Jual-beli harusnya barang, bukan manusia.
Dimalam Fasya menolak untuk berhubungan badan dengan kekasihnya.
Dia dijual.
Dilempar ke ranjang yang besar, pria tampan berbadan tinggi yang cukup berkharisma datang.
"Jika kau bisa menjadi pengasuh putra ku, maka aku akan membayar mu cukup tinggi."
- Shin
Bukan memuaskan hawa nafsu yang pria itu inginkan, tapi menjadi pengasuh anaknya? Kenapa harus Fasya?
Tapi ketika Fasya masuk ke rumah itu, dia menemukan banyak hal baru, fakta tentang siapa dirinya sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. SABARRRR
......................
Fasya sudah kembali menuju kamar Asta lagi, setelah bajunya basah dan akhirnya dia diminta Margaret berganti baju lagi.
Fasya hanya bisa menghela napas, kalau memukul kepala bocah itu masih tidak boleh, nanti bisa-bisa kepalanya yang bocor, jangan lupakan Asta itu anaknya siapa.
"Baru hari pertama, cobaannya bukan main."
Fasya sudah berganti seragam lagi, dari yang putih biru menjadi hitam putih, luar biasa sekali memang Tuan mudanya ini.
Baru hari pertama, dan Fasya sudah mendapatkan hal ini, bahkan hari pertama saja belum berakhir.
Rasanya belum satu menit juga dia kenal dengan Asta, tapi Asta sudah dengan gampangnya menyiram gadis itu. Walau Fasya tau sih, ada perbedaan yang mendasar antara statusnya dengan status Asta.
Fasya membuka pintu kamar bocah itu, tampak sang bocah sedang duduk di kursinya dengan Margaret yang duduk disebelahnya.
Kamar bocah ini sangat besar, ada banyak mainan yang tersusun rapi disini, banyak jenis mainan dari berbagai macam bentuk, warna, dan juga harga yang pastinya fantastis.
"Tuan muda, saya akan perkenalkan pengasuh baru anda. Dia adalah Fasya, dia dibawa oleh Tuan Shin sendiri untuk menjadi pengasuh anda." Ucap Margaret dengan formal dan penuh sopan santun.
"Aku gak mau punya pengawal." Dan lihat bocah sialan sok iya disana, dia melipat tangannya dan menatap Fasya dari atas sampai bawah, kadang Fasya ingin memukul kepala bocah ini.
"Tapi dia dikirim oleh Tuan Shin." Ucap Margaret lagi, dengan maksud apapun yang terjadi, dan apapun yang Asta inginkan, Fasya harus tetap menjadi pengasuhnya karena yang mengirimnya adalah Shin sendiri.
"Tapi dia jelek." Jawab Asta dengan gampangnya tanpa rasa bersalah di wajahnya, enteng sekali kalau bocah ini bicara.
Jelek ...
Jelek ...
Jelek ....
Perkataan itu terngiang-ngiang dikepala Fasya, soalnya selama ini tidak ada yang mengatakan Fasya jelek, entah teman-temannya saat sekolah dulu, rekan kerjanya, sang ayah, atau para pembeli yang ada di tokonya semua mengatakan Fasya sangat cantik, bahkan ada beberapa dari pelanggan Fasya yang sampai meminta nomornya, dan tentu ditolak oleh Fasya.
Tapi sebenernya mata siapa yang bermasalah? Mata para publik yang selama ini melihat Fasya, atau mata ayah dan anak ini? Karna Fasya ingat Shin juga mengatakan hal yang tidak jauh berbeda.
The real, like father like son.
Fasya hanya memasang senyuman pasrah di wajahnya, memaki bocah itu juga tidak mungkin, soalnya ada Margaret disana.
Memangnya anak-anak tau apa soal cantik? cih!
Fasya masih mempertahankan senyuman manisnya seperti dia berusaha mempertahankan pekerjaan ini dengan gaji yang tidak main-main tentunya. Tidak apa demi gaji segitu, hari pertama dilempar air juga masih bisa Fasya maafkan.
Fasya memang berpikir begitu, dia pikir semuanya akan mudah sampai akhirnya
......................
Hari ke-dua :
"Yahaha rambutnya ada permen karet!"
"Tidak apa-apa Tuan muda, ini hanya rambut, dibanding rambut saya baju tuan muda lebih berharga."
Fasya masih menahan amarahnya yang sudah naik secara perlahan-lahan, karna Asta meletakkan tiga permen karet baru di rambut Fasya.
......................
Hari ke-tiga
"Pufff tuh aku kasih tepung biar mukanya putih terus cantik, biar gak jelek-jelek amat!"
"Terima kasih Tuan muda, anda memang bos kecil yang sangat perhatian."
Fasya masih mempertahankan senyuman manisnya walau dia baru saja dilempar dengan tepung yang mengotori seluruh wajahnya. Jangan tanya, sepertinya sebagian tepung itu masuk ke dalam mulut Fasya.
Sabar, sejauh ini Fasya mencoba sabar, dihari kedua yang cerah ini Fasya mencoba lebih sabar lagi dan lagi.
......................
Hari ke-empat
Brukhhh!!
"Nyenyenyenye, jalan tuh pake kaki, aduhh, jatuh kan."
"Iya, makasih sarannya tuan muda."
Fasya masih menahan senyumannya walau dikepalanya sudah terlintas hasrat ingin memukul kepala anak itu. Soalnya dia sangat menyebalkan, mentang-mentang Fasya itu pengasuhnya dia bisa memperlakukan Fasya sesuka hatinya.
......................
Hari ke-lima :
"Aku mau nasi goreng! Kenapa? Kok tuli? Gak denger ya, aku bilang mau nasi goreng, kenapa malah jadi ayam goreng? Cih, dasar pengasuh gak becus, pasti taunya mau makan gaji buta aja. Aku gak jadi makan, udah gak lapar."
"Tapi tadi anda bilang anda lapar dan ingin makan nasi goreng."
"Aku tuh bilang ayam goreng, apaan sih gak becus banget jadi pengasuh, bisa jadi pengasuh gak sih? Kalau gak bisa pergi aja sana!"
Asta melenggang pergi meninggalkan Fasya dan nasi goreng yang sudah dia buat susah payah, padahal jelas-jelas tadi Asta yang memintanya untuk membuatkan nasi goreng.
Fasya sudah kesal, dia sudah tidak sanggup mempertahankan wajah tersenyumnya lagi, dia ingin menunjukkan wajah kesalnya secara terang-terangan sekarang.
......................
Hari ke-enam:
"Bisa main ga sih? Sekolah ga sih? Aku bilang kan buat mobil, kenapa jadi rumah?"
"Tadi Tuan muda Asta bilang buatin bentuk rumah." Fasya mencoba menahan amarahnya.
"Tuli ya? Aku bilang bentuk mobil, bukan rumah."
"Heh bocah, tadi kau bilang rumah ya!"
"Bibi Margaret!!"
Asta keluar dari ruangannya, tentu saja berlari untuk mengadukan Fasya. Fasya segera mengejarnya, kalau tidak habislah dia, dia akan dipecat, gaji 20 jutanya akan hilang, empat hari bertahan akan membuatnya menjadi kacau.
......................
Dan hari ini adalah hari ketujuh Fasya, sudah satu minggu dia mencoba bertahan di rumah ini, apalagi dengan Asta yang makin hari kenakalannya makin tidak biasa.
Kemarin bahkan setelah Asta mengadukannya pada Margaret, Fasya sudah terkena nasihat-nasihat lagi.
Hari agak mendung, jadi Fasya membawa sebuah jaket bulu yang hangat dan tebal untuk Asta, jaga-jaga kalau bocah itu sekali batuk dan Fasya bisa langsung menghangatkannya tanpa sentuhan langsung.
"Bocah itu benar-benar yaa, persetan sama gaji, aku akan pukul kepalamu sekarang." Fasya sudah sangat kesal, dia bersiap untuk menepuk kepala bocil satu itu.
Fasya melihat Asta sedang bermain di sebuah pohon, dia melempar-lempar sarang lebah.
"Loh? Aku baru tau di halaman ini ada sarang lebah?" Fasya tidak diberitahu akan hal itu.
"Hey Tuan muda! Jangan ganggu lebah itu, nanti anda bisa digigit!"
Brukh!
Fasya terkejut bukan main saat sarang lebah itu jatuh, dia berlari sekencangnya untuk sampai ke tempat Asta. Fasya langsung memakaikan jaketnya, tidak sempurna yang penting bisa menutupi seluruh wajah Asta. Fasya menggendong Asta berlari secepat mungkin.
Ah ....
Rasanya sakit sekali saat setiap sengatan itu menyentuh tubuhnya, bukan satu atau dua ada banyak sekali.
Tapi meski begitu Fasya terus berlari sampai di rumahnya, dia menutup semua pintu hingga bisa terlepas dari kejaran para lebah itu.
"Hey, apaan sih kau ini, menyentuh dan menggendong ku tidak jelas, asal kau tau ya lebah itu tuh lebah jinak, jadi me--"
Asta langsung mengehentikan ucapannya saat dia membuka mata dan melihat wajah Fasya sudah sangat buruk, ada cukup banyak bintik-bintik merah di wajah dan lehernya. Ini bukan perbuatan lebah jinak kan?
makasih Thor
sehat slalu lah byar up sampai tamat.
aku suka ❤️👍
padahal suka banget ceritanya
dapat notif tak kira up
ternyata 😌