu, seakan sedang menunjukkan kekesalan kepada Hayu.
"Kenapa Balqis berubah seperti itu?" Hayu mengerutkan dahi lantas mulai bangkit dari atas lantai.
Perempuan itu pun bergegas mengemasi barang-barangnya. Setelah selesai, dia menarik koper ke luar kamar. Perlahan Hayu menuruni satu per satu anak tangga.
Hayu dapat melihat dari atas, tiga orang pelayan sedang berbaris sambil tertunduk. Ferhat mendongak menatap perempuan itu dengan mata elangnya. Hayu tersenyum tipis sambil mengangguk.
Setelah sampai di bawah, Hayu ikut masuk ke dalam barisan bersama tiga pelayan lain. Bilqis maju, kemudian mengambil sesuatu dari atas meja makan. Perempuan itu menyerahkan seragam pelayan kepada Hayu.
"Aku akan memberikanmu uang setelah kamu bekerja di sini selama tiga bulan. Jadi, anggap saja imbalan untukmu. Aku tidak bisa meminjamkan uang kepada sembarang orang." Ferhat menatap sinis Hayu yang kini melongo.
"Ba-baik, Ferhat."
Mendengar Hayu yang hanya memanggil namanya, membuat amarah Ferhat memuncak. Lelaki itu meraih gelas di depannya, lalu membanting benda tersebut ke atas lantai. Bunyi gelas pecah yang beradu dengan marmer pun menyelinap membunuh kesunyian dalam ruangan itu.
"Panggil aku TUAN! Aku sekarang adalah majikanmu, dan kamu adalah pelayan!" seru Ferhat.
Hayu menelan ludah kasar. Kaki serta tangannya gemetar karena melihat sisi lain dari Ferhat. Lelaki itu jauh berbeda dengan Ferhat yang dia kenal di aplikasi kencan.
Ferhat di hadapannya ini sangat menyeramkan. Dia menjelma menjadi lelaki dingin, bermulut pedas, dan terkadang bersikap kasar. Berbeda 180 derajat dengan Ferhat yang dulu.
"Sekarang, ikuti Bilqis. Dia akan menunjukkan kamar untukmu!" perintah Ferhat.
Bilqis pun mulai melangkah keluar barisan. Hayu mengikuti perempuan itu sambil menarik kopernya. Langkah keduanya berhenti ketika sampai di sebuah ruangan yang ada di area belakang rumah.
Bilqis membuka ruangan itu. Hayu terperangah melihat kondisi tempat yang akan menjadi kamarnya. Ruangan itu lebih mirip gudang daripada sebuah kamar.
Tidak ada jendela di ruangan itu. Hanya ada sedikit ventilasi udara yang terdapat di atas pintu. Debu tebal pun menutupi seluruh barang yang disimpan di sana.
"Mulai malam ini, kamu akan tidur di sini." Bilqis tersenyum miring kepada Hayu.
Hayu bungkam. Dia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia hanya bisa menerima keadaan saat ini. Perempuan itu merasa tidak memiliki hak untuk melancarkan protes.
"Aku pergi! Segera ganti baju! Kamu harus membantu Bibi Safa memasak untuk sarapan!" Bilqis pun keluar dari tempat itu dan membanting pintu kasar.
Hayu hanya bisa diam. Dia masih tak percaya bahwa semua orang yang ada di rumah itu sangatlah kejam. Hayu merasa sedang berada di rumah penyiksaan.
Kini perempuan itu mengedarkan pandangan menyusuri ruangan pengap tersebut. Debu membuat napas Hayu terasa sesak. Kondisi ruangan yang berantakan, kotor, serta lembap berhasil membuat Hayu bergidik.
"Astaga, aku harus segera membersihkan ruangan ini!"
Hayu pun bergegas berganti pakaian, kemudian keluar kamar. Perempuan itu berencana akan membersihkan ruangan tersebut setelah jam kerjanya selesai. Kaki perempuan tersebut terus melangkah ke dalam rumah, lalu berhenti di dapur.
Di dapur itu sudah ada seorang perempuan paruh baya bertubuh gempal yang bernama Safa. Menyadari kehadiran Hayu, Safa tersenyum lembut. Dia menggerakkan jemari sebagai isyarat agar Hayu mendekat.
"Pagi, Nona. Perkenalkan saya Safa." Perempuan itu meletakkan telapak tangan di depan dada kemudian menunduk sekilas.
"Saya Hayu, Bi." Hayu pun menundukkan kepala penuh hormat kepada Safa.
"Apa Nona bisa memasak?" tanya Safa.
"Bisa, Bi. Aku sudah terbiasa memasak sendiri semenjak ibu meninggal." Hayu tersenyum kecut karena kembali teringat nasib buruk yang menimpa sang ibu.
"Baiklah, akan kuajari perlahan cara memasak makanan di sini."
"Sebelum mulai memasak, kamu harus ...."
Safa mulai menjelaskan peraturan dapur keluarga Al Malik. Hayu pun mendengarkannya dengan saksama. Setelah selesai menjabarkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, mereka berdua mulai menyiapkan bahan untuk membuat sarapan.
"Hari ini kita akan memasak Balaleet!" seru Safa seraya meniriskan mi bening dari dalam panci.
"Apa itu, Bi?" tanya Hayu sambil mengerutkan dahi.
"Mi ini akan kita goreng dengan bumbu rempah-rempah, seperti kayu manis, kapulaga, gula dan safron."
"Kalau di Indonesia, ini namanya mi bihun. Bumbu yang dipakai pun berbeda." Hayu terkekeh seraya menunjuk mi bening sang masih ditiriskan di atas saringan.
"Ah, kamu bisa mempraktikkan ini setelah kembali ke negara asalmu. Jika suka memasak, bisa jadi bisnis nanti saat sampai Indonesia," ucap Safa sambil menumis bumbu rempah yang sudah disiapkan.
Hayu hari itu hanya memperhatikan Safa memasak. Sesekali dia menyodorkan bahan yang akan dimasak. Ketika hidangan hampir selesai, dan tinggal membuat telur dadar untuk toping, tiba-tiba Safa merasa tak nyaman dengan perutnya.
"Nak, kamu bisa memasak telur dadar?" tanya Safa sambil memegang perutnya yang melilit.
"Bisa, Bi."
"Kalau begitu bisa bantu aku untuk membuat telur dadar. Kita membutuhkannya untuk toping mi goreng tadi."
"Baik, Bi. Serahkan semua padaku!" seru Hayu seraya menepuk dada jemawa.
Safa pun setengah berlari menuju kamar mandi. Hayu mulai menyiapkan bahan untuk membuat telur dadar. Sambil menunggu wajan panas, Hayu memutuskan untuk minum karena sejak bangun dia belum meneguk air setetes pun.
Alangkah terkejutnya Hayu, ketika selesai menutup lemari pendingin makanan. Bilqis sudah berdiri di depan kompor seraya melipat lengan di depan dada. Perempuan itu tak lupa melayangkan tatapan penuh kebencian.
"Kerjaanmu sudah beres? Sebentar lagi Tuan Ferhat harus berangkat ke kantor, sedangkan makanan belum siap! Kamu ngapain aja?"
"Ah, maaf. Aku tadi hanya meminum seteguk saja kok." Hayu meremas celemek yang menutup tubuh bagian depannya.
"Selesaikan secepat mungkin, sebelum Tuan Ferhat turun!" perintah Bilqis.
Hayu pun segera menyelesaikan masakannya. Setelah selesai, dia menata makanan ke atas meja. Safa mengajarinya cara menata meja dan menghidangkan masakan yang baik dan benar.
Setelah semua beres, tak lama kemudian Ferhat turun dari kamarnya. Lelaki angkuh itu menarik kursi dan mendaratkan bokong ke atasnya. Sebelum makan, Ferhat terlihat menengadahkan tangan kemudian berdoa, dan berakhir dengan mengusap wajah.
Ketika baru menyuapkan sendok pertamanya ke dalam mulut, tiba-tiba Ferhat menyemburkan makanan itu lagi. Lelaki tampan tersebut langsung meraih gelas berisi air putih dan meneguknya hingga tandas.
"Siapa yang memasak hari ini?" tanya Ferhat dengan nada penuh amarah.
...----------------...
Halooo semua,
Sambil munggu karya ini update, mampir juga yukk ke karya sabat Chika! Dijamim setu❤❤❤
trus gmn pernikahan hayu dan Fayez selanjutnya...
nasi Ferhat jg blm dibahas kelanjutannya Thor ☹️☹️😥
jgn2 liatin psang mnsia yg ge brciuman..
oo ap kbr ati y Harris ap ga terbakar it....